Dear Allz...
Hmmmh....ssstttt....lagi ngapain ? Apakabar teman dan sahabatku ? Ada yang sedang menjalankan ibadah puasa ? Hmm...semoga puasanya lancar, yaaa...dan berkah juga buat semua, yang puasa maupun teman-teman dan sahabat di sekitar kita...
Hehehe...iya, puasa memang suatu ibadah...dan sama dengan ibadah lainnya, yang menjadi dasar ibadah adalah keikhlasan...dan hasil ibadah itu adalah perbaikan diri yang terus menerus. Ini sih nggak semata-mata buat ibadah puasa saja, tetapi juga untuk berbagai aktivitas kita yang lain...termasuk bekerja.
Ya, iyalah...kalau kita melakukan sesuatu nggak jelas dan nggak ikhlas, rasanya aktivitas itu pun terasa berat. Jadi seperti beban yang menggelayut di pundak. Tapi kalau kita melakukannya dengan ikhlas, dengan gembira...apa pun yang kita kerjakan akan terasa ringan...seperti kapas yang ditiup angin...hehehehe...
Bukan hanya itu....keikhlasan dan kegembiraan membuat kita jadi penasaran, dan jadi ingin berbuat yang lebih baik lagi. Minimal...kita ingin agar hidup kita berguna dan bermanfaat untuk lebih banyak orang. Tak hanya untuk diri sendiri, tak hanya sekedar numpang lewat...tapi terus melekat erat...hingga ke dalam hati. Yeah...mirip-mirip aspal gitu deechh...
Haaaaa....aspal...!!! Apa hubungan ikhlas dengan aspal ? Sekilas memang tidak ada hubungan. Tapi apa jadinya jalan raya tanpa aspal ? Bagaimana kalau aspal tidak ikhlas melicinkan jalan di jalur Pantura ? ohooooo....pasti jalan tidak akan mulus dan perjalanan tidak lancar...hmmh...menarik juga khan ?
Kalau begitu...kita bincang-bincang sedikit deh tentang aspal....Mau khaaan ???
Oke deeeh...selamat menikmati.....
Jakarta, 23 Agustus 2010
Salam erat yang selalu hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010
Jumat, 20 Agustus 2010
Ide : 20/08/2010 15:07:53
Start : 21/08/2010 09:40:06
Finish : 21/08/2010 10:45:50
A.S.P.A.L
Pagi-pagi. Hari Senin. Hari yang biasanya dimulai dengan ketergesaan... hehehe...
Saya sedang dalam perjalanan ke kantor. Melewati jalan di kompleks perumahan, yang dulu muluuuuuusss dan rata. Sekarang, jalan itu sudah bopeng-bopeng, banyak lubangnya....granjul-granjul...gronjal-gronjal bila kita memacu kendaraan lebih cepat. Akibatnya, perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 5-10 menit bisa-bisa menjadi dua kali lipat.
Saya memandang sedih jalan yang sekarang nyaris tidak karuan bentuknya, dengan lapisan aspal yang mengelupas di sana sini. Membuka lobang-lobang yang sangat berbahaya bagi pengendara kendaraan bermotor. Duuuh...kenapa jadi begini, ya ?
Jalan di kompleks perumahan saya, yang konon pernah termasuk perumahan ‘kelas satu’ di kawasan Selatan Jakarta tidak sendirian. Dari banyak perjalanan saya ke berbagai penjuru kota Jakarta, kondisi jalan yang bopeng, bopak, berlubang-lubang bukan hanya milik kami sendiri. Bahkan yang lebih parah, jalan protokol sekelas Jalan Jenderal Sudirman sekalipun tak luput dari cacat lobang dengan aspal yang geripis di sana sini. Jangan kita bicara soal jalan negara antar kota antar propinsi. Terutama di luar Jawa, semisal jalur pantai Timur dan pantai Barat Sumatra. Kondisi jalan yang parah, seperti sudah menjadi cerita rutin sehari-hari. Selama bertahun-tahun...halaaahh...!!
Pembenahan atau pemolesan jalan, biasanya dilakukan setahun sekali menjelang hari raya Lebaran, untuk memperlancar arus kendaraan yang mudik ke kampung. Ohh..lalalala...kenapa begitu ya ?
Konon, kemajuan sebuah negara ditentukan oleh kondisi jalan rayanya ! Hmmh...kayaknya sih pameo itu bisa dibenarkan juga...hiks hiks hiks...Tapi apakah kita perlu membuktikan bahwa kita memang benar-benar tidak punya aspal untuk melapisi jalan raya yang merupakan infrastruktur pembangunan ? Wadoowww...
Ngomong-ngomong soal aspal, saya jadi ingat pelajaran jaman SD dulu. Kata buku saya, Indonesia memiliki tambang aspal yang terkenal di pulau Buton. Lalu ?
Kenyataannya memang demikian. Kita punya, tapi karena teknologi pengolahannya belum optimal, jadi biaya pengolahannya kalah ekonomis dibandingkan dengan aspal minyak yang diproduksi oleh Pertamina.
Begitulah...Ternyata urusan aspal ini sama rumitnya dengan urusan kecantikan wanita . Kalau wanita kan merasa kurang kinclong kalau wajahnya belum dipoles alas bedak dan ditaburi bedak. Tingkat kemulusan dan kekinclongan wajah wanita ini pun bisa berbeda-beda, tergantung dari perawatan dan modalnya...hehe...kata lainnya, tergantung dari bahan dan merek kosmetik yang dipergunakannya . Sama juga dengan aspal.
Dulu saya pikir aspal itu ya sama saja. Tapi dari pengamatan dan sedikit penelusuran saya, ternyata memang ada beda. Ada aspal yang hasil tambang seperti di Buton itu, yang disebut sebagai aspal alam. Dan ada aspal yang berasal dari pengolahan minyak atau aspal minyak. Hasilnya ada aspal padat dan ada aspal cair. Kedua aspal ini disebut bitumen , yang merupakan bahan pengikat pada campuran yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur.
Konon aspal mulai digunakan untuk melicinkan dan me-make up jalan raya agar mulus pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Sebelumnya jalan raya dibangun dengan menyusun batu alam, atau cukup dari campuran batu yang dihancurkan dan diaduk dengan tanah alam sekitar. Namun sebetulnya teknologi pembuatan perekat seperti aspal ini sudah dikenal oleh bangsa Sumeria sejak 3000 tahun sebelum Masehi.... woow...
Memang, tak hanya wanita yang perlu berdandan. Jalan raya pun perlu bersolek. Tidak heran sejak dulu orang sudah berusaha membuat jalan raya yang nyaman, walaupun dengan perekat tanah untuk memadatkan batu-batuan. Hingga saat ini, beberapa kota-kota di Eropa masih ada jalanan yang terbuat dari susunan batu-batu dengan perekat model aspal kuno berdampingan dengan jalan raya yang mulus licin bak kulit wajah anak perawan...hmm...
Kata aspal berasal dari bahasa Yunani asphaltos, yang berarti aman. Maksudnya, aspal merupakan bahan yang aman atau mampu mencegah rembesan air. Dengan kata lain, aspal adalah bahan yang kedap air. Sekitar 1500 Masehi, bangsa Inca di Peru mulai menggunakan aspal sebagai pengeras jalan. Di Amerika Serikat (AS), aspal mulai dipakai sebagai bahan pengeras jalan raya pada 1850-an.
Penggunaan aspal untuk jalan memang termasuk kemajuan, dan membutuhkan biaya yang lebih besar. Itu sebabnya, kemajuan ekonomi suatu negara memang tercermin dari kemampuan mereka mengalokasikan dana untuk memuluskan jalan raya dengan aspal. Ya, iyalah...ada rupa ada harga...mana bisa kita tampil cantik kalau tidak mau keluar modal. Dan yang jelas, ada visi untuk maju dan mau berkembang lebih baik lagi.
Saya sendiri merindukan jalan yang mulus berlapis aspal. Tidak hanya untuk kemudahan perjalanan dari rumah ke kantor, atau ke manapun perjalanan saya, tapi juga untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dengan adanya lapisan aspal pada jalan raya di depan rumah, maka kotoran, sampah, daun-daun akan lebih mudah dibersihkan...dan bebas debu serta limpahan air yang menjadi lumpur.
Tak hanya itu. Saya jadi ingat semasa kecil dulu, kami sering main sepatu roda atau sekarang dikenal sebagai roller blade dan skate board di jalan raya di depan rumah. Tentunya di dalam kompleks yang bebas kendaraan lalu lalang...hehe...Maklum, kalau mau main sepatu roda di halaman rumah mana seru...Selain sempit juga bisa menyambar tanaman yang ada di halaman. Bisa-bisa diomelin ibu dan orang rumah yang sudah cape-cape menanam dan merawat tanaman hias...hiiks...
Oya...kalau jalanan di depan rumah licin dan bersih, kita kan juga jadi semangat merapikan rumah...hehe...Dampak lingkungannya cukup besar juga khan ?
Kembali ke urusan aspal.
Saya jadi merenung sedikit. Aspal konon dibuat untuk melapisi dan memperkuat struktur jalan. Banyak hal terbantu dengan penggunaan aspal yang membuat perjalanan menjadi lancar. Aspal memang tidak menonjol, tetapi aspal dapat membuat perubahan dan pengembangan lingkungan sangat pesat.
Banyak hal terbantu karena kehadiran aspal. Dan banyak hal yang tertunda karena ketiadaan aspal.
Sama juga dengan kehidupan kita. Ketika kita mampu berbaur, mampu menjadi bagian dari sebuah infrastruktur, akan banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh oleh lingkungan kita. Namun kadang, kesombongan kita untuk menjadi yang utama dan diperhatikan secara khusus membuat kita lupa, bahwa kita punya potensi seperti aspal. Merekatkan.
Silaturahmi yang kita lakukan, mirip dengan apa yang dilakukan oleh aspal. Silaturahmi pun ada yang alamiah, seperti aspal Buton, tapi ada juga hasil olahan pergaulan yang dikemas dengan berbagai etika dan tata krama.
Apa pun...menjadi aspal tetaplah merupakan tindakan yang positif. Asalkan kita juga mawas diri...jangan menjadi ASPAL yang ASPAL...alias asli tapi palsu...Tetaplah bersikap wajar dan jujur, tanpa perlu memolesnya dengan kepura-puraan. Karena yang palsu itu tetap akan luntur dan membuat penampilan menjadi tidak alamiah .
Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan...semoga siapa pun kita, dapat memanfaatkan momentum ini untuk menjadi aspal yang merekatkan hati dan merekatkan dunia sekitar kita... Semoga kita dapat menjaga diri, menjadi diri kita sendiri.
Jakarta, 21 Agustus 2010
Salam erat yang hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Untuk sahabat-sahabatku di SDM Global yang seperti aspal perekat silaturahmi dan pengembangan ilmu berbatas langit...thanks buat mas Hamid Ho, mas Dwi, Nonce, Monik, Papih Ir, Adith, Kun, Bas, Boby, mas Agus, mas Irsad, Nia-Fitri-Tetta, mb Bea...Juga sahabat-sahabat di Trainersclub...mas Hendry, sis Lina, sis Ayu, sis Lila, kang Uu, Teddy, Mas Krisna KP, mas Saleh Lukas, mas Krishnamurti...sahabat di Profec, special mb Lies...dan semua-mua yang telah melimpahkan aspalnya untuk kehidupan yang lebih luas lagi...
Ide :
1. Aspal adalah materi pelapis jalan.
2. Aspal juga disebut asli tapi palsu
3. Hidup ini sebaiknya yang asli, karena yang palsu akhirnya akan luntur.
Sabtu, 28 Agustus 2010
Sabtu, 21 Agustus 2010
Art-Living Sos 2010 (A-8 Cicak di dinding
Dear Allz...
Halllloooowww.....teman dan sahabatku semua...Apakabaaaarrrr....??? Hmmm...semoga semua baik-baik, ya....Sudah beberapa hari nih puasa...semoga yang menjalankannya tetap dalam kondisi fit...lahir dan batin...
Konon puasa itu memang menyehatkan. Dan kalau diikuti prosedurnya, Insya Allah kita semakin sehat, karena ada waktu beristirahat bagi tubuh ini untuk mencerna makanan. Iya, makan memang perlu. Tetapi banyak sekali penyakit yang timbul justru dari makan dan makanan. Cara kita makan, dan jenis makanan yang kita pilih, kadang tidak cocok dengan kondisi badan kita....Akhirnya bukannya sehat, justru kita menjadi sakit.
Itulah...pilih-pilih makanan memang sangat perlu. Seorang ahli mengatakan, bahwa kita adalah apa yang kita makan. Hmm...maknanya bisa dalam sekali. Kalau kita makan daging, ya barangkali apa yang kita makan juga menjadi bagian dari diri kita. Kalau kita menyantap sayuran dan buah-buahan, kita pun bisa menjadi sesegar buah yang baru dipetik...eheeemmm...Seyogyanya kita memang bisa memilih makanan yang menyehatkan dan menghindari makanan yang merugikan, agar kita tidak sekedar panjang umur, tapi juga sehat terjaga sepanjang waktu...
Ngomong-ngomong soal makan, saya jadi ingat cicak di rumah saya. Lha....kok beloknya jauh sekali ya...hehehe...Iya, cicak atau cecak. Selama ini kita hanya tahu bahwa cicak makan nyamuk. Tapi ternyata ada cicak yang doyan nasi dan remah roti....he he...Tidak percaya ? Hmh...saya jadi ingin sharing tentang ‘piaraan’ saya yang satu lagi ini...Boleh, khan ?
Okelah...sambil menunggu waktu berbuka puasa atau waktu sahur...mari duduk dekat sini...dan hmm....buka mata, buka telinga, buka hati...barangkali kita bisa mendapat inspirasi dari kisah si Cicak ini...
Salam sayang buat semuaaaaa....
Jakarta, 20 Agustus 2010
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-8
Jumat, 20 Agustus 2010
Start : 20/08/2010 11:21:27
Finish : 20/08/2010 13:52:47
CICAK DI DINDING
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap
Datang seekor nyamuk
Haaappp...lalu ditangkap
( Lagu Ciptaan : A.T. Mahmud)
♥
Bulan Ramadhan. Saya sedang mempersiapkan makan sahur. Nasi dan lauk pauk...hmmh...sebetulnya sih hanya menghangatkan makanan sisa berbuka...hehe...dan minuman. Tiba-tiba mata saya terusik oleh pemandangan lucu. Dua ekor cicak ( ada juga yang menyebutnya cecak atau cak-cak) sedang berebutan sesuatu di kredensa tempat saya meletakkan rice cooker.
Saya tertarik, dan memperhatikan dengan seksama. Olalaaaa...ternyata kedua cicak itu sedang berebutan remah nasi yang tadi terjatuh ketika saya sedang menyendoknya...
Saya perhatikan lagi. Cicak yang lebih besar segera melarikan sejumput nasi di mulutnya, dan dikejar oleh cicak yang lebih kecil. Yang besar segera menghilang di balik kredensa, sedangkan yang kecil diam, sambil napasnya terlihat ngos-ngosan. Ohhh...kasihan, batin saya. Cicak ini ternyata doyan nasi juga.
Lalu saya ambil sejumput nasi hangat yang menempel di sendok nasi, dan saya letakkan di ujung tatakan yang ada di atas kredensa. Cicak itu berpaling sejenak. Matanya yang besar tampak berkedip-kedip. Tidak takut melihat saya. Lalu terlihat ia mendengus. Mungkin menghirup aroma nasi hangat yang harum. Saya tinggalkan, tapi dalam jarak pandang yang terjangkau. Si Cicak tampak bergerak pelan. Kemudian mencomot nasi itu...diam lagi...seperti mengemut...lalu pelan-pelan bergerak ke pojokan, menikmati santapan nasi hangatnya...hmmmhh..
♥
Urusan percicakan ini memang bukan baru sekali ini terjadi di rumah saya.
Semasa ibu saya masih ada dan sering berkunjung ke rumah saya, kami berdua memiliki ‘peliharaan ‘ cicak. Saya punya cicak yang sejak kecil tinggal di bawah pesawat televisi di ruang keluarga, dan setiap malam selalu menunggu sajian remah kue atau roti yang ditaburkan di lantai dekat lemari TV. Semula saya tidak menyadari kalau si Cicak kecil ini doyan remah roti.
Awalnya setiap malam, sambil tiduran membaca koran dan menonton TV kadang-kadang saya ngemil makanan kecil. Remahnya terjatuh, dan sebelum sempat saya bersihkan, si Cicak kecil datang mengendap-endap untuk mengambil remah-remah itu. Hampir setiap malam begitu. Hingga suatu hari, saya lihat si Cicak kecil sudah tumbuh semakin besar. Dan dia pun semakin lincah merayap ke sana kemari. Tapi selalu kembali lagi ke bawah lemari TV. Mungkin itulah teritori, daerah kekuasaannya...ck ck ck...
Dia pun seperti tahu, bahwa saya akan menyediakan remah roti setiap kali duduk di situ. Suatu ketika saya tidak memiliki remah-remah roti, tetapi dia sudah mulai nekad. Dia mendatangi saya, dan merayap tidak jauh dari kaki saya. Saya mencoba menggodanya, mengusirnya dan tetap tidak memberikan remah roti. Ketika saya berjalan, dia mengikuti sambil merayap dari belakang...walaaaah...dasar nih si Cicak...pikir saya, sambil terus berjalan. Si Cicak tetap mengikuti. Akhirnya saya tidak tahan dan tertawa sendiri. Bagaimana coba, kalau hewan sekecil itu terinjak oleh kaki saya yang jauh lebih besar ?
Sejak saat itu kami pun bersahabat.
Kalau saya nonton TV dia dengan leluasa akan mondar mandir di dekat saya. Bahkan ketika saya kecapean dan berbaring di lantai beralas karpet, dia tanpa sungkan merayap mendekati dan nyaris menyentuh wajah saya...Barangkali dia mau mencium saya, ya ? Yeeee....jadi ngelunjak juga nih cicak...hahahaha...
♥
Ngomong-ngomong soal cicak, mereka dikenal juga dengan nama keren lizard. Hewan reptil berkaki empat dan berekor panjang ini mudah ditemukan di mana saja. Di negeri-negeri tropis hingga di negeri empat musim, kita dapat menemukan cicak sebagai bagian dari lingkungan. Beberapa jenis cicak di antaranya yang paling kita kenal adalah cicak tembok , cicak kayu dan cicak gula.
