Selasa, 19 Agustus 2008

Jejak Kecil....

Dear Allz….

Helllowww...masih penuh semangat niih ? Harusnya begitu dong ! Kan barusan merayakan dan memperingati Hari Kemerdekaan RI…Cara apa pun yang kita lakukan…kegiatan apa pun yang kita laksanakan... lakukanlah dengan penuh cinta dan rasa syukur...Itu adalah salah satu cara untuk menikmati kemerdekaan…

Tepat di hari peringatan HUT RI itu, seorang teman mengirim SMS, ”Apa yang sudah kamu lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini ?”

“Haaah…??? Apa, ya ?”

Saya termenung sejenak. Apa yaaa ? Apa yaaa ? Saya Cuma bisa nulis dan sesekali ngobrol di depan kelas. Apa itu merupakan proses pengisian kemerdekaan ? Trus hobby saya yang suka jalan ke sana ke mari seperti orang tidak punya tujuan dan tidak punya kerjaan ( kerjaannya ya jalan ke sana ke mari itu…hehehe…)…apa itu punya makna untuk mengisi kemerdekaan ?

Aaaccch….terserah apa pun penilaian orang lain, tapi saya sudah menjalani hidup saya dengan cara saya sendiri. Mungkin sesekali bersama dengan orang lain, seiring sejalan…mungkin di lain waktu berseberangan dengan orang lain, berpapasan atau bersilangan…

Apa pun itu...satu langkah saya...adalah hidup saya...

Eheeemm...jadi pengen berbagi cerita juga niih...tentang jejak kecil yang pernah saya tempuh hingga tiba di titik tempat saya duduk dan berdiri sekarang...

Selamat menikmati...semoga berkenan...

Salam hangat di awal minggu yang penuh semangat,

Ietje

Art-Living Sos 2008 (A-8.01

Start : 8/16/2008 10:39 AM

Finish : 8/18/2008 9:35 AM

JEJAK KECIL

Hari libur.

Saya sedang tidak punya program khusus. Tadi sudah berenang, di kolam renang dekat rumah. Sudah sarapan ketupat sayur Padang yang rasanya yummy…beli di pasar Bidadari, di dekat rumah juga. Sudah baca Koran kemaren…(soalnya nggak keburu melalap Koran setiap hari, jadi sedapatnya aja…hehehe..). Sudah beres-beres kamar tidur yang menjadi tempat menelusuri inspirasi paling indah sedunia. Apalagi ya ?

Mendadak saya ingat. Kamar kerja. Waaah…sudah saatnya saya beres-beres di sana. Lalu semua harta karun saya, yang berupa segala jenis dokumen dan entah apa lagi yang tersimpan di berbagai tas seminar dan kantong plastik saya angkut semua. Tebarkan di lantai, agar saya mudah memilahnya.

Nah, sekarang mari kita mulai. Dalam sekejap saya langsung heboh sendiri. Tenggelam di dalam keasyikan memilih dan memilah. Sambil sesekali menggumam dan menyanyi mengiringi lagu-lagu yang sengaja saya putar keras melalui loudspeaker di komputer saya…(biar serasa di kafe gitu…hehehe…).

Dan beginilah gaya saya…Lirik sana, lirik sini. Lempar sana…lempar sini…Putar sana…putar sini…mengikuti irama lagu yang ceria, sambil sesekali menatap nanar ke arah dokumen yang sudah amburadul di mana-mana…( hahahaha…). Ada yang di atas meja, ada yang di atas kursi, dan tidak sedikit yang bertaburan di lantai.

Sudah ada beberapa tumpukan. Ada tumpukan brosur, ada tumpukan tiket dan bon makan ( hiii….ngapain juga masuk ke dalam dokumen ?), ada tumpukan makalah, ada guntingan suratkabar ( dengan secuil foto saya di sudutnya… hehe…narsis publik juga niiihhh..), ada tanda kepesertaan seminar dan workshop, stiker segala macam, ada materi training dan ada buku-buku panduan juga, dan eeeeh…ada foto-foto dan kartu nama yang belum sempat saya masukkan ke dalam folder kartu nama….

Tumpuk sana, tumpuk sini…aaaacchhh…gileee ! Akhirnya jadilah tumpukan bukit-bukit kertas. Saya intip-intip isinya sekilas. Entah dari tahun kapan. Eeeh…ternyata banyak juga, ya ? Apa saja sih yang sudah saya kerjakan ?

Tiba-tiba ponsel saya berdering. Tepatnya mengeluh…hehehe…(soalnya sudah seharian kemaren berbunyi-bunyi melulu).

“Heellooowww….!” Suara setengah serak di sebelah sana. Seperti orang yang baru bangun tidur. Sahabat saya, dari Bandung.

“Hmm…ada apa ?” sahut saya, sambil tetap melirik ke arah dokumen yang bertebaran.

“Nggak ada apa-apa…Kangen aja !”

“Huuuhh…aku lagi repot niih ,” saya menjawab, setengah mengeluh. Setengah sirik, membayangkan sahabat saya sedang bersenang-senang dengan kemalasannya.

“Ada kerjaan yang penting ?” nada suaranya mulai prihatin. Apalagi karena dia tahu, saya hobby melakukan kegiatan yang aneh-aneh dan nggak jelas.

“Nggak sih…lagi mau beres-beres dokumen. Sudah berantakan setinggi gunung !” Saya menjawab pasrah.

“Ha ha ha…hi hi hi…iya deeh. Aku tahu, kamu pasti heboh ya ? Ya udah…nanti aja aku telepon lagi, daripada aku ditimpuk dokumen…Byeee….”

Hhhh…syukurlah, dia tidak berpanjang lebar. Saya selalu terserang sakit perut mendadak kalau sudah berurusan dengan kegiatan beres-beres dokumen (dan harta karun lainnya…hiks hiks hiks). Jadi sekarang saya bisa kembali berkonsentrasi. Okeee…kembali ke laptop…he he…kembali ke tumpukan dokumen. Gangguan kecil tadi sempat membuyarkan pikiran saya. Dan untungnya tidak membuyarkan semangat saya…hmm…

Saya mulai lagi. Membagi-bagi tumpukan dokumen itu berdasarkan topiknya. Hmm…ada yang masih baru gress…sekitar beberapa hari dan beberapa minggu. Tapi ya ampuuunn…ada yang dari tahun-tahun lalu. Sampai pinggirannya sudah agak keriting dan berubah warna. Malah ada yang bekas fotokopian, sudah lengket satu sama lain. Rupanya fotokopi lama, yang gampang luntur..Terpaksalah dokumen yang pernah penting itu ( kalau gak penting, mana mungkin disimpan ?) direlakan ke dalam kategori ‘sampah’. Saya masih memandang sekilas, dengan rasa sayang, sebelum akhirnya saya menyerah…dan melipatnya baik-baik.

