Selasa, 09 Juli 2013

Kumpulan catatan dari FB - Diary 1

Catatan perjalanan...dari BUKU HARIAN@IetjeG:

Jangan MELIHAT KE BELAKANG, kalau itu hanya membuat kita SEDIH atau BERDUKA !!

Lihatlah MASA LALU hanya dari kaca spion yang kecil...SEKEDAR untuk mengingatkan, bahwa pernah ada MASA SULIT di antara proses PENDAKIAN kita.

Bila MASA LALU MENYENANGKAN dan MEMBUAT BAHAGIA...Jadikanlah ia sebagai BUNGA WANGI yang menebarkan aroma semangat...

MASA LALU adalah GURU DAN PELAJARAN yang membuat kita lebih MATANG, BIJAKSANA dan lebih BERSYUKUR atas kesempatan yang telah kita lalui...

SENANG-SEDIH, GEMBIRA-DUKA, BAHAGIA-LARA....adalah rekam jejak kita. Menjadi BEKAL bagi KEHIDUPAN SELANJUTNYA...

Salam sayang,

Ietje S. Guntur

‎#Diary@ietjeguntur

Selasa, 26 Februari 2013

Nelayan dan Seekor Ikan

February 25, 2013 Art-Solusido 2013 NELAYAN dan SEEKOR IKAN Dear Teman dan Sahabat Tersayang, Biasanya di ruang ini saya menulis tentang pendidikan atau pengalaman yang langsung saya alami. Namun kali ini saya ingin bercerita sedikit, mengenai sebuah kisah inspiratif dari masa kanak-kanak saya. Mau khaaaan ? Duluuuuuu...sekali. Ketika saya masih kanak-kanak, saya diberi sebuah buku 'bekas'. Buku entah dari mana, sampulnya saja tidak ada. Tapi isi buku itu sangat bagus. Berupa kumpulan cerita-cerita dari seluruh dunia. Salah satu dari cerita itu adalah kisah tentang nelayan dan seekor ikan. Aslinya, cerita ini dari bahasa Belanda, tetapi karena ada gambarnya, dan ibu saya selalu membacakannya, lama-lama saya hafal isi ceritanya. Bahkan ketika saya sudah lebih besar, saya berani menceritakannya kepada orang lain...Hehehe... * Begini kisahnya : Pada jaman dahulu kala, di sebuah pantai yang sepi hiduplah seorang nelayan bersama isterinya. Nelayan ini sangat miskin, sehingga ia tidak mampu menyewa tempat di daerah pemukiman yang ramai. Ia tinggal di sebuah gubuk yang reyot, yang selalu bocor bila hujan. Ia pun hanya memiliki sebuah sampan tua, yang dipergunakannya sehari-hari untuk mencari ikan di sekitar perairan di dekat rumahnya. Ia tidak berani berlayar jauh, karena sampannya tidak memiliki layar, dan ada bagian yang bocor di salah satu sisinya. Ia harus selalu membuang air yang merembes masuk ke dalam sampan melalui celah-celah dindingnya. Ia memiliki sebuah jala kecil, tapi itu pun sudah banyak bagian yang rusak, sehingga ikan yang sudah masuk ke dalam jalanya masih dapat meloloskan diri. Jala itu dipergunakannya bila air laut cukup tenang, dan ia dapat berlayar di sekitar pantai di dekat rumahnya. Karena tidak pernah berlayar jauh, hasil penangkapan ikannya pun sangat sedikit. Kadang hanya cukup untuk makan sehari. Kadang-kadang bila angin kencang bertiup, ia tidak berani pergi ke laut, sehingga ia harus memakan makanan yang masih tersisa dari hari kemarin. Sesekali ia ikut berlayar dengan perahu besar milik seorang juragan kaya dari perkampungan. Bila nasib baik, ia memperoleh penghasilan lebih banyak dibandingkan dengan hasilnya menangkap ikan dengan sampannya. Ia selalu bersyukur, berapa pun ikan yang diperolehnya. Dan sambil bersiul-siul , ia menyerahkan hasil tangkapannya kepada isterinya. Kadang hanya ikan kecil-kecil, kadang ikan sedang dan sedikit udang. Isterinya adalah seorang wanita yang tidak pernah puas dengan kondisi yang ada. Semasa masih muda, katanya ia adalah seorang kembang di desanya. Tetapi sejak menikah dengan nelayan itu, nasibnya berubah drastis. Ia sering menyesali nasibnya, dan menyalahkan suaminya karena peruntungannya yang buruk itu. Seringkali ia mengeluh, meminta agar suaminya memperbaiki rumah mereka, membeli perahu - bukan sekedar sampan butut, dan menyediakan makanan yang enak-enak baginya. Nelayan itu hanya menatapnya dengan iba, karena ia sangat mencintai isterinya. Sudah beberapa kali ia berhutang kepada juragan kapal, untuk memenuhi kebutuhan isterinya. Dan hutang itu harus dicicilnya dengan memotong penghasilannya bila ia ikut dalam pelayaran dengan kapal juragan yang lebih besar. Kadang-kadang, karena besarnya hutang kepada juragan kapal, ia tidak bisa lagi membawa uang untuk isterinya. Tentu saja isterinya marah-marah, dan mengatakan bahwa ia menyesal telah menikah dengan seorang nelayan yang bodoh. Isterinya mengancam akan meninggalkannya, bila mereka tetap miskin seperti itu. Dengan hati yang sedih, nelayan itu pun pergi ke tepi pantai. Ia duduk menyendiri di bawah sebatang pohon, sambil mencucurkan airmata. Ia berdoa, agar diberi rejeki oleh Yang Maha Kuasa. Agar ia dapat memenuhi kebutuhan isterinya. Agar isteri yang dicintainya tidak meninggalkannya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara." Hai, nelayan. Mengapa kamu menangis di sini ? Bukankah seharusnya kamu pergi ke laut untuk menangkap ikan ?" Nelayan itu terperanjat. Ia menoleh ke kiri kanan. Tidak ada siapa-siapa di situ. Ia bangkit berdiri, dan siap-siap untuk melarikan diri. Ia kuatir ada hantu laut yang mengganggunya. " Hai, nelayan. Jangan takut. Jangan lari. Aku di sini." Suara itu sekarang seperti berada di dekatnya. Nelayan itu menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada seekor ikan, sangat besar berenang di ceruk yang agak dalam. Hati nelayan itu tergetar. Belum pernah ia melihat ikan sebesar itu. Bila dapat ditangkap dan dijual, tentu harganya sangat mahal. "Oh...engkaukah yang bersuara ?" tanya nelayan kepada ikan. Ikan itu mengangkat kepalanya, dan mengibaskan ekornya. Seakan mengatakan bahwa benar dugaan nelayan tersebut. "Betul. Aku yang berbicara. Aku adalah ikan penguasa lautan ini." " Haaaa...??? Mana ada ikan yang bisa berbicara seperti manusia. Jangan-jangan kamu hantu laut." Kata nelayan itu, sambil gemetar ketakutan. Ia ingin berlari, tapi kakinya seperti dipaku ke tanah. Akhirnya ia terduduk saja di situ. " Hohoho...aku bukan hantu laut. Aku benar-benar ikan, penguasa laut ini. Rumahku di dekat ceruk dalam di sebelah sana." Ikan itu menghempaskan ekornya, seakan-akan menunjuk ke suatu tempat. Nelayan itu tahu, bahwa tempat yang ditunjukkan ikan itu adalah ceruk yang selalu dihindari semua nelayan di pantai itu. Walaupun kadang ombaknya tenang, tetapi bisa tiba-tiba lautnya berbuih dan menghempaskan apa saja yang berada di dekatnya. Itu sebabnya tidak ada nelayan yang mau bertempat tinggal di sekitar situ. "Hmh...lalu apa maumu, Raja Ikan ?" tanya nelayan itu, takut-takut. Ia sudah pasrah. Mau dimakan oleh ikan itu pun ia sudah tidak peduli lagi. Toh isteri yang dicintainya sudah marah-marah melulu. Sebentar lagi ia akan ditinggalkan isterinya. Barangkali lebih baik ia dimakan ikan saja, pikirnya dengan sedih. " Justru aku yang bertanya, apa maumu ?" Raja ikan balik berkata. Ia menghempas-hempaskan ekornya lagi, sehingga air berhamburan kemana-mana. Nelayan itu menutup wajahnya. Air itu mengenai wajahnya, sangat keras. Seperti dilempar segenggam batu. "Aku ? Aku mau agar isteriku tidak meninggalkan aku." Bisik nelayan dengan suara lirih. " Kenapa dia meninggalkan kamu ?" tanya Raja ikan penasaran. " Karena kami sangat miskin. Aku sangat miskin. Sampanku kecil dan sudah butut. Tidak bisa melaut ke tempat yagn lebih jauh. Penghasilanku terbatas, sehingga tidak bisa memperbaiki gubuk tempat tinggal kami." Nelayan itu menunduk. Ia malu mengadukan nasibnya kepada raja ikan. " Ohhh...hanya itu ? Kamu ingin gubukmu menjadi rumah yang bagus ?" tanya raja ikan. Nelayan mengangguk. Membayangkan rumahnya yang hampir roboh. " Kalau itu gampang. Pulanglah sekarang ke rumahmu. Lihat saja nanti." Raja ikan menghempas-hempaskan ekornya lagi, lalu lenyap dari pandangan mata. Ia sudah menyelam melalui ceruk dalam itu. Dengan lunglai, nelayan pun bangkit dari tempat duduknya. Lalu berjalan pulang ke rumahnya. * Rasanya ia telah berjalan cukup jauh. Setelah melalui jalan yang biasa ditempuhnya, ia merasa berada di tempat asing. Di depannya tampak sebuah rumah yang sangat besar. Nelayan itu heran. Ia sudah berpuluh, atau beratus kali melalui pantai itu, tapi belum pernah ada rumah sebesar itu di sana. Apakah aku salah jalan ? Pikirnya dengan panik. Tiba-tiba dari dalam rumah itu muncul seorang wanita. Ia terperanjat. Ia mengenal wanita itu. Itu adalah isterinya. Tapi lihat, pakaiannya bagus sekali. Berbeda dengan isterinya sehari-hari. Ia menggosok-gosok matanya. Benar, tidak salah. Itu adalah isterinya. "Bu, apakah...apakah itu kamu ?" tanya nelayan dengan takut-takut. Ia masih berdiri di luar halaman rumah itu. "Paaaaakkkk...sini, Pak. Ini memang aku. Lihat...ini rumah kita sekarang. Lihat, bagus, ya ? Bajuku juga bagus sekarang. Ohhh...coba lihat bajumu. Kucel. Di lemari sudah ada pakaian yang bagus-bagus. Mari masuk, Pak. Jangan berdiri di situ saja." Isterinya berlari ke luar, menyeretnya masuk ke halaman. Lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah. Ia ragu-ragu sejenak. Tetapi di depan pintu rumahnya ia melihat sebuah ember kayu yang sudah usang, yang biasanya dipakainya untuk menjemur ikan. Sekarang ia percaya, bahwa ini benar-benar rumahnya. Raja ikan itu betul, ia memiliki rumah yang bagus sekarang. Isterinya tampak berbeda. Tidak kucel lagi seperti biasa. Ia pun menghidangkan makanan enak-enak untuk nelayan. Lalu mereka duduk-duduk di ruang tamu, menikmati suasana yang mewah itu. Rumah mereka bahkan hampir sama besar dengan rumah juragan kapal. Setelah menikmati makanan, nelayan bercerita kepada isterinya. Bahwa tadi siang ia berjumpa dengan raja ikan. Raja ikan itu mengatakan, bahwa ia akan memperbaiki rumah mereka. Ternyata apa yang dikatakan raja ikan telah menjadi kenyataan. Nelayan itu sangat gembira. Ia bersyukur. Lalu mengajak isterinya untuk menemui raja ikan, agar mereka dapat berterimakasih atas pemberian yang luar biasa itu. Sekarang, walaupun hari hujan mereka tidak akan kebocoran lagi. Mendengar penuturan nelayan, isterinya tidak menunjukkan wajah gembira. Ia mulai merengut lagi. Lalu katanya," Kalau kamu memang bertemu dengan raja ikan, kenapa kamu tidak minta sekalian diberikan perahu atau kapal yang besar ? Jadi kamu bisa mencari ikan di laut yang lebih jauh. Masa sih rumah kita sebesar ini, tapi sampan kita tetap saja yang butut dan sering bocor." Nelayan terdiam. Ia menunduk sedih. Pemberian raja ikan itu tidak diterima dengan rasa syukur oleh isterinya. Ia tidak berkata apa-apa. Lalu beranjak ke luar rumah. * Beberapa hari itu nelayan tidak bisa pergi ke laut. Angin bertiup sangat kencang, dan hujan turun tidak berhenti-henti. Ia cukup senang, karena sekarang rumahnya tidak bocor lagi. Persediaan makanan pun masih cukup. Ia agak heran, karena dari lemarinya seperti tidak ada hentinya bahan makanan tersedia. Tentu ini pemberian raja ikan, pikir nelayan di dalam hatinya. Sebenarnya ia cukup senang berada di rumah. Dapat berduaan dengan isterinya. Namun karena biasa bekerja keras, lama-lama iapun tidak betah hanya berdiam diri saja. Ia ingin ke laut sejenak. Walaupun hanya dengan sampan kecil, tapi ia berharap dapat menangkap ikan untuk menambah penghasilannya. Paling tidak, ia dapat membayar hutangnya kepada juragan kapal. Sambil bersiul gembira, ia pun mengambil sampan yang ditambatkan di dekat pohon. Lalu pelan-pelan ia mulai mengayuh sampannya. Hari itu cuaca agak mendung, tetapi ombak tidak besar. Ia berharap ada beberapa ekor ikan yang terjaring di dalam jalanya. Namun, sudah hampir setengah hari ia berlayar, sudah berulang kali jala ditebar ke laut, ia belum juga mendapat ikan. Sesekali ia melihat seperti rombongan ikan mendekati sampannya. Tetapi ketika ia menuju ke sana, ikan-ikan itu pun menyembunyikan diri. Akhirnya ia membiarkan sampannya terapung-apung saja di atas gelombang. Ia memperturutkan arah sampan sesuai dengan tuntunan gelombang yang mengalun naik turun. Tiba-tiba dari salah satu sisi sampannya, ia melihat ada bayangan ikan yang berputar-putar. Ikan itu sangat besar. Nelayan terkejut bukan buatan. