Minggu, 22 Juni 2008
Spirit Reborn
Pernah lihat kecambah ? Belum ? Waaaaww....sayang sekali. Pernah lihat tauge ? hehehe...mestinya sudah pernah, ya ? Hmmm...
Nah, hari-hari saya belakangan ini ya, seperti kecambah itu...seperti tauge.
Setelah beberapa waktu merasa gonjang-ganjing dengan kehidupan di sekitar saya...kadang seperti naik jet-coaster di Dufan, Ancol....mendadak saya tergulung dalam selaput perenungan. Seperti kepompong. Tapi saya tidak serta merta menjadi kupu-kupu yang dapat terbang kian kemari di antara helai-helai daun dan bunga-bunga.
Saya malah merasa seperti kecambah. Seperti sebutir benih yang sedang-sedang siap tumbuh kembali...melanjutkan perjalanan kehidupan.
Saat ini...setelah lama menghilang dari peredaran di dunia tanpa batas...di dunia tanpa jarak...hari ini saya kembali...seperti tauge ...eeeeh...seperti benih yang tumbuh di tanah subur dan siap bertarung dengan keindahan kehidupan di sekitar saya...
Semangat saya, yang sempat tertidur dalam kelelapan yang lena...kini bangkit kembali. Semangat cinta...semangat ingin berbagi...semangat ingin memberikan makna bagi kehidupan ini...
Saya datang...saya kembali...bersama spirit reborn....
Jakarta, 22 Juni 2008
Ietje
Special note : Terima kasih sebesar-besarnya...untuk sebuah hati yang terbuka di sore hari yang hangat di bulan Juni...thanks ya Nemo...
Minggu, 18 Mei 2008
Pecel Tanpa Genjer
Dear Allz…
Hehehe….setelah masa inkubasi beberapa saat lalu dan membakar lemak emosi akhirnya aku berhasil juga menenangkan diri…wekekeke…Kemaren aku ikut seminar HRD, dan mendapat pencerahan…bahwa kelas kayak gitu garing bangeeet…beda sama kelas Komunitas Lesehan yang cuawawakan mlulu. Itulah yang bikin aku kangen…
Pulang dari seminar aku digeret sama Nonce ke percetakan, dan dia paksa aku mendownload tulisan-tulisanku untuk segera di layout buat jadi buku. Terpaksalah…aku mengeluarkan tulisanku…ada 32 artikel. Dan langsung dimasukkan ke dalam mesin pemroses tata letak..hehehe…Abis itu makan sate
Hari ini tadinya aku mau detoks jiwa aja…tapi masih kangeeeen aja. Dan kebetulan si Nonce lagi kumat juga…dan mendadak dangdut dia udah nongol di rumahku sambil menjarah isi dapur…hahahaha…Dia makan dengan santai di tempat tidur di kamar kerjaku…sambil nungguin aku menyelesaikan tulisan Pecel Tanpa Genjer ini.
Kami sempat menggodai Mas Adith yang sedang tekun belajar. Tapi nggak tega untuk melanjutkan percobaan gangguan ke tempat lain…jadi ya sudah…kami mo jalan-jalan aja…
Udah yaaa…met menikmati genjer ini saja.
Kangen,
Ietje
Art-Living Sos 2008 (A-5.18.01
5/18/2008 2:24:18 PM
5/18/2008 5:34:36 PM
PECEL TANPA GENJER….
Saya sedang makan siang. Menyantap makanan kesukaan saya. Pecel sayuran… Hmmm….enaknyaaa…Pecel dengan daun singkong rebus, bayam rebus, kacang panjang rebus, kol rebus, tauge rebus….heeehhh !!!