Ada lagi brosur entah apa…gambar dan warnanya menarik. Saya baca sekilas juga, kuatir kalau ditatap lama-lama saya akan tergoda untuk menyimpannya lagi…( saya pernah punya folder isi brosur wisata dan seminar segala macam…hi hi hi..). Dan seperti dokumen yang keriting tadi, yang ini pun akhirnya menjadi penghuni tumpukan yang disebut ‘sampah’. Ayooo…teruskan lagi…masih ada sobekan-sobekan kertas dengan catatan nomor telepon (pasti sudah saya salin ke buku atau ke phonebook ponsel), catatan pesan kecil , bon belanja yang terjepit di antara dokumen ( ini kesasar atau kenapa ?), tiket pesawat, kuitansi hotel dan restoran (termasuk tagihan cucian…he he he…).

Hmm…sekarang tarik nafas dulu. Hampir dua jam saya berkutat dengan semua dokumen dan sisa dokumen yang tergolong ‘sampah’ itu. Selain dokumen yang sekarang sudah mendapat tempat yang layak di sisi saya, juga ada dokumen yang dengan terpaksa harus diucapkan selamat jalan. Dan jumlahnya ternyata hampir seimbang. Masa lalu dan masa sekarang yang masih berkelanjutan.

Saya memandang tumpukan dokumen masa lalu itu dengan hati miris. Tumpukan dokumen yang pernah sangat berarti buat saya. Dari sekedar catatan dan coretan, hingga usaha berbagai kalangan untuk mewujudkan isi dan tampilan dokumen-dokumen itu. Contohnya saja brosur yang dilengkapi dengan foto-foto. Untuk membuat desain brosurnya saja sudah dibutuhkan satu tim kerja kreatif, belum lagi urusan fotografinya. Jadi ingat pengalaman saya sendiri ketika menjadi copywriter dan bagian kreatif serta produksi materi-materi promosi, termasuk brosur…hmm…Untuk selembar brosur kadang dibutuhkan waktu hingga 1 – 2 bulan, dari mulai proses penciptaan gagasan, proses kreatif hingga siap didistribusi. Sebuah perjalanan yang panjang dan tidak dapat dikerjakan dengan sebelah tangan.

Itu baru urusan kreatif. Belum lagi bicara tentang bahan baku, yang terbuat dari kertas dan tinta cetak. Kertas, dibuat dari bubur kayu. Kayu diambil dari pohon, yang proses penanaman serta penebangannya membutuhkan waktu dan usaha yang tidak sedikit. Tinta ? Pasti melalui proses kimia yang panjang. Semua itu berpadu dengan hasil pemikiran para kreator, agar gagasan-gagasan tentang suatu produk atau jasa dapat tersampaikan kepada audiens atau masyarakat.

Dan, dengan sengaja atau tanpa sengaja…kita berada di dalamnya !!!

Ngomong-ngomong soal dokumen yang berantakan di seantero kamar kerja, saya jadi tergelitik untuk melihat lembar demi lembar yang tadi sudah berbicara kepada saya. Yaah…mereka berbicara dalam diamnya. Mereka berbicara dengan segala penampilan dan isi yang terkandung di dalamnya. Bercerita tentang perjalanan panjang yang harus ditempuhnya.

Tumpukan dokumen dan kertas, telah menempuh perjalanan begitu panjang sebelum tiba di tas kerja saya. Sebelum menjadi bagian dari proses pengayaan diri saya. Sebelum menjadi sumber inspirasi dan penghibur hati saya. Datang dari berbagai sumber. Dari berbagai pemikiran. Dari berbagai rangkaian proses dan manajemen. Lalu terdampar di atas meja kerja saya, atau siapa pun. Mereka, dokumen-dokumen itu, kadang saya jadikan sebagai panutan, kadang saya buang. Itulah warna hidup saya. Hidup kita.

Begitu banyak interaksi dan proses yang terjadi. Dan bukan tidak mungkin, dari selembar dokumen itu sebelum menjadi kertas, sudah terjadi serangkaian unjuk rasa dari para aktivis lingkungan hidup yang memprotes penebangan liar di hutan-hutan tropis ( yang masih terjadi hingga hari ini). Juga bukan tidak mungkin, dari tinta yang mengalir dan menempel di kertas-kertas itu terjadi limbah produksi yang membahayakan lingkungan, dan berdampak pada kesehatan lingkungan.

Masih ada lagi. Dari rangkaian huruf dan kata-kata yang saling terkait satu sama lain, bukan tidak mungkin telah menggerakkan pemikiran kita, perasaan kita, motivasi kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Untuk mengembangkan diri kita dan orang lain.

Saya merenung.

Dari sekedar dokumen. Dari sekedar corat-coret di secarik kertas. Ternyata semua itu merupakan bagian dari langkah-langkah kita. Bagian dari jejak langkah kita. Jejak yang kecil, yang barangkali kita anggap hanya keseharian kita yang tidak penting. Yang kita anggap hanya sebagai bagian dari kewajiban dan warna kehidupan.

Hmm…apa pun…sekecil apa pun…ternyata hidup ini sangat berarti. Langkah kita, sekecil apa pun, ternyata sangat bermakna. Dan akan menjadi rangkaian panjang perjalanan kehidupan yang lain.

Saya meraih tumpukan dokumen dan kertas-kertas ‘sampah’ yang tadi sudah saya singkirkan. Menatapnya sekali lagi. Mengucapkan terima kasih atas semua informasi yang telah diberikannya kepada saya di waktu-waktu yang silam. Lalu, semua saya masukkan ke dalam kantong besar, untuk nanti dapat saya pilah lagi, entah sebagai kertas bungkusan…atau sesuatu yang masih punya arti.

Selamat jalan sisa dokumenku…selamat berpisah…terima kasih telah mengisi jejak-jejak langkahku…

♥♥♥

Jakarta, 18 Agustus 2008

Salam hangat dari sekeping hati yang ingin bermakna…

Ietje S. Guntur

Special note : Terima kasih buat sahabat-sahabatku di HR Opensources ( terutama para inspirator HOS University...Mas Bima, mas Iman, mas Vero, Mas Dwi, Nonce tersayang, Mega, Adith, mas Tyo, Pakdhe Djoko, Mas Bakri, mb Bea, Monik, Astruth , mas Faris, juga Cak Sun di mana pun berada…kalian adalah sumber inspirasi yang luar biasa)…terima kasih telah menggelitiki aku dan membuat aku kembali melihat jejak-jejak kecilku..

Serpih-serpih rindu...

Aiiiiihhhhh.....