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ikan apa lagi ini ? Pikirnya panik. Kalau saja ikan itu menabrak sampanku, tamatlah riwayatku, pikirnya. Ia membayangkan isterinya yang panik menunggunya pulang. Ia agak menyesal juga, karena tadi isterinya sudah melarangnya pergi karena cuaca belum baik dan cerah. Sekarang ia hanya bisa pasrah, lalu ia menutup matanya. " Haaaiiii, nelayan...lagi ngapain di sini ?" sebuah suara sayup-sayup menyapanya. Nelayan membuka matanya pelan-pelan. Ini di tengah laut yang sepi. Siapa yang memanggilnya ? Bisiknya ngeri. Ia lalu teringat cerita-cerita tentang hantu laut yang bergentayangan bila hari mendung seperti ini. Sambil berdoa mohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa, nelayan menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata seekor ikan. Persis seperti raja ikan yang ditemuinya beberapa waktu yang lalu. "Kamu ? Raja ikan ?" tanya nelayan, takut-takut. Kalau ini bukan raja ikan, bisa saja dia akan marah. Tapi ternyata tidak. Ikan besar itu memukulkan ekornya ke air, lalu mengangkat kepalanya. "Yaaaa...kamu masih ingat ? Aku memang raja ikan. Apa kabarmu Pak Nelayan ?" Raja ikan bertanya ramah. Sekarang nelayan bersukacita. Ternyata ini raja ikan yang sudah dikenalnya. Ia tersenyum gembira. "Ohhh...raja ikan. Akhirnya kita bertemu lagi. Aku mau menyampaikan terima kasih kepadamu. Rumahku sekarang bagus sekali. Pakaian-pakaianku pun sangat indah. Makanan selalu tersedia dari lemari penyimpan. Sungguh luar biasa bantuanmu." "Aaaahh...itu biasa saja. Kamu orang baik dan sabar. Jadi aku ingin memberi hadiah untukmu. Kalau aku memberikan sesuatu lagi, kira-kira apa yang kamu inginkan ?" tanya raja ikan. Ia masih berputar-putar di sekitar sampan nelayan . "Hmmhh...apa, ya ?" pikir nelayan. Tepat pada saat itu sebuah gelombang agak besar menerpa sampan kecil nelayan. Ia tergoncang, dan hampir terjatuh ke laut. "Ooooh...sampanku !" teriaknya, spontan. "Apa ? Sampan ?" tanya raja ikan. Ia mengangkat kepalanya. " Ohh...maaf, bukan. Maksudku...iya. Sampanku hampir saja kemasukan air. Aku hampir terjatuh ke laut." Nelayan menarik nafas panjang. Ia sempat ketakutan tadi. "Ooo...begitu. Bagaimana kalau sampanmu yang kecil itu kuganti dengan perahu yang besar dan lengkap ?" tanya raja ikan. Suaranya terdengar serius. Nelayan terpana. Ini adalah permintaan isterinya. Tapi apakah benar raja ikan mau memberikan sebuah perahu yang bagus ? "Terserah kamu saja raja ikan. Kalau kamu mau memberikan sebuah perahu besar, tentu aku senang sekali. Aku bisa berlajar agak jauh, dan aku juga dapat mengajak beberapa nelayan lain agar kami mendapat hasil yang lebih banyak. Tapi apakah mungkin ?" Nelayan menatap ragu-ragu kepada raja ikan. Raja ikan menghempas-hempaskan ekornya lagi ke air. Sampan nelayan terguncang-guncang. "Hohoho...nelayan yang baik hati. Tentu saja semua itu mungkin. Pulanglah kamu sekarang. Dan lihat apa yang terjadi." Raja ikan lalu melompat ke atas air sekali, dan menyelam cepat ke dalam laut. Meninggalkan pusaran air yang bergelombang. Nelayan menutup matanya. Ia sudah pasrah. Sekali ini pasti sampannya akan tenggelam terkena pusaran air yang begitu besar. Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Sepuluh menit. Sampannya belum tenggelam. Ia malah merasa semua sangat tenang. Pelan-pelan ia membuka matanya. Waaaahhh...apakah ia bermimpi ? Siapa yang membawanya kemari ? Ia tidak lagi berada di dalam sampan kecil yang butut. Ia sedang berada di sebuah perahu, dengan layar besar yang terkembang indah. "Ini perahu siapa ?" pikirnya panik. Lalu ia berdiri, dan berjalan ke sisi perahu. Ia melihat ke arah lautan. Sekarang lautan tampak tenang dan cerah. Perahu itu pun berlayar dengan gagah, menuju pulang ke rumah. Tidak sabar rasanya nelayan kembali ke pantai. Sekarang ia harus mencari tempat yang lebih luas dan agak dalam untuk tempat sandar perahunya. Ia pun harus bekerja ekstra keras untuk menambatkan perahu. Tidak bisa lagi di pohon kecil yang biasa. Ia harus mencari pohon besar yang lebih kuat. "Bu...bu...aku pulang. Lihat ke pantai, Bu...," teriak nelayan dari pinggir pantai. Ia memanggil-manggil isterinya. Isteri nelayan keluar dari rumahnya, dan terpesona melihat sebuah perahu besar yang telah ditambatkan di tepi pantai. "Oooh...indah sekali," seru isterinya. Wajahnya berseri-seri. Perahu ini hampir sebesar kapal juragan. Dan lihat, layar yang telah terlipat tampak baru dan kuat. Tentu nelayan dapat pergi ke laut yang lebih jauh. "Iya...indah sekali. Ini perahu kita sekarang, Bu." Kata nelayan sambil menggandeng isterinya. Mereka melihat-lihat perahu besar yang sekarang benar-benar milik mereka. * Kabar tentang perahu itu pun sampai kepada nelayan-nelayan lain di pantai itu. Sekarang mereka dapat bergantian mengikuti nelayan atau juragan. Dan betul saja, hasil tangkapan mereka semakin baik akhir-akhir ini. Sehingga nelayan dapat melunasi hutangnya kepada juragan kapal. Minggu dan bulan berganti. Nelayan semakin terkenal karena kemurahan hatinya. Ia tidak sekedar memiliki perahu untuk dirinya sendiri, kadang-kadang ia pun meminjamkan perahunya kepada orang lain tanpa dipungut biaya. Ia merasa bahwa raja ikan memberikan hadiah untuk semua nelayan di pantai itu, melalui dirinya. Suatu hari, juragan kapal akan mengadakan pesta. Dan semua nelayan diundang untuk menghadiri pesta itu beserta isteri-isteri mereka. Selain juragan kapal datang juga kepala kampung, yang mengepalai seluruh wilayah pantai itu. Para isteri nelayan mengenakan pakaian dan perhiasan mereka yang terbaik, termasuk isteri nelayan yang tadi. Mereka seakan berlomba untuk memamerkan perhiasan mereka. Tetapi ketika kepala kampung dan isterinya datang, mereka semua terpana. Isteri kepala kampung sangat cantik, dan pakaiannya sangat indah. Perhiasan yang melekat di tubuhnya tampak berkilau-kilauan, menimbulkan rasa kagum yang melihatnya. Para isteri nelayan berdecak kagum, lalu datang mendekati isteri kepala kampung. Mereka berbincang akrab dan hangat. Sungguh, isteri kepala kampung mampu menebarkan pesona bagi siapa saja yang melihatnya. Kecuali isteri nelayan yang satu ini. Ia seperti terpuruk lagi di dalam kemiskinan. Penampilan isteri kepala kampung yang indah cemerlang seakan membuatnya tenggelam. Pakaian pemberian raja ikan tidak lagi tampak mempesona. Semua kalah oleh kemilau penampilan isteri kepala kampung. Ia pun mulai bersungut-sungut . Sepulangnya dari acara di tempat juragan kapal, isteri nelayan menjadi uring-uringan. Ia mulai lagi mengomeli suaminya. "Coba lihat tadi, bagaimana penampilan isteri kepala kampung. Dia luar biasa cantik dan mewah." "Tapi kamu juga cantik dan mewah. Malah kamu lebih cantik daripada isteri juragan kapal. Kamu tadi paling cantik di antara semua isteri-isteri yang hadir di situ." Sahut suaminya. Ia memang sangat mencintai isterinya. Bahkan ketika pakaian isterinya masih kumal dan pudar, ia tetap melihat isterinya sebagai wanita yang sangat cantik. "Tidak !" kata isteri nelayan dengan ketus. "Aku memang cantik. Tapi orang-orang tidak menghormati aku seperti mereka menghormati isteri kepala kampung." "Jadi, bagaimana maksudmu ?" tanya nelayan cemas. Jangan-jangan isterinya ingin menjadi isteri kepala kampung . Lalu, bagaimana dengan dirinya ? "Kamu harus menjadi kepala kampung !" sembur isterinya dengan mantap. Nelayan tertegun. Isterinya memang ingin menjadi isteri kepala kampung. Namun dialah yang harus menjadi kepala kampungnya. Astaga ! Bagaimana mungkin ? Pikirnya. Ia hanya nelayan. Buta huruf. Hanya bisa menangkap ikan. Sekarang dia harus menjadi kepala kampung ? "Siapa bilang tidak mungkin ?" teriak isterinya. Suaranya melengking tinggi. Ia seakan dapat membaca pikiran nelayan. "Bilang sama raja ikan, bahwa kamu mau menjadi kepala kampung ! Atau aku akan pergi, dan menjadi isteri kepala kampung." Sambil berkata demikian, isteri nelayan masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintunya dari dalam. * Semalaman nelayan mengetuk pintu dan membujuk isterinya agar ia dapat masuk. Tapi isterinya seakan-akan tidak mendengar suara ketukan pintu itu. Ia diam di dalam rumah, dan tidak muncul hingga keesokan harinya. Dengan putus asa, ia pun melangkahkan kaki, menjauh dari rumah. Di pintu pagar rumahnya ia melihat ember kayu yang usang, tergeletak begitu saja. Diambilnya ember kayu tempat ia biasa menjemur ikan, lalu disimpannya baik-baik di bawah pohon di seberang rumahnya. Langkah kakinya semakin jauh, dan tanpa disadarinya ia telah tiba di pinggir pantai. Dekat dengan ceruk dalam yang sering disebut angker oleh nelayan di perkampungan itu. Ia termenung. Tidak tahu harus berbuat apa. Permintaan isterinya sungguh tidak masuk di akal. Bagaimana mungkin ia dapat menjadi kepala kampung ? Pikirnya dengan sedih. Tapi membayangkan isterinya akan pergi, ia pun merasa was-was. Diambilnya segenggam kerikil, lalu dengan iseng ia mulai melempar-lempar ke arah ceruk di pantai itu. Mula-mula sesekali. Lama-lama ia merasa asyik mendengar suara kerikil yang tenggelam di air. Ia seperti kanak-kanak yang mendapat mainan baru. Entah berapa lama ia hanyut dalam permainan yang mengasyikkan itu. Ketika tiba-tiba didengarkan kecipak air yang membuat gelombang besar di sekitarnya. Nelayan terkejut, lalu menghentikan permainannya. "Haaaiiii...siapa itu yang main lempar-lemparan ?" sebuah suara terdengar menggelegar. Nelayan terhenyak. Itu suara yang dikenalnya. Suara raja ikan. "Ooohh...maaf raja ikan. Aku tidak sengaja. Aku tadi iseng saja melempar-lempar batu kerikil. " Nelayan langsung menuju ke tepi pantai, menemui raja ikan. "Lha...kenapa kamu iseng begitu ? Kenapa kamu tidak bekerja ? Kenapa kamu tidak pergi ke laut ?" tanya raja ikan, menyelidiki. "Hmmh...maaf, raja ikan. Hari ini hatiku kacau. Aku galau." "Kenapa galau ? Kamu seperti orang yang tidak bersyukur. Segala yang kamu inginkan sudah terpenuhi, kenapa masih galau ?" "Isteriku, raja ikan. Dia ingin menjadi isteri kepala kampung." Nelayan menangis sekarang. Ia tidak malu-malu lagi meneteskan airmatanya. "Isteri kepala kampung ?" tanya raja ikan, heran. "Kenapa dia ingin jadi isteri kepala kampung ? Bukankah kepala kampung sudah memiliki isteri ? " "Yaaahhh...begitulah, raja ikan. Ia ingin dihormati, seperti orang-orang menghormati isteri kepala kampung." Nelayan tertunduk lesu. Raja ikan terdiam. Biasanya ia suka menghempas-hempaskan ekornya. Kali ini ia hanya memandang nelayan. "Maksudnya bagaimana ?" tanya raja ikan, ingin kepastian. "Isteriku ingin agar aku menjadi kepala kampung. Kalau tidak, ia akan pergi." Nelayan menangis tersedu-sedu. Ia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Raja ikan tidak bergeming. Ia berenang pelan, seakan tidak mau membuat ceruk itu bergelombang. "Nelayan yang baik hati. Aku sudah memberikan segala yang engkau butuhkan. Rumah yang bagus, makanan yang selalu cukup, pakaian yang indah, dan perahu besar untuk mencari nafkah. Apakah itu masih kurang ? Bahkan seandainya engkau tidak mau bekerja, makanan dari dalam lemari yang kuberikan akan terus mencukupi kebutuhanmu." "Iya, raja ikan. Aku tahu. Aku sangat berterimakasih atas segala yang telah engkau berikan. Tapi isteriku...ohh...aku sangat mencintai dia. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana aku hidup tanpa dia. Seandainya dia benar-benar pergi." Nelayan terus menangis. Membuat raja ikan terharu. "Nelayan, kamu tahu. Menjadi kepala kampung bukan sekedar untuk dihormati. Jabatan kepala kampung memiliki resiko dan konsekwensi lebih besar. Ia harus adil terhadap semua orang. Ia tidak boleh iri kepada orang lain, karena ia sudah menjadi yang terbesar dan tertinggi. Kamu lihat sendiri, apakah ia pernah dengan sengaja memamerkan jabatannya, kekayaannya, kemasyhurannya ? Tidak ! Ia adalah orang yang rendah hati dan sederhana. Ia bekerja untuk semua rakyatnya, didampingi oleh isterinya yang baik hati. Mereka menghormati kepala kampung dan isterinya bukan karena jabatannya, tapi karena mereka memiliki kepribadian dan hati yang baik." "Iya, raja ikan. Aku paham." Nelayan tertunduk malu. "Sekarang pulanglah, Nelayan. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi." * Baru beberapa langkah nelayan beranjak dari ceruk, mendadak langit mendung dan gelap gulita. Hujan turun tiba-tiba. Mencurahkan air sebanyak-banyaknya dari langit. Nelayan terkejut. Ia ingat isterinya. Pasti isterinya akan ketakutan dengan cuaca seburuk ini. Iapun segera berlari kembali ke rumahnya. Menyusur pantai tempat ia menambatkan perahunya. Kilat sabung menyabung, dan petir menggelegar membelah angkasa. Sekelebatan kilat menyambar. Nelayan tertegun. Di tepi pantai tidak ada lagi perahunya. Kemana ? pikirnya panik. Ia terus berlari. Tiba di bawah pohon kakinya menabrak sesuatu. Ternyata ember kayu yang tadi disimpannya di situ. Cepat-cepat diambilnya ember kayu itu, lalu dibuatnya untuk penudung kepalanya agar hujan tidak menampar wajahnya. Selangkah lagi tiba di rumah, bisiknya. Ayo...ayo...angin terus menghambatnya. Ia maju pelahan-lahan. Sekilas lagi kilat menyambar. Ia menatap nanar di depannya. Tidak ada rumahnya. Hanya ada sebuah gubuk reyot. Gubuknya dahulu. Mana rumahnya ? Mana ? Tiba-tiba pintu gubuk terbuka. Isterinya tampak berdiri lesu di sana. Pakaiannya tidak lagi seindah kemarin. Ia sekarang memakai baju usang yang sudah pudar warnanya. Nelayan terkejut. Ia menatap gubuk dan isterinya. Lalu ia menurunkan ember kayu dari atas kepalanya. Pelan-pelan hujan berhenti, dan matahari bersinar kembali. Nelayan tertegun. Ia menatap dirinya. Ia masih memakai pakaian yang tadi dipakainya, tetapi isterinya memakai baju yang lama, yang sudah usang. "Kamu pulang ?" suara isterinya memecah keheningan. "Ya, aku pulang." Nelayan menyahut lemah. "Rumah kita bocor". Kata isteri nelayan. "Ya, rumah kita bocor." Nelayan mengikuti. "Tidak ada makanan." Suara isterinya lirih. Nelayan menatap isterinya. Lalu menatap ke arah pantai. Tidak ada perahu besar di sana. Hanya ada sampan kecil yang butut. "Kita masih bisa mencari ikan di tepi pantai. Aku masih bisa mengumpulkan ikan, aku bisa ikut kapal juragan." Kata nelayan, pasrah. Didekapnya ember kayu yang tadi melindunginya dari terpaan hujan badai. Ia tersenyum. "Masih ada ember kayu ini. Kita masih bisa menjemur ikan." Sekarang isterinya tersenyum. Nelayan menatap isterinya dengan takjub. Wajah isterinya sekarang berseri-seri. Tidak bersungut-sungut lagi. Di kejauhan ia mendengar suara ombak memecah di pantai. Ia sekarang menjadi nelayan biasa, seperti yang dulu lagi. Dengan sampan kecil yang sudah lapuk. Dengan gubuk yang reyot. Dengan ember kayu yang usang. Tapi sekarang ia bahagia. Ia telah memiliki isteri yang dapat tersenyum. *** Jakarta, 25 Februari 2013 Diceritakan kembali dengan versi sendiri...:) Salam sayang, Ietje S. Guntur

