Jumat, 17 Februari 2012

Art-Living Sos 2012 (A-1 Penjual Mainan

Dear Allz.....

Hallloooooow.....teman dan sahabatku tersayang...Apakabaaarr....??? Lagi ngapain niiiihhh ??? hehehe...Sebelumnya saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012, ya....Eeeh, belum kelamaan khaaan ? Masih cukup segaar kok...hmmh...

Semoga di tahun ini lebih banyak berkah yang kita terima...lebih banyak kesempatan bagi kita untuk saling peduli, saling berbagi, saling menyayangi...sehingga hidup kita yang tidak tahu berapa lama kontraknya ini dapat lebih bermakna...

Saya yakin, beberapa di antara teman dan sahabat tersayang sudah memiliki resolusi dan rencana untuk tahun ini. Ada yang resolusi mengenai bisnis, karier, kehidupan keluarga, kehidupan pribadi, maupun kehidupan sosial dalam arti yang lebih luas. Tidak sekedar gaul, tapi juga gaul yang bermakna...gaul yang bermanfaat.

Betuuuull...kadang kita karena begitu ingin disebut gaul, maka kita bergaul tanpa arah. Seperti orang hanyut di sungai, tidak bisa berenang, jadi asal terbawa arus. Ini bisa berbahaya. Itu sebabnya walau pun kita bergaul seperti orang tercebur di sungai, tetapi seyogyanya kita mempersiapkan diri dulu...mau gaul yang seperti apa ? Mau bermakna seperti apa ? Kata orang tua jaman dulu, jangan sampai salah gaul. Bukan hanya kurang bermanfaat, tapi kadang kita pun tidak nyaman dengan lingkungan pergaulan yang bukan menjadi bagian dari diri kita.

Lhaa...baru awal tahun...sudah mulai deeeh...cerewet soal gaul-gaulan ini...hehehe...Saya sendiri tidak membatasi dunia pergaulan saya, sepanjang tadi...ada manfaatnya untuk saya. Dalam arti juga, pergaulan itu harus memberi nilai tambah bagi saya terutama dalam pengembangan diri dan memotivasi hidup saya. Barangkali itu juga sebabnya, tanpa saya sadar, saya punya sahabat-sahabat pergaulan yang membuat hidup saya lebih kaya makna. Salah satu diantaranya adalah penjual mainan. Ini terbersit begitu saja dari sebuah perjalanan saya di pagi hari...yang melontarkan saya ke masa silam dan hari ini...

Ide memang bisa datang di mana saja, dan dari mana saja. Jadi hari ini...di awal tahun ini...saya ingin berbagi tentang sahabat saya...Kakek Penjual Mainan...Semoga berkenan....

Jakarta, 9 Januari 2012

Salam persahabatan,


Ietje S. Guntur


♥♥


Art-Living Sos 2012 (A-1
Senin, 09 Januari 2012
Start : 09/01/2012 10:32:20
Finish : 09/01/2012 12:02:23



PENJUAL MAINAN


Pagi-pagi. Dalam perjalanan ke tempat tugas. Seperti biasa saya suka melihat keadaan di sepanjang perjalanan, di kiri kanan jalan. Melihat ketergesaan pagi. Yang meriah. Yang macet. Yang srudak-sruduk dengan kendaaraannya. Dengan berbagai tingkah polah yang menunjukkan dasar berperilaku para pengguna jalan. Kadang ada yang lucu. Kadang ada yang menjengkelkan. Kadang ada yang mengagetkan bila tiba-tiba memintas, memotong jalan...aachh...

Tiba-tiba kendaraaan di depan saya berhenti. Diikuti oleh beberapa kendaraan lain. Ada apa gerangan ? Bukankah belum waktunya berhenti di lampu pengatur lalu lintas ?

Dari balik kendaraan yang berada di depan saya, ternyata ada sebuah sepeda yang berusaha untuk menyeberang. Bukan sepeda biasa. Seorang bapak tua membawa keranjang berisi bola-bola plastik, mainan anak-anak, dan beberapa barang lagi yang bergantungan di keranjang di belakangnya . Ia akan menuju ke sebuah sekolah yang berada di sisi lain jalan itu. Ohlala...Saya tertegun. Memperhatikan si Bapak tua yang telah tiba di seberang jalan, dan kemudian memarkir sepedanya di bawah pohon.