Aku kangeeeen banget menulis di sini....Sungguuuuuhhhh...!!! Rasanya setelah berbulan-bulan mati angin dan mati rasa, hari ini mendadak aku ingat lagi dengan Blog Galeri Cintaku ini...Hmmm....

Selama ini...ada rasa rindu...ada rasa sedih...ada rasa ingin marah...tapi aku nggak bisa menuangkannya. Akhirnya aku berkelana saja dari blog ke blog...sambil memandang sendu ke Blog Cintaku ini...Galeri Cintaku...wujud cintaku pada banyak hal...

Setelah melalui pergulatan batin yang lama...setelah melakukan perjalanan ke berbagai negara yang ada di seberang benua...setelah merentang jarak dengan semua yang pernah melekat...setelah merenung sana sini...akhirnya aku bisa menulis lagi...

Ada satu puisi yang barangkali bisa membawa aku kembali pulang kembali ke pojok inspirasiku... Itu adalah puisi perjalananku...

Di sini aku ingin berbagi...dan dari sinilah aku akan memulai langkahku lagi...

Jakarta, 19 Agustus 2008
Salam sayang dari Galeri Cintaku,



Ietje

----------------------------------------------------------------------------------------

Merpati kembali pulang…

Merpati putih

Rentangkan sayap

Terbang tinggi

Mengukir langit

Berpaling jauh

Mencari sarang

Untuk kembali

Pulang….

Angin selaksa

Membawa warta

Setangkai ranting

Di ujung pulau

Memanggil merpati

Untik kembali

Dan

Memberi ruang

Untuk menelisik sayap

Yang lelah

Dan ingin berbaring

Pasrah…

Bologna, trip by Trenitalia – Eurostar

Jum’at 1 Agustus 2008


Ietje

------------------------------------------------------------------------------

KETIKA RINDU MERAIHMU

Tetaplah berdiri di sana

Ketika angin pagi

Menyapamu

Dan aku hanya

Melihat bayangmu…

Tetaplah berdiri di sana

Ketika merpati datang

Mengepakkan

Sayapnya…

Tetaplah berdiri di sana

Ketika aku rindu

Dan

Ingin meraih

Jemarimu….

In long journey from Milano to Rome

Firenze, 01 Agustus 2008

Ietje

Minggu, 22 Juni 2008

Spirit Reborn

SPIRIT REBORN.....


Pernah lihat kecambah ? Belum ? Waaaaww....sayang sekali. Pernah lihat tauge ? hehehe...mestinya sudah pernah, ya ? Hmmm...

Nah, hari-hari saya belakangan ini ya, seperti kecambah itu...seperti tauge.

Setelah beberapa waktu merasa gonjang-ganjing dengan kehidupan di sekitar saya...kadang seperti naik jet-coaster di Dufan, Ancol....mendadak saya tergulung dalam selaput perenungan. Seperti kepompong. Tapi saya tidak serta merta menjadi kupu-kupu yang dapat terbang kian kemari di antara helai-helai daun dan bunga-bunga.

Saya malah merasa seperti kecambah. Seperti sebutir benih yang sedang-sedang siap tumbuh kembali...melanjutkan perjalanan kehidupan.

Saat ini...setelah lama menghilang dari peredaran di dunia tanpa batas...di dunia tanpa jarak...hari ini saya kembali...seperti tauge ...eeeeh...seperti benih yang tumbuh di tanah subur dan siap bertarung dengan keindahan kehidupan di sekitar saya...

Semangat saya, yang sempat tertidur dalam kelelapan yang lena...kini bangkit kembali. Semangat cinta...semangat ingin berbagi...semangat ingin memberikan makna bagi kehidupan ini...

Saya datang...saya kembali...bersama spirit reborn....

Jakarta, 22 Juni 2008


Ietje

Special note : Terima kasih sebesar-besarnya...untuk sebuah hati yang terbuka di sore hari yang hangat di bulan Juni...thanks ya Nemo...

Minggu, 18 Mei 2008

Pecel Tanpa Genjer

Dear Allz…

Hehehe….setelah masa inkubasi beberapa saat lalu dan membakar lemak emosi akhirnya aku berhasil juga menenangkan diri…wekekeke…Kemaren aku ikut seminar HRD, dan mendapat pencerahan…bahwa kelas kayak gitu garing bangeeet…beda sama kelas Komunitas Lesehan yang cuawawakan mlulu. Itulah yang bikin aku kangen…

Pulang dari seminar aku digeret sama Nonce ke percetakan, dan dia paksa aku mendownload tulisan-tulisanku untuk segera di layout buat jadi buku. Terpaksalah…aku mengeluarkan tulisanku…ada 32 artikel. Dan langsung dimasukkan ke dalam mesin pemroses tata letak..hehehe…Abis itu makan sate padang sampe kelenger…

Hari ini tadinya aku mau detoks jiwa aja…tapi masih kangeeeen aja. Dan kebetulan si Nonce lagi kumat juga…dan mendadak dangdut dia udah nongol di rumahku sambil menjarah isi dapur…hahahaha…Dia makan dengan santai di tempat tidur di kamar kerjaku…sambil nungguin aku menyelesaikan tulisan Pecel Tanpa Genjer ini.

Kami sempat menggodai Mas Adith yang sedang tekun belajar. Tapi nggak tega untuk melanjutkan percobaan gangguan ke tempat lain…jadi ya sudah…kami mo jalan-jalan aja…

Udah yaaa…met menikmati genjer ini saja.

Kangen,

Ietje

Art-Living Sos 2008 (A-5.18.01

5/18/2008 2:24:18 PM

5/18/2008 5:34:36 PM

PECEL TANPA GENJER….

Saya sedang makan siang. Menyantap makanan kesukaan saya. Pecel sayuran… Hmmm….enaknyaaa…Pecel dengan daun singkong rebus, bayam rebus, kacang panjang rebus, kol rebus, tauge rebus….heeehhh !!! Ada yang kurang. Genjernya mana ? Iyaa…genjer !!! Tanaman asal-asalan dari sawah itu… Genjer.

Waaaah…kumpulan kol and the gang itu jadi kurang meriah, karena si genjer yang empuk-empuk eyup itu tidak menghadiri perjamuan kali ini. Bukannya nggak menghargai teman-temannya sesama tanaman lainnya yang sudah hijau royo-royo di atas meja makan, tapiiii….hmm….!!! Sepi. Gak rame…??? Tapi..yawda…sekali ini saya terpaksa merelakan impian saya menghablur tanpa genjer…hehehehe…

Bagi sebagian orang, pecel tanpa genjer sih oke-oke saja. Nggak penting-penting banget. Beda halnya kalau pecel sayuran tanpa tauge…rasanya memang kurang lengkap. Tapi kalau sekali sudah tahu sedapnya pecel dengan tambahan genjer…waaah…baru deh nagih…Asalkan nggak jadi ketagihan saja…hihihi…Kayak saya niiih…Yang bisa jadi kumat cerewetnya kalau Sang Genjer tidak ikut hadir dalam kumpulan sayuran itu.