Jumat, 17 Februari 2012

Art-Living Sos 2012 (A-1 Penjual Mainan

Dear Allz.....

Hallloooooow.....teman dan sahabatku tersayang...Apakabaaarr....??? Lagi ngapain niiiihhh ??? hehehe...Sebelumnya saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012, ya....Eeeh, belum kelamaan khaaan ? Masih cukup segaar kok...hmmh...

Semoga di tahun ini lebih banyak berkah yang kita terima...lebih banyak kesempatan bagi kita untuk saling peduli, saling berbagi, saling menyayangi...sehingga hidup kita yang tidak tahu berapa lama kontraknya ini dapat lebih bermakna...

Saya yakin, beberapa di antara teman dan sahabat tersayang sudah memiliki resolusi dan rencana untuk tahun ini. Ada yang resolusi mengenai bisnis, karier, kehidupan keluarga, kehidupan pribadi, maupun kehidupan sosial dalam arti yang lebih luas. Tidak sekedar gaul, tapi juga gaul yang bermakna...gaul yang bermanfaat.

Betuuuull...kadang kita karena begitu ingin disebut gaul, maka kita bergaul tanpa arah. Seperti orang hanyut di sungai, tidak bisa berenang, jadi asal terbawa arus. Ini bisa berbahaya. Itu sebabnya walau pun kita bergaul seperti orang tercebur di sungai, tetapi seyogyanya kita mempersiapkan diri dulu...mau gaul yang seperti apa ? Mau bermakna seperti apa ? Kata orang tua jaman dulu, jangan sampai salah gaul. Bukan hanya kurang bermanfaat, tapi kadang kita pun tidak nyaman dengan lingkungan pergaulan yang bukan menjadi bagian dari diri kita.

Lhaa...baru awal tahun...sudah mulai deeeh...cerewet soal gaul-gaulan ini...hehehe...Saya sendiri tidak membatasi dunia pergaulan saya, sepanjang tadi...ada manfaatnya untuk saya. Dalam arti juga, pergaulan itu harus memberi nilai tambah bagi saya terutama dalam pengembangan diri dan memotivasi hidup saya. Barangkali itu juga sebabnya, tanpa saya sadar, saya punya sahabat-sahabat pergaulan yang membuat hidup saya lebih kaya makna. Salah satu diantaranya adalah penjual mainan. Ini terbersit begitu saja dari sebuah perjalanan saya di pagi hari...yang melontarkan saya ke masa silam dan hari ini...

Ide memang bisa datang di mana saja, dan dari mana saja. Jadi hari ini...di awal tahun ini...saya ingin berbagi tentang sahabat saya...Kakek Penjual Mainan...Semoga berkenan....

Jakarta, 9 Januari 2012

Salam persahabatan,


Ietje S. Guntur


♥♥


Art-Living Sos 2012 (A-1
Senin, 09 Januari 2012
Start : 09/01/2012 10:32:20
Finish : 09/01/2012 12:02:23



PENJUAL MAINAN


Pagi-pagi. Dalam perjalanan ke tempat tugas. Seperti biasa saya suka melihat keadaan di sepanjang perjalanan, di kiri kanan jalan. Melihat ketergesaan pagi. Yang meriah. Yang macet. Yang srudak-sruduk dengan kendaaraannya. Dengan berbagai tingkah polah yang menunjukkan dasar berperilaku para pengguna jalan. Kadang ada yang lucu. Kadang ada yang menjengkelkan. Kadang ada yang mengagetkan bila tiba-tiba memintas, memotong jalan...aachh...

Tiba-tiba kendaraaan di depan saya berhenti. Diikuti oleh beberapa kendaraan lain. Ada apa gerangan ? Bukankah belum waktunya berhenti di lampu pengatur lalu lintas ?

Dari balik kendaraan yang berada di depan saya, ternyata ada sebuah sepeda yang berusaha untuk menyeberang. Bukan sepeda biasa. Seorang bapak tua membawa keranjang berisi bola-bola plastik, mainan anak-anak, dan beberapa barang lagi yang bergantungan di keranjang di belakangnya . Ia akan menuju ke sebuah sekolah yang berada di sisi lain jalan itu. Ohlala...Saya tertegun. Memperhatikan si Bapak tua yang telah tiba di seberang jalan, dan kemudian memarkir sepedanya di bawah pohon.

Sejenak ingatan saya melayang. Jauh ke masa kecil. Jaman sekolah dasar.



Di depan sekolah saya, di luar pagar, hampir selalu ada penjual mainan yang mangkal dengan keranjang atau kotak kayu dan pikulannya. Ada penjual mainan yang masih agak muda, saya memanggilnya Abang Mainan. Dan ada seorang lagi yang agak tua, dan saya memanggilnya Kakek Mainan.