Waaaah…kumpulan kol and the gang itu jadi kurang meriah, karena si genjer yang empuk-empuk eyup itu tidak menghadiri perjamuan kali ini. Bukannya nggak menghargai teman-temannya sesama tanaman lainnya yang sudah hijau royo-royo di atas meja makan, tapiiii….hmm….!!! Sepi. Gak rame…??? Tapi..yawda…sekali ini saya terpaksa merelakan impian saya menghablur tanpa genjer…hehehehe…
Bagi sebagian orang, pecel tanpa genjer sih oke-oke saja. Nggak penting-penting banget. Beda halnya kalau pecel sayuran tanpa tauge…rasanya memang kurang lengkap. Tapi kalau sekali sudah tahu sedapnya pecel dengan tambahan genjer…waaah…baru deh nagih…Asalkan nggak jadi ketagihan saja…hihihi…Kayak saya niiih…Yang bisa jadi kumat cerewetnya kalau Sang Genjer tidak ikut hadir dalam kumpulan sayuran itu.
Urusan saya dengan per-genjer-an ini sebetulnya bukan hanya di dalam kaitannya dengan pecel. Genjer direbus begitu saja juga enak. Dimakan dengan sambel yang pedessshh… …dicocol begitu saja….haaaahhh… nikmat sekali.
♥
Genjer….apaan siccchhh ?
Tanaman yang tumbuh liar di sawah-sawah berbentuk batang kotak hijau dengan ketinggian sekitar 20-40 cm ini adalah tanaman murah meriah. Tak heran kalau genjer seringkali dikaitkan dengan kemiskinan atau makanan kaum jelata…hikkss…Entah karena dia begitu gampang tumbuh, nyaris tanpa pemeliharaan dan tanpa proses rekayasa, sehingga siapa pun bisa mengambilnya dan memungutnya dengan gratis di sawah-sawah atau di tepi-tepi selokan di ladang yang airnya mengalir tenang .
Selain karena gampang tumbuh dimana-mana, nama genjer juga berkesan sederhana dan seadanya. Tapi coba begini…kalau saya menyebut nama Umnocharis Flava (L) Buch…naaah, pasti teman dan sahabat semua akan mengira itu nama penyanyi atau produk dari luar negeri ya ? Tapi sebenarnya itu adalah nama genjer dalam bahasa ilmiah di laboratorium…hehehehe… Alias sama saja…genjer dan genjer juga…
Menatap pecel yang tanpa genjer tadi saya jadi merenung. Sebetulnya apa yang salah dengan genjer sehingga dia selalu dikaitkan dengan kemiskinan dan kesengsaraan ?
Beberapa media di ibukota bahkan mengangkat topik kemiskinan dengan simbol genjer. Apakah itu adil buat Sang Genjer ? Apakah dia memang mau ditakdirkan menjadi simbol kemiskinan ? Sementara bagi saya, genjer adalah makanan penambah selera makan…hmmm…persis seperti yang saya baca di salah satu literatur. Itu sebabnya pecel saya tanpa genjer ibarat orkestra tanpa penyanyi soprano…hiks…hiks…hiks..Nggak ada yang menggigit-gigit…
Kita memang kadang suka mempolitisir sesuatu yang sederhana dan mudah diperoleh dengan penderitaan dan kesengsaraan. Seakan-akan sesuatu yang sederhana itu memang jatahnya orang yang menderita. Padahal apakah selalu demikian ? Nasib genjer memang nyaris sama dengan saudaranya Sang Kangkung…yang dulu dianggap makanan sederhana dan jatah orang miskin, tapi sekarang bisa naik kelas dan menjadi makanan mahal di restoran bintang empat dan
Di beberapa tempat sekarang pun genjer sudah menjadi makanan mahal. Tidak hanya disajikan di warung lesehan pinggir jalan di jalur jalan raya
♥
Ngomong-ngomong soal genjer…kadang bagi beberapa kalangan agak sensitif juga. Entah karena kesederhanaannya yang menjadi simbol kemiskinan, entah karena dia pernah dipolitisir oleh kalangan tertentu pada beberapa dekade lalu. Kadang kalau saya sedang bicara soal kecintaan saya pada genjer, ada mata yang melirik aneh…Kok saya doyan makanan sesederhana itu siiichhh ???