Cicak ini umumnya hidup di alam bebas, di rumah atau pun di kebun. Ada beberapa jenis cicak, dan masing-masing jenis serta spesies memiliki ukuran serta warna tersendiri. Di rumah, kita mengenal jenis cicak yang berwarna agak putih pucat. Sedangkan di alam bebas dan di pohon, umumnya cicak berwarna gelap . Karena termasuk reptil kecil yang suhu tubuhnya tergantung cuaca di sekitarnya, maka bila dipegang, dia seperti agar-agar yang dingin dan empuk. Belum lagi kulitnya yang pucat dan nyaris transparan, membuat orang kadang geli atau jijik ketika memandangnya.
Di beberapa budaya, kehadiran cicak dianggap sebagai hewan yang sakral dan membawa hoki. Di budaya Bali, cicak dianggap sebagai representasi Dewi Saraswati, yaitu dewi yang melindungi berbicara dan menulis. Tetapi di budaya lain, salah satunya budaya Jawa yang saya ketahui, kadang-kadang cicak dianggap sebagai hewan mitos pembawa bencana . Kejatuhan cicak di kepala atau di pundak, sering dianggap sebagai pertanda sial atau paling tidak ada musibah yang akan menimpa...halaaah....
Padahal kita tahu, cicak yang memiliki kaki berperekat juga bisa gugup ketika merayap terbalik di langit-langit rumah . Akibat gugup itu kadang-kadang cicak terjatuh, dan menimpa apa saja yang ada di bawahnya. Kadang cicak pun suka iseng. Dia melompat dari satu dinding ke dinding lain. Kalau luput, ya...jatuhlah dia. Bagi yang jijik melihat hewan berkulit pucat ini, rasanya memang sial banget. Tapi kan mendingan kejatuhan cicak dari pada kejatuhan saudara jauhnya....Sang Tokek atau Buaya...hehehehe....
Sebetulnya apa sih fungsi cicak di dalam kehidupan kita ini ?
Yang jelas, cicak doyan makan nyamuk. Jadi kalau ada cicak, alamat rumah kita cukup aman dari nyamuk. Kadang cicak berburu nyamuk sambil berlari-lari di dinding, dan sangat ribut bila menemukan mangsanya. Tapi ketika rumah bersih dan nyamuk tidak ada, maka cicak ternyata cukup fleksibel untuk beralih pangan...menyantap nasi dan remah roti...hehehehe...Ada jenis cicak yang bahkan sangat suka gula dan yang manis-manis, sehingga tidak jarang ia kecemplung di dalam gelas kopi kita. Tentu maksudnya terjun ke situ bukan untuk begadang menikmati kopi...hiks hiks...
Selain sebagai pembasmi nyamuk, cicak masih memiliki kegunaan yang lain. Beberapa kalangan percaya bahwa cicak merupakan obat penyakit kulit.
Eeeh, saya jadi ingat. Semasa masih kecil dulu, saya sering diajak oleh ayah saya untuk berburu cicak-cicak di dinding. Kadang cicak dijepret dengan karet atau dikagetkan dan disabet dengan sapu. Cicak yang sudah mati lalu dijemur hingga kering, dan kemudian daging kering itu ditumbuk sehingga menjadi bubuk. Konon bila dimakan atau diminum, bisa mengobati sakit kulit yang membandel....yiiiiii.....
Saya sih belum pernah mencobanya. Tetapi seorang sahabat keluarga telah mencobanya, dan katanya sih, hasilnya cukup efektif...hek hek hek...
♥
Ngomong-ngomong soal reptil rumahan ini, saya jadi ingat juga semasa anak saya , Si Cantiq masih balita. Dia sering sulit tidur bila tidak didongengkan. Saya sudah membacakan banyak sekali cerita dari berbagai buku, dan kadang saya sampai jatuh tertidur ketika membacanya. Tapi dia belum cukup puas. Terpaksalah....saya harus mengarang sendiri cerita-cerita lain agar dia bisa tidur. Salah satu diantaranya adalah tentang keluarga cicak yang ada di rumah kami.
Saat kami berbaring di ranjang, dan kelihatan cicak mondar-mandir di plafon kamar , maka mulailah saya mengarang cerita. Malah cicak di kamar kami telah kami beri nama, yaitu Chici dan Choco. Dari cerita-cerita itu, saya pun bisa memasukkan nilai-nilai moral dan nilai disiplin untuk anak saya.
Suatu ketika, saat kami sedang asyik berbincang tentang Chici dan Choco, si Cantiq bertanya dengan lugu ,” Kalau cicak mau bobo, mereka cuci kaki dulu nggak ?”
Haaaaaahhhh......?????
Sampai hari ini, setiap melihat cicak, saya jadi tersenyum sendiri... Saya tidak bisa menjawab pertanyaan si Cantiq. Jadi saya terpaksa ngeles saja selama bertahun-tahun. Cicak cuci kaki ? Hmmm... Ada teman dan sahabat yang mau menjawab ???
♥
Jakarta, 20 Agustus 2010
Salam hangaaaaaattt.....cak ...cak...cak...
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk Mama dan si Cantiq semata wayang yang menjadi inspirasi tulisan ini. Ketika saya sedang sendirian, cicak-cicak inilah yang menjadi sahabat...dan membangkitkan semangat...cihuyyy....
♥♥♥
Ide :
20/08/2010 11:20:42
1. Cicak atau cecak adalah hewan reptil kecil yang merayap. Cicak banyak hidup di sekitar kita, di rumah ataupun di kebun.
2. Cicak rumah umumnya bertubuh kecil, gepeng, dan berkulit pucat. Ada beberapa jenis cicak, tetapi yang paling banyak adalah cicak yang berkulit putih pucat dan nyaris transparan.
3. Cicak dikenal doyan makan serangga, tetapi ketika dia tinggal bersama manusia, dia pun beradaptasi menyantap makanan yang sama, misalnya nasi, roti dan lauk pauknya.
4. Ketika anak saya masih kecil, cicak ini juga menjadi inspirasi cerita menjelang tidur untuk anak saya.
5. Di rumah saya sering ada cicak yang sudah bersosialisasi dengan keseharian hidup kami. Ada cicak penguasa TV, ada cicak penguasa rice cooker, dan ada cicak perambah meja makan.
6. Perilakunya lucu, walaupun kadang agak menjengkelkan karena mereka suka menyelinap ke bawah tudung saji.
7. Apa yang bisa kita pelajari dari cicak-cicak ini ?
Halllloooowww.....teman dan sahabatku semua...Apakabaaaarrrr....??? Hmmm...semoga semua baik-baik, ya....Sudah beberapa hari nih puasa...semoga yang menjalankannya tetap dalam kondisi fit...lahir dan batin...
Konon puasa itu memang menyehatkan. Dan kalau diikuti prosedurnya, Insya Allah kita semakin sehat, karena ada waktu beristirahat bagi tubuh ini untuk mencerna makanan. Iya, makan memang perlu. Tetapi banyak sekali penyakit yang timbul justru dari makan dan makanan. Cara kita makan, dan jenis makanan yang kita pilih, kadang tidak cocok dengan kondisi badan kita....Akhirnya bukannya sehat, justru kita menjadi sakit.
Itulah...pilih-pilih makanan memang sangat perlu. Seorang ahli mengatakan, bahwa kita adalah apa yang kita makan. Hmm...maknanya bisa dalam sekali. Kalau kita makan daging, ya barangkali apa yang kita makan juga menjadi bagian dari diri kita. Kalau kita menyantap sayuran dan buah-buahan, kita pun bisa menjadi sesegar buah yang baru dipetik...eheeemmm...Seyogyanya kita memang bisa memilih makanan yang menyehatkan dan menghindari makanan yang merugikan, agar kita tidak sekedar panjang umur, tapi juga sehat terjaga sepanjang waktu...
Ngomong-ngomong soal makan, saya jadi ingat cicak di rumah saya. Lha....kok beloknya jauh sekali ya...hehehe...Iya, cicak atau cecak. Selama ini kita hanya tahu bahwa cicak makan nyamuk. Tapi ternyata ada cicak yang doyan nasi dan remah roti....he he...Tidak percaya ? Hmh...saya jadi ingin sharing tentang ‘piaraan’ saya yang satu lagi ini...Boleh, khan ?
Okelah...sambil menunggu waktu berbuka puasa atau waktu sahur...mari duduk dekat sini...dan hmm....buka mata, buka telinga, buka hati...barangkali kita bisa mendapat inspirasi dari kisah si Cicak ini...
Salam sayang buat semuaaaaa....
Jakarta, 20 Agustus 2010
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-8
Jumat, 20 Agustus 2010
Start : 20/08/2010 11:21:27
Finish : 20/08/2010 13:52:47
CICAK DI DINDING
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap
Datang seekor nyamuk
Haaappp...lalu ditangkap
( Lagu Ciptaan : A.T. Mahmud)
♥
Bulan Ramadhan. Saya sedang mempersiapkan makan sahur. Nasi dan lauk pauk...hmmh...sebetulnya sih hanya menghangatkan makanan sisa berbuka...hehe...dan minuman. Tiba-tiba mata saya terusik oleh pemandangan lucu. Dua ekor cicak ( ada juga yang menyebutnya cecak atau cak-cak) sedang berebutan sesuatu di kredensa tempat saya meletakkan rice cooker.
Saya tertarik, dan memperhatikan dengan seksama. Olalaaaa...ternyata kedua cicak itu sedang berebutan remah nasi yang tadi terjatuh ketika saya sedang menyendoknya...
Saya perhatikan lagi. Cicak yang lebih besar segera melarikan sejumput nasi di mulutnya, dan dikejar oleh cicak yang lebih kecil. Yang besar segera menghilang di balik kredensa, sedangkan yang kecil diam, sambil napasnya terlihat ngos-ngosan. Ohhh...kasihan, batin saya. Cicak ini ternyata doyan nasi juga.
Lalu saya ambil sejumput nasi hangat yang menempel di sendok nasi, dan saya letakkan di ujung tatakan yang ada di atas kredensa. Cicak itu berpaling sejenak. Matanya yang besar tampak berkedip-kedip. Tidak takut melihat saya. Lalu terlihat ia mendengus. Mungkin menghirup aroma nasi hangat yang harum. Saya tinggalkan, tapi dalam jarak pandang yang terjangkau. Si Cicak tampak bergerak pelan. Kemudian mencomot nasi itu...diam lagi...seperti mengemut...lalu pelan-pelan bergerak ke pojokan, menikmati santapan nasi hangatnya...hmmmhh..
♥
Urusan percicakan ini memang bukan baru sekali ini terjadi di rumah saya.
Semasa ibu saya masih ada dan sering berkunjung ke rumah saya, kami berdua memiliki ‘peliharaan ‘ cicak. Saya punya cicak yang sejak kecil tinggal di bawah pesawat televisi di ruang keluarga, dan setiap malam selalu menunggu sajian remah kue atau roti yang ditaburkan di lantai dekat lemari TV. Semula saya tidak menyadari kalau si Cicak kecil ini doyan remah roti.
Awalnya setiap malam, sambil tiduran membaca koran dan menonton TV kadang-kadang saya ngemil makanan kecil. Remahnya terjatuh, dan sebelum sempat saya bersihkan, si Cicak kecil datang mengendap-endap untuk mengambil remah-remah itu. Hampir setiap malam begitu. Hingga suatu hari, saya lihat si Cicak kecil sudah tumbuh semakin besar. Dan dia pun semakin lincah merayap ke sana kemari. Tapi selalu kembali lagi ke bawah lemari TV. Mungkin itulah teritori, daerah kekuasaannya...ck ck ck...
Dia pun seperti tahu, bahwa saya akan menyediakan remah roti setiap kali duduk di situ. Suatu ketika saya tidak memiliki remah-remah roti, tetapi dia sudah mulai nekad. Dia mendatangi saya, dan merayap tidak jauh dari kaki saya. Saya mencoba menggodanya, mengusirnya dan tetap tidak memberikan remah roti. Ketika saya berjalan, dia mengikuti sambil merayap dari belakang...walaaaah...dasar nih si Cicak...pikir saya, sambil terus berjalan. Si Cicak tetap mengikuti. Akhirnya saya tidak tahan dan tertawa sendiri. Bagaimana coba, kalau hewan sekecil itu terinjak oleh kaki saya yang jauh lebih besar ?
Sejak saat itu kami pun bersahabat.
Kalau saya nonton TV dia dengan leluasa akan mondar mandir di dekat saya. Bahkan ketika saya kecapean dan berbaring di lantai beralas karpet, dia tanpa sungkan merayap mendekati dan nyaris menyentuh wajah saya...Barangkali dia mau mencium saya, ya ? Yeeee....jadi ngelunjak juga nih cicak...hahahaha...
♥
Ngomong-ngomong soal cicak, mereka dikenal juga dengan nama keren lizard. Hewan reptil berkaki empat dan berekor panjang ini mudah ditemukan di mana saja. Di negeri-negeri tropis hingga di negeri empat musim, kita dapat menemukan cicak sebagai bagian dari lingkungan. Beberapa jenis cicak di antaranya yang paling kita kenal adalah cicak tembok , cicak kayu dan cicak gula.
Cicak ini umumnya hidup di alam bebas, di rumah atau pun di kebun. Ada beberapa jenis cicak, dan masing-masing jenis serta spesies memiliki ukuran serta warna tersendiri. Di rumah, kita mengenal jenis cicak yang berwarna agak putih pucat. Sedangkan di alam bebas dan di pohon, umumnya cicak berwarna gelap . Karena termasuk reptil kecil yang suhu tubuhnya tergantung cuaca di sekitarnya, maka bila dipegang, dia seperti agar-agar yang dingin dan empuk. Belum lagi kulitnya yang pucat dan nyaris transparan, membuat orang kadang geli atau jijik ketika memandangnya.
Di beberapa budaya, kehadiran cicak dianggap sebagai hewan yang sakral dan membawa hoki. Di budaya Bali, cicak dianggap sebagai representasi Dewi Saraswati, yaitu dewi yang melindungi berbicara dan menulis. Tetapi di budaya lain, salah satunya budaya Jawa yang saya ketahui, kadang-kadang cicak dianggap sebagai hewan mitos pembawa bencana . Kejatuhan cicak di kepala atau di pundak, sering dianggap sebagai pertanda sial atau paling tidak ada musibah yang akan menimpa...halaaah....
Padahal kita tahu, cicak yang memiliki kaki berperekat juga bisa gugup ketika merayap terbalik di langit-langit rumah . Akibat gugup itu kadang-kadang cicak terjatuh, dan menimpa apa saja yang ada di bawahnya. Kadang cicak pun suka iseng. Dia melompat dari satu dinding ke dinding lain. Kalau luput, ya...jatuhlah dia. Bagi yang jijik melihat hewan berkulit pucat ini, rasanya memang sial banget. Tapi kan mendingan kejatuhan cicak dari pada kejatuhan saudara jauhnya....Sang Tokek atau Buaya...hehehehe....
Sebetulnya apa sih fungsi cicak di dalam kehidupan kita ini ?
Yang jelas, cicak doyan makan nyamuk. Jadi kalau ada cicak, alamat rumah kita cukup aman dari nyamuk. Kadang cicak berburu nyamuk sambil berlari-lari di dinding, dan sangat ribut bila menemukan mangsanya. Tapi ketika rumah bersih dan nyamuk tidak ada, maka cicak ternyata cukup fleksibel untuk beralih pangan...menyantap nasi dan remah roti...hehehehe...Ada jenis cicak yang bahkan sangat suka gula dan yang manis-manis, sehingga tidak jarang ia kecemplung di dalam gelas kopi kita. Tentu maksudnya terjun ke situ bukan untuk begadang menikmati kopi...hiks hiks...
Selain sebagai pembasmi nyamuk, cicak masih memiliki kegunaan yang lain. Beberapa kalangan percaya bahwa cicak merupakan obat penyakit kulit.
Eeeh, saya jadi ingat. Semasa masih kecil dulu, saya sering diajak oleh ayah saya untuk berburu cicak-cicak di dinding. Kadang cicak dijepret dengan karet atau dikagetkan dan disabet dengan sapu. Cicak yang sudah mati lalu dijemur hingga kering, dan kemudian daging kering itu ditumbuk sehingga menjadi bubuk. Konon bila dimakan atau diminum, bisa mengobati sakit kulit yang membandel....yiiiiii.....
Saya sih belum pernah mencobanya. Tetapi seorang sahabat keluarga telah mencobanya, dan katanya sih, hasilnya cukup efektif...hek hek hek...
♥
Ngomong-ngomong soal reptil rumahan ini, saya jadi ingat juga semasa anak saya , Si Cantiq masih balita. Dia sering sulit tidur bila tidak didongengkan. Saya sudah membacakan banyak sekali cerita dari berbagai buku, dan kadang saya sampai jatuh tertidur ketika membacanya. Tapi dia belum cukup puas. Terpaksalah....saya harus mengarang sendiri cerita-cerita lain agar dia bisa tidur. Salah satu diantaranya adalah tentang keluarga cicak yang ada di rumah kami.
Saat kami berbaring di ranjang, dan kelihatan cicak mondar-mandir di plafon kamar , maka mulailah saya mengarang cerita. Malah cicak di kamar kami telah kami beri nama, yaitu Chici dan Choco. Dari cerita-cerita itu, saya pun bisa memasukkan nilai-nilai moral dan nilai disiplin untuk anak saya.
Suatu ketika, saat kami sedang asyik berbincang tentang Chici dan Choco, si Cantiq bertanya dengan lugu ,” Kalau cicak mau bobo, mereka cuci kaki dulu nggak ?”
Haaaaaahhhh......?????
Sampai hari ini, setiap melihat cicak, saya jadi tersenyum sendiri... Saya tidak bisa menjawab pertanyaan si Cantiq. Jadi saya terpaksa ngeles saja selama bertahun-tahun. Cicak cuci kaki ? Hmmm... Ada teman dan sahabat yang mau menjawab ???
♥
Jakarta, 20 Agustus 2010
Salam hangaaaaaattt.....cak ...cak...cak...
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk Mama dan si Cantiq semata wayang yang menjadi inspirasi tulisan ini. Ketika saya sedang sendirian, cicak-cicak inilah yang menjadi sahabat...dan membangkitkan semangat...cihuyyy....
♥♥♥
Ide :
20/08/2010 11:20:42
1. Cicak atau cecak adalah hewan reptil kecil yang merayap. Cicak banyak hidup di sekitar kita, di rumah ataupun di kebun.
2. Cicak rumah umumnya bertubuh kecil, gepeng, dan berkulit pucat. Ada beberapa jenis cicak, tetapi yang paling banyak adalah cicak yang berkulit putih pucat dan nyaris transparan.