Si Abang dan si Kakek Mainan ini biasanya datang pada jam menjelang pulang sekolah kelas I dan II, atau jam istirahat kedua bagi kelas III hingga kelas VI. Kadang-kadang mereka juga datang di pagi hari, sebelum jam pelajaran dimulai. Pada jam-jam sebelum belajar, atau jeda di antara jam pulang sekolah, kami memang boleh ke luar dari halaman. Tentu saja tidak boleh lama-lama, karena sekolah kami cukup ketat peraturannya. Jaman itu belum ada kantin sekolah, sehingga kami harus jajan di luar pagar. Jajan dan keluar, termasuk melihat penjual mainan yang berjejal dengan penjual gula tarik atau gulali , es potong, sate kerang, tiwul, gorengan, brondong jagung warna merah jambu dan pecal sayuran pakai bihun goreng.

Bila si Abang menjual mainan yang agak mahal dan modern, maka si Kakek menjual mainan yang murah meriah dan kadang ada juga permainan tradisional. Saya lebih suka duduk dan nongkrong di dekat tempat si Kakek, karena dia bisa memainkan beberapa permainan tradisional dari mainan yang dijajakannya. Ada mainan yang dibuat dari bambu, kayu, kertas, tanah liat atau gerabah. Bahkan dia menjual ketapel dan benang layangan juga...hehehe...Selain itu dia juga menjual mainan yang tidak basi sepanjang jaman, yaitu kelereng dan bola karet serta bola plastik.

Walaupun saya hampir tidak pernah membeli mainan dari si Kakek, karena keterbatasan uang jajan masa itu...hiiikss...tapi saya tetap suka nongkrong memperhatikan si Kakek menjajakan mainan sambil menceritakan cara menggunakan permainan itu. Saya paling suka kalau ia memainkan boneka kertas yang mirip wayang. Dengan keahliannya ia bercerita sambil menggerak-gerakkan tangan dan kaki boneka kertas itu. Kadang-kadang cerita dan gerakan bonekanya sangat lucu, sehingga kami tertawa tergelak-gelak. Anak-anak yang memiliki uang akan tertarik, dan membeli boneka kertas lalu mencoba memainkannya sendiri.

Hampir setiap hari saya dan beberapa teman akan nongkrong di tempat penjual mainan itu. Karena sekolah kami dulu memisahkan anak laki-laki dengan anak perempuan, maka hak monopoli untuk nongkrong di depan Kakek penjual mainan itu jatuh pada orang yang pertama datang. Saya termasuk yang rajin datang ke sekolah, dan rajin nongkrong di depan Kakek penjual mainan...hehe...Jadi tidak heran, kalau saya pun jadi sering ribut dengan anak laki-laki yang ingin juga menonton pertunjukan boneka kertas dari si Kakek Mainan. Tidak jarang kami dimarahi oleh guru, karena terlalu asyik nongkrong di pinggir jalan. Tapi dasar namanya anak-anak, hari ini ingat dan patuh, besoknya sudah lupa . Dan nongkrong lagi....hahahaha...

Bagi saya sendiri, dan barangkali juga bagi anak-anak yang lain, kehadiran si Kakek Mainan ini tak sekedar menjual mainan. Kadang, bila tidak ada anak yang membeli, atau sambil menunggu jemputan, kami ngobrol dengan si Kakek. Semua pengalaman hari itu kami ceritakan kepada si Kakek. Tidak jarang pula ia menasehati kami dengan kata-kata yang sederhana, kadang diseling dengan cerita dan dongeng yang diselipkan diantara permainan boneka kertasnya. Kalau sehari atau dua hari si Kakek tidak muncul, kami merasa kehilangan. Selain kehilangan tempat nongkrong, kami juga kehilangan orang yang dapat berbicara dalam bahasa anak-anak, seseorang dengan siapa kami bebas menjadi diri sendiri. Sungguh, suatu rasa sayang yang tumbuh dari sebuah kepercayaan.



Jaman berganti. Kini giliran anak saya yang masuk sekolah dasar. Saya pikir, di jaman yang serba modern dan serba canggih seperti sekarang, tidak ada lagi penjual mainan di sekolah-sekolah. Tapi ternyata saya salah !

Penjual mainan dengan sepeda dan sebuah kotak di bangku belakangnya tetap mewarnai dunia sekolah di tempat anak saya menuntut ilmu. Saya perhatikan, mainan yang dibawa oleh penjual mainan itu, dan anehnya juga seorang bapak tua – mirip Kakek Mainan di sekolah saya dulu , juga tidak berbeda jauh dengan jaman saya dulu. Ada kelereng, bola karet dan plastik , kertas gambar yang sedang populer, kertas gambar yang bisa dilempar-lempar mirip kartu, gambar tempel, stiker, mainan berbentuk boneka dari plastik, boneka kertas – yang gambarnya berbentuk tokoh kartun, hiasan meja, keramik, dan pernak-pernik untuk boneka. Dan anehnya, kadang-kadang ada juga yang menjual anak ayam yang sudah dicat warna-warni, atau burung pipit dan gelatik yang biasanya ada di sawah.

Dan...seperti jaman saya sekolah dulu, anak-anak usia SD ini pun dengan gembira dan wajah yang penuh rasa ingin tahu selalu merubung bapak tua penjual mainan ini. Barangkali, dari semua pedagang di lingkungan sekolah ini penjual mainan adalah orang yang paling ditunggu dan paling sering dikerubuti oleh anak-anak. Bila mereka punya uang, mereka akan membeli satu mainan yang disukai. Namun bila sedang tak punya uang, mereka tetap bisa bergembira menikmati pajangan mainan yang ada di kotak belakang sepeda itu, sambil sesekali meraba dan merasakan keinginan untuk memiliki kegembiraan yang dipancarkan oleh mainan-mainan itu.

Kadang, di antara kerumunan itu terdengar suara-suara polos dan lugu seperti ini,” Pak, ini mainan apa ? Harganya berapa ? ”
“ Eeeh...lucu, ya...Boleh pegang, Pak ?”
“ Uang saya kurang, boleh besok sisanya, Pak ?”
“ Iiiih...kamu jangan pegang yang ini, aku sudah pesan dari kemaren !”

Lalu ada suara bisik-bisik ,” Kalau kita patungan beli mainannya , gimana ? Nanti kita gantian mainnya.”
“ Aaah...tapi nanti siapa yang duluan main ? Uangku Cuma segini. Belum buat jajan.”
“ Ya, udah...kamu belakangan aja. Kan uang kamu Cuma sedikit !”
“ Iya, deeeh...”
“ Paaaaakkkk...paaaakkkk...mau beli mainannya dong !”

Uang berpindah tangan. Si Bapak Tua tersenyum dengan gigi yang setengah ompong. Mainan yang tadi dibeli dengan patungan dibawa pergi. Tiga anak keluar dari kerumunan, dengan wajah berseri-seri. Diikuti dengan pandangan iri oleh teman-teman lain yang belum punya kesempatan untuk membeli . Hanya sebentar mainan itu dipermainkan oleh tiga anak yang asyik bersama-sama . Tidak lama, mainan patungan itu sudah berpindah tangan lagi. Tawa-tawa silih berganti . Semua anak bisa menikmati, walaupun belum memiliki.



Sambil meneruskan perjalanan, saya merenung.

Bapak tua penjual mainan. Dari jaman ke jaman, masih mewarnai dunia anak-anak. Mereka berjalan dari satu gang ke gang yang lain. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Membawa mainan yang murah meriah dan kadang tidak ada di toko. Mainan sederhana, kadang buatan sendiri, seperti terompet dan boneka kertas, tapi mampu menggugah rasa penasaran dan kegembiraan anak-anak.

Saya ingat, anak saya pernah mengorbankan uang jajannya yang sangat sedikit untuk membeli mainan gambar serial dan sebuah pajangan dari kulit kerang untuk diberikan kepada saya. Sungguh membuat saya terharu. Ia, dan penjual mainan di sekolah, telah mengantarkan kegembiraan dan kebahagiaan ke dalam hati saya.

Ketika dunia sekitar kita sudah hiruk pikuk dengan segala target dan materialisme, ternyata ada cara sederhana untuk menikmati kegembiraan dan kebahagiaan. Walaupun hanya menjajakan mainan sederhana, tapi penjual mainan telah berjasa mengantarkan kegembiraan ke banyak hati anak-anak di berbagai tempat di dunia ini. Dan suatu saat, kegembiraan dan kebahagiaan anak-anak ini akan membawa mereka ke dunia dewasa. Kenangan akan kebahagiaan itu membuat mereka juga lebih bijaksana dan lebih memahami dunia.

Barangkali kita bisa belajar dari penjual mainan...Tidak banyak yang mereka lakukan, tapi setiap hari ada satu atau dua orang anak yang tersenyum, ada satu dua anak yang memiliki harapan, ada satu dua anak yang memiliki cita-cita sederhana untuk menggembirakan orang lain... Dia memberi kegembiraan dan mengisi ruang hati anak-anak dengan kebahagiaan dan kepedulian.


Konon...membuat orang lain bergembira dan berbahagia adalah ladang pahala bagi kita...Semoga kita mampu melakukannya...walau dengan cara yang sangat sederhana...

Jakarta, 9 Januari 2012

Salam sayang,


Ietje S. Guntur


Special note :

Terima kasih kepada Kakek Mainan di SD Medan dulu....berkat Kakek, saya jadi suka main boneka dan bersandiwara dengan boneka-boneka itu. Saya pernah juga membeli mainan ikan-ikanan dari bahan mirip lilin, ketika saya potong, ternyata dalamnya kosong...hahaha...Sungguh pengalaman yang inspiratif, dan membuat saya bahagia hingga hari ini...:)...Terima kasih juga untuk teman-teman SD-ku yang suka nongkrong beramai-ramai di penjual mainan...Terima kasih sudah mengisi masa kanak-kanak kita dengan kegembiraan yang sederhana...I love U allz...



Ide :
1. Seorang kakek tua yang menjual mainan anak-anak di sekolah. Mainannya murah meriah, tapi sangat menggembirakan anak-anak. Ada peluit, kelereng, gambar tempel, gambar lempar, bola plastik, mainan yang ditiup dan di ujungnya ada bola, karet gelang yang bisa dibuat mainan lompat tali, kerajinan tangan yang bisa dibuat pajangan atau tempat pensil dll.
2. Kakek tua ini tidak sekedar menjual mainan, tapi dia juga suka bercerita dan memberi nasehat kepada anak-anak. Ia menjadi sahabat anak-anak, yang kadang kurang mendapat perhatian dari orangtuanya.
3. Walaupun ia hanya seorang penjual mainan, tapi dia memberikan persahabatan dan rasa kepercayaan terhadap anak-anak. Dia memberi kegembiraan dan mengisi ruang hati anak-anak dengan kebahagiaan dan kepedulian.

Art-Living Sos 2012 (A-2 Talenan

Art-Living Sos 2012 (A-2
Tuesday, February 07, 2012
Start : 2/7/2012 10:17:23 AM
Finish : 2/7/2012 11:30:19 AM



T.A.L.E.N.A.N


Hari libur. Hari keluarga. Saat yang sudah saya tunggu hampir seminggu penuh, untuk unjuk kebolehan…hehehe…Maklum, namanya Emak-emak karir, tidak bisa sepenuhnya hanya memikirkan urusan pekerjaan dan urusan kantor. Naluri untuk berkutat di dapur tetap menyala, walaupun kadang on-off…hiiikss…Jadi deeh…mulai tengah minggu sudah ada beberapa rencana untuk memasak makanan yang istimewa. Resep-resep andalan dari berbagai majalah dan tabloid sudah siap di dapur. Dicatat dengan baik, dan dihafal…Uuuh…rasanya tiap akhir pekan seperti mau ujian …hahahaha…

Resep sudah. Ada masakan pesanan si Cantiq-anak semata wayang saya, dan ada masakan pesanan Pangeran Remote Control-Sang Suami Tercinta . Dua orang, dengan kesukaan yang saling bertolakbelakang....hehe…Kebayang kalau sekeluarga anaknya setengah lusin, dengan selusin selera yang berbeda…ohlalaaa…

Jadi deh, di pagi hari yang ceria ini saya siap-siap dengan bahan yang sudah dibeli di Pasar Bidadari. Ada ikan segar, udang, ayam kampung, dan ikan pindang tongkol – special niiih…kesukaan Pangeranku. Sayuran pun sudah setumpuk. Siap untuk membuat sup campur, dan sayur ca. Halaah…sama-sama sayuran tapi beda aliran. Untuk saya sendiri, yaaaa…ikut sajalah dengan selera kiri-kanan anggota lain…hmmh…

Pisau dapur khusus, yang biasa saya pergunakan sudah tersedia. Piring-piring alas dan wadah sudah siap. Wajan, panci berbagai ukuran, centong, sutil…sudah berbaris rapi di meja dapur. Naaah…sekarang siap kerja. Eeeh…mana nih talenannya ? Biasanya sih talenan ada di rak piring. Lho…kok menghilang ?