Yeaaccch…ini sih memang ada hubungannya juga dengan aktivitas saya semasa masih kanak-kanak dulu. Urusan main di sawah dan mandi di sungai sudah menjadi agenda sehari-hari. Nggak heran kalau dulu saya bisa hitam berkilauan seperti patung kayu mahoni…hehehe. Dan biasanya kalau sudah bosan main, pasti saya akan kelaparan. Pada saat itulah saya mulai mengetahui bahwa kangkung dan genjer adalah makanan yang nikmat sekali. Cukup dipetik langsung di pinggir pematang sawah, direbus seadanya di dangau-dangau yang ada di tengah sawah, lalu disantap begitu saja. Kadang dengan singkong rebus. Kadang tanpa apa-apa…
Dangau-dangau itu adalah milik petani yang sedang menjaga sawah, yang saya kenal sepintas lalu. Mereka membiarkan saya dan teman-teman bermain sepuasnya di tengah sawah, sambil membantu mengusir burung yang suka memakan padi. Imbalannya ya, itu tadi genjer dan singkong…hehehe…Kadang kalau sedang beruntung, kami juga bisa menangkap ikan sepat dan mujaer yang terjebak di antara selokan di antara pematang sawah. Dan genjer itu pun bertambah sedap dengan tambahan lauk yang bisa diperoleh begitu saja…seakan-akan tidak ada pemiliknya…
♥
Bertahun-tahun setelah urusan genjer di tengah sawah itu. Saya selalu merindukan genjer di antara hari-hari saya.
Duuuh…kalau saja orang-orang itu memahami, betapa genjer bukan hanya nikmat rasanya, tapi juga mengandung zat kardenolin yang berguna untuk tubuh. Sama dengan kandungan yang terdapat pada bayam dan beberapa tumbuhan berkhasiat menenangkan lainnya. Barangkali kalau saja genjer dibudidayakan…dan diolah dengan teknologi pangan yang tinggi…hmmm…barangkali genjer akan naik derajat. Dan kita harus antri untuk mendapatkannya. Sssttt…jangan-jangan…pada saat ini sudah ada pabrik yang mematenkan hak tanam dan hak garap genjer ini. Siapa tahu ?
Saya kembali ke urusan pecel tanpa genjer itu.
Merenung lagi . Betapa naifnya kita ini. Mengabaikan sesuatu karena kesederhanaannya. Karena kemudahan mendapatkannya. Karena keterbukaannya. Bukan karena makna yang ada di balik kehadirannya.
Hmm…Seandainya saya hanya sepotong genjer…masih maukah teman dan sahabat berkenalan dengan saya ?
♥♥♥
Salam Umnocharis Flava….
Ietje S. Guntur
Special note : Thanks buat Atun…my kitchen cabinet assistant…yang selalu sigap mencari genjer kemana-mana…Kemana genjer itu hari ini ya, Tun ? Juga buat my twin sister Nonce…si Penikmat genjer juga…dan tidak lupa sahabat kami Kun-defix…Komunitas Lesehan tanpamu ibarat pecel tanpa genjer…sepi euy..
Minggu, 20 April 2008
Ada apa dengan Kartini....
Dear Allz…
Hallowww….apakabar ?? Hehehe…sudah lama nih saya nggak mengudara…hehe. Bukan sok sibuk, tapi gimana yaaa…ada tugas yang butuh konsentrasi sedikit…Gagasan sih banyak, tapi kalau menulis tanpa semangat dan roh…waaaah…rasanya jadi garing…
Beberapa hari lalu, saya sudah kepikiran untuk menulis tentang salah satu tokoh pembaharu wanita di
Hari ini…sambil bermalas-malasan, saya membaca ulang buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Dan memang…ada wawasan baru yang saya dapatkan. Rasanya jadi tidak enak, kalau wawasan itu saya simpan sendiri…kuatir ntar jadi beku…he he…
Jadi inilah sedikit cerita saya…Semoga berkenan..
Selamat menikmati….