3. Cicak dikenal doyan makan serangga, tetapi ketika dia tinggal bersama manusia, dia pun beradaptasi menyantap makanan yang sama, misalnya nasi, roti dan lauk pauknya.
4. Ketika anak saya masih kecil, cicak ini juga menjadi inspirasi cerita menjelang tidur untuk anak saya.
5. Di rumah saya sering ada cicak yang sudah bersosialisasi dengan keseharian hidup kami. Ada cicak penguasa TV, ada cicak penguasa rice cooker, dan ada cicak perambah meja makan.
6. Perilakunya lucu, walaupun kadang agak menjengkelkan karena mereka suka menyelinap ke bawah tudung saji.
7. Apa yang bisa kita pelajari dari cicak-cicak ini ?
Selasa, 17 Agustus 2010
Art-Living Sos 2010 (A-8 Burung Phoenix
Dear Allz....
Hallllowwwww....apakabar ??? Semoga semua teman dan sahabatku dalam keadaan sehat dan ceria yaaa...Dengan sehat, kita bisa melakukan apa saja. Bahkan untuk sekedar ngobrol...hehehehe....Wuuuppppsss...kayaknya cukup lama ya kita nggak ngobrol, kita seperti digulung oleh kesibukan...Iya niiih...menjelang akhir semester, biasanya banyak kesibukan yang terjadwal...baik kesibukan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari, maupun kesibukan yang mendadak...
Alhamdulillah kalau kita masih bisa sibuk atau paling tidak menyibukkan diri. Itu artinya, kita masih diberi kesempatan untuk mengisi hidup ini dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat...paling tidak untuk diri kita sendiri. Iyalah...kalau kita tidak dapat memanfaatkan kesempatan untuk diri sendiri, bagaimana pula kita dapat bermanfaat bagi orang lain.
Hmmh...di hari-hari yang ceria ini...saya ingin berbagi sedikit cerita tentang perjalanan saya...oleh-oleh kecil dari sedikit perjalanan ke sebuah kota di negeri tetangga. Apa oleh-olehnya ? hhhmmm...hanya sebuah cerita...
Mau ya, kita ngobrol dan berbagi ? Berbeda dengan cerita lainnya, kali ini saya cerita sedikit tentang sebuah mitos atau legenda. Yaitu tentang burung Phoenix...hmmh...belum pernah dengar ? Okelah kalau begitu...kita mulai saja yaaaa....
Sipppp...sippp...duduk manis dulu dong...dan olalaaaaaaa.....
Selamat menikmati....
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-6
Minggu, 13 Juni 2010
Start : 13/06/2010 19:32:37
Finish : 13/06/2010 21:42:22
BURUNG PHOENIX
Siang hari bolong. Di tengah Pasar Central atau nama lokalnya Phsar Thmey, di jantung kota Pnom Penh, Cambodia. Saya sedang berlibur bersama teman-teman jaman SMA dulu...hehehe...Jauh banget, yaaaa...Cambodia, atau ada yang menyebut Kampucha, negeri tetangga. Yang lebih kita kenal sebagai negara Norodom Sihanouk, sahabat negara kita.
Bukan tanpa alasan kami, saya dan teman-teman memilih Cambodia, khususnya Phnom Penh untuk tempat berlibur. Selain cenderamatanya yang unik dan menarik, harga di sana juga termasuk miring...alias murah meriah. Bukan emak-emak namanya kalau berlibur tanpa belanja. Apa pun itu bentuknya. Selain itu tentu ada cerita historis yang ingin dilihat dan dirasakan di sana. Dan seperti perjalanan lainnya, setiap kali selalu ada pengalaman batin yang dialami dan dihayati.
Kelenger kepanasan karena sengatan udara panas bulan Juni yang mencapai sekitar 36 derajat Celcius, saya pun duduk terengah di emperan kios. Dari tadi sudah mengubek-ubek pasar, mencari cendera mata untuk oleh-oleh. Dan sekarang saya duduk tenang, sambil memperhatikan orang yang lalu lalang dan belanja segala macam. Sahabat-sahabat saya masih banyak yang belum selesai bertransaksi, dan masih dua tiga putaran lagi berkeliling mondar mandir di depan hidung saya.
Entah bagaimana, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada setumpukan cendera mata terbuat dari logam kuningan. Bentuk mungil dan unik. Dan mata saya terperangkap ketika melihat sebentuk hewan mirip ayam dan burung. Woooowww...ini dia yang saya cari. Burung Phoenix.
Akhirnya cenderamata itu pun berpindah tangan. Bersama dengan sebentuk kura-kura mungil dan gajah bertelinga lebar, ketiga cenderamata itu dihargai 2 dolar Amerika. Lumayan murah. Dan dengan hati-hati cenderamata itu saya masukkan ke dalam tas khusus leher yang tergantung di pundak saya. Ini adalah salah satu hewan dalam kisah mitologi, yang paling saya sukai.
♥
Tiba di Jakarta, cendera mata burung Phoenix mungil itu saya tempatkan di atas meja kerja di rumah. Dan setiap kali memandangnya, saya teringat berbagai kisah inspiratif yang pernah saya dengar atau baca mengenai burung Phoenix ini.
Mungkin tidak banyak orang yang peduli dengan burung Phoenix. Apalagi konon, burung ini hanyalah mitos belaka. Tapi coba lihat...di banyak budaya burung phoenix ini menjadi contoh pembangkit spirit yang luar biasa.
Sebetulnya, siapakah burung Phoenix ini ?
Sebagai penggemar cerita silat (...hiiiyaaaaa...)...sejak jaman SMP dulu saya suka membaca dan menonton segala jenis film silat atau drama made in Hong Kong. Dan salah satu film yang berkesan bagi saya adalah kisah tentang burung Phoenix yang akan terbakar habis ketika tiba akhir hidupnya. Kemudian, dari abunya itu dia lahir kembali, dan menjadi muda lagi.
Bukan hanya di film silat Mandarin. Di dalam salah satu serial Harry Potter juga ada cerita tentang burung Phoenix. Menonton film tentang burung yang konon sangat cantik dan indah bulunya itu, saya jadi terkagum-kagum. Seandainya burung itu benar-benar ada, betapa dia akan menjadi raja atau ratu dari segala burung. Dia adalah primadona burung-burung. Namun, di tengah kejayaannya, di puncak kehidupannya, dia justru harus mati. Terbakar. Sebelum akhirnya dia muncul lagi...Begitu berulang-ulang...
Menurut legenda Cina kuno, konon burung Phoenix , dikenal juga dengan sebutan burung Hong atau Long Feng , dapat mencapai umur 500 – 1461 tahun...(wadduuh...siapa yang bisa mencapai umur segitu, untuk mencatatnya ya ?). Tak hanya dalam legenda Cina kuno. Di Mesir, burung Phoenix ini merupakan burung keramat berwarna merah dan emas, dan dipercaya sebagai representasi dewa Ra – Dewa Matahari, Penguasa tertinggi kehidupan ini. Juga di India, dalam kepercayaan Hindu burung Phoenix disebut juga sebagai burung garuda. Apakah dia bersaudara dengan burung garuda Indonesia ? Wallahu alam...
♥
Melihat pajangan burung Phoenix di atas meja kerja , saya jadi merenung.
Sebetulnya banyak hal bisa kita pelajari dari kehidupannya. Lihatlah siklus hidupnya. Lahir...entah dari mana (telur atau kehidupan awal)...kemudian tumbuh dan berkembang. Selain cantik dan bermata jeli, burung Phoenix disebut-sebut juga sangat lincah bergerak dan terbang kian kemari. Benar-benar seekor burung ideal yang layak dikagumi di dunia perburungan.
Lalu...ketika dia sudah mencapai puncaknya, maka dengan segala kerendahan hati, ia pun mengundurkan diri dari dunia ini...dan pwsss...dalam sekejap terbakar habis oleh api suci yang muncul dari dirinya sendiri.
Lihatlah dalam kehidupan nyata sekarang. Saya suka mengamati banyak perusahaan-perusahaan dan organisasi yang besar dan berkembang indah seperti burung Phoenix. Begitu besarnya perusahaan itu, sehingga namanya dikagumi dan menjadi panutan bagi banyak organisasi dan perusahaan di seluruh dunia. Sebut saja beberapa nama di dunia komputer, dunia telekomunikasi, dan dunia otomotif.
Mereka adalah burung Phoenix yang pernah sangat jaya, namun kemudian di puncak kejayaannya mereka seakan-akan terbakar habis. Tapi tidak ! Tunggu beberapa saat. Mereka bangkit, dan dalam bentuk baru muncul kembali sebagai penguasa di bidangnya. Itulah...mereka tahu, kapan harus berkembang, kapan harus melakukan regenerasi dan reorganisasi di dalam bisnis dan perusahaannya.
Mengapa mereka dapat melakukan reinkarnasi dengan kemunculan yang lebih baik ?
Sama dengan burung Phoenix yang semakin tua, semakin bijaksana, mereka adalah organisasi-organisasi yang memiliki integritas. Mereka memiliki corporate culture yang sudah melekat dan mengalir di dalam setiap sel tubuhnya. Itu sebabnya, mereka tahu persis, apa yang terjadi dengan diri mereka. Dan sebelum pihak lain melakukan intervensi atau pun campur tangan di dalam kehidupannya, mereka dengan suka rela dan senang hati melakukan perubahan sendiri. Dari dalam dirinya...
♥
Kembali kepada burung Phoenix, kembali kepada diri kita sendiri.
Sepanjang hidup dan karir saya, boleh dikatakan saya termasuk orang yang ‘berpengalaman’ masuk dan keluar berbagai perusahaan. Dimulai dari karir awal, ada yang terpaksa saya tinggalkan karena ada kepentingan lain yang harus saya dahulukan. Ada juga yang saya tinggalkan karena kontrak kerja sudah selesai. Bahkan, ada juga perusahaan yang terpaksa meminta saya mengundurkan diri dengan alasan kondisi organisasi yang labil . Semua itu membuat saya harus ‘membakar diri’, dan menjadikan diri saya orang yang baru setiap kali.
Belajar dari pengalaman masa lalu, belajar dari perjalanan hidup yang sangat beraneka, membuat saya bercermin pada burung Phoenix yang selalu legowo untuk terbakar pada saatnya. Burung Phoenix atau burung Hong tidak pernah takut untuk terbakar. Mereka tahu, bahwa dengan ketiadaan itu justru akan melahirkan pembaruan.
Hidup ini memang pilihan. Terbakar oleh kejadian atau kondisi di luar diri kita, atau membakar diri pada saatnya. Keduanya sama-sama terbakar, namun kesadaran membakar diri akan membuat kita lebih siap siaga dan siap sedia menerima segala resikonya. Berbeda dengan terbakar oleh keadaan lingkungan, sering membuat kita tidak siap untuk menerima keadaan.
Padahal bila kita bercermin pada siklus kehidupan...Kemarin, hari ini, dan besok...hidup akan selalu berganti. Sama seperti burung Phoenix yang cantik, suatu saat kita pun akan mengalami masa terbakar.
Yang menjadi pertanyaan : siapkah kita untuk ‘membakar diri’ pada saat kejayaan kita, dan menjadi ‘orang baru’ dengan semangat baru di dalam kehidupan yang akan datang....
Semoga saja...
Jakarta, 13 Juni 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk semua teman, sahabat serta seluruh organisasi dan perusahaan tempat aku mengembangkan diri...Juga untuk rekan dan sahabatku di BCA Beautiful Life...thanks atas kebersamaan kita... Serta sahabat-sahabat seperjalananku...Artha, Ninin, Anum, Linda, Yuka dan seluruh team ...semua kesempatan emas itu telah membuat aku berani menjadi orang yang baru....
Hallllowwwww....apakabar ??? Semoga semua teman dan sahabatku dalam keadaan sehat dan ceria yaaa...Dengan sehat, kita bisa melakukan apa saja. Bahkan untuk sekedar ngobrol...hehehehe....Wuuuppppsss...kayaknya cukup lama ya kita nggak ngobrol, kita seperti digulung oleh kesibukan...Iya niiih...menjelang akhir semester, biasanya banyak kesibukan yang terjadwal...baik kesibukan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari, maupun kesibukan yang mendadak...
Alhamdulillah kalau kita masih bisa sibuk atau paling tidak menyibukkan diri. Itu artinya, kita masih diberi kesempatan untuk mengisi hidup ini dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat...paling tidak untuk diri kita sendiri. Iyalah...kalau kita tidak dapat memanfaatkan kesempatan untuk diri sendiri, bagaimana pula kita dapat bermanfaat bagi orang lain.
Hmmh...di hari-hari yang ceria ini...saya ingin berbagi sedikit cerita tentang perjalanan saya...oleh-oleh kecil dari sedikit perjalanan ke sebuah kota di negeri tetangga. Apa oleh-olehnya ? hhhmmm...hanya sebuah cerita...
Mau ya, kita ngobrol dan berbagi ? Berbeda dengan cerita lainnya, kali ini saya cerita sedikit tentang sebuah mitos atau legenda. Yaitu tentang burung Phoenix...hmmh...belum pernah dengar ? Okelah kalau begitu...kita mulai saja yaaaa....
Sipppp...sippp...duduk manis dulu dong...dan olalaaaaaaa.....
Selamat menikmati....
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-6
Minggu, 13 Juni 2010
Start : 13/06/2010 19:32:37
Finish : 13/06/2010 21:42:22
BURUNG PHOENIX
Siang hari bolong. Di tengah Pasar Central atau nama lokalnya Phsar Thmey, di jantung kota Pnom Penh, Cambodia. Saya sedang berlibur bersama teman-teman jaman SMA dulu...hehehe...Jauh banget, yaaaa...Cambodia, atau ada yang menyebut Kampucha, negeri tetangga. Yang lebih kita kenal sebagai negara Norodom Sihanouk, sahabat negara kita.
Bukan tanpa alasan kami, saya dan teman-teman memilih Cambodia, khususnya Phnom Penh untuk tempat berlibur. Selain cenderamatanya yang unik dan menarik, harga di sana juga termasuk miring...alias murah meriah. Bukan emak-emak namanya kalau berlibur tanpa belanja. Apa pun itu bentuknya. Selain itu tentu ada cerita historis yang ingin dilihat dan dirasakan di sana. Dan seperti perjalanan lainnya, setiap kali selalu ada pengalaman batin yang dialami dan dihayati.
Kelenger kepanasan karena sengatan udara panas bulan Juni yang mencapai sekitar 36 derajat Celcius, saya pun duduk terengah di emperan kios. Dari tadi sudah mengubek-ubek pasar, mencari cendera mata untuk oleh-oleh. Dan sekarang saya duduk tenang, sambil memperhatikan orang yang lalu lalang dan belanja segala macam. Sahabat-sahabat saya masih banyak yang belum selesai bertransaksi, dan masih dua tiga putaran lagi berkeliling mondar mandir di depan hidung saya.
Entah bagaimana, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada setumpukan cendera mata terbuat dari logam kuningan. Bentuk mungil dan unik. Dan mata saya terperangkap ketika melihat sebentuk hewan mirip ayam dan burung. Woooowww...ini dia yang saya cari. Burung Phoenix.
Akhirnya cenderamata itu pun berpindah tangan. Bersama dengan sebentuk kura-kura mungil dan gajah bertelinga lebar, ketiga cenderamata itu dihargai 2 dolar Amerika. Lumayan murah. Dan dengan hati-hati cenderamata itu saya masukkan ke dalam tas khusus leher yang tergantung di pundak saya. Ini adalah salah satu hewan dalam kisah mitologi, yang paling saya sukai.
♥
Tiba di Jakarta, cendera mata burung Phoenix mungil itu saya tempatkan di atas meja kerja di rumah. Dan setiap kali memandangnya, saya teringat berbagai kisah inspiratif yang pernah saya dengar atau baca mengenai burung Phoenix ini.
Mungkin tidak banyak orang yang peduli dengan burung Phoenix. Apalagi konon, burung ini hanyalah mitos belaka. Tapi coba lihat...di banyak budaya burung phoenix ini menjadi contoh pembangkit spirit yang luar biasa.
Sebetulnya, siapakah burung Phoenix ini ?
Sebagai penggemar cerita silat (...hiiiyaaaaa...)...sejak jaman SMP dulu saya suka membaca dan menonton segala jenis film silat atau drama made in Hong Kong. Dan salah satu film yang berkesan bagi saya adalah kisah tentang burung Phoenix yang akan terbakar habis ketika tiba akhir hidupnya. Kemudian, dari abunya itu dia lahir kembali, dan menjadi muda lagi.
Bukan hanya di film silat Mandarin. Di dalam salah satu serial Harry Potter juga ada cerita tentang burung Phoenix. Menonton film tentang burung yang konon sangat cantik dan indah bulunya itu, saya jadi terkagum-kagum. Seandainya burung itu benar-benar ada, betapa dia akan menjadi raja atau ratu dari segala burung. Dia adalah primadona burung-burung. Namun, di tengah kejayaannya, di puncak kehidupannya, dia justru harus mati. Terbakar. Sebelum akhirnya dia muncul lagi...Begitu berulang-ulang...
Menurut legenda Cina kuno, konon burung Phoenix , dikenal juga dengan sebutan burung Hong atau Long Feng , dapat mencapai umur 500 – 1461 tahun...(wadduuh...siapa yang bisa mencapai umur segitu, untuk mencatatnya ya ?). Tak hanya dalam legenda Cina kuno. Di Mesir, burung Phoenix ini merupakan burung keramat berwarna merah dan emas, dan dipercaya sebagai representasi dewa Ra – Dewa Matahari, Penguasa tertinggi kehidupan ini. Juga di India, dalam kepercayaan Hindu burung Phoenix disebut juga sebagai burung garuda. Apakah dia bersaudara dengan burung garuda Indonesia ? Wallahu alam...
♥
Melihat pajangan burung Phoenix di atas meja kerja , saya jadi merenung.
Sebetulnya banyak hal bisa kita pelajari dari kehidupannya. Lihatlah siklus hidupnya. Lahir...entah dari mana (telur atau kehidupan awal)...kemudian tumbuh dan berkembang. Selain cantik dan bermata jeli, burung Phoenix disebut-sebut juga sangat lincah bergerak dan terbang kian kemari. Benar-benar seekor burung ideal yang layak dikagumi di dunia perburungan.
Lalu...ketika dia sudah mencapai puncaknya, maka dengan segala kerendahan hati, ia pun mengundurkan diri dari dunia ini...dan pwsss...dalam sekejap terbakar habis oleh api suci yang muncul dari dirinya sendiri.