Setelah dicari di sana sini, ternyata talenan saya sedang dijemur agar kering dan bebas jamur…ohoooyy…Untunglah ! Mana bisa saya bekerja, mempersiapkan dan memotong bahan tanpa bantuan talenan. Saya mengambil talenan kayu yang agak lebar, lalu mulai beraksi dengan pisau kesayangan. Gress…gresshh…Bahan terpotong rapi, lalu dibariskan sesuai dengan peruntukannya. Sebagian ditempatkan di piring, sebagian tetap berada di talenan, agar nanti mudah dicemplungkan ke dalam panci.



Ngomong-ngomong soal talenan…hmmh…kayaknya semua dapur dan semua ahli masak punya satu talenan kesayangan yang biasa dipergunakan untuk persiapan memasak. Saya punya tiga talenan. Dua terbuat dari kayu, dan satu dari plastik. Yang dari kayu, satu agak besar, dan satu agak kecil. Masing-masing ada fungsinya sendiri. Yang besar itu biasanya untuk alas kalau memotong sayur, daging, ikan, dan bahan yang agak besar. Sedangkan yang kecil biasanya untuk memotong bawang, tomat dan bahan-bahan atau bumbu yang lebih mungil bentuknya.

Yang plastik ? Itu jarang saya pergunakan. Paling untuk memotong bahan basah seperti tahu atau tempe. Tapi itu pun tidak mesti. Saya kurang suka memakai talenan bahan plastik, karena bila dicuci masih meninggalkan bekas dan agak bau apa gitu deh…Nggak enak. Barangkali ada yang Tanya : kenapa beli kalau jarang dipakai ? hehehe…ada 102 alasan ! Tapi yang jelas, talenan plastik ini bisa dibawa kemana-mana, kalau ingin masak di luar. Sedangkan si Talenan kayu, adalah properti rumah yang tidak boleh keluar dari area dapur.

Kalau cerita soal talenan, eeehh…apa, ya bahasa lainnya ? Ya, talenan deh…! Ibu saya adalah orang yang sangat fanatik terhadap talenannya. Ibu sayalah yang mengajarkan, bahwa setiap orang yang bekerja di dapur harus punya paling tidak dua buah talenan. Ya, itu tadi alasannya. Tapi ibu saya memang luar biasa. Selain talenan standar yang dua model tadi, beliau juga punya talenan yang besaaaaar sekali. Dibuat dari bahan kayu nangka yang bulat, tebalnya sekitar 10-15 cm, dan kalau menimpa kaki bisa gepeng seketika… hihihiiii…

Talenan super besar dan super tebal ini biasanya dipergunakan ibu saya untuk menjadi alas pemotong daging atau tulang-tulang. Dengan pisau besar seperti kampak, maka bekerja di talenan besar ini menjadi mudah dan cepat. Mirip deh dengan talenan penjual daging di pasar, atau penjual ayam yang memotong-motong dagingnya dengan tenaga dalam.

Selain itu ibu saya juga punya talenan super mini, dengan kaki penyangga. Modelnya hampir segitiga, dan kaki penyangganya juga tiga. Kalau saya bilang, ini talenan keramat milik ibu saya. Entah dibuat dari kayu apa, tapi kelihatannya kuat dan praktis. Dengan kaki penyangga itu, ibu saya bisa membawa talenan kemana-mana, bahkan sambil memotong sayuran di depan televisi pun bisa…hahaha…Saya pernah iseng meminta talenan ini, tapi dengan serta merta ibu saya mendelikkan matanya. Beliau bilang, lebih baik dia membelikan saya talenan baru di pasar, daripada talenan kaki tiga ini diberikan kepada orang lain…halaaah…!!!

Masih ada lagi. Tapi ini memang tidak umum. Yaitu talenan terbuat dari lempengan marmer. Betuuuulll…dari batu marmer yang biasanya untuk lantai rumah ! Ibu saya punya sekeping talenan marmer yang tebalnya kurang lebih satu inchi. Ini memang khusus untuk membuat roti dan tingting kacang. Jangan ditanya beratnya seperti apa. Dan saya tidak mau mencoba untuk menimpakannya ke atas kaki saya…uuuhh…

Berhubung saya tidak terlalu sering turun ke dapur, dan saya juga kurang ahli membuat roti ( baca : belum bisa bikin roti…hehehehe…), maka urusan pertalenan itu bagi saya cukup dengan tiga ukuran dan bahan saja. Bagi saya, perangkat kerja itu sudah sangat membantu . Apalagi kalau kadang-kadang saya masak di luar bersama teman-teman dan keluarga, salah satu talenan saya pasti ikut menemani. Itu semacam paspor juga untuk masuk ke dapur. Rasanya memang lebih nyaman menggunakan pisau kerja dan talenan sendiri, sehingga sudah hafal dengan lekuk-lekuk dan karakter bahannya.



Sekarang semua bahan sudah siap dipotong. Panci sudah dijerang di atas kompor. Wajan sudah siap sedia menerima bahan yang akan dimasak.

Dengan kelincahan tersendiri, saya mengayunkan talenan di atas panci, menggeser bahan-bahan di atasnya hingga masuk dengan pas ke dalam air yang sudah mendidih. Bawang putih yang tadi digeprek di atas talenan juga sudah ikut nyemplung ke dalam wajan yang telah diisi minyak, dan sekarang menebarkan aroma wangi yang menggelitik hidung.

Tidak lama. Hanya kurang lebih satu jam saja…* kok kayak lagu, ya ? *…semua masakan sudah selesai dan matang. Tinggal ditata di dalam mangkuk dan piring saji. Lalu dihidangkan….hmmh…Hari keluarga yang ditunggu seminggu pun sukses dengan cerah ceria…ahaaayyy…

Lalu…semua peralatan dibersihkan. Talenan dicuci bersih. Diangin-anginkan, dan dijemur sebentar. Agar tidak tumbuh jamur di permukaannya. Talenan bersih akan menjamin makanan sehat. Talenan kotor, menjadi sumber penyakit . Hmmh…siapa bilang talenan tidak harus mendapat perhatian khusus ?



Melihat dapur yang sudah bersih, dan talenan yang sudah berbaris rapi di rak piring saya tersenyum.

Berkat talenan, kerja saya menjadi cepat dan mudah. Padahal kalau dipikir-pikir, apa sih talenan itu ? Hanya sebilah papan, atau sepotong kayu. Tapi tanpa dukungannya, maka urusan persiapan makanan akan terganggu dan barangkali menjadi repot.

Di dalam hidup kita ini pun, kadang-kadang ada orang yang hanya berfungsi seperti talenan. Menjadi alas bagi aktivitas orang lain . Ia hanya pendukung sebuah proses. Tapi tanpa dukungannya, proses tidak akan berjalan lancar.

Kita pun seandainya bisa memilih, lebih baik menjadi seseorang yang berada di depan atau di atas. Namun, bila semua orang menjadi yang di atas, siapa yang akan mendukungnya ? Menjadi talenan bukanlah pilihan yang terakhir. Ia sama mulianya dengan pilihan lain. Yang penting, walaupun hanya menjadi talenan, ia tetap memiliki integritas di dalam menjalani hidup ini…

Semoga kita dapat belajar dari sebilah kayu yang bernama talenan…


Jakarta, 7 Februari 2012

Salam hangat,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih untuk Ma tersayang…begitu banyak ilmu dan cinta yang Mama berikan dalam hidup ini…I loveeeeee U …muuaachh…


Ide :
1. Talenan adalah alas untuk memotong sayuran atau daging di dapur. Talenan diperlukan agar bahan masakan yang akan kita potong dapat dipegang dengan posisi yang rata.
2. Talenan biasa terbuat dari kayu yang datar, tapi sekarang ada juga yang terbuat dari plastic atau marmer, khusus untuk membuat kue.
3. Talenan memang hanya pendukung di dapur, tapi tanpa talenan akan repot dalam persiapan bahan masakannya.

Selasa, 11 Oktober 2011

Art-Living Sos 2011 (A-10 Tak Ada Rotan

Dear Allz,

Sssttttt….apa kabaaarrr ??? Mumpung saya lagi rajiiiin nih…jadi sekarang mau ngobrol lagi. Menjelang hari Senin…menjelang awal minggu…Semoga teman dan sahabatku semua dalam keadaan sehat dan ceria, ya…

Biasanya nih…awal minggu, hari Senin, kita suka malas-malasan. Rasanya badan dan jiwa masih tertinggal di akhir pekan. Memang betul, beristirahat itu perlu setelah kita menggenjot tenaga selama sepekan. Tapi ingaaaat, tidak ada akhir pekan, kalau tidak ada hari Senin. Sama juga, tidak ada ada akar, kalau tidak ada rotan… Hehehe…itu pepatah nyeleneh. Aslinya sih bukan begitu, ya ?

Naaaaah, mumpung ini masih menjelang dan awal minggu, saya jadi ingin berbagi cerita ringan tentang rotan. Iya, kenal rotan kan ? Saya ingat juga ada satu lagu mengenai rotan . Hela rotan. Masih ingat ?

hela hela rotane rotane tifa jawa
jawae bebunyi
rotan rotan sudah putus sudah putus ujung dua
dua baku dapae
rotan rotan sudah putus sudah putus ujung dua
dua baku dapae


Sambil menyanyi lagu Hela Rotane, mari kita ngobrol sedikit tentang rotan. Setuju kah ?

Mariiiii…kita duduk rame-rame…dan kita nikmati bersama.

Jakarta, 9 Oktober 2011
Salam hangat,


Ietje S. Guntur

♥♥♥



Art-Living Sos 2011 (A-10
Start ; 10/8/2011 11:00:42 AM
Finish : 10/9/2011 4:57:00 PM


TAK ADA ROTAN


Hari Sabtu. Pagi-pagi. Setelah beberes urusan domestik, saya pun mengambil jeda . Me time ! Berleha-leha. Menikmati secangkir teh dan sekerat roti… hee…hee…asyiiiik nih. Tinggal cari bacaan saja. Majalah yang belum sempat dibaca . Ada beberapa . Saya bolak-balik sebentar. Tidak ada yang menarik. Lempar ke samping. Sekarang cari koran . Sudah beberapa hari saya hanya sempat menyapu judul-judulnya. Akhirnya mata tertambat pada berita tentang rotan. Halaah…ada apa lagi ini ? Pengrajin dari sentra rotan terbesar di Indonesia mengeluh karena kekurangan bahan baku rotan !

Degh !! Hati saya tergetar. Indonesia gitu loh ! Yang sudah menjadi salah satu penghasil rotan terbesar di dunia, bisa kekurangan bahan baku. Ada apa ?

Saya memandang berkeliling. Di rumah saya sekarang memang agak minim perabotan rotan. Hanya ada satu keranjang, satu tas, dan satu kursi kecil yang sudah lama. Padahal duluuuuu….

Ingatan saya melayang…jauuuh…ke masa kecil saya…

Ayah saya adalah penggemar berat perabotan dari rotan. Hampir seluruh ruangan di rumah kami selalu ada perabotan terbuat dari rotan. Sofa di ruang keluarga, kursi di teras, rak buku, buaian bayi ( saya pun pernah tidur di dalamnya ), bahkan ranjang tidur pun terbuat dari rotan. Itu belum termasuk keranjang, tikar anyaman yang menghampar di ruang keluarga dan menjadi alas untuk seperangkat kursi tamu , serta tempat duduk santai yang nyaris ada di setiap pojokan. Menurut ayah saya, rotan itu kuat dan ekonomis… hehehehe…( ini istilah ayah saya untuk mengatakan ‘murah’).