Salam hangat,
Ietje
Art-Living Sos 2008 (A-4.20.01
Start : 4/20/2008 12:40 PM
Finish : 4/20/2008 1:39 PM
Sekarang bulan April. Bulannya Kartini, kata sebagian orang.
Halaaahgghh…iya juga ya ? Kenapa, ya ?
Saya yang beberapa hari ini mendinginkan kepala karena sedang ingin konsentrasi dengan pekerjaan merasa tergelitik juga. Apalagi ketika menerima SMS dari seorang sahabat saya seperti ini,” Hari Kartini nih…udah bikin tulisan blom ?” Dia tahu betul kalau saya suka gatel-gatel kalau mendengar atau mengamati suatu issue tertentu. Dan jelas SMSnya itu bikin saya ‘terbakar’ di pagi buta tadi…hmmm…
♥
Perayaan Hari Kartini, barangkali sudah berpuluh-puluh kali kita lakukan. Dari yang lazim diadakan di sekolah, dengan perayaan yang meriah dan lomba busana daerah, sampai yang agak high-class dan intelek dengan acara seminar atau talkshow yang mengusung tema emansipasi dan hak-hak wanita.
Bagi saya, perayaan Hari Kartini dari jaman sekolah dulu, selalu saya sambut dengan gembira. Bukan karena harus pakai kain kebaya lengkap dengan sanggulnya (dan bikin saya selalu panik luar biasa…takut sanggulnya copot), tapi yang jelas pada hari itu biasanya libur belajar…hehehe…Soalnya pasti ada lomba macam-macam. Mulai dari lomba busana, lomba menulis tentang Kartini, lomba baca puisi, lomba cerdas cermat sampai lomba yang jelas nggak ada hubungannya dengan emansipasi dan Hari Kartini…seperti lomba masak untuk murid laki-laki…hmm…
Bagi saya…dan bagi anak-anak umumnya, urusan peringatan Hari Kartini itu memang nggak jauh-jauh dari lomba peragaan busana daerah. Terutama kebaya. Jadi pada hari itu akan tampil berbagai koleksi busana seluruh daerah
Tapi…belakangan saya berpikir, apa hubungannya Hari Kartini dengan busana daerah ? Barangkali di seluruh dunia, hanya di
Padahal…sebetulnya, apa sih yang diperjuangkan oleh Kartini, sehingga ia begitu dikenal sebagai tokoh pembaruan di kalangan wanita
Saya sendiri, yang beberapa kali diminta untuk menjadi narasumber dan urun rembug dalam berbagai acara peringatan Hari Kartini, kadang bingung juga. Mau mengangkat topik apa pada peringatan Hari Kartini itu. Bukan apa-apa, sebagai tokoh wanita, yang saya ambil dari Kartini adalah semangatnya dan inspirasinya. Bukan sekedar emansipasinya. Lha…mau emansipasi bagaimana ? Kita ini
Kartini yang saya amati adalah seorang inspirator. Seorang visioner. Kartini, yang tulisan-tulisannya kepada para sahabatnya di Negeri Belanda dibukukan dalam tajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang”, berisi gagasan-gagasan dan segala cita-citanya. Untuk kemajuan wanita. Untuk kemajuan bangsanya. Saya tidak akan membahas mengenai isi tulisannya. Tapi yang jelas, gagasan dan cita-citanya yang berani mendobrak pemikiran wanita ( bahkan para lelaki) pada jamannya itulah yang menjadi inspirasi banyak wanita ( dan mudah-mudahan juga para lelaki) untuk berani berpikir dan bercita-cita juga.
Barangkali ada yang bertanya : Kenapa sih orang bercita-cita saja bisa dijadikan seorang tokoh pembaruan ? Bahkan diresmikan menjadi pahlawan nasional !
Nah, ini dia ! Seorang pembaharu, akan memulai perjalanannya dari pemikiran, dari analisis, dari gagasan yang menerobos batas yang ada di lingkungannya. Gagasan itu kemudian menjadi cita-cita. Cita-cita inilah menjadi motor, menjadi penggerak untuk sebuah program atau pekerjaan. Gagasan dan cita-cita adalah visi. Dan Kartini sudah punya visi itu.