Lihatlah dalam kehidupan nyata sekarang. Saya suka mengamati banyak perusahaan-perusahaan dan organisasi yang besar dan berkembang indah seperti burung Phoenix. Begitu besarnya perusahaan itu, sehingga namanya dikagumi dan menjadi panutan bagi banyak organisasi dan perusahaan di seluruh dunia. Sebut saja beberapa nama di dunia komputer, dunia telekomunikasi, dan dunia otomotif.
Mereka adalah burung Phoenix yang pernah sangat jaya, namun kemudian di puncak kejayaannya mereka seakan-akan terbakar habis. Tapi tidak ! Tunggu beberapa saat. Mereka bangkit, dan dalam bentuk baru muncul kembali sebagai penguasa di bidangnya. Itulah...mereka tahu, kapan harus berkembang, kapan harus melakukan regenerasi dan reorganisasi di dalam bisnis dan perusahaannya.
Mengapa mereka dapat melakukan reinkarnasi dengan kemunculan yang lebih baik ?
Sama dengan burung Phoenix yang semakin tua, semakin bijaksana, mereka adalah organisasi-organisasi yang memiliki integritas. Mereka memiliki corporate culture yang sudah melekat dan mengalir di dalam setiap sel tubuhnya. Itu sebabnya, mereka tahu persis, apa yang terjadi dengan diri mereka. Dan sebelum pihak lain melakukan intervensi atau pun campur tangan di dalam kehidupannya, mereka dengan suka rela dan senang hati melakukan perubahan sendiri. Dari dalam dirinya...
♥
Kembali kepada burung Phoenix, kembali kepada diri kita sendiri.
Sepanjang hidup dan karir saya, boleh dikatakan saya termasuk orang yang ‘berpengalaman’ masuk dan keluar berbagai perusahaan. Dimulai dari karir awal, ada yang terpaksa saya tinggalkan karena ada kepentingan lain yang harus saya dahulukan. Ada juga yang saya tinggalkan karena kontrak kerja sudah selesai. Bahkan, ada juga perusahaan yang terpaksa meminta saya mengundurkan diri dengan alasan kondisi organisasi yang labil . Semua itu membuat saya harus ‘membakar diri’, dan menjadikan diri saya orang yang baru setiap kali.
Belajar dari pengalaman masa lalu, belajar dari perjalanan hidup yang sangat beraneka, membuat saya bercermin pada burung Phoenix yang selalu legowo untuk terbakar pada saatnya. Burung Phoenix atau burung Hong tidak pernah takut untuk terbakar. Mereka tahu, bahwa dengan ketiadaan itu justru akan melahirkan pembaruan.
Hidup ini memang pilihan. Terbakar oleh kejadian atau kondisi di luar diri kita, atau membakar diri pada saatnya. Keduanya sama-sama terbakar, namun kesadaran membakar diri akan membuat kita lebih siap siaga dan siap sedia menerima segala resikonya. Berbeda dengan terbakar oleh keadaan lingkungan, sering membuat kita tidak siap untuk menerima keadaan.
Padahal bila kita bercermin pada siklus kehidupan...Kemarin, hari ini, dan besok...hidup akan selalu berganti. Sama seperti burung Phoenix yang cantik, suatu saat kita pun akan mengalami masa terbakar.
Yang menjadi pertanyaan : siapkah kita untuk ‘membakar diri’ pada saat kejayaan kita, dan menjadi ‘orang baru’ dengan semangat baru di dalam kehidupan yang akan datang....
Semoga saja...
Jakarta, 13 Juni 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk semua teman, sahabat serta seluruh organisasi dan perusahaan tempat aku mengembangkan diri...Juga untuk rekan dan sahabatku di BCA Beautiful Life...thanks atas kebersamaan kita... Serta sahabat-sahabat seperjalananku...Artha, Ninin, Anum, Linda, Yuka dan seluruh team ...semua kesempatan emas itu telah membuat aku berani menjadi orang yang baru....
Art-Living Sos 2010 (A-8 Keran...
Dear Allz...
Apakabaaaaaaarrrrr....hehe...lama ya, gak ketemu ? Lama juga ya kita nggak saling berkabar. Iya niiih...saya lagi berhibernasi...hehe...seperti beruang kutub di dalam goa es...Moga-moga, walaupun kita lama tidak saling bersapa, semua teman dan sahabatku dalam keadaan sehat dan gembira yaaa...
Betuuulll...hidup ini walaupun Cuma sebentar, seyogyanya kita nikmati dengan gembira. Alangkah sayangnya hidup bila hanya diisi dengan kemuraman. Padahal kata orang pintar, kemuraman dan kesedihan itu adalah persepsi kita sendiri. Orang yang mengalami hal sama, tapi karena pengalaman dan persepsi yang berbeda, akan menilai peristiwa itu dengan hasil berbeda....hehehe...
Sama juga dengan kehidupan kita ini secara keseluruhan...kadang gembira, kadang sedih...ya nikmati saja...Kitalah yang harus mengganti posisi dan memutar keran persepsi itu agar kita dapat menikmati saat terbaik yang kita miliki....
Haaaaa...keran ? Kenapa keran, ya ? Ngomong-ngomong soal keran, saya jadi ingin ngobrol soal keran...hihiiiii...sederhana banget ya ?
Nggak apa-apa sederhana. Mumpung lagi bulan puasa nih, jadi kita ngobrol yang sederhana dan ringan-ringan saja.
Okeee...sambil menunggu waktu berbuka dan waktu sahur....mari kita mulai...satu...dua...tigaaaa...siaaaaappp......
Selamat menikmati....semoga berkenan....
Jakarta, 16 Agustus 2010
Salam hangat full kangen,
Ietje S. Guntur
- Sambil menunggu saat perayaan hari Kemerdekaan RI ke 65..
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-8
Start : 04/08/2010 15:29:04
Finish : 16/08/2010 17:13:31
KERAN....
Di kantor. Sehabis jam makan siang. Seperti biasa saya akan membersihkan diri, mencuci tangan, dan dilanjutkan dengan menyikat gigi serta membasuh wajah dengan air. Masih dilanjutkan lagi dengan berwudhu, agar dapat langsung menunaikan ibadah sholat.
Ritual menyikat gigi baru dimulai, ketika air yang mengalir dari keran tiba-tiba berhenti. Walaaah...kenapa nih ? Padahal ini keran otomatis, yang menggunakan sensor untuk mengalirkan dan menghentikan air.
“ Kenapa kerannya, ya ?” tanya saya kepada petugas cleaning service yang sedang berdiri di dekat saya. Ia sedang asyik dengan tugasnya. Sejenak ia menoleh sambil tersenyum.
“ Mungkin baterainya habis lagi, bu. Padahal kemaren sudah dilaporkan kepada petugas, “ sahutnya. Menjelaskan. Ohoooo...ternyata ada masalah dengan baterai.
“ Oh...jadi ini kerannya pakai baterai, ya ?”
“ Iya, bu...biar aliran airnya terkontrol.”
“ Hmmh...kalau baterainya habis, dan mati begini, airnya nggak bisa mengalir dong ?” tanya saya setengah protes. Odol yang sudah berbusa terpaksa ditunda penggunaannya. Halaaah...Saya pun berpindah ke wastafel yang di sebelahnya. Setelah menempelkan ujung jari di bawah keran, air pun mengalir...tersendat-sendat...seperlunya.
Selesai urusan sikat menyikat gigi, dengan rasa penasaran ( dan sedikit sok tahu...hehe), saya mengintip ke bawah keran. Memang, keran ini beda modelnya dengan keran di rumah saya. Model keran di rumah saya sih biasa saja, model diputar dengan tombol logam berlapis plastik. Dan itu sudah cukup untuk mengatur pengaliran air.
♥
Ngomong-ngomong soal keran air. Semasa saya masih kecil dulu, keran di rumah saya ukurannya cukup besar. Diameter mulutnya hampir 1 inci. Tekanan airnya juga besar, karena air mengalir dari sumber di pegunungan yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan tempat tinggal saya . Perusahaan air minum jaman dulu memang mengutamakan kualitas air, termasuk kecepatan air mengalir. Jadi sebagai konsumen, saya suka banget main air dari keran.
Repotnya keran air model lama ini kadang kalah kuat dari tekanan airnya. Jadi sebentar-sebentar jebol dan harus diganti penahan drat di dalamnya. Ayah saya dulu sering mengganti dalamnya dengan kulit sapi yang diambil dari sisa sandal...hehehe...konon katanya sih cukup kuat menahan tekanan air.
Selain keran-keran di rumah yang modelnya Cuma diputar kiri kanan, dulu di Medan ada juga keran air umum yang ditempatkan di pinggir jalan. Model kerannya ada yang mirip dengan setir mobil yang harus diputar searah jarum jam. Keran ini ditempatkan di lokasi umum, terutama di perumahan rakyat yang belum memiliki sumber air bersih yang memadai.
Saya dan teman-teman sepulang sekolah sering juga mampir di keran umum seperti ini. Mencuci muka, kaki, tangan, dan kadang kami juga minum air mentah langsung di bawah keran...hhmmm...segaaarrr...!!! Herannya saya dan teman-teman belum pernah sakit perut. Mungkin karena kualitas airnya memang bersih dan layak minum. Tapi kalau di rumah, saya tidak berani menyorongkan mulut ke bawah keran....karena pasti akan diomeli oleh ibu saya...hiks hiks...
Yang paling saya sukai di rumah adalah keran untuk penyiram tanaman. Selain ukurannya lebih besar, ujungnya juga disambung dengan selang yang ada keran dengan pengatur kekuatan air. Bentuk kerannya juga macam-macam. Ada yang mirip pistol dengan pelatuk, ada juga yang diberi lobang-lobang kecil untuk pengatur air agar tidak terlalu deras menyemprot ke atas daun dan bunga-bunga. Soalnya kalau air terlalu keras, tidak jarang tanamannya justru kebanjiran dan bunganya rontok.
Bagi saya, tugas menyiram tanaman menjadi sangat menyenangkan. Selain bisa berbasah-basahan, saya pun bisa main perang-perangan air dengan anak tetangga....Dan jadilah semua basah kuyup. Tanaman, baju, bahkan jalanan di depan rumah...huehehehe...
♥
Ingat keran di masa kecil, jadi ingat juga keran di desa-desa yang memiliki sumber air dari mata air yang mengalir deras. Karena tidak ada keran logam yang cukup besar untuk mengalirkan air, biasanya penduduk jadi kreatif. Mereka membuat keran-keran kecil dari bambu atau kayu yang dilobangi di tengahnya. Untuk mengatur airnya, cukup disumbat dengan potongan kayu atau bambu, kadang-kadang dengan ijuk enau yang digulung rapat.
Saya suka memperhatikan model keran-keran di desa-desa ini. Walaupun tidak ada fasilitas yang memadai, tapi mereka dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada untuk mengatur penggunaan air. Jadi kadang ada aliran air yang besar, yang sedang, dan yang kecil sesuai dengan keperluannya.
Kalau pergi ke desa-desa, kadang saya suka iseng . Saya memainkan lobang-lobang pengaturan air ini, dan mencipratkan air kemana-mana. Bukan hanya tangan dan kaki yang basah, tapi sering juga seluruh baju menjadi basah kuyup...Kayaknya sih saya kalau melihat air, langsung bersemangat...ciprat sana ciprat sini...yuhuuiii...
♥
Belakangan, seiring dengan kemajuan jaman dan keterbatasan sumber air bersih, model keran pun semakin beragam. Fungsinya pun bermacam-macam. Keran kamar mandi untuk mengisi bak mandi, keran mandi untuk mengguyur tubuh, keran untuk mencuci tangan, keran untuk membasuh bila buang air...berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Itu belum termasuk keran dapur untuk mencuci piring. Modelnya sering sangat unik dan sesuai ukuran bak cuci yang ada di dapur masing-masing rumah tangga.
Sekarang pun banyak botol penyimpan air atau yang biasa kita sebut dispenser mempergunakan keran untuk pengaturan pengambilan airnya.
Oya...cerita tentang keran pun tidak hanya ada di rumah tangga atau di kantor. Di dalam industri, di dalam bidang irigasi dan pertanian, di dalam pengendalian air sungai dan danau, fungsi dan peran si Keran tidak bisa dipandang sebelah mata. Coba perhatikan, apakah ada bendungan yang tidak mempergunakan keran untuk mengatur pengaliran airnya ?
♥
Mencuci tangan di bawah keran, membuat saya merenung.
Keran di satu sisi hanyalah sebuah alat untuk mengatur pengeluaran air. Tapi coba perhatikan, apa yang terjadi bila tidak ada keran ?
Sumber air di gunung yang telah dialirkan melalui pipa dan tabung-tabung penampung akan mengucur begitu saja tanpa kendali. Bahkan bila kita sudah memiliki keran, dan kerannya jebol, maka bisa-bisa rumah kita kebanjiran karena air mengalir tidak tertahan lagi.
Bahkan di dalam industri minyak dan gas, kita juga tahu bahwa fungsi keran tidak sekedar mengatur pengeluaran bahan atau material cair, tapi juga gas. Keran berfungsi untuk mengatur volume dan tekanan. Bayangkan kalau keran itu tidak kuat dan jebol. Bukan sekedar kebanjiran air, tapi juga kebanjiran uap dan gas yang sangat berbahaya bagi keselamatan manusia...wuuuiiiihhhh.....
Barangkali salah satu teknologi kemajuan manusia, setelah penemuan api dan roda adalah penemuan keran ini...hmmm...
♥
Melihat keran...saya melihat kehidupan yang mengalir di sekitar saya.
Sama seperti keran yang mengalirkan air, kita pun bisa belajar mengenai fungsi keran kehidupan. Seperti kata bijak jaman dulu, keran itu adalah rejeki manusia. Artinya, kalau kerannya besar, maka rejekinya lancar. Kalau kerannya kecil, barangkali rejeki yang mengalir juga menjadi kecil.
Kitalah yang harus bijaksana, walau sumbernya besar, tetapi kalau kita tidak bisa mengatur kelancaran rejeki dengan keran nafsu, maka sumber itu pun akan mudah mengering. Sebaliknya, keterbatasan rejeki tetapi dapat kita siasati dengan pengaturan keran nafsu yang sebaik-baiknya, maka kita dapat memanfaatkan rejeki itu dengan optimal...
Oya, kalau kita juga mau memanfaatkan keran ini di bulan Ramadhan juga bisa. Selain keran nafsu, bisa juga memakai keran maaf. Semoga kita bisa membuka keran maaf sebesar-besarnya, agar kita lebih legowo atau besar hati di dalam menjalani hidup ini...
Hmmmh...mau mulai belajar mengatur keran kehidupan kita masing-masing ? Ahaaaa.....semoga lancar dan sukses yaaaa....
Jakarta, 16 Agustus 2010
Salam hangat di sore hari yang mendung....
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk Ibeth dan Lucy yang menjadi inspirasi tulisan ini...ketika saya sibuk dengan keran dan digelitik untuk menulis....hehehe...Terima kasih juga untuk keran-keran kehidupanku yang membuat hidupku semakin kaya makna...
♥
Apakabaaaaaaarrrrr....hehe...lama ya, gak ketemu ? Lama juga ya kita nggak saling berkabar. Iya niiih...saya lagi berhibernasi...hehe...seperti beruang kutub di dalam goa es...Moga-moga, walaupun kita lama tidak saling bersapa, semua teman dan sahabatku dalam keadaan sehat dan gembira yaaa...
Betuuulll...hidup ini walaupun Cuma sebentar, seyogyanya kita nikmati dengan gembira. Alangkah sayangnya hidup bila hanya diisi dengan kemuraman. Padahal kata orang pintar, kemuraman dan kesedihan itu adalah persepsi kita sendiri. Orang yang mengalami hal sama, tapi karena pengalaman dan persepsi yang berbeda, akan menilai peristiwa itu dengan hasil berbeda....hehehe...
Sama juga dengan kehidupan kita ini secara keseluruhan...kadang gembira, kadang sedih...ya nikmati saja...Kitalah yang harus mengganti posisi dan memutar keran persepsi itu agar kita dapat menikmati saat terbaik yang kita miliki....
Haaaaa...keran ? Kenapa keran, ya ? Ngomong-ngomong soal keran, saya jadi ingin ngobrol soal keran...hihiiiii...sederhana banget ya ?
Nggak apa-apa sederhana. Mumpung lagi bulan puasa nih, jadi kita ngobrol yang sederhana dan ringan-ringan saja.
Okeee...sambil menunggu waktu berbuka dan waktu sahur....mari kita mulai...satu...dua...tigaaaa...siaaaaappp......
Selamat menikmati....semoga berkenan....
Jakarta, 16 Agustus 2010
Salam hangat full kangen,
Ietje S. Guntur
- Sambil menunggu saat perayaan hari Kemerdekaan RI ke 65..
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-8
Start : 04/08/2010 15:29:04
Finish : 16/08/2010 17:13:31
KERAN....
Di kantor. Sehabis jam makan siang. Seperti biasa saya akan membersihkan diri, mencuci tangan, dan dilanjutkan dengan menyikat gigi serta membasuh wajah dengan air. Masih dilanjutkan lagi dengan berwudhu, agar dapat langsung menunaikan ibadah sholat.
Ritual menyikat gigi baru dimulai, ketika air yang mengalir dari keran tiba-tiba berhenti. Walaaah...kenapa nih ? Padahal ini keran otomatis, yang menggunakan sensor untuk mengalirkan dan menghentikan air.
“ Kenapa kerannya, ya ?” tanya saya kepada petugas cleaning service yang sedang berdiri di dekat saya. Ia sedang asyik dengan tugasnya. Sejenak ia menoleh sambil tersenyum.
“ Mungkin baterainya habis lagi, bu. Padahal kemaren sudah dilaporkan kepada petugas, “ sahutnya. Menjelaskan. Ohoooo...ternyata ada masalah dengan baterai.
“ Oh...jadi ini kerannya pakai baterai, ya ?”
“ Iya, bu...biar aliran airnya terkontrol.”
“ Hmmh...kalau baterainya habis, dan mati begini, airnya nggak bisa mengalir dong ?” tanya saya setengah protes. Odol yang sudah berbusa terpaksa ditunda penggunaannya. Halaaah...Saya pun berpindah ke wastafel yang di sebelahnya. Setelah menempelkan ujung jari di bawah keran, air pun mengalir...tersendat-sendat...seperlunya.
Selesai urusan sikat menyikat gigi, dengan rasa penasaran ( dan sedikit sok tahu...hehe), saya mengintip ke bawah keran. Memang, keran ini beda modelnya dengan keran di rumah saya. Model keran di rumah saya sih biasa saja, model diputar dengan tombol logam berlapis plastik. Dan itu sudah cukup untuk mengatur pengaliran air.