Sejenak ingatan saya melayang. Jauh ke masa kecil. Jaman sekolah dasar.

♥

Di depan sekolah saya, di luar pagar, hampir selalu ada penjual mainan yang mangkal dengan keranjang atau kotak kayu dan pikulannya. Ada penjual mainan yang masih agak muda, saya memanggilnya Abang Mainan. Dan ada seorang lagi yang agak tua, dan saya memanggilnya Kakek Mainan.

Si Abang dan si Kakek Mainan ini biasanya datang pada jam menjelang pulang sekolah kelas I dan II, atau jam istirahat kedua bagi kelas III hingga kelas VI. Kadang-kadang mereka juga datang di pagi hari, sebelum jam pelajaran dimulai. Pada jam-jam sebelum belajar, atau jeda di antara jam pulang sekolah, kami memang boleh ke luar dari halaman. Tentu saja tidak boleh lama-lama, karena sekolah kami cukup ketat peraturannya. Jaman itu belum ada kantin sekolah, sehingga kami harus jajan di luar pagar. Jajan dan keluar, termasuk melihat penjual mainan yang berjejal dengan penjual gula tarik atau gulali , es potong, sate kerang, tiwul, gorengan, brondong jagung warna merah jambu dan pecal sayuran pakai bihun goreng.

Bila si Abang menjual mainan yang agak mahal dan modern, maka si Kakek menjual mainan yang murah meriah dan kadang ada juga permainan tradisional. Saya lebih suka duduk dan nongkrong di dekat tempat si Kakek, karena dia bisa memainkan beberapa permainan tradisional dari mainan yang dijajakannya. Ada mainan yang dibuat dari bambu, kayu, kertas, tanah liat atau gerabah. Bahkan dia menjual ketapel dan benang layangan juga...hehehe...Selain itu dia juga menjual mainan yang tidak basi sepanjang jaman, yaitu kelereng dan bola karet serta bola plastik.

Walaupun saya hampir tidak pernah membeli mainan dari si Kakek, karena keterbatasan uang jajan masa itu...hiiikss...tapi saya tetap suka nongkrong memperhatikan si Kakek menjajakan mainan sambil menceritakan cara menggunakan permainan itu. Saya paling suka kalau ia memainkan boneka kertas yang mirip wayang. Dengan keahliannya ia bercerita sambil menggerak-gerakkan tangan dan kaki boneka kertas itu. Kadang-kadang cerita dan gerakan bonekanya sangat lucu, sehingga kami tertawa tergelak-gelak. Anak-anak yang memiliki uang akan tertarik, dan membeli boneka kertas lalu mencoba memainkannya sendiri.

Hampir setiap hari saya dan beberapa teman akan nongkrong di tempat penjual mainan itu. Karena sekolah kami dulu memisahkan anak laki-laki dengan anak perempuan, maka hak monopoli untuk nongkrong di depan Kakek penjual mainan itu jatuh pada orang yang pertama datang. Saya termasuk yang rajin datang ke sekolah, dan rajin nongkrong di depan Kakek penjual mainan...hehe...Jadi tidak heran, kalau saya pun jadi sering ribut dengan anak laki-laki yang ingin juga menonton pertunjukan boneka kertas dari si Kakek Mainan. Tidak jarang kami dimarahi oleh guru, karena terlalu asyik nongkrong di pinggir jalan. Tapi dasar namanya anak-anak, hari ini ingat dan patuh, besoknya sudah lupa . Dan nongkrong lagi....hahahaha...

Bagi saya sendiri, dan barangkali juga bagi anak-anak yang lain, kehadiran si Kakek Mainan ini tak sekedar menjual mainan. Kadang, bila tidak ada anak yang membeli, atau sambil menunggu jemputan, kami ngobrol dengan si Kakek. Semua pengalaman hari itu kami ceritakan kepada si Kakek. Tidak jarang pula ia menasehati kami dengan kata-kata yang sederhana, kadang diseling dengan cerita dan dongeng yang diselipkan diantara permainan boneka kertasnya. Kalau sehari atau dua hari si Kakek tidak muncul, kami merasa kehilangan. Selain kehilangan tempat nongkrong, kami juga kehilangan orang yang dapat berbicara dalam bahasa anak-anak, seseorang dengan siapa kami bebas menjadi diri sendiri. Sungguh, suatu rasa sayang yang tumbuh dari sebuah kepercayaan.