Saking hobbynya mengoleksi perabotan dari rotan, hampir setiap bulan ayah saya selalu mengajak saya ke tukang pengrajin rotan. Kadang hanya untuk melihat-lihat koleksi baru. Tapi tidak jarang juga beliau membuka dompetnya. Ada saja barang yang dibawa pulang. Entah kenapa, ayah saya selalu tergoda untuk membeli sesuatu dari rotan. Dan kalau tidak ada yang dibutuhkannya, maka beliau membeli pemukul kasur yang mirip dengan raket tennis, dari rotan juga…( seingat saya, di rumah ada tiga atau empat pemukul kasur…hihihiiii….).

Bila ibu saya menegur, karena rumah kami sudah mirip gudang penumpukan barang, ayah saya Cuma tersenyum dan berkomentar ,” Ya , kalau sudah kepenuhan, kasih saja sama siapa gitu !”…hihi…lucu bangeeett…Beli barang, akhirnya buat dibagikan lagi ke orang lain. Ya, memang begitulah keadaannya. Tidak jarang perabotan kami diangkut ke rumah teman atau sahabat ayah saya, karena di rumah sudah tidak ada tempat. Tapi tunggu…tidak sampai sebulan, saat ayah saya tergoda, maka perabot pengganti sudah muncul lagi di rumah kami !



Ngomong-ngomong soal rotan.

Tidak hanya di rumah kami saja rotan menjadi bagian dari perlengkapan rumah. Di banyak rumah, terutama di Sumatra pada era tahun enampuluh hingga tujuhpuluhan, banyak perabotan rumahtangga terbuat dari kerajinan rotan . Apalagi hutan di Sumatra cukup banyak menghasilkan rotan, sehingga bahan baku mudah didapat .

Selain bahan baku yang mudah didapat dan harganya ekonomis, bahkan dapat dikatakan murah sekali, sifat rotan yang lentur dan mudah dibentuk menjadikan rotan sebagai pilihan yang tepat untuk membentuk berbagai perabotan. Rotan yang besar-besar diameternya dapat dijadikan kerangka kursi atau tempat tidur, sedangkan rotan yang kecil dan halus dapat dianyam untuk menjadi lembaran yang dibentuk untuk berbagai keperluan.

Saya ingat. Di rumah kami ada kursi kayu terbuat dari jati, yang alasnya dibuat dari anyaman rotan. Kursi itu enak diduduki karena jok alas duduknya dibuat dengan anyaman renggang. Yang jadi masalah, di celah-celah anyaman itu sering bersarang laba-laba dan sahabatnya kepinding atau tumbila. Jadi deeeh…sejak saya bisa melakukan tugas domestik, maka urusan membasmi tumbila dan sarang laba-laba di jok kursi merupakan keahlian saya…hiiks…

Selain itu, perabotan yang paling saya kenal terbuat dari rotan adalah pemukul kasur. Hampir setiap hari saya beraksi dengan pemukul kasur itu. Selain untuk membuat kasur kapuk menjadi empuk dan gembur, pemukul kasur juga bisa dimanfaatkan untuk mengait buah jambu dan rambutan di halaman. Ujungnya yang berpilin cukup kuat untuk menjadi alat pengait, dan biasanya cukup aman sehingga rambutan dan jambu tidak rusak karena tersangkut.

Rotan ini memang murah meriah.

Ada satu masa, ketika rotan menjadi primadona karena model dan bentuknya sangat variatif. Saat saya dan seorang sahabat menjadi anak kos di Jakarta, kami membeli rak rotan berwarna coklat tua, untuk tempat menyimpan barang-barang di kamar kos kami yang tidak terlalu luas. Saya juga pernah membeli kaca cermin yang bingkainya terbuat dari rotan. Bentuknya unik dan artistik . Tapi sayang, bukan hanya saya yang menyukai bentuknya. Sekawanan pencuri yang menyatroni rumah saya juga berminat terhadap cermin itu. Jadi deeeh…dia membawa oleh-oleh cermin berbingkai rotan dari rumah saya.



Berbicara mengenai rotan, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai hasil hutan rotan merupakan salah satu pilar ekonomi bagi Indonesia. Hampir seluruh hutan belantara di Indonesia ditumbuhi oleh rotan. Bahkan di Kalimantan, di kalangan suku Dayak, rotan merupakan pilar ketahanan ekonomi rakyat. Rotan yang terdapat di hutan-hutan, menjadi penopang kehidupan rakyat, sekaligus menjadi bagian dari adat istiadat masyarakat setempat.

Ada lagi. Rotan tidak hanya kita kenal sebagai perabot rumahtangga. Di beberapa daerah dikenal juga masakan terbuat dari rotan. Halaaah !! Hebat betul . Tentu saja rotan yang diolah menjadi masakan, semacam sayur gulai ini terbuat dari rotan muda yang masih lunak. Dan konon kata yang sudah pernah mencicipinya, sayur rotan ini lezat cita rasanya. Saya sendiri belum pernah mencicipinya, tapi suatu saat bila saya berkesempatan berkunjung ke Kalimantan, saya akan berwisata kuliner, dan mencicipi sayuran rotan ini…hmh…nyam…nyam…

Yang sudah pernah saya cicipi dari rotan adalah buahnya. Memang tidak lazim orang menyantap buah rotan. Tetapi di beberapa daerah di Sumatra, buah rotan yang mirip salak ini memang dimakan. Rasanya agak asam kelat, mirip buah salak yang muda. Dicocol dengan garam dan irisan cabe rawit , atau digerogot begitu saja rasanya sudah mantap…hahaha…ketahuan banget kalau saya ini termasuk pemakan segala tanaman ya…hihi…Memang begitulah adanya, kalau menjadi anak yang dibesarkan di dekat rimba belantara. Apa saja yang berbuah dari pohon, pasti disantap dengan nikmat.

Di daerah lain, buah rotan ini tidak lazim menjadi buah santapan atau buah cemilan, karena memang agak sulit diperoleh. Jangan membayangkan pohon rotan seperti pohon kelapa atau pohon rambutan. Pohon rotan ini, walaupun termasuk keluarga besar palma jenis salak, atau nama kerennya adalah Calameae dari keluarga besar palma, tapi sama sekali tidak mirip pohon kelapa atau pohon salak. Hanya daunnya saja yang agak mirip pohon salak, dan buahnya juga berkulit agak bersisik seperti salak, tetapi caranya tumbuh sangat berbeda. Pohon rotan tumbuh bergelayut dan bergantung pada tanaman lain, seperti tali panjang berduri. Dengan duri inilah ia memanjat, kemudian tumbuh menjulur seperti tali yang kuat. Sebatang rotan dapat tumbuh hingga ratusan meter. Dan uniknya di dalam batangnya terkandung air, yang dapat kita minum untuk bertahan hidup di alam bebas. Itu sebabnya para petani rotan dapat masuk ke dalam hutan selama beberapa waktu tanpa kuatir kekurangan air minum….Luar biasaaa…!!



Melihat keranjang rotan di ruangan kerja saya, bekas wadah parsel lebaran, saya merenung.

Sebatang rotan yang sederhana, begitu banyak fungsi dan pengaruhnya bagi kita. Walaupun ada pepatah ‘Tak ada rotan, akar pun jadi’, namun tetap saja rotan menjadi primadona . Okelah, dalam beberapa hal akar dapat menjadi pengganti. Tetapi nilai keindahan, nilai budaya dan nilai ekonomis yang diusung oleh rotan belum terganti oleh akar maupun tanaman bahan baku lainnya.

Saya selalu kagum pada rotan. Ia membawa semangat, harus menjadi nomor satu. Menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitarnya. Bermanfaat, dari mulai batangnya, buahnya, bahkan air di dalam batangnya. Bukan tidak mungkin pula suatu saat ditemukan manfaat lagi dari duri dan daun-daunnya. Siapa tahu ? Masih banyak yang belum tergali dari dirinya.

Seperti kita juga. Masih banyak hal yang belum tergali dari diri kita. Masih banyak yang harus kita pelajari dari diri kita. Agar lebih bermanfaat bagi lingkungan. Agar lebih bermanfaat bagi kehidupan ini.

Bahkan sebatang rotan pun dihadirkan di dunia ini dengan begitu banyak manfaat. Bagaimana dengan kita ?


Jakarta, 9 Oktober 2011

Salam hangat,


Ietje S. Guntur

Special note :
Terima kasih untuk Pa tersayang…yang telah mengajak aku ke pengrajin rotan dan belajar dari rotan. Juga adikku tersayang Titun, yang menjadi peneliti dalam bidang rotan…Dan sahabatku Dini , teman senasib di tempat kos yang ajaib…ingat waktu beli rak rotan di Pancoran ??? hahaha…pengalaman yang lucu banget…Terima kasih sudah menjadi inspirasi kehidupan dan tulisan ini….I love U allz…

♥♥

TAK ADA ROTAN…
Ide :
1. Berita dari suratkabar mengenai pengrajin perabotan yang kekurangan bahan baku rotan. Sementara di sisi lain ada stok rotan yang menumpuk. Sebuah ironisasi.
2. Peraturan pemerintah mengenai ekspor rotan, pembatasan ekspor rotan mentah, karena tidak meningkatkan nilai jual.
3. Rotan adalah hasil hutan Indonesia yang sangat dibutuhkan terutama untuk industry perabotan.
4. Apa makna rotan bagi kehidupan ini ?
5. Seperti kata pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Berarti rotan tetap menjadi primadona dibandingkan akar penggantinya.

Art-Living Sos 2011 (A-10 Nyanyi Sunyi Sang Elang

Dear Allz….

Awal bulan baru…awal semangat baru….Sebelum saya senyum-senyum lagi sendirian, saya mau menyapa dulu yaaa….Apakabar teman dan sahabatku semua ? Hmmh…biasanya tanggal muda seperti ini pasti senyumnya lebih lebar, ya…dan semoga semua sehat-sehat…… Alhamdulillah, kita masih diberi nikmat sehat…sehingga masih bisa tersenyum-senyum ….

Iya, lho…senyum itu pada dasarnya gratis. Tapi karena kadang kita masih berpikir-pikir, mau senyum atau mau memasang wajah dingin, yaaaa…jadinya senyum itu menjadi mahal…hehehe…

Nhaaa…daripada kita memikirkan senyum atau tidak, mendingan kita ngobrol saja, ya. Banyak hal di sekitar kita, yang bisa menjadi bahan obrolan yang bermanfaat. Lingkungan kita begitu kaya dengan berbagai makna, asalkan kita mau mencari dan menggalinya. Kita bisa terjun langsung di dalamnya, atau kita mau menjadi pengamat dari jauh. Keduanya dapat kita lakukan. Seperti ayam yang lebih suka melihat dari jarak dekat, atau elang yang dapat mengamati dan melihat dari jarak yang sangat jauh.

Sssttt…mumpung kita sedang ngobrol tentang elang, saya pun mau berbagi cerita mengenai elang. Barangkali ia merupakan satwa yang tak lazim bagi sebagian kita. Namun, lihat saja ….bagaimana elang menjadi bagian dari keseharian hidup kita…

Oya…bagi teman dan sahabat yang sedang menikmati akhir pekan saat ini, selamat menikmati liburan bersama keluarga…Dan bagi yang belum berlibur, selamat beraktivitas…semoga semua aktivitas dan langkah kita bermanfaat….

Selamat menikmati…semoga berkenan….

Jakarta, 7 Oktober 2011

Salam hangat,


Ietje S. Guntur

♥♥♥

Art-Living Sos 2011 (A-10
Friday, October 07, 2011
Start : 10/7/2011 12:09:42
Finish : 10/7/2011 14:39:18


NYANYI SUNYI SANG ELANG


Saya sedang berlibur. Tidak. Sebetulnya sedang ada waktu luang di tengah jadwal yang lumayan teratur…hehehehe…Biasalah…Ilmu jaman dulu, sambil menyelam minum air, itu wajib dijalankan. Terutama bila airnya memang enak untuk diminum…hihi…

Saat ini saya sedang melewati kawasan perkebunan teh di daerah Puncak. Sebetulnya ini di lereng-lereng perbukitannya, di antara gunung Gede, gunung Pangrango….dan di kejauhan gunung Salak, yang masih cukup sejuk segar hawanya. Tidak heran bila berpuluh tahun lalu orang Belanda membuat perkebunan teh di sini. Yang hasilnya masih dapat kita nikmati hingga saat ini.

Sambil menikmati pemandangan yang hijau royo-royo, menghirup udara yang-semoga-bebas polusi…mata saya dimanjakan oleh aneka pemandangan yang menyegarkan. Hijau di sana sini. Dan warna-warni pemetik teh yang bersiap untuk pulang dari tugasnya, setelah memetik pucuk teh sepanjang pagi.