Urusan saya dengan per-genjer-an ini sebetulnya bukan hanya di dalam kaitannya dengan pecel. Genjer direbus begitu saja juga enak. Dimakan dengan sambel yang pedessshh… …dicocol begitu saja….haaaahhh… nikmat sekali. Ada juga yang doyan ditumis. Tumisan genjer hanya dengan cabe atau tanpa cabe, atau dicampuri jamur dan sedikit udang ( iyalah…kalau kebanyakan nanti malah jadi tumis udang…hehehe)..juga uenaaakkk. Malah, kalau di Bandung sering dicampur dengan oncom Bandung yang legit dan cabe yang pedeees juga…wawawawa… mertua lewat pun bisa hanya dilirik sebelah mata… hahahaha..

Genjer….apaan siccchhh ?

Tanaman yang tumbuh liar di sawah-sawah berbentuk batang kotak hijau dengan ketinggian sekitar 20-40 cm ini adalah tanaman murah meriah. Tak heran kalau genjer seringkali dikaitkan dengan kemiskinan atau makanan kaum jelata…hikkss…Entah karena dia begitu gampang tumbuh, nyaris tanpa pemeliharaan dan tanpa proses rekayasa, sehingga siapa pun bisa mengambilnya dan memungutnya dengan gratis di sawah-sawah atau di tepi-tepi selokan di ladang yang airnya mengalir tenang .

Selain karena gampang tumbuh dimana-mana, nama genjer juga berkesan sederhana dan seadanya. Tapi coba begini…kalau saya menyebut nama Umnocharis Flava (L) Buch…naaah, pasti teman dan sahabat semua akan mengira itu nama penyanyi atau produk dari luar negeri ya ? Tapi sebenarnya itu adalah nama genjer dalam bahasa ilmiah di laboratorium…hehehehe… Alias sama saja…genjer dan genjer juga…

Menatap pecel yang tanpa genjer tadi saya jadi merenung. Sebetulnya apa yang salah dengan genjer sehingga dia selalu dikaitkan dengan kemiskinan dan kesengsaraan ?

Beberapa media di ibukota bahkan mengangkat topik kemiskinan dengan simbol genjer. Apakah itu adil buat Sang Genjer ? Apakah dia memang mau ditakdirkan menjadi simbol kemiskinan ? Sementara bagi saya, genjer adalah makanan penambah selera makan…hmmm…persis seperti yang saya baca di salah satu literatur. Itu sebabnya pecel saya tanpa genjer ibarat orkestra tanpa penyanyi soprano…hiks…hiks…hiks..Nggak ada yang menggigit-gigit…

Kita memang kadang suka mempolitisir sesuatu yang sederhana dan mudah diperoleh dengan penderitaan dan kesengsaraan. Seakan-akan sesuatu yang sederhana itu memang jatahnya orang yang menderita. Padahal apakah selalu demikian ? Nasib genjer memang nyaris sama dengan saudaranya Sang Kangkung…yang dulu dianggap makanan sederhana dan jatah orang miskin, tapi sekarang bisa naik kelas dan menjadi makanan mahal di restoran bintang empat dan lima

Di beberapa tempat sekarang pun genjer sudah menjadi makanan mahal. Tidak hanya disajikan di warung lesehan pinggir jalan di jalur jalan raya Bogor – Sukabumi, genjer sekarang juga mulai menjadi santapan pilihan di restoran kelas bintang. Dan harganya pun cukup kompetitif. Nahhh…mau dibilang sederhana lagi ? Mau dibilang makanan rakyat yang sengsara lagi ? Saya saja mengalami kesulitan untuk mendapatkan genjer muda yang masih kinyis-kinyis…dan terpaksa pesan jauh-jauh hari ke tukang sayur langganan agar pecel saya tidak kering kerontang tanpa genjer…

Ngomong-ngomong soal genjer…kadang bagi beberapa kalangan agak sensitif juga. Entah karena kesederhanaannya yang menjadi simbol kemiskinan, entah karena dia pernah dipolitisir oleh kalangan tertentu pada beberapa dekade lalu. Kadang kalau saya sedang bicara soal kecintaan saya pada genjer, ada mata yang melirik aneh…Kok saya doyan makanan sesederhana itu siiichhh ???

Yeaaccch…ini sih memang ada hubungannya juga dengan aktivitas saya semasa masih kanak-kanak dulu. Urusan main di sawah dan mandi di sungai sudah menjadi agenda sehari-hari. Nggak heran kalau dulu saya bisa hitam berkilauan seperti patung kayu mahoni…hehehe. Dan biasanya kalau sudah bosan main, pasti saya akan kelaparan. Pada saat itulah saya mulai mengetahui bahwa kangkung dan genjer adalah makanan yang nikmat sekali. Cukup dipetik langsung di pinggir pematang sawah, direbus seadanya di dangau-dangau yang ada di tengah sawah, lalu disantap begitu saja. Kadang dengan singkong rebus. Kadang tanpa apa-apa…

Dangau-dangau itu adalah milik petani yang sedang menjaga sawah, yang saya kenal sepintas lalu. Mereka membiarkan saya dan teman-teman bermain sepuasnya di tengah sawah, sambil membantu mengusir burung yang suka memakan padi. Imbalannya ya, itu tadi genjer dan singkong…hehehe…Kadang kalau sedang beruntung, kami juga bisa menangkap ikan sepat dan mujaer yang terjebak di antara selokan di antara pematang sawah. Dan genjer itu pun bertambah sedap dengan tambahan lauk yang bisa diperoleh begitu saja…seakan-akan tidak ada pemiliknya…

Bertahun-tahun setelah urusan genjer di tengah sawah itu. Saya selalu merindukan genjer di antara hari-hari saya. Ada saatnya saya tidak bisa mendapatkan makanan itu, karena stok di pasar agak terbatas. Ada juga saatnya orang yang saya minta untuk menyediakan atau memasak genjer untuk saya hanya menarik alisnya, dan memandang saya seolah-olah saya adalah mahluk ajaib dari langit. Seakan-akan bertanya : Hari gini masih makan genjer ???

Duuuh…kalau saja orang-orang itu memahami, betapa genjer bukan hanya nikmat rasanya, tapi juga mengandung zat kardenolin yang berguna untuk tubuh. Sama dengan kandungan yang terdapat pada bayam dan beberapa tumbuhan berkhasiat menenangkan lainnya. Barangkali kalau saja genjer dibudidayakan…dan diolah dengan teknologi pangan yang tinggi…hmmm…barangkali genjer akan naik derajat. Dan kita harus antri untuk mendapatkannya. Sssttt…jangan-jangan…pada saat ini sudah ada pabrik yang mematenkan hak tanam dan hak garap genjer ini. Siapa tahu ?