Barangkali ada lagi yang bertanya : Kenapa Cuma punya cita-cita ? Kenapa tidak direalisasikan ?
Memang sayang sekali. Pemikiran Kartini sebagian besar belum sempat diwujudkannya. Ia meninggal dalam usia sangat muda. Masih duapuluh
Kalau kita mau jujur pada diri sendiri, dan merefleksi kondisi saat itu, maka sebetulnya yang harus beremansipasi dan direformasi bukanlah perempuan tetapi laki-laki. Kenapa ? Karena perempuan hanya bisa berkiprah kalau mendapat kesempatan dari laki-laki, baik ayah, maupun anggota keluarga laki-laki lainnya. Kartini yang dikekang oleh adat, hanya bisa bergerak sedikit setelah mendapat kesempatan dari ayahnya dan salah satu saudara laki-lakinya. Ia kemudian juga mendapat peluang mengembangkan gagasannya, dalam suatu perwujudan sekolah pemula yang sederhana, dari suaminya.
Dan ketika kehidupannya yang singkat diambil oleh Sang Pemilik Kehidupan, apakah gagasan, cita-cita dan visinya lantas harus berhenti ? Tidak khan ? Masih ada sahabat-sahabatnya. Masih ada keluarganya. Yang tahu betul, bagaimana harus mewujudkan dan melaksanakan cita-cita itu. Bukankah itu gunanya para sahabat ? Sebagai pendukung dan untuk mewujudkan visi serta cita-cita ?
♥
Nah, sekarang kembali kepada diri kita sendiri. Apa yang terjadi dengan para wanita atau perempuan di abad ini ? Masihkah kita punya gagasan atau cita-cita seperti Kartini, wanita abad lalu itu ?
Kita yang hidup di alam kemerdekaan. Kita yang hidup di alam reformasi dan demokrasi, apa yang sudah kita lakukan ? Adakah kita memiliki hasil karya, yang berguna untuk kehidupan ini ?
Jangan hanya bertanya : Kenapa Kartini ? Kenapa harus dia ? Coba tanyakan pada diri sendiri : Kenapa bukan Ietje ? Kenapa bukan Nonce ? Kenapa bukan Tutsye ? Kenapa bukan Esti ? Kenapa bukan kita ?
Yaaah…kembali lagi…Beranikah kita memiliki gagasan ? Beranikah kita memiliki visi ? Beranikah kita berbagi untuk kemaslahatan kehidupan dan dunia ini ?
♥♥♥
Salam bervisi di hari Kartini,
Ietje S. Guntur
Special note : Thanks berat buat Aan Kecap Tjap Sawi …yang selalu menggelitik hidupku (pada jam yang tidak patut) …dan sahabat-sahabat wanita Esti Wungu yang sedang berjuang di Negeri Ginseng, Eva di Negeri McD, I’ie di Kutub, Nonce di Rawamangun (yang selalu gak nyambung dotcom) , Tutsye ( yang baru tiba di Negeri Walanda demi sebuah cita-cita )…Thanks sudah mengingatkan…bahwa masih ada hal yang kudu direnungkan…
Senin, 07 April 2008
Eyang Goceng...
Dear Allz….
Cinta bisa datang dari mana saja, dan kapan saja. Sekali ini saya ingin berbagi tentang cinta seorang Nenek kepada Cucu...dengan caranya sendiri.
Mana tahu...suatu saat saya jadi nenek juga...dan saya bisa mengikuti jalan cinta eyang saya. Bukan karena amplop dan goceng-nya...tapi karena semua kasih sayang dan petuahnya...yang begitu melekat hingga hari ini...