♥
Ngomong-ngomong soal keran air. Semasa saya masih kecil dulu, keran di rumah saya ukurannya cukup besar. Diameter mulutnya hampir 1 inci. Tekanan airnya juga besar, karena air mengalir dari sumber di pegunungan yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan tempat tinggal saya . Perusahaan air minum jaman dulu memang mengutamakan kualitas air, termasuk kecepatan air mengalir. Jadi sebagai konsumen, saya suka banget main air dari keran.
Repotnya keran air model lama ini kadang kalah kuat dari tekanan airnya. Jadi sebentar-sebentar jebol dan harus diganti penahan drat di dalamnya. Ayah saya dulu sering mengganti dalamnya dengan kulit sapi yang diambil dari sisa sandal...hehehe...konon katanya sih cukup kuat menahan tekanan air.
Selain keran-keran di rumah yang modelnya Cuma diputar kiri kanan, dulu di Medan ada juga keran air umum yang ditempatkan di pinggir jalan. Model kerannya ada yang mirip dengan setir mobil yang harus diputar searah jarum jam. Keran ini ditempatkan di lokasi umum, terutama di perumahan rakyat yang belum memiliki sumber air bersih yang memadai.
Saya dan teman-teman sepulang sekolah sering juga mampir di keran umum seperti ini. Mencuci muka, kaki, tangan, dan kadang kami juga minum air mentah langsung di bawah keran...hhmmm...segaaarrr...!!! Herannya saya dan teman-teman belum pernah sakit perut. Mungkin karena kualitas airnya memang bersih dan layak minum. Tapi kalau di rumah, saya tidak berani menyorongkan mulut ke bawah keran....karena pasti akan diomeli oleh ibu saya...hiks hiks...
Yang paling saya sukai di rumah adalah keran untuk penyiram tanaman. Selain ukurannya lebih besar, ujungnya juga disambung dengan selang yang ada keran dengan pengatur kekuatan air. Bentuk kerannya juga macam-macam. Ada yang mirip pistol dengan pelatuk, ada juga yang diberi lobang-lobang kecil untuk pengatur air agar tidak terlalu deras menyemprot ke atas daun dan bunga-bunga. Soalnya kalau air terlalu keras, tidak jarang tanamannya justru kebanjiran dan bunganya rontok.
Bagi saya, tugas menyiram tanaman menjadi sangat menyenangkan. Selain bisa berbasah-basahan, saya pun bisa main perang-perangan air dengan anak tetangga....Dan jadilah semua basah kuyup. Tanaman, baju, bahkan jalanan di depan rumah...huehehehe...
♥
Ingat keran di masa kecil, jadi ingat juga keran di desa-desa yang memiliki sumber air dari mata air yang mengalir deras. Karena tidak ada keran logam yang cukup besar untuk mengalirkan air, biasanya penduduk jadi kreatif. Mereka membuat keran-keran kecil dari bambu atau kayu yang dilobangi di tengahnya. Untuk mengatur airnya, cukup disumbat dengan potongan kayu atau bambu, kadang-kadang dengan ijuk enau yang digulung rapat.
Saya suka memperhatikan model keran-keran di desa-desa ini. Walaupun tidak ada fasilitas yang memadai, tapi mereka dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada untuk mengatur penggunaan air. Jadi kadang ada aliran air yang besar, yang sedang, dan yang kecil sesuai dengan keperluannya.
Kalau pergi ke desa-desa, kadang saya suka iseng . Saya memainkan lobang-lobang pengaturan air ini, dan mencipratkan air kemana-mana. Bukan hanya tangan dan kaki yang basah, tapi sering juga seluruh baju menjadi basah kuyup...Kayaknya sih saya kalau melihat air, langsung bersemangat...ciprat sana ciprat sini...yuhuuiii...
♥
Belakangan, seiring dengan kemajuan jaman dan keterbatasan sumber air bersih, model keran pun semakin beragam. Fungsinya pun bermacam-macam. Keran kamar mandi untuk mengisi bak mandi, keran mandi untuk mengguyur tubuh, keran untuk mencuci tangan, keran untuk membasuh bila buang air...berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Itu belum termasuk keran dapur untuk mencuci piring. Modelnya sering sangat unik dan sesuai ukuran bak cuci yang ada di dapur masing-masing rumah tangga.
Sekarang pun banyak botol penyimpan air atau yang biasa kita sebut dispenser mempergunakan keran untuk pengaturan pengambilan airnya.
Oya...cerita tentang keran pun tidak hanya ada di rumah tangga atau di kantor. Di dalam industri, di dalam bidang irigasi dan pertanian, di dalam pengendalian air sungai dan danau, fungsi dan peran si Keran tidak bisa dipandang sebelah mata. Coba perhatikan, apakah ada bendungan yang tidak mempergunakan keran untuk mengatur pengaliran airnya ?
♥
Mencuci tangan di bawah keran, membuat saya merenung.
Keran di satu sisi hanyalah sebuah alat untuk mengatur pengeluaran air. Tapi coba perhatikan, apa yang terjadi bila tidak ada keran ?
Sumber air di gunung yang telah dialirkan melalui pipa dan tabung-tabung penampung akan mengucur begitu saja tanpa kendali. Bahkan bila kita sudah memiliki keran, dan kerannya jebol, maka bisa-bisa rumah kita kebanjiran karena air mengalir tidak tertahan lagi.
Bahkan di dalam industri minyak dan gas, kita juga tahu bahwa fungsi keran tidak sekedar mengatur pengeluaran bahan atau material cair, tapi juga gas. Keran berfungsi untuk mengatur volume dan tekanan. Bayangkan kalau keran itu tidak kuat dan jebol. Bukan sekedar kebanjiran air, tapi juga kebanjiran uap dan gas yang sangat berbahaya bagi keselamatan manusia...wuuuiiiihhhh.....
Barangkali salah satu teknologi kemajuan manusia, setelah penemuan api dan roda adalah penemuan keran ini...hmmm...
♥
Melihat keran...saya melihat kehidupan yang mengalir di sekitar saya.
Sama seperti keran yang mengalirkan air, kita pun bisa belajar mengenai fungsi keran kehidupan. Seperti kata bijak jaman dulu, keran itu adalah rejeki manusia. Artinya, kalau kerannya besar, maka rejekinya lancar. Kalau kerannya kecil, barangkali rejeki yang mengalir juga menjadi kecil.
Kitalah yang harus bijaksana, walau sumbernya besar, tetapi kalau kita tidak bisa mengatur kelancaran rejeki dengan keran nafsu, maka sumber itu pun akan mudah mengering. Sebaliknya, keterbatasan rejeki tetapi dapat kita siasati dengan pengaturan keran nafsu yang sebaik-baiknya, maka kita dapat memanfaatkan rejeki itu dengan optimal...
Oya, kalau kita juga mau memanfaatkan keran ini di bulan Ramadhan juga bisa. Selain keran nafsu, bisa juga memakai keran maaf. Semoga kita bisa membuka keran maaf sebesar-besarnya, agar kita lebih legowo atau besar hati di dalam menjalani hidup ini...
Hmmmh...mau mulai belajar mengatur keran kehidupan kita masing-masing ? Ahaaaa.....semoga lancar dan sukses yaaaa....
Jakarta, 16 Agustus 2010
Salam hangat di sore hari yang mendung....
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk Ibeth dan Lucy yang menjadi inspirasi tulisan ini...ketika saya sibuk dengan keran dan digelitik untuk menulis....hehehe...Terima kasih juga untuk keran-keran kehidupanku yang membuat hidupku semakin kaya makna...
♥
Senin, 08 Februari 2010
Art-Living Sos 2008 (A-9 Kancing Jepret
Dear Allz....
Awal minggu niiiih...seger yaaa....Apa kabar ? hehe...semoga memang sesegar awal minggu yang selalu ceria...
Iyalah...kita hidup kan Cuma sekali...Kalau nggak dibiasakan membuat keceriaan di dalam hidup ini, kita yang rugi sendiri. Sedih dan duka, itu hanya milik kita...interpretasi kita...Bagaimana kita memaknai apa yang kita alami. Dan setiap orang punya nilai untuk memberi makna atas pengalamannya...
Kita bisa belajar dari mana saja...kita bisa memaknai hidup dari mana saja...Kita bahkan bisa belajar dari hal kecil yang sepele, yang dalam keadaan biasa akan kita biarkan berlalu begitu saja. Tapi lihat, ketika orang lain memungutnya dan mendayagunakannya, barulah kita terperangah dan berkata ,” Kok bisa, ya ?”
Itulah...kejelian melihat kesederhaan, melihat sesuatu yang seperti tidak punya arti seperti kancing jepret, membuat kita lebih peka dan lebih kaya pengalaman.
Di awal minggu yang ceria ini, saya ingin menambahkan keceriaan itu dengan secuplik cerita tentang kancing jepret. Hmm...mau berguru pada kancing jepret yang se-uprit itu ? Uhuuyyyy....semoga bermanfaat yaaa....
Jakarta, 8 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2008 (A-9
Start : 9/10/2008 8:05 AM
Edit : 07/02/2010 11:01:38
Finish : 08/02/2010 12:32:31
KANCING JEPRET…
Hari minggu. Siang.
Saya sedang terburu-buru mau berangkat ke sebuah acara. Biasanya sih saya selalu mempersiapkan pakaian beberapa waktu sebelumnya. Tapi tadi tiba-tiba mood saya berubah….(biasaaaa…sumbu pendek !! hi hihi..). Melihat cuaca yang cerah dan bakal panas, mendadak saya ingin pakai baju katun putih kesayangan saya. Jadiiii…dalam sekejap, saya mengaduk-aduk isi lemari…mencari di antara jejeran gantungan dan tumpukan…hehehe…
Baju sudah ketemu. Tapi ketika akan dipakai…eh, mendadak kancing depannya lepas terburai. Aduhaiiii….bagaimana ini ? Gawat darurat ! Mau tidak mau, terpaksa saya buka lagi. Diganti ? Tidaklah yaaw…. Mood sudah menyatu dengan si Baju Katun Putih. Jadi, saya cepat-cepat mencari jarum dan benang, dan kancing pengganti. Hmm…ternyata jarak antar kancing memang agak terlalu jarang. Perlu kancing pengaman di antaranya.
Bongkar-bongkar lagi kotak harta karun jahitan saya, mencari kancing jepret. Nah…ketemu sepasang ( ya iyalahhh…kalo gak ada pasangannya, dia mau menjepret dengan siapa ? heh heh..). Ambil jarum dan benang. Pasang di kedua sisi. Lalu dalam sekejap, sreeett…sreettt…si kancing jepret pun menempel kuat. Menjaga barisan depan baju agar tidak menganga ke mana-mana…
Sekarang aman !
Saya cepat-cepat memakai baju yang sudah dirapikan. Dan dengan percaya diri melangkah ke luar rumah. Baju nyaman dan aman berkat si kancing jepret.
♥
Saat yang lain.
Saya memang sulit diam kalau melihat kain sepotong. Entah bagaimana, ada saja ide untuk dibuat dari potongan-potongan kain itu. Kadang , kalau potongannya cukup besar, ya saya jahit menjadi baju...hehe...(gini-gini masih oke punya kalau bikin baju ala oblongan...hmm). Tapi kalau Cuma kain sisa atau perca, ya cukuplah jadi kantung atau dompet-dompet kecil. Bisa untuk memuat kosmetika atau alat tulis kantor yang kecil-mungil.
Kali ini saya pengen membuat kantong kecil untuk tempat koin. Kan lumayan, dari secarik sisa kain, sambung di ketiga sisi, buat tutupnya. Jadi deh. Tinggal dipasangi kancing jepret lagi. Ahaa...selesai...Harta karun saya berupa koin-koin dan kadang bon bekas belanja tidak kececeran lagi. Rapi jaliiii...
Bener...dengan bantuan kancing jepret yang kecil itu, banyak bagian-bagian kain bisa melekat dengan erat dan aman. Bahkan kadang untuk baju-baju yang memiliki kancing kait atau kancing lobangan , saya lebih aman menambahnya lagi dengan kancing jepret untuk bagian-bagian yang dapat mengundang pengintipan yang tidak diinginkan...hihi..
♥
Ngomong-ngomong soal kancing jepret, barangkali ini memang lebih banyak dipergunakan untuk pengamanan pakaian wanita. Di tempat-tempat yang seharusnya tertutup rapat, kancing jepret bisa menjadi penjaga agar celah terbuka tidak menganga sembarangan. Pakaian bisa rapi. Penampilan bisa terjaga. Tapi tidak menutup kemungkinan, bahwa kancing jepret juga bisa dipergunakan untuk banyak keperluan lainnya. Dan ternyata juga, kancing sudah dikenal lama…jauh dari abad millennium sekarang. Lihat saja.
Konon asal usul kancing sudah dikenal sejak 5000 tahun silam. Ini terbukti dari penggalian di kota Mohenyo Daro, India. Di aliran sungai Indus yang terkenal tinggi kebudayaannya. Dari penggalian lain di Mesir dan Sungai Tigris ditemukan kancing yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 2000 SM , yang terbuat dari kerang. Kancing ini diukir sehingga tampak indah, dan dimasukkan ke dalam lobang pakaian. Sejalan dengan perkembangan tekstil dan busana, ternyata kancing lobang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mode yang selalu silih berganti.
Ketika industri logam sudah mulai berkembang, maka mulailah dibuat kancing-kancing dengan berbagai variasi termasuk kancing tekan atau kancing jepret ini. Perkembangan mode di Eropa pada abad 13 – 14 membuat kebutuhan kancing semakin meningkat. Kancing jepret pun mendapat tempat yang istimewa, sebelum ditemukannya kancing tarik atau retsluiting.
Istimewanya kancing jepret ini adalah dapat disembunyikan di dalam baju, tanpa menunjukkan bahwa ada pengait di dalamnya. Jadi sambungan bagian kain yang sepotong dengan sepotong yang lain tetap dapat terlihat rapi, dan bila ada corak yang ingin disambungkan, maka dapat tersambung dengan indah. Tak hanya untuk baju, sekarang pun kancing jepret dipergunakan untuk koper, tas, sepatu, dan berbagai jenis perlengkapan lainnya, termasuk untuk keperluan perhotelan, rumah, perlengkapan berkemah seperti kantung tidur , tenda dan lain-lain.
Begitulah...kancing jepret pun semakin berkembang bentuk dan bahan-bahannya. Yang paling mudah memang membuat kancing jepret dari bahan logam sejenis alumunium, yang ringan dan mudah ditekuk. Atau, sesuai kebutuhannya bagi bahan kulit dan terpal, digunakan kancing jepret dari bahan stainless-steel, tembaga, dan lainnya. Selain itu, dengan berkembangnya industri perkancingan, maka plastik warna-warni yang disesuaikan dengan warna tekstil juga dijadikan bahan untuk membuat kancing jepret.
♥
Ingat kancing jepret, saya jadi ingat kehidupan kita secara keseluruhan. Di era keterbukaan seperti sekarang, ketika tidak ada lagi informasi yang dapat disembunyikan, maka kita butuh pengaman yang kecil, yang tidak terlihat, namun bisa menutup bagian diri kita yang tidak patut diperlihatkan. Ada informasi atau kehidupan pribadi yang ingin kita simpan sebagai bagian dari privasi hidup. Dan di situlah kita membutuhkan kancing jepret.
Tentu saja kancing jepret kehidupan itu tidak seperti kancing logam yang merekatkan bagian kain dengan potongan kain yang lain. Kancing jepret kehidupan bisa saja berupa katup pengaman informasi yang tidak boleh dibuka disembarang tempat dan kesempatan. Katup pengaman itu harus benar-benar melekat satu sama lain, sehingga hanya kita atau orang-orang tertentu saja dapat membuka dan merekatkannya kembali.
Bisa juga, kancing jepret kehidupan ini seperti pengikat satu informasi dengan informasi lainnya. Satu informasi merangkai ke informasi lainnya, dengan adanya kancing jepret dalam sistem ini maka kita akan mendapatkan informasi yang utuh, tidak terpenggal-penggal.
Kancing jepret kehidupan bisa juga representasi dari orang-orang yang memiliki fungsi menjaga relasi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Dengan kepiawaiannya, ia dapat menghubungkan pihak-pihak yang semula tidak saling mengenal menjadi satu kesatuan. Atau menghubungkan pihak-pihak yang saling membutuhkan, namun belum menemukan jalannya . Seperti seorang sahabat, dengan tokoh kancing jepret ini banyak pihak bisa saling berhubungan, dan selanjutnya dapat menghasilkan karya yang lebih optimal dibandingkan berdiri sendiri sendiri...
♥
Melihat kancing jepret di baju dan tas saya, membuat saya tertegun.
Begitu kecil. Begitu sederhana. Tapi begitu besar manfaatnya. Untuk menutup aib, untuk menghubungkan yang terpisah, untuk meningkatkan manfaat dari dua sisi atau dua pihak, untuk mengikat hati yang meregang, untuk banyak hal lain yang semula terpisahkan sekarang bersatu kembali...
Luar biasa...
Hmmm....belajar dari hal yang sederhana, saya jadi ingin meniru kancing jepret di baju saya . Bagaimana dengan teman dan sahabatku semua ??...
♥♥
Jakarta, 8 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Untuk sahabat-sahabat kancing jepretku…Kuri, K’nyot, Tek-tek, Kilil, Na, Bete, Lisa, Ade…dan juga special edition of kancing jepret…Nonce, Adith, Kun, Tyo, Bee, Fary…thanks buat pereratan persahabatan kalian…dan Inspirasi yang mengalir setiap hari…Oya, buat kancing jepret masa laluku…Ellina, Erna, Dahlia, Tuti, Datnita…ingat hari-hari yang full gairah di jaman tarik-tarikan kancing jepret waktu SD dulu…hahaha…
Awal minggu niiiih...seger yaaa....Apa kabar ? hehe...semoga memang sesegar awal minggu yang selalu ceria...
Iyalah...kita hidup kan Cuma sekali...Kalau nggak dibiasakan membuat keceriaan di dalam hidup ini, kita yang rugi sendiri. Sedih dan duka, itu hanya milik kita...interpretasi kita...Bagaimana kita memaknai apa yang kita alami. Dan setiap orang punya nilai untuk memberi makna atas pengalamannya...
Kita bisa belajar dari mana saja...kita bisa memaknai hidup dari mana saja...Kita bahkan bisa belajar dari hal kecil yang sepele, yang dalam keadaan biasa akan kita biarkan berlalu begitu saja. Tapi lihat, ketika orang lain memungutnya dan mendayagunakannya, barulah kita terperangah dan berkata ,” Kok bisa, ya ?”