Saya kembali ke urusan pecel tanpa genjer itu.

Merenung lagi . Betapa naifnya kita ini. Mengabaikan sesuatu karena kesederhanaannya. Karena kemudahan mendapatkannya. Karena keterbukaannya. Bukan karena makna yang ada di balik kehadirannya.

Hmm…Seandainya saya hanya sepotong genjer…masih maukah teman dan sahabat berkenalan dengan saya ?

♥♥♥

Salam Umnocharis Flava….

Ietje S. Guntur

Special note : Thanks buat Atun…my kitchen cabinet assistant…yang selalu sigap mencari genjer kemana-mana…Kemana genjer itu hari ini ya, Tun ? Juga buat my twin sister Nonce…si Penikmat genjer juga…dan tidak lupa sahabat kami Kun-defix…Komunitas Lesehan tanpamu ibarat pecel tanpa genjer…sepi euy..

Minggu, 20 April 2008

Ada apa dengan Kartini....

Dear Allz…

Hallowww….apakabar ?? Hehehe…sudah lama nih saya nggak mengudara…hehe. Bukan sok sibuk, tapi gimana yaaa…ada tugas yang butuh konsentrasi sedikit…Gagasan sih banyak, tapi kalau menulis tanpa semangat dan roh…waaaah…rasanya jadi garing…

Beberapa hari lalu, saya sudah kepikiran untuk menulis tentang salah satu tokoh pembaharu wanita di Indonesia. Siapa lagi, kalau bukan Kartini. Tapi gagasan itu berebut tempat dengan tugas kantor yang sedang saya lakukan…(halaah…)…jadi terpaksa tertunda lagi. Tadi pagi, saya digelitik oleh seorang sahabat. Dan biasalah…kalau sudah disetrum begitu, biasanya saya akan melonjak…

Hari ini…sambil bermalas-malasan, saya membaca ulang buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Dan memang…ada wawasan baru yang saya dapatkan. Rasanya jadi tidak enak, kalau wawasan itu saya simpan sendiri…kuatir ntar jadi beku…he he…

Jadi inilah sedikit cerita saya…Semoga berkenan..

Selamat menikmati….

Salam hangat,

Ietje

Art-Living Sos 2008 (A-4.20.01

Start : 4/20/2008 12:40 PM

Finish : 4/20/2008 1:39 PM

ADA APA DENGAN KARTINI ???

Sekarang bulan April. Bulannya Kartini, kata sebagian orang. Ada yang menyambut perayaan Hari Kartini dengan gembira dan gegap gempita, terutama anak-anak dan para panitia penyenggara acara. Tapi ada yang Cuma mencibirkan bibir : “Kenapa sih harus Kartini ? Ada apa dengan Kartini ?” Dengan pertanyaan lanjutan , “Masih perlukah perayaan seremonial dengan upacara dan pesta segala macam ? “

Halaaahgghh…iya juga ya ? Kenapa, ya ?

Saya yang beberapa hari ini mendinginkan kepala karena sedang ingin konsentrasi dengan pekerjaan merasa tergelitik juga. Apalagi ketika menerima SMS dari seorang sahabat saya seperti ini,” Hari Kartini nih…udah bikin tulisan blom ?” Dia tahu betul kalau saya suka gatel-gatel kalau mendengar atau mengamati suatu issue tertentu. Dan jelas SMSnya itu bikin saya ‘terbakar’ di pagi buta tadi…hmmm…

Perayaan Hari Kartini, barangkali sudah berpuluh-puluh kali kita lakukan. Dari yang lazim diadakan di sekolah, dengan perayaan yang meriah dan lomba busana daerah, sampai yang agak high-class dan intelek dengan acara seminar atau talkshow yang mengusung tema emansipasi dan hak-hak wanita.

Bagi saya, perayaan Hari Kartini dari jaman sekolah dulu, selalu saya sambut dengan gembira. Bukan karena harus pakai kain kebaya lengkap dengan sanggulnya (dan bikin saya selalu panik luar biasa…takut sanggulnya copot), tapi yang jelas pada hari itu biasanya libur belajar…hehehe…Soalnya pasti ada lomba macam-macam. Mulai dari lomba busana, lomba menulis tentang Kartini, lomba baca puisi, lomba cerdas cermat sampai lomba yang jelas nggak ada hubungannya dengan emansipasi dan Hari Kartini…seperti lomba masak untuk murid laki-laki…hmm…

Bagi saya…dan bagi anak-anak umumnya, urusan peringatan Hari Kartini itu memang nggak jauh-jauh dari lomba peragaan busana daerah. Terutama kebaya. Jadi pada hari itu akan tampil berbagai koleksi busana seluruh daerah Indonesia, sesuai dengan asal usul murid yang bersangkutan. Waaah…seru ! Pada saat itulah kita baru menyadari, bahwa Indonesia ini kaya dengan budaya busana tradisional yang beraneka.

Tapi…belakangan saya berpikir, apa hubungannya Hari Kartini dengan busana daerah ? Barangkali di seluruh dunia, hanya di Indonesia ada peringatan hari kelahiran seorang tokoh wanita yang dirayakan dengan lomba busana daerah. Entah siapa yang memulai tradisi ini, tapi kalau ada perayaan Hari Kartini tanpa kebaya dan busana daerah, kayaknya jadi nggak seru. Lucu juga…hehehe…

Padahal…sebetulnya, apa sih yang diperjuangkan oleh Kartini, sehingga ia begitu dikenal sebagai tokoh pembaruan di kalangan wanita Indonesia ? Apakah kala dia menuliskan gagasan-gagasannya seratus tahun yang lalu dia berpikir, bahwa namanya akan ngetop, paling tidak di kalangan pencinta busana kebaya , sehingga muncul istilah kebaya Kartini? Rasanya sih tidak begitu ! Walaupun secara sederhana, kebaya Kartini itu sendiri lambang pemberontakan Kartini terhadap model baju kebaya saat itu yang masih menggunakan kutubaru ( sambungan di dada) yang menunjukkan belahan dada kepada publik ! Kartini, dalam diamnya tidak mau memamerkan bagian dirinya secara fisik dengan cara berlebihan. Ia memiliki prinsip. Termasuk dalam berbusana.