Salam sayang dari Galeri Cintaku
Ietje
Art-Living Sos 2008 (A-4.05.01
Start : 4/5/2008 10:38 AM
Finish : 4/6/2008 12:11 AM
EYANG GOCENG
Nenek atau eyang adalah orang yang paling asyik. Apalagi kalau punya nenek seperti Eyang saya. Eyang Putri. Eyang yang di
Dua-dua eyang putri saya ini unik banget. Dan antik. Ya, iyalah…namanya nenek-nenek pasti antik. Naaah…saya mau cerita nih soal Eyang Putri saya yang di Jogya. Kami memanggilnya dengan sebutan sayang, Eyang Goceng. Pasti dong penasaran…kenapa kami menyebutnya demikian ?
♥
Eyang Putri saya yang di Jogya ini, tepatnya tinggal di desa yang hijau royo-royo…di daerah Sanden, Bantul. Walaupun rumahnya tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan
Di rumah Eyang ada tiga kamar berjejer. Yang boleh dipakai tidur hanya kamar kiri dan kanan. Kamar tengah tidak pernah dipergunakan untuk tidur. Begitulah yang saya ketahui. Dan ketika saya tanya ke eyang, katanya sih untuk jaga-jaga saja. Menurut kepercayaan Eyang, itu adalah kamar untuk Dewi Sri, dewi padi dan penjaga kesuburan. Waaah…antik juga, pikir saya. Kamar itu lumayan besar, tapi saya tidak berani tidur disitu. Paling Cuma mengintip-intip saja sesekali…he he…
Cerita tentang pertemuan dengan Eyang pertama kali, adalah cerita yang lucu dan konyol juga. Saya yang lahir di Sumatra, dan dibesarkan dalam lingkungan yang biasa bersuara keras…(hmmm…)…pertama kali bertemu eyang ini ketika saya berusia 7 tahun. Saat itu saya sudah kelas 2 SD. Jauh hari sebelum kunjungan ke Jogya dan hari-H, Ibu saya sudah mengajarkan tatakrama Jawa yang rumit untuk dipergunakan pada saat bertemu pertama kali dengan eyang Jogya. Begitu juga Eyang Medan saya sudah mewanti-wanti agar nanti berperilaku ‘njawani’ dan ‘miyayeni’…alias bersopansantun sesuai tatakrama priyayi. Untuk berbahasa Jawa sedikit-sedikit, ya saya lumayan bisa. Dan itu nanti akan saya praktekkan kepada Eyang Jogya.
Tapi apa yang terjadi ?
Ketika kami tiba di desa, setelah menempuh perjalanan jauh dari
Saya Cuma tersenyum bengong. Laaah…gimana mau sungkem sama eyang…wong semua sudah heboh seperti di pasar malam…hehehe…Jadi deh, urusan tata-krama yang sudah dipelajari itu buyar semua. Eyang malah berteriak dengan serunya ,”Yo..
Saya tertegun. Melihat pohon-pohon di rumah eyang yang banyak buahnya. ”Eyang…boleh naik pohon ?” tanya saya ragu-ragu. Di Medan
“Yo…panjat yang puas…ambilin sawonya sekalian…,”sahut Eyang tak kalah serunya.
Dan tanpa disuruh dua kali, saya langsung lari ke halaman. Mencari pohon yang paling tinggi. Memanjat dan bergelantungan sambil berteriak-teriak seru. Adik-adik saya yang masih kecil hanya terbengong. Heran. Panik. Kok bisa-bisanya si Kakak ini jadi kalap begitu di antara dahan-dahan pohon.
Itu adalah saat saya ‘jatuh cinta’ pada Eyang Jogya, yang ketika itu masih kami sebut sebagai Eyang Sanden. Ini untuk membedakan dari Eyang Jogya lainnya…yang memang ada beberapa orang lagi.
Setelah berkangen-kangen beberapa hari, kami harus pulang. Kembali ke Sumatra. Kembali ke Medan. Dengan membawa kenangan yang begitu indah. Tentang pohon yang boleh dipanjat kapan saja. Tentang sawah yang menghampar hijau di sekitar rumah eyang. Tentang selokan di dekat sawah yang airnya jernih sekali, dan bisa dipakai untuk mandi-mandi…Tentang dapur eyang yang tak pernah berhenti berasap untuk menyiapkan makanan bagi anak, menantu dan cucu-cucu yang tidak pernah berhenti lapar.