Itulah...kejelian melihat kesederhaan, melihat sesuatu yang seperti tidak punya arti seperti kancing jepret, membuat kita lebih peka dan lebih kaya pengalaman.
Di awal minggu yang ceria ini, saya ingin menambahkan keceriaan itu dengan secuplik cerita tentang kancing jepret. Hmm...mau berguru pada kancing jepret yang se-uprit itu ? Uhuuyyyy....semoga bermanfaat yaaa....
Jakarta, 8 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2008 (A-9
Start : 9/10/2008 8:05 AM
Edit : 07/02/2010 11:01:38
Finish : 08/02/2010 12:32:31
KANCING JEPRET…
Hari minggu. Siang.
Saya sedang terburu-buru mau berangkat ke sebuah acara. Biasanya sih saya selalu mempersiapkan pakaian beberapa waktu sebelumnya. Tapi tadi tiba-tiba mood saya berubah….(biasaaaa…sumbu pendek !! hi hihi..). Melihat cuaca yang cerah dan bakal panas, mendadak saya ingin pakai baju katun putih kesayangan saya. Jadiiii…dalam sekejap, saya mengaduk-aduk isi lemari…mencari di antara jejeran gantungan dan tumpukan…hehehe…
Baju sudah ketemu. Tapi ketika akan dipakai…eh, mendadak kancing depannya lepas terburai. Aduhaiiii….bagaimana ini ? Gawat darurat ! Mau tidak mau, terpaksa saya buka lagi. Diganti ? Tidaklah yaaw…. Mood sudah menyatu dengan si Baju Katun Putih. Jadi, saya cepat-cepat mencari jarum dan benang, dan kancing pengganti. Hmm…ternyata jarak antar kancing memang agak terlalu jarang. Perlu kancing pengaman di antaranya.
Bongkar-bongkar lagi kotak harta karun jahitan saya, mencari kancing jepret. Nah…ketemu sepasang ( ya iyalahhh…kalo gak ada pasangannya, dia mau menjepret dengan siapa ? heh heh..). Ambil jarum dan benang. Pasang di kedua sisi. Lalu dalam sekejap, sreeett…sreettt…si kancing jepret pun menempel kuat. Menjaga barisan depan baju agar tidak menganga ke mana-mana…
Sekarang aman !
Saya cepat-cepat memakai baju yang sudah dirapikan. Dan dengan percaya diri melangkah ke luar rumah. Baju nyaman dan aman berkat si kancing jepret.
♥
Saat yang lain.
Saya memang sulit diam kalau melihat kain sepotong. Entah bagaimana, ada saja ide untuk dibuat dari potongan-potongan kain itu. Kadang , kalau potongannya cukup besar, ya saya jahit menjadi baju...hehe...(gini-gini masih oke punya kalau bikin baju ala oblongan...hmm). Tapi kalau Cuma kain sisa atau perca, ya cukuplah jadi kantung atau dompet-dompet kecil. Bisa untuk memuat kosmetika atau alat tulis kantor yang kecil-mungil.
Kali ini saya pengen membuat kantong kecil untuk tempat koin. Kan lumayan, dari secarik sisa kain, sambung di ketiga sisi, buat tutupnya. Jadi deh. Tinggal dipasangi kancing jepret lagi. Ahaa...selesai...Harta karun saya berupa koin-koin dan kadang bon bekas belanja tidak kececeran lagi. Rapi jaliiii...
Bener...dengan bantuan kancing jepret yang kecil itu, banyak bagian-bagian kain bisa melekat dengan erat dan aman. Bahkan kadang untuk baju-baju yang memiliki kancing kait atau kancing lobangan , saya lebih aman menambahnya lagi dengan kancing jepret untuk bagian-bagian yang dapat mengundang pengintipan yang tidak diinginkan...hihi..
♥
Ngomong-ngomong soal kancing jepret, barangkali ini memang lebih banyak dipergunakan untuk pengamanan pakaian wanita. Di tempat-tempat yang seharusnya tertutup rapat, kancing jepret bisa menjadi penjaga agar celah terbuka tidak menganga sembarangan. Pakaian bisa rapi. Penampilan bisa terjaga. Tapi tidak menutup kemungkinan, bahwa kancing jepret juga bisa dipergunakan untuk banyak keperluan lainnya. Dan ternyata juga, kancing sudah dikenal lama…jauh dari abad millennium sekarang. Lihat saja.
Konon asal usul kancing sudah dikenal sejak 5000 tahun silam. Ini terbukti dari penggalian di kota Mohenyo Daro, India. Di aliran sungai Indus yang terkenal tinggi kebudayaannya. Dari penggalian lain di Mesir dan Sungai Tigris ditemukan kancing yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 2000 SM , yang terbuat dari kerang. Kancing ini diukir sehingga tampak indah, dan dimasukkan ke dalam lobang pakaian. Sejalan dengan perkembangan tekstil dan busana, ternyata kancing lobang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mode yang selalu silih berganti.
Ketika industri logam sudah mulai berkembang, maka mulailah dibuat kancing-kancing dengan berbagai variasi termasuk kancing tekan atau kancing jepret ini. Perkembangan mode di Eropa pada abad 13 – 14 membuat kebutuhan kancing semakin meningkat. Kancing jepret pun mendapat tempat yang istimewa, sebelum ditemukannya kancing tarik atau retsluiting.
Istimewanya kancing jepret ini adalah dapat disembunyikan di dalam baju, tanpa menunjukkan bahwa ada pengait di dalamnya. Jadi sambungan bagian kain yang sepotong dengan sepotong yang lain tetap dapat terlihat rapi, dan bila ada corak yang ingin disambungkan, maka dapat tersambung dengan indah. Tak hanya untuk baju, sekarang pun kancing jepret dipergunakan untuk koper, tas, sepatu, dan berbagai jenis perlengkapan lainnya, termasuk untuk keperluan perhotelan, rumah, perlengkapan berkemah seperti kantung tidur , tenda dan lain-lain.
Begitulah...kancing jepret pun semakin berkembang bentuk dan bahan-bahannya. Yang paling mudah memang membuat kancing jepret dari bahan logam sejenis alumunium, yang ringan dan mudah ditekuk. Atau, sesuai kebutuhannya bagi bahan kulit dan terpal, digunakan kancing jepret dari bahan stainless-steel, tembaga, dan lainnya. Selain itu, dengan berkembangnya industri perkancingan, maka plastik warna-warni yang disesuaikan dengan warna tekstil juga dijadikan bahan untuk membuat kancing jepret.
♥
Ingat kancing jepret, saya jadi ingat kehidupan kita secara keseluruhan. Di era keterbukaan seperti sekarang, ketika tidak ada lagi informasi yang dapat disembunyikan, maka kita butuh pengaman yang kecil, yang tidak terlihat, namun bisa menutup bagian diri kita yang tidak patut diperlihatkan. Ada informasi atau kehidupan pribadi yang ingin kita simpan sebagai bagian dari privasi hidup. Dan di situlah kita membutuhkan kancing jepret.
Tentu saja kancing jepret kehidupan itu tidak seperti kancing logam yang merekatkan bagian kain dengan potongan kain yang lain. Kancing jepret kehidupan bisa saja berupa katup pengaman informasi yang tidak boleh dibuka disembarang tempat dan kesempatan. Katup pengaman itu harus benar-benar melekat satu sama lain, sehingga hanya kita atau orang-orang tertentu saja dapat membuka dan merekatkannya kembali.
Bisa juga, kancing jepret kehidupan ini seperti pengikat satu informasi dengan informasi lainnya. Satu informasi merangkai ke informasi lainnya, dengan adanya kancing jepret dalam sistem ini maka kita akan mendapatkan informasi yang utuh, tidak terpenggal-penggal.
Kancing jepret kehidupan bisa juga representasi dari orang-orang yang memiliki fungsi menjaga relasi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Dengan kepiawaiannya, ia dapat menghubungkan pihak-pihak yang semula tidak saling mengenal menjadi satu kesatuan. Atau menghubungkan pihak-pihak yang saling membutuhkan, namun belum menemukan jalannya . Seperti seorang sahabat, dengan tokoh kancing jepret ini banyak pihak bisa saling berhubungan, dan selanjutnya dapat menghasilkan karya yang lebih optimal dibandingkan berdiri sendiri sendiri...
♥
Melihat kancing jepret di baju dan tas saya, membuat saya tertegun.
Begitu kecil. Begitu sederhana. Tapi begitu besar manfaatnya. Untuk menutup aib, untuk menghubungkan yang terpisah, untuk meningkatkan manfaat dari dua sisi atau dua pihak, untuk mengikat hati yang meregang, untuk banyak hal lain yang semula terpisahkan sekarang bersatu kembali...
Luar biasa...
Hmmm....belajar dari hal yang sederhana, saya jadi ingin meniru kancing jepret di baju saya . Bagaimana dengan teman dan sahabatku semua ??...
♥♥
Jakarta, 8 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Untuk sahabat-sahabat kancing jepretku…Kuri, K’nyot, Tek-tek, Kilil, Na, Bete, Lisa, Ade…dan juga special edition of kancing jepret…Nonce, Adith, Kun, Tyo, Bee, Fary…thanks buat pereratan persahabatan kalian…dan Inspirasi yang mengalir setiap hari…Oya, buat kancing jepret masa laluku…Ellina, Erna, Dahlia, Tuti, Datnita…ingat hari-hari yang full gairah di jaman tarik-tarikan kancing jepret waktu SD dulu…hahaha…
Art-Living Sos 2008 (A-9 Kancing Jepret
Dear Allz....
Awal minggu niiiih...seger yaaa....Apa kabar ? hehe...semoga memang sesegar awal minggu yang selalu ceria...
Iyalah...kita hidup kan Cuma sekali...Kalau nggak dibiasakan membuat keceriaan di dalam hidup ini, kita yang rugi sendiri. Sedih dan duka, itu hanya milik kita...interpretasi kita...Bagaimana kita memaknai apa yang kita alami. Dan setiap orang punya nilai untuk memberi makna atas pengalamannya...
Kita bisa belajar dari mana saja...kita bisa memaknai hidup dari mana saja...Kita bahkan bisa belajar dari hal kecil yang sepele, yang dalam keadaan biasa akan kita biarkan berlalu begitu saja. Tapi lihat, ketika orang lain memungutnya dan mendayagunakannya, barulah kita terperangah dan berkata ,” Kok bisa, ya ?”
Itulah...kejelian melihat kesederhaan, melihat sesuatu yang seperti tidak punya arti seperti kancing jepret, membuat kita lebih peka dan lebih kaya pengalaman.
Di awal minggu yang ceria ini, saya ingin menambahkan keceriaan itu dengan secuplik cerita tentang kancing jepret. Hmm...mau berguru pada kancing jepret yang se-uprit itu ? Uhuuyyyy....semoga bermanfaat yaaa....
Jakarta, 8 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2008 (A-9
Start : 9/10/2008 8:05 AM
Edit : 07/02/2010 11:01:38
Finish : 08/02/2010 12:32:31
KANCING JEPRET…
Hari minggu. Siang.
Saya sedang terburu-buru mau berangkat ke sebuah acara. Biasanya sih saya selalu mempersiapkan pakaian beberapa waktu sebelumnya. Tapi tadi tiba-tiba mood saya berubah….(biasaaaa…sumbu pendek !! hi hihi..). Melihat cuaca yang cerah dan bakal panas, mendadak saya ingin pakai baju katun putih kesayangan saya. Jadiiii…dalam sekejap, saya mengaduk-aduk isi lemari…mencari di antara jejeran gantungan dan tumpukan…hehehe…
Baju sudah ketemu. Tapi ketika akan dipakai…eh, mendadak kancing depannya lepas terburai. Aduhaiiii….bagaimana ini ? Gawat darurat ! Mau tidak mau, terpaksa saya buka lagi. Diganti ? Tidaklah yaaw…. Mood sudah menyatu dengan si Baju Katun Putih. Jadi, saya cepat-cepat mencari jarum dan benang, dan kancing pengganti. Hmm…ternyata jarak antar kancing memang agak terlalu jarang. Perlu kancing pengaman di antaranya.
Bongkar-bongkar lagi kotak harta karun jahitan saya, mencari kancing jepret. Nah…ketemu sepasang ( ya iyalahhh…kalo gak ada pasangannya, dia mau menjepret dengan siapa ? heh heh..). Ambil jarum dan benang. Pasang di kedua sisi. Lalu dalam sekejap, sreeett…sreettt…si kancing jepret pun menempel kuat. Menjaga barisan depan baju agar tidak menganga ke mana-mana…
Sekarang aman !
Saya cepat-cepat memakai baju yang sudah dirapikan. Dan dengan percaya diri melangkah ke luar rumah. Baju nyaman dan aman berkat si kancing jepret.
♥
Saat yang lain.
Saya memang sulit diam kalau melihat kain sepotong. Entah bagaimana, ada saja ide untuk dibuat dari potongan-potongan kain itu. Kadang , kalau potongannya cukup besar, ya saya jahit menjadi baju...hehe...(gini-gini masih oke punya kalau bikin baju ala oblongan...hmm). Tapi kalau Cuma kain sisa atau perca, ya cukuplah jadi kantung atau dompet-dompet kecil. Bisa untuk memuat kosmetika atau alat tulis kantor yang kecil-mungil.
Kali ini saya pengen membuat kantong kecil untuk tempat koin. Kan lumayan, dari secarik sisa kain, sambung di ketiga sisi, buat tutupnya. Jadi deh. Tinggal dipasangi kancing jepret lagi. Ahaa...selesai...Harta karun saya berupa koin-koin dan kadang bon bekas belanja tidak kececeran lagi. Rapi jaliiii...
Bener...dengan bantuan kancing jepret yang kecil itu, banyak bagian-bagian kain bisa melekat dengan erat dan aman. Bahkan kadang untuk baju-baju yang memiliki kancing kait atau kancing lobangan , saya lebih aman menambahnya lagi dengan kancing jepret untuk bagian-bagian yang dapat mengundang pengintipan yang tidak diinginkan...hihi..
♥
Ngomong-ngomong soal kancing jepret, barangkali ini memang lebih banyak dipergunakan untuk pengamanan pakaian wanita. Di tempat-tempat yang seharusnya tertutup rapat, kancing jepret bisa menjadi penjaga agar celah terbuka tidak menganga sembarangan. Pakaian bisa rapi. Penampilan bisa terjaga. Tapi tidak menutup kemungkinan, bahwa kancing jepret juga bisa dipergunakan untuk banyak keperluan lainnya. Dan ternyata juga, kancing sudah dikenal lama…jauh dari abad millennium sekarang. Lihat saja.
Konon asal usul kancing sudah dikenal sejak 5000 tahun silam. Ini terbukti dari penggalian di kota Mohenyo Daro, India. Di aliran sungai Indus yang terkenal tinggi kebudayaannya. Dari penggalian lain di Mesir dan Sungai Tigris ditemukan kancing yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 2000 SM , yang terbuat dari kerang. Kancing ini diukir sehingga tampak indah, dan dimasukkan ke dalam lobang pakaian. Sejalan dengan perkembangan tekstil dan busana, ternyata kancing lobang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mode yang selalu silih berganti.
Ketika industri logam sudah mulai berkembang, maka mulailah dibuat kancing-kancing dengan berbagai variasi termasuk kancing tekan atau kancing jepret ini. Perkembangan mode di Eropa pada abad 13 – 14 membuat kebutuhan kancing semakin meningkat. Kancing jepret pun mendapat tempat yang istimewa, sebelum ditemukannya kancing tarik atau retsluiting.
Istimewanya kancing jepret ini adalah dapat disembunyikan di dalam baju, tanpa menunjukkan bahwa ada pengait di dalamnya. Jadi sambungan bagian kain yang sepotong dengan sepotong yang lain tetap dapat terlihat rapi, dan bila ada corak yang ingin disambungkan, maka dapat tersambung dengan indah. Tak hanya untuk baju, sekarang pun kancing jepret dipergunakan untuk koper, tas, sepatu, dan berbagai jenis perlengkapan lainnya, termasuk untuk keperluan perhotelan, rumah, perlengkapan berkemah seperti kantung tidur , tenda dan lain-lain.
Begitulah...kancing jepret pun semakin berkembang bentuk dan bahan-bahannya. Yang paling mudah memang membuat kancing jepret dari bahan logam sejenis alumunium, yang ringan dan mudah ditekuk. Atau, sesuai kebutuhannya bagi bahan kulit dan terpal, digunakan kancing jepret dari bahan stainless-steel, tembaga, dan lainnya. Selain itu, dengan berkembangnya industri perkancingan, maka plastik warna-warni yang disesuaikan dengan warna tekstil juga dijadikan bahan untuk membuat kancing jepret.
♥
Ingat kancing jepret, saya jadi ingat kehidupan kita secara keseluruhan. Di era keterbukaan seperti sekarang, ketika tidak ada lagi informasi yang dapat disembunyikan, maka kita butuh pengaman yang kecil, yang tidak terlihat, namun bisa menutup bagian diri kita yang tidak patut diperlihatkan. Ada informasi atau kehidupan pribadi yang ingin kita simpan sebagai bagian dari privasi hidup. Dan di situlah kita membutuhkan kancing jepret.
Tentu saja kancing jepret kehidupan itu tidak seperti kancing logam yang merekatkan bagian kain dengan potongan kain yang lain. Kancing jepret kehidupan bisa saja berupa katup pengaman informasi yang tidak boleh dibuka disembarang tempat dan kesempatan. Katup pengaman itu harus benar-benar melekat satu sama lain, sehingga hanya kita atau orang-orang tertentu saja dapat membuka dan merekatkannya kembali.
Bisa juga, kancing jepret kehidupan ini seperti pengikat satu informasi dengan informasi lainnya. Satu informasi merangkai ke informasi lainnya, dengan adanya kancing jepret dalam sistem ini maka kita akan mendapatkan informasi yang utuh, tidak terpenggal-penggal.
Kancing jepret kehidupan bisa juga representasi dari orang-orang yang memiliki fungsi menjaga relasi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Dengan kepiawaiannya, ia dapat menghubungkan pihak-pihak yang semula tidak saling mengenal menjadi satu kesatuan. Atau menghubungkan pihak-pihak yang saling membutuhkan, namun belum menemukan jalannya . Seperti seorang sahabat, dengan tokoh kancing jepret ini banyak pihak bisa saling berhubungan, dan selanjutnya dapat menghasilkan karya yang lebih optimal dibandingkan berdiri sendiri sendiri...
♥
Melihat kancing jepret di baju dan tas saya, membuat saya tertegun.