Saya sendiri, yang beberapa kali diminta untuk menjadi narasumber dan urun rembug dalam berbagai acara peringatan Hari Kartini, kadang bingung juga. Mau mengangkat topik apa pada peringatan Hari Kartini itu. Bukan apa-apa, sebagai tokoh wanita, yang saya ambil dari Kartini adalah semangatnya dan inspirasinya. Bukan sekedar emansipasinya. Lha…mau emansipasi bagaimana ? Kita ini kan terikat oleh adat dan lingkungan. Selama adat dan lingkungan itu belum berubah, belum direformasi, ya para wanita yang hidup di dalamnya tetap dalam kedudukan sebagai warga ‘kelas dua’ yang hak dan kewajibannya ditentukan oleh para penguasa di lingkungan budaya tersebut.

Kartini yang saya amati adalah seorang inspirator. Seorang visioner. Kartini, yang tulisan-tulisannya kepada para sahabatnya di Negeri Belanda dibukukan dalam tajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang”, berisi gagasan-gagasan dan segala cita-citanya. Untuk kemajuan wanita. Untuk kemajuan bangsanya. Saya tidak akan membahas mengenai isi tulisannya. Tapi yang jelas, gagasan dan cita-citanya yang berani mendobrak pemikiran wanita ( bahkan para lelaki) pada jamannya itulah yang menjadi inspirasi banyak wanita ( dan mudah-mudahan juga para lelaki) untuk berani berpikir dan bercita-cita juga.

Barangkali ada yang bertanya : Kenapa sih orang bercita-cita saja bisa dijadikan seorang tokoh pembaruan ? Bahkan diresmikan menjadi pahlawan nasional !

Nah, ini dia ! Seorang pembaharu, akan memulai perjalanannya dari pemikiran, dari analisis, dari gagasan yang menerobos batas yang ada di lingkungannya. Gagasan itu kemudian menjadi cita-cita. Cita-cita inilah menjadi motor, menjadi penggerak untuk sebuah program atau pekerjaan. Gagasan dan cita-cita adalah visi. Dan Kartini sudah punya visi itu.

Barangkali ada lagi yang bertanya : Kenapa Cuma punya cita-cita ? Kenapa tidak direalisasikan ?

Memang sayang sekali. Pemikiran Kartini sebagian besar belum sempat diwujudkannya. Ia meninggal dalam usia sangat muda. Masih duapuluh lima tahun ! Usia 25 tahun, di dalam jaman yang serba terkungkung, di dalam tembok tradisi bangsawan Jawa yang sangat ketat. Apa yang bisa dilakukan oleh wanita pada jaman itu ? Yang hidup di dalam dunia yang sepenuhnya dikuasai dan dikendalikan oleh para lelaki.

Kalau kita mau jujur pada diri sendiri, dan merefleksi kondisi saat itu, maka sebetulnya yang harus beremansipasi dan direformasi bukanlah perempuan tetapi laki-laki. Kenapa ? Karena perempuan hanya bisa berkiprah kalau mendapat kesempatan dari laki-laki, baik ayah, maupun anggota keluarga laki-laki lainnya. Kartini yang dikekang oleh adat, hanya bisa bergerak sedikit setelah mendapat kesempatan dari ayahnya dan salah satu saudara laki-lakinya. Ia kemudian juga mendapat peluang mengembangkan gagasannya, dalam suatu perwujudan sekolah pemula yang sederhana, dari suaminya.

Dan ketika kehidupannya yang singkat diambil oleh Sang Pemilik Kehidupan, apakah gagasan, cita-cita dan visinya lantas harus berhenti ? Tidak khan ? Masih ada sahabat-sahabatnya. Masih ada keluarganya. Yang tahu betul, bagaimana harus mewujudkan dan melaksanakan cita-cita itu. Bukankah itu gunanya para sahabat ? Sebagai pendukung dan untuk mewujudkan visi serta cita-cita ?

Nah, sekarang kembali kepada diri kita sendiri. Apa yang terjadi dengan para wanita atau perempuan di abad ini ? Masihkah kita punya gagasan atau cita-cita seperti Kartini, wanita abad lalu itu ?

Kita yang hidup di alam kemerdekaan. Kita yang hidup di alam reformasi dan demokrasi, apa yang sudah kita lakukan ? Adakah kita memiliki hasil karya, yang berguna untuk kehidupan ini ?

Jangan hanya bertanya : Kenapa Kartini ? Kenapa harus dia ? Coba tanyakan pada diri sendiri : Kenapa bukan Ietje ? Kenapa bukan Nonce ? Kenapa bukan Tutsye ? Kenapa bukan Esti ? Kenapa bukan kita ?

Yaaah…kembali lagi…Beranikah kita memiliki gagasan ? Beranikah kita memiliki visi ? Beranikah kita berbagi untuk kemaslahatan kehidupan dan dunia ini ?

♥♥♥

Salam bervisi di hari Kartini,

Ietje S. Guntur

Special note : Thanks berat buat Aan Kecap Tjap Sawi …yang selalu menggelitik hidupku (pada jam yang tidak patut) …dan sahabat-sahabat wanita Esti Wungu yang sedang berjuang di Negeri Ginseng, Eva di Negeri McD, I’ie di Kutub, Nonce di Rawamangun (yang selalu gak nyambung dotcom) , Tutsye ( yang baru tiba di Negeri Walanda demi sebuah cita-cita )…Thanks sudah mengingatkan…bahwa masih ada hal yang kudu direnungkan…

Senin, 07 April 2008

Eyang Goceng...

Dear Allz….

Cinta bisa datang dari mana saja, dan kapan saja. Sekali ini saya ingin berbagi tentang cinta seorang Nenek kepada Cucu...dengan caranya sendiri.

Mana tahu...suatu saat saya jadi nenek juga...dan saya bisa mengikuti jalan cinta eyang saya. Bukan karena amplop dan goceng-nya...tapi karena semua kasih sayang dan petuahnya...yang begitu melekat hingga hari ini...

Salam sayang dari Galeri Cintaku

Ietje

Art-Living Sos 2008 (A-4.05.01

Start : 4/5/2008 10:38 AM

Finish : 4/6/2008 12:11 AM

EYANG GOCENG

Nenek atau eyang adalah orang yang paling asyik. Apalagi kalau punya nenek seperti Eyang saya. Eyang Putri. Eyang yang di Medan, yang menemani saya sejak lahir hingga lulus SMA. Maupun Eyang Jogya, yang menemani saya sejak kuliah sampai punya anak…hehehe…Seru kan…estafet mengasuh cucu dari para Eyang.

Dua-dua eyang putri saya ini unik banget. Dan antik. Ya, iyalah…namanya nenek-nenek pasti antik. Naaah…saya mau cerita nih soal Eyang Putri saya yang di Jogya. Kami memanggilnya dengan sebutan sayang, Eyang Goceng. Pasti dong penasaran…kenapa kami menyebutnya demikian ?