♥
Lama sekali saya tidak bisa ke Jogya. Antara lain karena situasi politik di Indonesia saat itu tidak memungkinkan kami bisa ke sana ke mari dengan leluasa. Selain itu juga penugasan ayah saya di kota-kota terpencil di Sumatra pasti menyulitkan kami untuk ‘mudik’ ke Jawa bersama keluarga. Cerita tentang eyang hanya ada di dalam kenangan. Dan belakangan, saya mulai rajin menulis surat untuk eyang. Menanyakan tentang sawah dan pohon sawo di halaman.
Kesempatan berkunjung baru datang lagi ketika saya duduk di bangku SMP. Saat itu saya sudah ABG, dan adik-adik saya sudah lumayan mengerti tentang sawah dan selokan. Seperti kunjungan beberapa tahun lalu, kali ini pun kami datang dengan segala kehebohan yang hiruk pikuk. Lagi-lagi eyang memeluk kami sambil menyuruh kami naik pohon dan ke sawah. Kali itu, eyang malah ikut mengantar kami melihat sawah yang luas terbentang. “Nasi yang tadi dimakan di rumah, ya dari sawah ini,” Begitu Eyang menjelaskan. Waaah…asyiknya…Pantesan rasanya begitu pulen dan mantaaap ! Apalagi dimakan dengan lauk tempe goreng…wooowww…tiada duanya deeeh !
Walaupun berlibur di rumah Eyang sangat menyenangkan, tetapi kami tak bisa berlama-lama di sana . Kami harus pulang lagi ke Sumatra. Kali ini saya dan adik-adik memiliki cerita yang lebih lengkap tentang rumah eyang. Pohon sawo. Sawah. Pantai yang tak jauh dari desa itu. Selokan. Makam Eyang Kakung dan leluhur lainnya. Juga meja makan eyang yang panjang dan berisi banyak stoples yang penuh dengan beragam penganan dan jajan pasar.
♥
Lulus SMA. Tibalah saat saya harus meninggalkan kota kelahiran di Medan sana. Ceritanya mau melanjutkan kuliah ke Tanah Jawa. Saya seperti napak tilas perjalanan hidup keluarga saya sebelumnya. Tante-tante dan Oom-oom saya yang ketika lahir dan masih kecil dibawa merantau ke Sumatra bersama Eyang Medan, selalu ‘mudik’ ke Jawa untuk melanjutkan kuliah…hehehe. Gimana pulau Jawa nggak penuh lagi ?
Saya dan adik-adik saya termasuk salah satu contohnya. Lahir dan besar di Sumatra. Setelah lulus SMA, melanjutkan kuliah ke Jawa. Kerja di Jawa. Dan beranak-pinak dua kali lipat di Jawa ini juga…hihihi…Hampir tidak ada yang mau pulang ke Sumatra lagi. Halaaaah ? Pulang ke mana ? Asal usulnya kan dari Jawa ini juga ? Dari Sanden, di Jogyakarta sana ? hehehe….Bisa aja !
Dan begitulah…setinggi-tinggi terbang bangau, baliknya ke pelimbahan juga. Begitu kata orang bijak jaman dulu. Sejauh-jauh orangtua saya merantau, anak-anaknya dikembalikan lagi ke kampung halaman di tengah sawah Eyang Jogya…hehe. Untung saja saya tidak harus kuliah di Jogya juga. Kalau ada kewajiban seperti itu…alamaaak… betul-betul bangau pulang ke pelimbahan…hihihi…
Saya kuliah di Bandung. Di kota, tempat Eyang Kakung Medan dulu pernah bertugas. Hiikss… pelimbahan bangau juga niiih ? Pakdhe saya juga (kebetulan) ada di sana. Halaah…jadinya para bangau berkumpul lagi.