Begitu kecil. Begitu sederhana. Tapi begitu besar manfaatnya. Untuk menutup aib, untuk menghubungkan yang terpisah, untuk meningkatkan manfaat dari dua sisi atau dua pihak, untuk mengikat hati yang meregang, untuk banyak hal lain yang semula terpisahkan sekarang bersatu kembali...
Luar biasa...
Hmmm....belajar dari hal yang sederhana, saya jadi ingin meniru kancing jepret di baju saya . Bagaimana dengan teman dan sahabatku semua ??...
♥♥
Jakarta, 8 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Untuk sahabat-sahabat kancing jepretku…Kuri, K’nyot, Tek-tek, Kilil, Na, Bete, Lisa, Ade…dan juga special edition of kancing jepret…Nonce, Adith, Kun, Tyo, Bee, Fary…thanks buat pereratan persahabatan kalian…dan Inspirasi yang mengalir setiap hari…Oya, buat kancing jepret masa laluku…Ellina, Erna, Dahlia, Tuti, Datnita…ingat hari-hari yang full gairah di jaman tarik-tarikan kancing jepret waktu SD dulu…hahaha…
Awal minggu niiiih...seger yaaa....Apa kabar ? hehe...semoga memang sesegar awal minggu yang selalu ceria...
Iyalah...kita hidup kan Cuma sekali...Kalau nggak dibiasakan membuat keceriaan di dalam hidup ini, kita yang rugi sendiri. Sedih dan duka, itu hanya milik kita...interpretasi kita...Bagaimana kita memaknai apa yang kita alami. Dan setiap orang punya nilai untuk memberi makna atas pengalamannya...
Kita bisa belajar dari mana saja...kita bisa memaknai hidup dari mana saja...Kita bahkan bisa belajar dari hal kecil yang sepele, yang dalam keadaan biasa akan kita biarkan berlalu begitu saja. Tapi lihat, ketika orang lain memungutnya dan mendayagunakannya, barulah kita terperangah dan berkata ,” Kok bisa, ya ?”
Itulah...kejelian melihat kesederhaan, melihat sesuatu yang seperti tidak punya arti seperti kancing jepret, membuat kita lebih peka dan lebih kaya pengalaman.
Di awal minggu yang ceria ini, saya ingin menambahkan keceriaan itu dengan secuplik cerita tentang kancing jepret. Hmm...mau berguru pada kancing jepret yang se-uprit itu ? Uhuuyyyy....semoga bermanfaat yaaa....
Jakarta, 8 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2008 (A-9
Start : 9/10/2008 8:05 AM
Edit : 07/02/2010 11:01:38
Finish : 08/02/2010 12:32:31
KANCING JEPRET…
Hari minggu. Siang.
Saya sedang terburu-buru mau berangkat ke sebuah acara. Biasanya sih saya selalu mempersiapkan pakaian beberapa waktu sebelumnya. Tapi tadi tiba-tiba mood saya berubah….(biasaaaa…sumbu pendek !! hi hihi..). Melihat cuaca yang cerah dan bakal panas, mendadak saya ingin pakai baju katun putih kesayangan saya. Jadiiii…dalam sekejap, saya mengaduk-aduk isi lemari…mencari di antara jejeran gantungan dan tumpukan…hehehe…
Baju sudah ketemu. Tapi ketika akan dipakai…eh, mendadak kancing depannya lepas terburai. Aduhaiiii….bagaimana ini ? Gawat darurat ! Mau tidak mau, terpaksa saya buka lagi. Diganti ? Tidaklah yaaw…. Mood sudah menyatu dengan si Baju Katun Putih. Jadi, saya cepat-cepat mencari jarum dan benang, dan kancing pengganti. Hmm…ternyata jarak antar kancing memang agak terlalu jarang. Perlu kancing pengaman di antaranya.
Bongkar-bongkar lagi kotak harta karun jahitan saya, mencari kancing jepret. Nah…ketemu sepasang ( ya iyalahhh…kalo gak ada pasangannya, dia mau menjepret dengan siapa ? heh heh..). Ambil jarum dan benang. Pasang di kedua sisi. Lalu dalam sekejap, sreeett…sreettt…si kancing jepret pun menempel kuat. Menjaga barisan depan baju agar tidak menganga ke mana-mana…
Sekarang aman !
Saya cepat-cepat memakai baju yang sudah dirapikan. Dan dengan percaya diri melangkah ke luar rumah. Baju nyaman dan aman berkat si kancing jepret.
♥
Saat yang lain.
Saya memang sulit diam kalau melihat kain sepotong. Entah bagaimana, ada saja ide untuk dibuat dari potongan-potongan kain itu. Kadang , kalau potongannya cukup besar, ya saya jahit menjadi baju...hehe...(gini-gini masih oke punya kalau bikin baju ala oblongan...hmm). Tapi kalau Cuma kain sisa atau perca, ya cukuplah jadi kantung atau dompet-dompet kecil. Bisa untuk memuat kosmetika atau alat tulis kantor yang kecil-mungil.
Kali ini saya pengen membuat kantong kecil untuk tempat koin. Kan lumayan, dari secarik sisa kain, sambung di ketiga sisi, buat tutupnya. Jadi deh. Tinggal dipasangi kancing jepret lagi. Ahaa...selesai...Harta karun saya berupa koin-koin dan kadang bon bekas belanja tidak kececeran lagi. Rapi jaliiii...
Bener...dengan bantuan kancing jepret yang kecil itu, banyak bagian-bagian kain bisa melekat dengan erat dan aman. Bahkan kadang untuk baju-baju yang memiliki kancing kait atau kancing lobangan , saya lebih aman menambahnya lagi dengan kancing jepret untuk bagian-bagian yang dapat mengundang pengintipan yang tidak diinginkan...hihi..
♥
Ngomong-ngomong soal kancing jepret, barangkali ini memang lebih banyak dipergunakan untuk pengamanan pakaian wanita. Di tempat-tempat yang seharusnya tertutup rapat, kancing jepret bisa menjadi penjaga agar celah terbuka tidak menganga sembarangan. Pakaian bisa rapi. Penampilan bisa terjaga. Tapi tidak menutup kemungkinan, bahwa kancing jepret juga bisa dipergunakan untuk banyak keperluan lainnya. Dan ternyata juga, kancing sudah dikenal lama…jauh dari abad millennium sekarang. Lihat saja.
Konon asal usul kancing sudah dikenal sejak 5000 tahun silam. Ini terbukti dari penggalian di kota Mohenyo Daro, India. Di aliran sungai Indus yang terkenal tinggi kebudayaannya. Dari penggalian lain di Mesir dan Sungai Tigris ditemukan kancing yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 2000 SM , yang terbuat dari kerang. Kancing ini diukir sehingga tampak indah, dan dimasukkan ke dalam lobang pakaian. Sejalan dengan perkembangan tekstil dan busana, ternyata kancing lobang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mode yang selalu silih berganti.
Ketika industri logam sudah mulai berkembang, maka mulailah dibuat kancing-kancing dengan berbagai variasi termasuk kancing tekan atau kancing jepret ini. Perkembangan mode di Eropa pada abad 13 – 14 membuat kebutuhan kancing semakin meningkat. Kancing jepret pun mendapat tempat yang istimewa, sebelum ditemukannya kancing tarik atau retsluiting.
Istimewanya kancing jepret ini adalah dapat disembunyikan di dalam baju, tanpa menunjukkan bahwa ada pengait di dalamnya. Jadi sambungan bagian kain yang sepotong dengan sepotong yang lain tetap dapat terlihat rapi, dan bila ada corak yang ingin disambungkan, maka dapat tersambung dengan indah. Tak hanya untuk baju, sekarang pun kancing jepret dipergunakan untuk koper, tas, sepatu, dan berbagai jenis perlengkapan lainnya, termasuk untuk keperluan perhotelan, rumah, perlengkapan berkemah seperti kantung tidur , tenda dan lain-lain.
Begitulah...kancing jepret pun semakin berkembang bentuk dan bahan-bahannya. Yang paling mudah memang membuat kancing jepret dari bahan logam sejenis alumunium, yang ringan dan mudah ditekuk. Atau, sesuai kebutuhannya bagi bahan kulit dan terpal, digunakan kancing jepret dari bahan stainless-steel, tembaga, dan lainnya. Selain itu, dengan berkembangnya industri perkancingan, maka plastik warna-warni yang disesuaikan dengan warna tekstil juga dijadikan bahan untuk membuat kancing jepret.
♥
Ingat kancing jepret, saya jadi ingat kehidupan kita secara keseluruhan. Di era keterbukaan seperti sekarang, ketika tidak ada lagi informasi yang dapat disembunyikan, maka kita butuh pengaman yang kecil, yang tidak terlihat, namun bisa menutup bagian diri kita yang tidak patut diperlihatkan. Ada informasi atau kehidupan pribadi yang ingin kita simpan sebagai bagian dari privasi hidup. Dan di situlah kita membutuhkan kancing jepret.
Tentu saja kancing jepret kehidupan itu tidak seperti kancing logam yang merekatkan bagian kain dengan potongan kain yang lain. Kancing jepret kehidupan bisa saja berupa katup pengaman informasi yang tidak boleh dibuka disembarang tempat dan kesempatan. Katup pengaman itu harus benar-benar melekat satu sama lain, sehingga hanya kita atau orang-orang tertentu saja dapat membuka dan merekatkannya kembali.
Bisa juga, kancing jepret kehidupan ini seperti pengikat satu informasi dengan informasi lainnya. Satu informasi merangkai ke informasi lainnya, dengan adanya kancing jepret dalam sistem ini maka kita akan mendapatkan informasi yang utuh, tidak terpenggal-penggal.
Kancing jepret kehidupan bisa juga representasi dari orang-orang yang memiliki fungsi menjaga relasi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Dengan kepiawaiannya, ia dapat menghubungkan pihak-pihak yang semula tidak saling mengenal menjadi satu kesatuan. Atau menghubungkan pihak-pihak yang saling membutuhkan, namun belum menemukan jalannya . Seperti seorang sahabat, dengan tokoh kancing jepret ini banyak pihak bisa saling berhubungan, dan selanjutnya dapat menghasilkan karya yang lebih optimal dibandingkan berdiri sendiri sendiri...
♥
Melihat kancing jepret di baju dan tas saya, membuat saya tertegun.
Begitu kecil. Begitu sederhana. Tapi begitu besar manfaatnya. Untuk menutup aib, untuk menghubungkan yang terpisah, untuk meningkatkan manfaat dari dua sisi atau dua pihak, untuk mengikat hati yang meregang, untuk banyak hal lain yang semula terpisahkan sekarang bersatu kembali...
Luar biasa...
Hmmm....belajar dari hal yang sederhana, saya jadi ingin meniru kancing jepret di baju saya . Bagaimana dengan teman dan sahabatku semua ??...
♥♥
Jakarta, 8 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Untuk sahabat-sahabat kancing jepretku…Kuri, K’nyot, Tek-tek, Kilil, Na, Bete, Lisa, Ade…dan juga special edition of kancing jepret…Nonce, Adith, Kun, Tyo, Bee, Fary…thanks buat pereratan persahabatan kalian…dan Inspirasi yang mengalir setiap hari…Oya, buat kancing jepret masa laluku…Ellina, Erna, Dahlia, Tuti, Datnita…ingat hari-hari yang full gairah di jaman tarik-tarikan kancing jepret waktu SD dulu…hahaha…
Kamis, 14 Januari 2010
Art-Living Sos 2010 (A-1 Telor Dadar...
Dear Allz...
Apakabar ? Haiiiyaaaa....semoga kabar baik-baik dan sehat semua, yaaa...Sebelumnya, saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya...atas ucapan selamat dan doa yang disampaikan pada hari ini...hari peringatan kelahiran saya...kepada teman, sahabat, keluarga dan fans...termasuk ponakan-ponakan tercinta yang ngefans berat sama budhe dan uwaknya yang gaul ini...hihihi....
Bila kita runut ke belakang saya lahir ke dunia ini sekian puluh tahun lalu. Seharusnya, kepada ibu saya yang tercintalah ucapan ini disampaikan....karena beliau telah ikhlas mengandung saya selama 9 bulan lebih, melahirkan saya dengan susah payah...dan membimbing saya di dalam tumbuh kembang kehidupan ini...Hingga saya bisa bertahan di dalam dinamika kehidupan yang sangat beraneka...
Perjalanan hidup saya memang sudah cukup panjaaaaaannnggg dan lamaaaa....Dan semua itu membuat pengalaman saya juga cukup banyak...paling tidak untuk dibagikan dengan teman, sahabat dan keluarga saya...Tidak hanya pengalaman yang indah menurut standar umum, tetapi juga pengalaman yang pahit, asin, asam, dan pedas...seperti iklan permen...sejuta rasanya...
Memang...begitulah kehidupan kita...berawal dari benih...telur...kita tumbuh dan berkembang di dalam perjalanan. Barangkali orang bisa berasal dari awal yang sama, tumbuh di tempat yang sama, mengalami hal-hal yang sama...tetapi penyerapan, pemahaman dan interpretasi atas kehidupan itulah yang membuat orang berbeda. Itulah yang membuat setiap orang menjadi unik...dan barangkali aneh menurut ukuran orang lain....Itulah diri kita...
Di hari baik dan bulan baik ini saya ingin membagi renungan perjalanan hidup saya...yang mirip dengan telor dadar...hehehe...Mau khan ?
Saya memang tidak bisa mengirim banyak-banyak...tetapi setiap orang bisa membuat telor dadar masing-masing...dan menikmati perjalanan hidup di dalamnya...
Selamat menikmati...dan selamat ulang tahun setiap hari...untuk setiap orang yang pernah hadir di dalam kehidupan saya....
Jakarta, 13 Januari 2010
Salam telor dadar special edition...
Ietje S. Guntur
Art-Living Sos 2010 (A-1
Serial : Food Psychology
Selasa, 12 Januari 2010
Start : 12/01/2010 9:48:37
Finish : 13/01/2010 12:47:24
TELOR DADAR....
Pagi-pagi. Hari Senin. Saya sedang bersiap-siap berangkat ke kantor. Setelah memeriksa isi tas dengan segala pernak-pernik yang berjubel di dalamnya (hahaha...sesuai kepribadian), saya mengecek tas perbekalan. Masih kosong. Hanya ada botol air minuman, yang wajib ada. Hmm...mau bawa sarapan apa, ya ?
Tiba-tiba saya kepengen makan telor dadar...ahaaa...nasi putih hangat dengan telor dadar diguyur kecap manis...hmmm...udah kebayang rasanya. Namanya perut kuli, kalo nggak ditendang sama nasi, kayaknya nggak semangat...hihi...apalagi nasi plus telor..waww... bisa bikin energi dan semangat naik seketika...
Jadi deeh, saya langsung masuk ke dapur. Mempersiapkan ramuan untuk telor dadar kesukaan saya. Bawang merah, cabai merah, jamur champignon, merica....ahaaa...pasti sedap. Saya menghirup aroma yang menguar dari penggorengan...alamaaakkk...lezat nian...
Saya langsung mengepak kotak makanan, dan segera pamit berangkat ke kantor. Niatnya sih nasi plus telor buat sarapan di kantor, tapi kalau nanti di dalam perjalanan sudah kelaparan, ya apa boleh buat...pasti disantap juga..
Bukan hanya sekali itu saya berbekal telor dadar. Seringkali kalau sedang kehilangan inspirasi untuk masakan, saya akan kembali ke selera asal. Rumus telor dadar pun bisa berganti-ganti, sesuai dengan mood dan persediaan bahan baku di lemari.
Kadang saya membuat telor dadar dengan isian wortel yang diiris halus...tetap dengan campuran bawang merah. Bentuknya jadi tebal dan gemuk, dan tentunya lebih bergizi karena ada sayurannya. Walaupun sahabat saya yang ahli gizi menasehati agar menyantap wortel dalam keadaan segar, saya lebih suka bila wortel dicampur di dalam telor dadar atau sup...hmmm...
Saat yang lain, saya mengadon telor dadar dengan irisan kol dan jamur...hehehe...Memang jamur bisa menjadi pendamping di mana saja. Apalagi kalau ada di dalam adonan telor dadar...rasanya lebih kenyal-kenyil...tambah enak...malah bisa dimakan begitu saja, tanpa nasi...
Oya...kalau sedang kreatif, kadang saya membuat telor dadar yang diiris-iris...lalu dicemlungkan ke dalam kuah semur...Jadi deeeeh... serasa menyantap steak telor...heeem..heeemm...nyam...nyam...
Ngomong-ngomong soal telor dadar...eeeh, kok enakan ngomongnya telor dadar daripada telur dadar, ya...hahahaha...lebih bulat gitu rasanya...
Teloooooor...wakakakaka...padahal sih bentuknya sama aja yaaa... Banyak sekali pengalaman dan cerita tentangnya...Coba deh disimak.
Duluuuuu....ketika saya masih kecil, jamannya ayam masih ayam kampung peliharaan di rumah, telor ayam termasuk makanan yang mewah dan mahal. Maklum, ayam betina yang hanya bertelor sekitar 10-14 butir, biasanya lebih sering dierami agar menjadi ayam beneran...bukan ayam telor-teloran. Jadi bisa menyantap sebutir telor ayam seminggu sekali sudah luar biasa. Kalau mau beli di pasar harganya juga lumayan mahal.
Untung saja ibu saya yang kreatif itu punya banyak ayam peliharaan. Beberapa ekor di antaranya memang khusus untuk ayam petelur... (nah, kalau jadi ayam namanya petelur, bukan petelor...wkwkwkw..). Sehingga dalam seminggu kami punya kesempatan untuk menyantap telor dadar beberapa kali. Tetapiiiiiiii....mengingat jaman dulu itu memang jaman serba prihatin, jadi deeh...tuh telor dadar harus dibagi menjadi beberapa potong. Supaya kelihatan banyak, dua butir telor ayam dikocok sampai berbusa-busa...kadang dicampur air sedikit supaya cairannya banyak. Lalu setelah matang, akan dibagi 3 atau 4 potong...Rasanya memang nikmaaaaat banget...Serba sedikit, tapi rasanya lezat luar biasa...
Kayaknya bukan hanya keluarga kami saja yang berhemat-hemat dengan telor dadar. Tetangga kiri kanan, tetangga jauh dan dekat juga mengalami masa emas menyantap telor dadar yang dipotong kecil-kecil...hihi...Dan biasanya kami dengan bangga akan cerita ke teman bahwa pada hari itu menyantap lauk telor dadar...hahahaha...norak-norak bergembira banget...