Tiba-tiba mata saya terusik oleh pemandangan yang langka. Seekor elang tampak terbang tinggi di angkasa biru, dan sesekali berputar di dekat hamparan kebun teh yang menghijau. Elang itu kadang menukik, kadang mengepak sayap menyongsong angin. Sungguh indah. Seorang diri ia menguasai langit yang terbuka. Tanpa kuatir ada tangan iseng yang mengusik keasyikannya.

Saya terpana. Menikmati tarian elang yang indah. Menikmati kepakan sayapnya yang lembut. Memandang penuh kagum akan kemampuannya menguasai lingkungan sekitarnya.

Lama saya terpesona. Hingga akhirnya Si Elang perkasa terbang jauh. Dan menghilang di antara hutan lindung yang masih tersisa di puncak-puncak pegunungan sekitar kawasan Puncak. Hati saya pun seperti terbawa pergi. Entah kapan saya masih dapat melihat si Elang menari lagi…aachh…



Sepanjang sisa perjalanan berikutnya, saya masih terkenang akan si Elang.

Entah berapa banyak lagi elang gunung yang tersisa di kawasan itu. Mungkin suatu masa dulu, para elang ini sangat bahagia dan merdeka hidup di kawasan pegunungan di sekitar Puncak, Cisarua, dan Bogor. Namun belakangan, dengan semakin banyaknya pemukiman dan menjamurnya kawasan wisata, elang-elang ini pun semakin jarang menunjukkan pamornya di tengah kehijauan alam lingkungannya.

Saya jadi ingat masa kecil dahulu.

Ayah saya sering mengajak saya untuk melihat-lihat elang yang terbang di angkasa. Ayah saya selalu mengingatkan, untuk tidak pernah menangkap elang dengan cara apa pun. Karena elang adalah burung merdeka dan hanya bisa hidup di alam bebas. Hanya di alam luas, di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi burung elang dapat bermanfaat bagi lingkungan.

Ketika ayah saya ditugaskan di kota-kota kecil di tengah rimba belantara Sumatra, kami masih bertempat tinggal tidak jauh dari hutan dan alam yang liar. Saat itu burung elang merupakan pemandangan sehari-hari. Di siang hari bolong, elang-elang ini dengan berani akan memasuki wilayah pemukiman. Bahkan tidak jarang, di depan mata kami ia turun dengan cepat, menukik di lapangan terbuka, dan menyambar anak ayam atau tikus yang lengah.

Saya dan teman-teman semasa kecil dulu, akan segera memasukkan induk ayam dan anak-anaknya ke kandang bila melihat elang berkeliling mencari mangsa. Kami akan saling mengingatkan, dan mengejar anak-anak ayam yang masih berkeliaran tanpa menyadari bahaya yang mengintai.

“ Cepat…cepaaaat..ada elang ! Masukkan ayam ke kandang !” begitu teriakan kami sambil buru-buru menghitung jumlah anak ayam yang berkeliaran di halaman . Teman yang tidak memiliki peliharaan ayam tetap saja ikut beramai-ramai…ikut berteriak-teriak…dan kadang ikut membunyikan segala perabotan seperti kaleng agar elang menjadi takut dan tidak jadi turun ke tanah…Waaah…seru juga.

Saya pernah berpikir, bagaimana elang yang terbang tinggi di langit sana, dapat memilih anak ayam yang akan menjadi santapannya. Pasti ia memiliki mata yang sangat tajam sehingga dapat melihat dari kejauahan. Tidak heran kalau kemudian ada ungkapan yang mengatakan, bahwa matanya tajam seperti mata elang…hehe…Dan memang, kalau kebetulan tidak dijaga, ada juga satu atau dua ekor anak ayam yang disambar dan menjadi mangsa elang. Yah…kalau sudah begitu mau diapakan lagi. Sudah nasib ayam menjadi santapan elang.

Ternyata elang tidak hanya doyan makan anak ayam. Ia pun gemar menyantap tupai dan tikus, terutama tikus berukuran jumbo yang agak besar. Itu sebabnya di areal persawahan yang luas pun kadang kita melihat burung elang berkeliling seperti sedang berpatroli. Dan kalau dilihat kecepatannya menukik, menyambar, dan membawa mangsanya, kita tidak akan menduga bahwa ia bisa secepat itu. Sungguh luar biasa.

Bagi petani, kedatangan elang untuk membersihkan tikus yang menjadi hama di sawah tentu menguntungkan. Memang, dibandingkan dengan menyantap anak ayam, kelihatannya elang lebih suka memangsa tikus. Entah dagingnya lebih gurih, entah karena perlawanan tikus terhadap elang tidak seperti perlawanan ayam. Betul, kadang-kadang induk ayam atau bapak ayam tidak rela kalau anaknya disambar begitu saja. Mereka masih akan berjuang dan mematuk kaki elang untuk mempertahankan anak-anaknya. Biasanya kalau sudah begitu, elang memilih untuk mengalah, karena dia lebih suka di angkasa daripada berjalan-jalan di tanah…Rupanya elang pun paham, kalau itu bukan teritorinya…!!



Ngomong-ngomong soal elang.

Barangkali di masa sekarang kita tidak terlalu peduli dengan kehadirannya. Mau ada, mau tidak ada , hidup sudah bergulir tanpa kehadiran elang. Tapi lihatlah, apa yang sudah diberikan elang kepada kehidupan kita dan lingkungan sekitar kita.

Kalau boleh membongkar harta karun kita nih…Indonesia memiliki beberapa jenis elang. Yang telah dikenal luas dan memiliki nama tersendiri adalah Elang Hitam, Elang Brontok, Elang Merah dan Elang Jawa. Urusan per-elang-an ini memang bukan sekedar urusan burung-burungan. Bagi peminat dan ahli burung atau disebut ornithologist, urusan keberadaan satu jenis burung seperti elang ini membutuhkan penelitian yang lama dan referensi dari berbagai jenis yang mirip. Dan satu hal lagi, harus didaftarkan dengan jenis dan nama tersendiri agar diakui oleh dunia. Naaah, urusan nama saja pun ternyata ada lika-likunya. Simak saja !

Salah satu jenis elang yang cukup legendaris dan membutuhkan perjalanan sangat panjang untuk diakui dunia adalah Elang Jawa. Elang Jawa ini termasuk elang gunung, dan tidak begitu saja diakui keberadaannya. Semula elang ini dianggap sebagai keluarga elang brontok. Tapi setelah diteliti sejak tahun 1820, yang melibatkan dua ahli burung bangsa Belanda yaitu Van Hasselt dan Kuhl, kemudian seorang ahli burung bangsa Jerman yaitu O.Fissh dan seorang kolektor dan ahli burung Max Bartels maka akhirnya pada tahun 1924 Prof. Stresemann memberi nama mereka sebagai Spizaetus nipalensis bartelsi. Bayangkan, hampir seratus tahun untuk mendapatkan sebuah nama !

Tapi ternyata urusan nama tidak segampang itu, karena pada saat itu ia masih dianggap sebagai keluarga nipalensis. Masih ikut keluarga elang lain. Dan akhirnya….* ini betul-betul terakhir * pada tahun 1953 atas usulan D. Amadon untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, maka si Elang Jawa yang digolongkan sebagai elang gunung mendapat nama sendiri, yaitu Spizaetus bartelsi. Nama akhir bartelsi itu adalah salah satu penghormatan kepada Max Bartels .

Begitulah …betapa panjangnya urusan nama untuk seekor elang…!!!



Cerita elang tidak berhenti sampai di situ.

Konon si Elang ini pun menginspirasi para cerdik cendekia dan para petinggi di berbagai belahan dunia . Keanggunannya di angkasa. Keberaniannya, kejeliannya, kecepatan dan kecekatannya tidak sekedar mempesona, tetapi juga menjadi semacam lambang keberanian dan kekuatan. Ungkapan seperti gagah seperti elang, menjadikan elang sebagai ikon kepemimpinan. Bahkan sejak lama kita ketahui, bahwa elang sering dijadikan simbol kekuatan dan kekuasaan. Raja-raja jaman dahulu banyak yang memelihara elang, tidak sekedar sebagai hiasan, namun sebagai petunjuk jalan bila mereka mengadakan perlawatan.

Walaupun elang bukan termasuk burung migrasi, tetapi kemampuannya untuk menguasai teritori yang luas membuatnya menjadi semacam indikator mengenai suatu wilayah tertentu. Ia juga termasuk golongan ‘pejabat tinggi’, karena selalu tinggal di puncak-puncak pohon yang tinggi di atas gunung – yang kalau bisa paling tinggi pula. Mereka memang termasuk kelompok eksklusif dan penyendiri, mirip pertapa yang mengamati situasi dari kejauhan. Namun di sisi lain, ia pun merupakan petarung yang hebat. Elang akan mempertahankan teritorinya bila ada musuh yang menyerang. Bahkan pada jaman dahulu, elang yang telah dilatih oleh kerajaan akan membela tuannya hingga titik darah penghabisan bila ia melihat tuannya terancam.

Barangkali, karena alasan-alasan fisik maupun filosofis itulah burung garuda yang menjadi simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia diambil dari perwujudan burung elang gunung atau elang jawa.

Memang benar. Burung garuda, yang selama ini menjadi simbol kemerdekaan dan kekuatan bangsa Indonesia adalah elang Jawa. Ia tidak sekedar menjadi mitos, tetapi telah menjadi lambang persatuan Negara dan bangsa Indonesia. Dan sekarang, karena kelangkaan elang yang tergusur habitatnya, maka sejak tahun 1992 elang jawa dimasukkan ke dalam kelompok satwa langka. Artinya elang jawa ini dilindungi oleh undang-undang, dan tidak diijinkan untuk dipelihara secara pribadi, kecuali untuk tujuan penelitian.



Mengenang elang yang terbang di kawasan Puncak , membuat saya termenung.

Hanya seekor elang . Tapi kehadirannya mampu mempersatukan sebuah bangsa dalam satu Negara. Dalam kesunyiannya, seekor elang jawa yang gagah telah menjadi garuda. Dan ia mampu menjadi sebuah simbol Negara yang merdeka, yang berdaulat dan diakui keberadaannya oleh dunia.

Seandainya kita dapat belajar dari seekor elang. Yang tidak hanya berani terbang melayang dan menyambar tikus serta anak ayam, tetapi juga mengusung angin dan menjaga lingkungan agar tetap terjaga eksistensinya…

Semoga….!!

Jakarta, 7 Oktober 2011
Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Special note :
Terima kasih untuk Pa tersayang, yang telah mengajarkan kehidupan elang kepadaku…dan untuk teman-teman masa kecil yang telah bersama-sama menikmati hidup bersama elang…Terima kasih juga kepada my Pangeran Remote Control yang telah membawa aku dalam perjalanan menelusuri jejak elang…I love U allz…

♥♥
Ide :
1. Burung elang di daerah Puncak Pass…semakin langka.
2. Hari ini aku melihatnya berputar-putar di atas perkebunan teh Gunung Mas.
3. Apa fungsi elang bagi kehidupan kita dan ekologi ?

Selasa, 04 Oktober 2011

Art-Living Sos 2011 (A-9 Nyanyi Rindu Pohon Randu

Dear Allz….

Hehehe…belum menyapa, saya sudah nyengir duluan…Kebiasaan yang sulit dihilangkan niiih….Aaaah, mau Tanya-tanya dulu aja , ya : Apa kabar semua teman dan sahabatku ?

Semogaaaa…di hari baik dan bulan baik ini, semua teman dan sahabatku dalam keadaan yang sehat-sehat dan ceria. Sehat dan ceria itu kan artinya sehat lahir batin. Tidak hanya sehat di luar, sehat fisiknya, hatinya juga riang gembira….Kata para ahli, hati yang gembira membuat kita sehat dan awet muda. Percaya khaaan ? Jadi memang sebaiknya, kita berusaha untuk selalu gembira…paling tidak ya, tersenyumlah kepada saya…

Eeeeh, lama juga ya kita nggak ngobrol-ngobrol ? Seminggu…dua minggu…waaah, hampir sebulan saya tidak mengudara. Nggak usah pakai maklum-maklum deh…sudah ketahuan alasannya…hehehe. Alasan si kaki seribu yang suka pergi kemana saja…mengikuti arah angin…Hmmh…asalkan arah anginnya tetap terarah, tidak asal jalan dan asal terbang kian kemari…Seperti serat pohon randu yang diterbangkan angin…

Ahaaaa….mumpung ngomong tentang serat pohon…eh, maksud saya serat buah randu. Sudah pernah tahu ? Itu lhooo…si kapuk yang jadi teman tidur kita, pengisi bantal dan pengantar ke alam mimpi. Si kapuk randu ini punya banyak cerita, yang barangkali terlewatkan oleh kita. Kali ini, boleh saya sampaikan cerita tentang sebatang pohon randu ?