Kemudian setelah saya paham cara melakukan perjalanan ke Jogya, dengan menggunakan bis malam atau keretaapi kelas ekonomi ( yang murah meriah…maklum mahasiswa), saya jadi rajin ke rumah Eyang di Sanden. Awalnya saya ke sana karena kangen dengan suasana desa yang hijau royo-royo. Kangen dengan segala ketenteramannya. Kangen mendengar cerita eyang yang selalu heboh. Seru kalau ngobrol dengan Eyang, karena kami selalu pakai bahasa gado-gado. Jawa dan
Selanjutnya…seolah-olah…ada udang di balik batu ! Kalau saya lagi nggak punya duit…(maklum orangtua
Naaah…berkat kerajinan cucu manis ini biasanya hati Eyang langsung luluh. Kalau pulang lagi ke
Ketika saya cerita ke ayah, ibu dan adik-adik saya, mereka semua bersyukur, akhirnya ada cucu yang bisa dekat dengan eyang. Jadi Eyang nggak terlalu kesepian lagi. Maklum dari berpuluh orang cucunya, jarang ada cucu yang bisa datang berkunjung. Jadi, saat itu saya termasuk cucu kesayangan…hmmm…
Suatu ketika liburan panjang tiba, adik-adik saya ikutan berlibur ke rumah Eyang. Waaah…eyang senang sekali dikunjungi setengah lusin cucu yang heboh semua. Selain menyediakan makanan seperti biasa ( yang seperti menjamu anak sekampung)…eyang juga membebaskan kami tidur di mana saja di seluruh area rumah. Lalu beraktivitas seperti yang saya lakukan. Rumah eyang yang biasanya tenang tentram, dalam sekejap menjadi ajang kerusuhan massal. Karena kami terus saja ngobrol, teriak-teriak, dan lari-lari kian kemari di dalam dan di luar rumah…hehehe…Pusing juga
Tiba saatnya pamit lagi. Eyang menatap kami satu persatu dengan mata tuanya yang penuh rindu. Lalu kami semua diberi amplop. Masing-masing dapat
♥
Saya masih merasakan kasih sayang eyang…sampai saya lulus kuliah. Sampai saya menikah. Sampai saya punya anak. Bahkan anak saya pun belajar berjalan pertama kali, ya di rumah Eyang Goceng . Di halaman depan yang dipergunakan untuk menjemur padi. Anak saya bisa berkeliling lapangan…dengan tertatih-tatih…sambil membawa sebatang sapu yang diseretnya kian kemari. Dan Eyang Goceng tertawa sambil meneteskan airmata.
Rasanya hidup saya menjadi lengkap. Saya punya dua orang Eyang Putri. Satunya Eyang Medan. Satunya Eyang Sanden. Barangkali banyak cucu lain yang punya Eyang Medan, atau Eyang Sanden. Tapi mungkin di seluruh dunia hanya kami yang memiliki Eyang Goceng….hehehe…
♥♥♥
Jakarta, 4/6/2008 12:08 AM
Salam sayang di tengah kerinduan….
Ietje Djoemarno…(sebelum menjadi Ietje Guntur)
Special note : Terima kasih tidak terhingga untuk Eyang Goceng…yang selalu mendukung dan mendorong kami untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya…dan berbagi ilmu dan apa saja sebanyak-banyaknya…seperti kata Eyang selalu ,”Hidup ini Cuma titipan…”Jadi kenapa titipan itu tidak disalurkan kepada yang membutuhkan…?
Minggu, 23 Maret 2008
Fajar di Bromo
Ini adalah fajar di Bromo....
Pesona fajar selalu luar biasa. Apalagi kalau untuk melihatnya harus menempuh perjalanan panjang dari Jakarta, ke Jogya, ke Malang..Pasuruan...baru ke Bromo.
Fajar di Bromo memang unik...dan sangat menantang.
Seperti sebuah impian yang menjadi kenyataan.
Perjalanan ke Bromo adalah perjalanan meraih dan mewujudkan impian.
Salam sayang dari Galeri Cintaku,
Ietje S. Guntur