Telor dadar ini pun tak hanya untuk lauk sehari-hari. Dalam sajian makanan ulang tahun, semisal nasi kuning atau nasi gurih, telor dadar juga wajib ada di dalamnya. Dan seperti telor lauk sebelumnya, untuk nasi ulang tahun ini pun diberi telor dadar yang dibuat tipiiiiiiiiiis banget...dicampur air dan sedikit tepung serta perasa tambahan, lalu diiris halus...mirip pita. Dan ditaburkan di atas nasi kuning... menambah semarak nasi dengan warna kuning emas yang ngejreng di antara lauk lainnya.
Cerita tentang telor dadar tak berhenti di rumah saja.
Saking ngetopnya urusan si Telor Dadar ini, di hotel-hotel dan restoran berbintang pun acap disajikan telor dadar dalam berbagai versi. Di hotel internasional atau resto bergaya western, telor dadar akrab disebut dengan omelette. Sedangkan di resto China, telor dadar ini tampil dengan nama Fuyunghai atau Puyunghae....(nih pasti resto China lokalan van Java...hehehe...). Sedangkan di resto Padang, telor dadar sudah begitu tebal dengan berbagai campuran sehingga mirip martabak...
Saking doyannya makan telor dadar, karena buat saya ini termasuk makanan yang ‘aman’, maka di mana pun saya berada, selalu memesan telor dadar alias omelette. Biasanya sih telor dadar ala hotel yang disebut omelette itu dimasak dengan cara khusus sehingga mirip guling, dengan isian bermacam-macam. Selain itu, walaupun sisi luarnya matang, dalamannya agak basah dan demek-demek...sehingga rasa isiannya masih terasa aslinya.
Nah, berkaitan dengan telor dadar ala hotel tadi, saya pernah punya pengalaman lucu dengan seorang sahabat saya. Dalam sebuah perjalanan ke Kendari, kami menginap di sebuah hotel yang baru diresmikan. Karena tiba di sana sudah malam, kami memesan makanan di dalam kamar saja. Saya bilang ,” Pesan omelette sama nasi putih saja, biar ada tenaga.”
Jadi deeh..setelah pesanan datang, kami pun menyantapnya. Tapi penampilan si Omelette jauh banget dari imajinasi kami yang sudah terbiasa dengan telor dadar ala hotel bintang. Lho...kok ini mirip telor dadar yang tipis kurus seperti kertas ?
Sambil duduk berselonjor kaki di lantai, menyantap nasi dan telor dadar ala lempengan kertas tadi, kami berbincang ,” Barangkali kokinya pikir, makan nasi ya cocoknya sama telor dadar rumahan...”, kata saya. “Hmm...barangkali ini yang memasaknya satpam, karena kokinya sudah pulang ....hehehe...” Sahut teman saya. Jadilah kami malah berdiskusi seru dan ketawa-ketawa di malam buta gara-gara urusan telor dadar.
Keesokan harinya, kami memesan omelette lagi untuk sarapan. Dengan harapan, kalau pagi hari telornya akan menjadi seperti di resto...Tapi apa daya...pagi harinya pun kami mendapat telor tipis lagi... hahahaha...Saya bilang ke teman saya ,”Ya, sudahlah...besok-besok kita buka kursus masak telor dadar saja di sini...”.
Sejak saat itu, kalau saya memesan omelette, saya harus meyakinkan betul, bahwa yang saya pesan adalah telor dadar yang dimasak dengan bentuk mirip guling...hehe... Iyalah...beda nama beda pengalaman...Jadi agar antara imajinasi bisa dekat dengan kenyataan , kitalah yang harus merumuskan harapan kita sesuai dengan realitas yang ada...
Melihat begitu banyaknya ragam telor dadar dan proses memasak serta penyajiannya, saya jadi merenung...
Telor dadar, asal usulnya kan dari telor ayam atau telor unggas lainnya...tetapi ketika bersentuhan dengan selera, maka isinya bisa bervariasi dan namanya pun bisa beraneka. Tampilan pun disesuaikan dengan namanya. Bahkan kelasnya pun bisa dari kelas rumahan, warungan, hingga resto dan hotel bintang lima.
Seperti kata pepatah, “ lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya...” Jadi bisa juga lain telor lain dadarnya.... hahahahaha....
Tanpa kita sadari, telor sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Selain sebagai sumber pangan dan gizi yang unggul, pengolahan telor juga menunjukkan tingkat kebutuhan dan budaya makanan kita.
Pertanyaannya : Kenapa nasi ulang tahun harus pakai telor dadar ?
Tidak lain, karena telor adalah sumber kehidupan...telor adalah benih untuk ditumbuhkembangkan...Dengan demikian, diharapkan dengan adanya telor dalam hidangan ulang tahun akan membuat kehidupan orang tersebut akan berlanjut dengan kebaikan...kesehatan...dan dinamika kehidupan yang penuh warna...
Telor dadar memang hanya makanan sederhana dari ‘telor’...eeeh, ‘telur’... tetapi kalau dimodifikasi, ia bisa tampil mewah dan sesuai dengan berbagai suasana . Ketika kita menelusuri berbagai kisah dan pengalaman di dalamnya maka akan banyak cerita yang beraneka.
Sama dengan diri kita sendiri. Hidup kita pun demikian...dari hal-hal sederhana, dengan kreativitas dan kemampuan menyesuaikan diri..... maka perjalanan hidup kita pun akan menjadi kaya...
Suka telor dadar ? Mari kita coba....eheeeem....
Jakarta, 13 Januari 2010
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
Special note :
Thanks buat Dewi Ika...dan inspirasi tentang telor dadar omelettenya ....hehehe.... kenangan yang lucu dan indah sekali...kapan kita menjelajah telor dadar lagi, ya ? Juga buat adikku, But...yang dulu selalu minta ‘telor dua’...walaupun hanya dua iris telor dadar...hi hi...so sweet memory...
Apakabar ? Haiiiyaaaa....semoga kabar baik-baik dan sehat semua, yaaa...Sebelumnya, saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya...atas ucapan selamat dan doa yang disampaikan pada hari ini...hari peringatan kelahiran saya...kepada teman, sahabat, keluarga dan fans...termasuk ponakan-ponakan tercinta yang ngefans berat sama budhe dan uwaknya yang gaul ini...hihihi....
Bila kita runut ke belakang saya lahir ke dunia ini sekian puluh tahun lalu. Seharusnya, kepada ibu saya yang tercintalah ucapan ini disampaikan....karena beliau telah ikhlas mengandung saya selama 9 bulan lebih, melahirkan saya dengan susah payah...dan membimbing saya di dalam tumbuh kembang kehidupan ini...Hingga saya bisa bertahan di dalam dinamika kehidupan yang sangat beraneka...
Perjalanan hidup saya memang sudah cukup panjaaaaaannnggg dan lamaaaa....Dan semua itu membuat pengalaman saya juga cukup banyak...paling tidak untuk dibagikan dengan teman, sahabat dan keluarga saya...Tidak hanya pengalaman yang indah menurut standar umum, tetapi juga pengalaman yang pahit, asin, asam, dan pedas...seperti iklan permen...sejuta rasanya...
Memang...begitulah kehidupan kita...berawal dari benih...telur...kita tumbuh dan berkembang di dalam perjalanan. Barangkali orang bisa berasal dari awal yang sama, tumbuh di tempat yang sama, mengalami hal-hal yang sama...tetapi penyerapan, pemahaman dan interpretasi atas kehidupan itulah yang membuat orang berbeda. Itulah yang membuat setiap orang menjadi unik...dan barangkali aneh menurut ukuran orang lain....Itulah diri kita...
Di hari baik dan bulan baik ini saya ingin membagi renungan perjalanan hidup saya...yang mirip dengan telor dadar...hehehe...Mau khan ?
Saya memang tidak bisa mengirim banyak-banyak...tetapi setiap orang bisa membuat telor dadar masing-masing...dan menikmati perjalanan hidup di dalamnya...
Selamat menikmati...dan selamat ulang tahun setiap hari...untuk setiap orang yang pernah hadir di dalam kehidupan saya....
Jakarta, 13 Januari 2010
Salam telor dadar special edition...
Ietje S. Guntur
Art-Living Sos 2010 (A-1
Serial : Food Psychology
Selasa, 12 Januari 2010
Start : 12/01/2010 9:48:37
Finish : 13/01/2010 12:47:24
TELOR DADAR....
Pagi-pagi. Hari Senin. Saya sedang bersiap-siap berangkat ke kantor. Setelah memeriksa isi tas dengan segala pernak-pernik yang berjubel di dalamnya (hahaha...sesuai kepribadian), saya mengecek tas perbekalan. Masih kosong. Hanya ada botol air minuman, yang wajib ada. Hmm...mau bawa sarapan apa, ya ?
Tiba-tiba saya kepengen makan telor dadar...ahaaa...nasi putih hangat dengan telor dadar diguyur kecap manis...hmmm...udah kebayang rasanya. Namanya perut kuli, kalo nggak ditendang sama nasi, kayaknya nggak semangat...hihi...apalagi nasi plus telor..waww... bisa bikin energi dan semangat naik seketika...
Jadi deeh, saya langsung masuk ke dapur. Mempersiapkan ramuan untuk telor dadar kesukaan saya. Bawang merah, cabai merah, jamur champignon, merica....ahaaa...pasti sedap. Saya menghirup aroma yang menguar dari penggorengan...alamaaakkk...lezat nian...
Saya langsung mengepak kotak makanan, dan segera pamit berangkat ke kantor. Niatnya sih nasi plus telor buat sarapan di kantor, tapi kalau nanti di dalam perjalanan sudah kelaparan, ya apa boleh buat...pasti disantap juga..
Bukan hanya sekali itu saya berbekal telor dadar. Seringkali kalau sedang kehilangan inspirasi untuk masakan, saya akan kembali ke selera asal. Rumus telor dadar pun bisa berganti-ganti, sesuai dengan mood dan persediaan bahan baku di lemari.
Kadang saya membuat telor dadar dengan isian wortel yang diiris halus...tetap dengan campuran bawang merah. Bentuknya jadi tebal dan gemuk, dan tentunya lebih bergizi karena ada sayurannya. Walaupun sahabat saya yang ahli gizi menasehati agar menyantap wortel dalam keadaan segar, saya lebih suka bila wortel dicampur di dalam telor dadar atau sup...hmmm...
Saat yang lain, saya mengadon telor dadar dengan irisan kol dan jamur...hehehe...Memang jamur bisa menjadi pendamping di mana saja. Apalagi kalau ada di dalam adonan telor dadar...rasanya lebih kenyal-kenyil...tambah enak...malah bisa dimakan begitu saja, tanpa nasi...
Oya...kalau sedang kreatif, kadang saya membuat telor dadar yang diiris-iris...lalu dicemlungkan ke dalam kuah semur...Jadi deeeeh... serasa menyantap steak telor...heeem..heeemm...nyam...nyam...
Ngomong-ngomong soal telor dadar...eeeh, kok enakan ngomongnya telor dadar daripada telur dadar, ya...hahahaha...lebih bulat gitu rasanya...
Teloooooor...wakakakaka...padahal sih bentuknya sama aja yaaa... Banyak sekali pengalaman dan cerita tentangnya...Coba deh disimak.
Duluuuuu....ketika saya masih kecil, jamannya ayam masih ayam kampung peliharaan di rumah, telor ayam termasuk makanan yang mewah dan mahal. Maklum, ayam betina yang hanya bertelor sekitar 10-14 butir, biasanya lebih sering dierami agar menjadi ayam beneran...bukan ayam telor-teloran. Jadi bisa menyantap sebutir telor ayam seminggu sekali sudah luar biasa. Kalau mau beli di pasar harganya juga lumayan mahal.
Untung saja ibu saya yang kreatif itu punya banyak ayam peliharaan. Beberapa ekor di antaranya memang khusus untuk ayam petelur... (nah, kalau jadi ayam namanya petelur, bukan petelor...wkwkwkw..). Sehingga dalam seminggu kami punya kesempatan untuk menyantap telor dadar beberapa kali. Tetapiiiiiiii....mengingat jaman dulu itu memang jaman serba prihatin, jadi deeh...tuh telor dadar harus dibagi menjadi beberapa potong. Supaya kelihatan banyak, dua butir telor ayam dikocok sampai berbusa-busa...kadang dicampur air sedikit supaya cairannya banyak. Lalu setelah matang, akan dibagi 3 atau 4 potong...Rasanya memang nikmaaaaat banget...Serba sedikit, tapi rasanya lezat luar biasa...
Kayaknya bukan hanya keluarga kami saja yang berhemat-hemat dengan telor dadar. Tetangga kiri kanan, tetangga jauh dan dekat juga mengalami masa emas menyantap telor dadar yang dipotong kecil-kecil...hihi...Dan biasanya kami dengan bangga akan cerita ke teman bahwa pada hari itu menyantap lauk telor dadar...hahahaha...norak-norak bergembira banget...
Telor dadar ini pun tak hanya untuk lauk sehari-hari. Dalam sajian makanan ulang tahun, semisal nasi kuning atau nasi gurih, telor dadar juga wajib ada di dalamnya. Dan seperti telor lauk sebelumnya, untuk nasi ulang tahun ini pun diberi telor dadar yang dibuat tipiiiiiiiiiis banget...dicampur air dan sedikit tepung serta perasa tambahan, lalu diiris halus...mirip pita. Dan ditaburkan di atas nasi kuning... menambah semarak nasi dengan warna kuning emas yang ngejreng di antara lauk lainnya.
Cerita tentang telor dadar tak berhenti di rumah saja.
Saking ngetopnya urusan si Telor Dadar ini, di hotel-hotel dan restoran berbintang pun acap disajikan telor dadar dalam berbagai versi. Di hotel internasional atau resto bergaya western, telor dadar akrab disebut dengan omelette. Sedangkan di resto China, telor dadar ini tampil dengan nama Fuyunghai atau Puyunghae....(nih pasti resto China lokalan van Java...hehehe...). Sedangkan di resto Padang, telor dadar sudah begitu tebal dengan berbagai campuran sehingga mirip martabak...
Saking doyannya makan telor dadar, karena buat saya ini termasuk makanan yang ‘aman’, maka di mana pun saya berada, selalu memesan telor dadar alias omelette. Biasanya sih telor dadar ala hotel yang disebut omelette itu dimasak dengan cara khusus sehingga mirip guling, dengan isian bermacam-macam. Selain itu, walaupun sisi luarnya matang, dalamannya agak basah dan demek-demek...sehingga rasa isiannya masih terasa aslinya.
Nah, berkaitan dengan telor dadar ala hotel tadi, saya pernah punya pengalaman lucu dengan seorang sahabat saya. Dalam sebuah perjalanan ke Kendari, kami menginap di sebuah hotel yang baru diresmikan. Karena tiba di sana sudah malam, kami memesan makanan di dalam kamar saja. Saya bilang ,” Pesan omelette sama nasi putih saja, biar ada tenaga.”
Jadi deeh..setelah pesanan datang, kami pun menyantapnya. Tapi penampilan si Omelette jauh banget dari imajinasi kami yang sudah terbiasa dengan telor dadar ala hotel bintang. Lho...kok ini mirip telor dadar yang tipis kurus seperti kertas ?
Sambil duduk berselonjor kaki di lantai, menyantap nasi dan telor dadar ala lempengan kertas tadi, kami berbincang ,” Barangkali kokinya pikir, makan nasi ya cocoknya sama telor dadar rumahan...”, kata saya. “Hmm...barangkali ini yang memasaknya satpam, karena kokinya sudah pulang ....hehehe...” Sahut teman saya. Jadilah kami malah berdiskusi seru dan ketawa-ketawa di malam buta gara-gara urusan telor dadar.
Keesokan harinya, kami memesan omelette lagi untuk sarapan. Dengan harapan, kalau pagi hari telornya akan menjadi seperti di resto...Tapi apa daya...pagi harinya pun kami mendapat telor tipis lagi... hahahaha...Saya bilang ke teman saya ,”Ya, sudahlah...besok-besok kita buka kursus masak telor dadar saja di sini...”.
Sejak saat itu, kalau saya memesan omelette, saya harus meyakinkan betul, bahwa yang saya pesan adalah telor dadar yang dimasak dengan bentuk mirip guling...hehe... Iyalah...beda nama beda pengalaman...Jadi agar antara imajinasi bisa dekat dengan kenyataan , kitalah yang harus merumuskan harapan kita sesuai dengan realitas yang ada...
Melihat begitu banyaknya ragam telor dadar dan proses memasak serta penyajiannya, saya jadi merenung...
Telor dadar, asal usulnya kan dari telor ayam atau telor unggas lainnya...tetapi ketika bersentuhan dengan selera, maka isinya bisa bervariasi dan namanya pun bisa beraneka. Tampilan pun disesuaikan dengan namanya. Bahkan kelasnya pun bisa dari kelas rumahan, warungan, hingga resto dan hotel bintang lima.
Seperti kata pepatah, “ lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya...” Jadi bisa juga lain telor lain dadarnya.... hahahahaha....
Tanpa kita sadari, telor sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Selain sebagai sumber pangan dan gizi yang unggul, pengolahan telor juga menunjukkan tingkat kebutuhan dan budaya makanan kita.
Pertanyaannya : Kenapa nasi ulang tahun harus pakai telor dadar ?
Tidak lain, karena telor adalah sumber kehidupan...telor adalah benih untuk ditumbuhkembangkan...Dengan demikian, diharapkan dengan adanya telor dalam hidangan ulang tahun akan membuat kehidupan orang tersebut akan berlanjut dengan kebaikan...kesehatan...dan dinamika kehidupan yang penuh warna...
Telor dadar memang hanya makanan sederhana dari ‘telor’...eeeh, ‘telur’... tetapi kalau dimodifikasi, ia bisa tampil mewah dan sesuai dengan berbagai suasana . Ketika kita menelusuri berbagai kisah dan pengalaman di dalamnya maka akan banyak cerita yang beraneka.
Sama dengan diri kita sendiri. Hidup kita pun demikian...dari hal-hal sederhana, dengan kreativitas dan kemampuan menyesuaikan diri..... maka perjalanan hidup kita pun akan menjadi kaya...
Suka telor dadar ? Mari kita coba....eheeeem....
Jakarta, 13 Januari 2010
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
Special note :
Thanks buat Dewi Ika...dan inspirasi tentang telor dadar omelettenya ....hehehe.... kenangan yang lucu dan indah sekali...kapan kita menjelajah telor dadar lagi, ya ? Juga buat adikku, But...yang dulu selalu minta ‘telor dua’...walaupun hanya dua iris telor dadar...hi hi...so sweet memory...
Langganan:
Postingan (Atom)