♥

Jaman berganti. Kini giliran anak saya yang masuk sekolah dasar. Saya pikir, di jaman yang serba modern dan serba canggih seperti sekarang, tidak ada lagi penjual mainan di sekolah-sekolah. Tapi ternyata saya salah !

Penjual mainan dengan sepeda dan sebuah kotak di bangku belakangnya tetap mewarnai dunia sekolah di tempat anak saya menuntut ilmu. Saya perhatikan, mainan yang dibawa oleh penjual mainan itu, dan anehnya juga seorang bapak tua – mirip Kakek Mainan di sekolah saya dulu , juga tidak berbeda jauh dengan jaman saya dulu. Ada kelereng, bola karet dan plastik , kertas gambar yang sedang populer, kertas gambar yang bisa dilempar-lempar mirip kartu, gambar tempel, stiker, mainan berbentuk boneka dari plastik, boneka kertas – yang gambarnya berbentuk tokoh kartun, hiasan meja, keramik, dan pernak-pernik untuk boneka. Dan anehnya, kadang-kadang ada juga yang menjual anak ayam yang sudah dicat warna-warni, atau burung pipit dan gelatik yang biasanya ada di sawah.

Dan...seperti jaman saya sekolah dulu, anak-anak usia SD ini pun dengan gembira dan wajah yang penuh rasa ingin tahu selalu merubung bapak tua penjual mainan ini. Barangkali, dari semua pedagang di lingkungan sekolah ini penjual mainan adalah orang yang paling ditunggu dan paling sering dikerubuti oleh anak-anak. Bila mereka punya uang, mereka akan membeli satu mainan yang disukai. Namun bila sedang tak punya uang, mereka tetap bisa bergembira menikmati pajangan mainan yang ada di kotak belakang sepeda itu, sambil sesekali meraba dan merasakan keinginan untuk memiliki kegembiraan yang dipancarkan oleh mainan-mainan itu.

Kadang, di antara kerumunan itu terdengar suara-suara polos dan lugu seperti ini,” Pak, ini mainan apa ? Harganya berapa ? ”
“ Eeeh...lucu, ya...Boleh pegang, Pak ?”
“ Uang saya kurang, boleh besok sisanya, Pak ?”
“ Iiiih...kamu jangan pegang yang ini, aku sudah pesan dari kemaren !”

Lalu ada suara bisik-bisik ,” Kalau kita patungan beli mainannya , gimana ? Nanti kita gantian mainnya.”
“ Aaah...tapi nanti siapa yang duluan main ? Uangku Cuma segini. Belum buat jajan.”
“ Ya, udah...kamu belakangan aja. Kan uang kamu Cuma sedikit !”
“ Iya, deeeh...”
“ Paaaaakkkk...paaaakkkk...mau beli mainannya dong !”

Uang berpindah tangan. Si Bapak Tua tersenyum dengan gigi yang setengah ompong. Mainan yang tadi dibeli dengan patungan dibawa pergi. Tiga anak keluar dari kerumunan, dengan wajah berseri-seri. Diikuti dengan pandangan iri oleh teman-teman lain yang belum punya kesempatan untuk membeli . Hanya sebentar mainan itu dipermainkan oleh tiga anak yang asyik bersama-sama . Tidak lama, mainan patungan itu sudah berpindah tangan lagi. Tawa-tawa silih berganti . Semua anak bisa menikmati, walaupun belum memiliki.

♥

Sambil meneruskan perjalanan, saya merenung.

Bapak tua penjual mainan. Dari jaman ke jaman, masih mewarnai dunia anak-anak. Mereka berjalan dari satu gang ke gang yang lain. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Membawa mainan yang murah meriah dan kadang tidak ada di toko. Mainan sederhana, kadang buatan sendiri, seperti terompet dan boneka kertas, tapi mampu menggugah rasa penasaran dan kegembiraan anak-anak.

Saya ingat, anak saya pernah mengorbankan uang jajannya yang sangat sedikit untuk membeli mainan gambar serial dan sebuah pajangan dari kulit kerang untuk diberikan kepada saya. Sungguh membuat saya terharu. Ia, dan penjual mainan di sekolah, telah mengantarkan kegembiraan dan kebahagiaan ke dalam hati saya.