Eyang Putri saya yang di Jogya ini, tepatnya tinggal di desa yang hijau royo-royo…di daerah Sanden, Bantul. Walaupun rumahnya tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Jogyakarta dengan pantai Samas, tetapi nuansa desa sangat terasa di rumah eyang saya yang berhalaman sangat luas. Jangan membayangkan rumah eyang seperti rumah gedung di kota, ataupun rumah beratap rumbia di tengah sawah. Untuk ukuran desa, rumah eyang saya yang dibangun entah jaman kapan sudah terbuat dari batu bata dengan joglo di depannya. Khas rumah Jawa Tengah.

Di rumah Eyang ada tiga kamar berjejer. Yang boleh dipakai tidur hanya kamar kiri dan kanan. Kamar tengah tidak pernah dipergunakan untuk tidur. Begitulah yang saya ketahui. Dan ketika saya tanya ke eyang, katanya sih untuk jaga-jaga saja. Menurut kepercayaan Eyang, itu adalah kamar untuk Dewi Sri, dewi padi dan penjaga kesuburan. Waaah…antik juga, pikir saya. Kamar itu lumayan besar, tapi saya tidak berani tidur disitu. Paling Cuma mengintip-intip saja sesekali…he he…

Cerita tentang pertemuan dengan Eyang pertama kali, adalah cerita yang lucu dan konyol juga. Saya yang lahir di Sumatra, dan dibesarkan dalam lingkungan yang biasa bersuara keras…(hmmm…)…pertama kali bertemu eyang ini ketika saya berusia 7 tahun. Saat itu saya sudah kelas 2 SD. Jauh hari sebelum kunjungan ke Jogya dan hari-H, Ibu saya sudah mengajarkan tatakrama Jawa yang rumit untuk dipergunakan pada saat bertemu pertama kali dengan eyang Jogya. Begitu juga Eyang Medan saya sudah mewanti-wanti agar nanti berperilaku ‘njawani’ dan ‘miyayeni’…alias bersopansantun sesuai tatakrama priyayi. Untuk berbahasa Jawa sedikit-sedikit, ya saya lumayan bisa. Dan itu nanti akan saya praktekkan kepada Eyang Jogya.

Tapi apa yang terjadi ?

Ketika kami tiba di desa, setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta (kami sempat tinggal beberapa minggu di Jakarta sebelum meneruskan perjalanan ke Jogya), eyang justru menyambut kami dengan gegap gempita. Eyang memeluk ibu saya ( sang mantu yang baru pertama kali dilihatnya), dan kemudian memeluk kami , cucunya yang berjumlah lima orang, satu persatu sambil menangis heboh…

Saya Cuma tersenyum bengong. Laaah…gimana mau sungkem sama eyang…wong semua sudah heboh seperti di pasar malam…hehehe…Jadi deh, urusan tata-krama yang sudah dipelajari itu buyar semua. Eyang malah berteriak dengan serunya ,”Yo..wis..sana…anak-anak Sumantrah main di halaman saja…sana ambil sawo sama kelapa !” Eyang menyebut kami, cucu-cucunya ini dengan sebutan Anak Sumantrah…hehehe.

Saya tertegun. Melihat pohon-pohon di rumah eyang yang banyak buahnya. ”Eyang…boleh naik pohon ?” tanya saya ragu-ragu. Di Medan sana, di rumah Eyang Medan, saya sering dimarahi dan kadang dicubiti kalau memanjat-manjat pohon ceri dan pohon rambutan di halaman. Di sini ?

“Yo…panjat yang puas…ambilin sawonya sekalian…,”sahut Eyang tak kalah serunya.

Dan tanpa disuruh dua kali, saya langsung lari ke halaman. Mencari pohon yang paling tinggi. Memanjat dan bergelantungan sambil berteriak-teriak seru. Adik-adik saya yang masih kecil hanya terbengong. Heran. Panik. Kok bisa-bisanya si Kakak ini jadi kalap begitu di antara dahan-dahan pohon.

Itu adalah saat saya ‘jatuh cinta’ pada Eyang Jogya, yang ketika itu masih kami sebut sebagai Eyang Sanden. Ini untuk membedakan dari Eyang Jogya lainnya…yang memang ada beberapa orang lagi.

Setelah berkangen-kangen beberapa hari, kami harus pulang. Kembali ke Sumatra. Kembali ke Medan. Dengan membawa kenangan yang begitu indah. Tentang pohon yang boleh dipanjat kapan saja. Tentang sawah yang menghampar hijau di sekitar rumah eyang. Tentang selokan di dekat sawah yang airnya jernih sekali, dan bisa dipakai untuk mandi-mandi…Tentang dapur eyang yang tak pernah berhenti berasap untuk menyiapkan makanan bagi anak, menantu dan cucu-cucu yang tidak pernah berhenti lapar.

Lama sekali saya tidak bisa ke Jogya. Antara lain karena situasi politik di Indonesia saat itu tidak memungkinkan kami bisa ke sana ke mari dengan leluasa. Selain itu juga penugasan ayah saya di kota-kota terpencil di Sumatra pasti menyulitkan kami untuk ‘mudik’ ke Jawa bersama keluarga. Cerita tentang eyang hanya ada di dalam kenangan. Dan belakangan, saya mulai rajin menulis surat untuk eyang. Menanyakan tentang sawah dan pohon sawo di halaman.

Kesempatan berkunjung baru datang lagi ketika saya duduk di bangku SMP. Saat itu saya sudah ABG, dan adik-adik saya sudah lumayan mengerti tentang sawah dan selokan. Seperti kunjungan beberapa tahun lalu, kali ini pun kami datang dengan segala kehebohan yang hiruk pikuk. Lagi-lagi eyang memeluk kami sambil menyuruh kami naik pohon dan ke sawah. Kali itu, eyang malah ikut mengantar kami melihat sawah yang luas terbentang. “Nasi yang tadi dimakan di rumah, ya dari sawah ini,” Begitu Eyang menjelaskan. Waaah…asyiknya…Pantesan rasanya begitu pulen dan mantaaap ! Apalagi dimakan dengan lauk tempe goreng…wooowww…tiada duanya deeeh !

Walaupun berlibur di rumah Eyang sangat menyenangkan, tetapi kami tak bisa berlama-lama di sana . Kami harus pulang lagi ke Sumatra. Kali ini saya dan adik-adik memiliki cerita yang lebih lengkap tentang rumah eyang. Pohon sawo. Sawah. Pantai yang tak jauh dari desa itu. Selokan. Makam Eyang Kakung dan leluhur lainnya. Juga meja makan eyang yang panjang dan berisi banyak stoples yang penuh dengan beragam penganan dan jajan pasar.