Kalau boleh….mariiiiiii…kita duduk-duduk dulu…santai dulu…sambil menunggu waktu bergulir. Sambil menunggu akhir pekan yang sudah di depan mata. Beginilah ceritanya….hehe…

Selamat menikmati…semoga berkenan….


Jakarta, 29 September 2011
Salam hangat,


Ietje S. Guntur



♥♥♥


Art-Living Sos 2011 (A-9
Thursday, September 29, 2011
Start : 9/29/2011 3:22:12 PM
Finish : 9/29/2011 4:57:39 PM


NYANYI RINDU POHON RANDU…


Saya sedang berlibur. Eeeh…tepatnya sedang bertugas, sambil menikmati suasana…Mirip liburan. Biasa begitu…sambil menyelam minum air…hehe… Menikmati kebersamaan dengan sahabat-sahabat saya. Sambil menjalankan tugas, kami pun dapat bersantai menikmati suasana dari atas bukit. Maklum tempatnya juga asyik untuk berlibur. Namanya Bukit Randu, di Lampung.

Sesuai dengan namanya, lokasi tempat saya dan sahabat-sahabat saya menginap memang merupakan kawasan yang banyak pohon randu. Pohon yang tinggi menjulang, dengan buah-buah yang bergantung seperti lampu hias berwarna kehijauan. Di bulan Agustus seperti ini, pohon randu atau dikenal juga dengan sebutan pohon kapuk, memang sedang musim buah. Tapi berbeda dengan pohon lain yang enak dimakan buahnya, justru pohon randu ini lebih bermanfaat serat buahnya untuk pengisi kasur dan bantal.

Entah kenapa, setiap kali melihat pohon randu, dengan buah-buahnya yang rapi berjejer di dahan dan rantingnya, saya selalu merasa terharu. Pohon yang tampak kokoh, tidak banyak berhias daun. Sekilas tampak gersang, namun selalu dipenuhi dengan buah yang bermanfaat. Angan saya pun melayang…melewati lembah dan bukit…melewati puncak bukit Randu yang temaram di dalam pelukan malam….




Ingat pohon randu, saya jadi ingat ketika pertama kali melihat buah randu pecah dan seratnya bertebaran seperti salju. Sebagai anak yang dibesarkan di Sumatra saya nyaris tidak pernah memperhatikan kehadiran pohon randu di sekitar saya. Maklum, di Sumatra terlalu sering musim hujan, sehingga buah kapuk selalu tampak hijau, tapi tidak menarik untuk dipetik. Bagi saya, dan sebagian besar anak-anak pada masa itu, pohon yang menarik adalah pohon yang bisa dipanjat dan dipetik buahnya. Pohon randu ? Apanya yang mau dipanjat ? Buah apanya yang mau dipetik ?

Ketika liburan sekolah saat masih SD, kami berkunjung ke kampung halaman ayah saya di Jawa . Saat itu bulan Agustus, dan sedang terik-teriknya cuaca di sebagian besar pulau Jawa. Saya melihat ada sebatang pohon yang tinggi sekali. Dan tiba-tiba ketika angin bertiup, buahnya seperti meledak…lalu serat kapuk itu bertaburan. “ Itu pohon randu. Pohon kapuk ! Yang isinya untuk bantal di rumah,” kata ibu saya menjelaskan, melihat saya terheran-heran.

Betul. Saat itu saya hanya terpana. Kagum. Belum pernah saya melihat pohon kapuk yang berbuah dan pecah seperti ini . Dalam hitungan detik, saya tersadar. Terbakar oleh kegembiraan. Lalu bersama dengan anak-anak kecil lainnya, kami berlarian mengejar serat-serat kapuk yang beterbangan kian kemari . Rasanya sangat senang ketika serat kapuk mendekat, lalu ketika hampir mencapai ketinggian yang terjangkau, ditiup lagi dengan sekuat tenaga….Serat kapuk akan terbang lagi semakin tinggi…dan kami tidak bosan mengejarnya sampai kelelahan sendiri…hehehe…

Begitulah…masa libur saya di Jawa, dan di sudut-sudut kota Jakarta yang kala itu masih mirip dengan kampung besar hampir setiap hari saya isi bersama teman-teman sebaya, sambil berkejar-kejaran dengan kapuk yang beterbangan. Saat itu juga saya baru tahu, bahwa kapuk yang setiap malam menemani saya tidur di dalam buntalan kasur dan bantal serta guling berasal dari buah pohon randu.



Memang kapuk, atau randu yang nama kerennya Ceiba pentandra adalah bahan utama pengisi kasur atau tilam untuk tidur. Kapuk ini memang tanaman tropis, dan berasal dari Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Mungkin kedatangannya ke Indonesia juga berkat perjalanan para penjelajah samudra, yang kemudian mengembangkannya di Nusantara.

Seratnya yang empuk dan dapat menahan berat tubuh serta mengalirkan udara di antara tumpukan seratnya membuat kapuk menjadi pilihan utama yang cukup aman dan nyaman dibandingkan dengan bahan sintetis. Kapuk ini dapat bertahan cukup lama sebelum dia menjadi dingin atau mengeras. Biasanya, untuk membuat kasur dan bantal kapuk menjadi empuk dan gembur, maka kita harus sering menjemurnya di bawah sorotan panas matahari. Setelah kapuk di dalam buntalan atau sarung kasur menjadi kering, maka udara akan mengalir lagi di sela-selanya, dan kasur pun empuk kembali.

Jadi ingat juga niiiiih….duluuuu banget, jaman saya SMP dan SMA, tugas menjemur kasur setiap minggu adalah tugas saya. Kadang dibantu oleh salah seorang adik saya. Entah karena saya kelebihan tenaga, atau karena memang jatah anak sulung…( hahaha)…ayah saya selalu menyuruh saya mengangkut kasur kapuk itu untuk dijejer di halaman dan dijemur. Lalu…sambil menunggu kapuk mengering, maka kami akan memeriksa celah-celah jahitan buntelan atau sarung kasur. Biasanya di situ suka bersarang kepinding atau tumbila, yang mirip kutu, dan kadang iseng menggigiti manusia.

Sambil menjemur kami juga harus menebah-nebah kasur. Dipukuli dengan tebah terbuat dari jalinan rotan yang mirip dengan raket bulutangkis. Tujuannya agar debu yang melekat dan segala mahluk penghuni kasur akan pergi…hehe…Selain itu tentu agar kasur menjadi empuk. Memang…setelah dijemur dan dipukuli, malamnya saya akan tidur lebih nyenyak. Dengan kasur lembut dan hangat. Dan tentu saja…dengan mimpi yang lebih berwarna…hmh….

Dipikir-pikir, lucu juga yaaaa…rekreasi hari libur kok menjemur dan memukuli kasur kapuk…hahahaha…



Ngomong-ngomong tentang pohon randu , memang sekilas pohon ini biasa saja. Bukan pohon idaman produktif yang bisa diambil kayunya , semisal pohon jati atau kayu yang dapat dimanfaatkan untuk rumah dan perabotan lainnya . Atau seperti pohon beringin rindang yang sering menjadi tempat berteduh.

Pohon randu yang nyaris gersang, dan berdaun agak jarang, membuat dia hanya ditanam untuk dipanen sekali setahun. Sebagai pengisi kasur dan bahan pelapis lainnya. Baru belakangan, setelah diketahui manfaatnya, dia mulai ditanam secara komersial dan menjadi komoditi andalan untuk meningkatkan ekonomi. Di beberapa daerah di Jawa, kapuk merupakan salah satu penyumbang ekonomi bagi perkembangan daerah. Sehingga namanya pun dikenal sebagai kapuk Jawa.

Khusus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, para petani sering memanfaatkan siklus pohon randu sebagai penanda musim. Yaitu musim tanam dan musim panen. Biasanya di bulan-bulan Januari-Maret pohon randu akan mulai berdaun hijau, karena dia banyak menyerap air dari musim hujan. Para petani yang mengamatinya akan mulai bercocok tanam, terutama padi mengikuti siklus daun pohon randu ini.

Dan ketika pohon randu mulai merontokkan daun-daunnya, saat buahnya mulai matang, maka pada saat itulah petani akan memanen hasil sawahnya. Musim panen biasanya dilakukan pada bulan Juli sampai September atau awal Oktober, pada saat kemarau, di mana matahari sedang memancar dengan teriknya .

Berabad-abad kebiasaan mengikuti siklus randu ini membuat para petani di Jawa juga menanam pohon randu di halaman rumahnya, atau di tegalan sawahnya. Bahkan hingga saat ini, ketika musim sudah berubah-ubah, dan jenis padi yang ditanam tidak membutuhkan waktu panjang, para petani masih bersahabat dengan pohon randu. Unik juga, ya…



Bertahun kemudian, selama tinggal di Jakarta, saya masih suka mengamati pohon randu. Memang sekarang jumlahnya tidak sebanyak bertahun-tahun lalu. Pohon randu dan banyak pohon lainnya harus berebut tempat dengan perumahan penduduk. Tapi seringkali, di sela-sela rumah yang berhimpitan, tampak sebatang pohon randu menjulang, dan sesekali melepaskan serat kapuknya yang mirip salju. Dan di antara ranting-rantingnya biasanya burung-burung akan berkicau riang, sambil mematuk ulat-ulat pohon randu yang konon cukup lezat cita rasanya…

Ahaaa…Barangkali juga, karena bentuknya yang gersang itu, pohon randu atau kapuk justru banyak member ilham bagi seniman. Banyak puisi dan lagu yang menceritakan tentang pohon randu ini. Kadang-kadang sisi jiwa seni saya pun tergerak melihat pohon randu. Entah mengapa, kegersangan pohon randu terkadang membuat hati tergelitik. Seperti melihat seseorang yang sedang kesepian di tengah keramaian. Aaachh…romantis sekali…

Itu sebabnya juga saya sering merasa sedih bila melihat pohon randu ditebang tanpa alasan yang jelas. Mungkin dia memang tidak produktif. Tapi saya yakin burung-burung masih suka bertengger dan bernyanyi di dahannya sambil mematuk-matuk ulat yang menjadi makanannya.

Seperti saat ini, ketika melihat sebatang pohon randu di Jakarta Selatan, yang ditebang dengan semena-mena. Hati saya rasanya teriris. Ingat burung-burung yang bernyanyi riang. Ingat petani yang mengandalkan siklus randu untuk penanda musim , ingat keceriaan masa kanak-kanak ketika berlarian mengejar serat-serat buahnya…oooh…

Menatap pohon randu yang telah rebah, hati saya pun tergugah. Usia perjalanannya memang telah usai. Tapi selama dia berdiri gagah di sana, dia telah memberikan kehidupan banyak sekali kepada mahluk lain di sekitarnya. Bahkan ketika dia telah menjadi potongan kayu-kayu kecil, ia masih kuat untuk dibuat pagar atau bahan bakar untuk masak.

Saya termenung. Sebatang pohon randu yang biasa-biasa saja telah memberi hidupnya dengan banyak manfaat. Sekarang…apa yang sudah kita berikan kepada kehidupan ini ? Apakah kita sudah memberikan kegembiraan kepada lingkungan kita ? Apakah kita sudah menjadi panutan bagi sekitar kita ? Apakah kita cukup kuat untuk menjadi pelindung dan pagar bagi orang yang kita sayangi dan kita cintai ???...

Aaaah…semoga saja…Ada ilmu yang dapat kita pelajari dari sebatang pohon randu yang bernyanyi rindu…


Jakarta, 29 September 2011

Salam hangat,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih untuk sahabat perjalananku…mb Irma dan Mey…Ingat saat yang lucu di Bukit Randu, ya….hehehehe…sangat inspiratif……Terima kasih juga untuk sebatang pohon randu di Senayan, yang menjadi inspirasi tulisan ini…