Lulus SMA. Tibalah saat saya harus meninggalkan kota kelahiran di Medan sana. Ceritanya mau melanjutkan kuliah ke Tanah Jawa. Saya seperti napak tilas perjalanan hidup keluarga saya sebelumnya. Tante-tante dan Oom-oom saya yang ketika lahir dan masih kecil dibawa merantau ke Sumatra bersama Eyang Medan, selalu ‘mudik’ ke Jawa untuk melanjutkan kuliah…hehehe. Gimana pulau Jawa nggak penuh lagi ?

Saya dan adik-adik saya termasuk salah satu contohnya. Lahir dan besar di Sumatra. Setelah lulus SMA, melanjutkan kuliah ke Jawa. Kerja di Jawa. Dan beranak-pinak dua kali lipat di Jawa ini juga…hihihi…Hampir tidak ada yang mau pulang ke Sumatra lagi. Halaaaah ? Pulang ke mana ? Asal usulnya kan dari Jawa ini juga ? Dari Sanden, di Jogyakarta sana ? hehehe….Bisa aja !

Dan begitulah…setinggi-tinggi terbang bangau, baliknya ke pelimbahan juga. Begitu kata orang bijak jaman dulu. Sejauh-jauh orangtua saya merantau, anak-anaknya dikembalikan lagi ke kampung halaman di tengah sawah Eyang Jogya…hehe. Untung saja saya tidak harus kuliah di Jogya juga. Kalau ada kewajiban seperti itu…alamaaak… betul-betul bangau pulang ke pelimbahan…hihihi…

Saya kuliah di Bandung. Di kota, tempat Eyang Kakung Medan dulu pernah bertugas. Hiikss… pelimbahan bangau juga niiih ? Pakdhe saya juga (kebetulan) ada di sana. Halaah…jadinya para bangau berkumpul lagi.

Kemudian setelah saya paham cara melakukan perjalanan ke Jogya, dengan menggunakan bis malam atau keretaapi kelas ekonomi ( yang murah meriah…maklum mahasiswa), saya jadi rajin ke rumah Eyang di Sanden. Awalnya saya ke sana karena kangen dengan suasana desa yang hijau royo-royo. Kangen dengan segala ketenteramannya. Kangen mendengar cerita eyang yang selalu heboh. Seru kalau ngobrol dengan Eyang, karena kami selalu pakai bahasa gado-gado. Jawa dan Indonesia. Dan kacau balau…hahaha….

Selanjutnya…seolah-olah…ada udang di balik batu ! Kalau saya lagi nggak punya duit…(maklum orangtua kan harus bagi-bagi kapling dana pendidikan…)…saya datang ke Jogya. Biasalah…cucu manis ini kan bisa jadi pelipur lara Eyang yang hanya tinggal sendirian di rumah sebesar itu. Biasanya saya kalau datang langsung menyapu halaman depan ( udah malu dong manjat-manjat pohon sawo…padahal masih pengen siiih…hehe). Abis itu menimba air di sumur untuk mengisi bak air yang besaaaaar banget. Abis itu ke dapur…mengangkuti kayu bakar buat masak…(eyang masih memasak pakai tungku kayu, walaupun sudah ada kompor minyak tanah). Abis itu duduk kelenger di amben depan, yang ada joglonya…sambil menyantap aneka jajanan dan gorengan buatan Eyang. Sedaaap !!!

Naaah…berkat kerajinan cucu manis ini biasanya hati Eyang langsung luluh. Kalau pulang lagi ke Bandung, selain dibawain oleh-oleh makanan khas Jogya yang muaaaaniiiiissssh sekali, saya juga selalu dibekali uang sangu…hehehe…sebesar lima ribu rupiah. Yang kata adik saya, goceng ! Tapi bukan karena itu saya jadi rajiiiiin banget berkunjung ke Jogya…hehe. Saya memang menjadwalkan datang ke Jogya dan langsung ke Sanden paling tidak dua bulan sekali. Atau kalau lagi sepi perkuliahan, ya sebulan sekali. Saya selalu kangen dengan Eyang. Saya ingin menebus kerinduan masa anak-anak saya dulu.

Ketika saya cerita ke ayah, ibu dan adik-adik saya, mereka semua bersyukur, akhirnya ada cucu yang bisa dekat dengan eyang. Jadi Eyang nggak terlalu kesepian lagi. Maklum dari berpuluh orang cucunya, jarang ada cucu yang bisa datang berkunjung. Jadi, saat itu saya termasuk cucu kesayangan…hmmm…

Suatu ketika liburan panjang tiba, adik-adik saya ikutan berlibur ke rumah Eyang. Waaah…eyang senang sekali dikunjungi setengah lusin cucu yang heboh semua. Selain menyediakan makanan seperti biasa ( yang seperti menjamu anak sekampung)…eyang juga membebaskan kami tidur di mana saja di seluruh area rumah. Lalu beraktivitas seperti yang saya lakukan. Rumah eyang yang biasanya tenang tentram, dalam sekejap menjadi ajang kerusuhan massal. Karena kami terus saja ngobrol, teriak-teriak, dan lari-lari kian kemari di dalam dan di luar rumah…hehehe…Pusing juga kan eyang ?

Tiba saatnya pamit lagi. Eyang menatap kami satu persatu dengan mata tuanya yang penuh rindu. Lalu kami semua diberi amplop. Masing-masing dapat lima ribu rupiah lagi. Sejak itulah…eyang kami resmi mendapat panggilan kesayangan Eyang Goceng !

Saya masih merasakan kasih sayang eyang…sampai saya lulus kuliah. Sampai saya menikah. Sampai saya punya anak. Bahkan anak saya pun belajar berjalan pertama kali, ya di rumah Eyang Goceng . Di halaman depan yang dipergunakan untuk menjemur padi. Anak saya bisa berkeliling lapangan…dengan tertatih-tatih…sambil membawa sebatang sapu yang diseretnya kian kemari. Dan Eyang Goceng tertawa sambil meneteskan airmata.

Rasanya hidup saya menjadi lengkap. Saya punya dua orang Eyang Putri. Satunya Eyang Medan. Satunya Eyang Sanden. Barangkali banyak cucu lain yang punya Eyang Medan, atau Eyang Sanden. Tapi mungkin di seluruh dunia hanya kami yang memiliki Eyang Goceng….hehehe…

♥♥♥

Jakarta, 4/6/2008 12:08 AM

Salam sayang di tengah kerinduan….

Ietje Djoemarno…(sebelum menjadi Ietje Guntur)

Special note : Terima kasih tidak terhingga untuk Eyang Goceng…yang selalu mendukung dan mendorong kami untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya…dan berbagi ilmu dan apa saja sebanyak-banyaknya…seperti kata Eyang selalu ,”Hidup ini Cuma titipan…”Jadi kenapa titipan itu tidak disalurkan kepada yang membutuhkan…?