Ketika dunia sekitar kita sudah hiruk pikuk dengan segala target dan materialisme, ternyata ada cara sederhana untuk menikmati kegembiraan dan kebahagiaan. Walaupun hanya menjajakan mainan sederhana, tapi penjual mainan telah berjasa mengantarkan kegembiraan ke banyak hati anak-anak di berbagai tempat di dunia ini. Dan suatu saat, kegembiraan dan kebahagiaan anak-anak ini akan membawa mereka ke dunia dewasa. Kenangan akan kebahagiaan itu membuat mereka juga lebih bijaksana dan lebih memahami dunia.

Barangkali kita bisa belajar dari penjual mainan...Tidak banyak yang mereka lakukan, tapi setiap hari ada satu atau dua orang anak yang tersenyum, ada satu dua anak yang memiliki harapan, ada satu dua anak yang memiliki cita-cita sederhana untuk menggembirakan orang lain... Dia memberi kegembiraan dan mengisi ruang hati anak-anak dengan kebahagiaan dan kepedulian.


Konon...membuat orang lain bergembira dan berbahagia adalah ladang pahala bagi kita...Semoga kita mampu melakukannya...walau dengan cara yang sangat sederhana...

Jakarta, 9 Januari 2012

Salam sayang,


Ietje S. Guntur


Special note :

Terima kasih kepada Kakek Mainan di SD Medan dulu....berkat Kakek, saya jadi suka main boneka dan bersandiwara dengan boneka-boneka itu. Saya pernah juga membeli mainan ikan-ikanan dari bahan mirip lilin, ketika saya potong, ternyata dalamnya kosong...hahaha...Sungguh pengalaman yang inspiratif, dan membuat saya bahagia hingga hari ini...:)...Terima kasih juga untuk teman-teman SD-ku yang suka nongkrong beramai-ramai di penjual mainan...Terima kasih sudah mengisi masa kanak-kanak kita dengan kegembiraan yang sederhana...I love U allz...

♥

Ide :
1. Seorang kakek tua yang menjual mainan anak-anak di sekolah. Mainannya murah meriah, tapi sangat menggembirakan anak-anak. Ada peluit, kelereng, gambar tempel, gambar lempar, bola plastik, mainan yang ditiup dan di ujungnya ada bola, karet gelang yang bisa dibuat mainan lompat tali, kerajinan tangan yang bisa dibuat pajangan atau tempat pensil dll.
2. Kakek tua ini tidak sekedar menjual mainan, tapi dia juga suka bercerita dan memberi nasehat kepada anak-anak. Ia menjadi sahabat anak-anak, yang kadang kurang mendapat perhatian dari orangtuanya.
3. Walaupun ia hanya seorang penjual mainan, tapi dia memberikan persahabatan dan rasa kepercayaan terhadap anak-anak. Dia memberi kegembiraan dan mengisi ruang hati anak-anak dengan kebahagiaan dan kepedulian.

Art-Living Sos 2012 (A-2 Talenan

Art-Living Sos 2012 (A-2
Tuesday, February 07, 2012
Start : 2/7/2012 10:17:23 AM
Finish : 2/7/2012 11:30:19 AM



T.A.L.E.N.A.N


Hari libur. Hari keluarga. Saat yang sudah saya tunggu hampir seminggu penuh, untuk unjuk kebolehan…hehehe…Maklum, namanya Emak-emak karir, tidak bisa sepenuhnya hanya memikirkan urusan pekerjaan dan urusan kantor. Naluri untuk berkutat di dapur tetap menyala, walaupun kadang on-off…hiiikss…Jadi deeh…mulai tengah minggu sudah ada beberapa rencana untuk memasak makanan yang istimewa. Resep-resep andalan dari berbagai majalah dan tabloid sudah siap di dapur. Dicatat dengan baik, dan dihafal…Uuuh…rasanya tiap akhir pekan seperti mau ujian …hahahaha…

Resep sudah. Ada masakan pesanan si Cantiq-anak semata wayang saya, dan ada masakan pesanan Pangeran Remote Control-Sang Suami Tercinta . Dua orang, dengan kesukaan yang saling bertolakbelakang....hehe…Kebayang kalau sekeluarga anaknya setengah lusin, dengan selusin selera yang berbeda…ohlalaaa…

Jadi deh, di pagi hari yang ceria ini saya siap-siap dengan bahan yang sudah dibeli di Pasar Bidadari. Ada ikan segar, udang, ayam kampung, dan ikan pindang tongkol – special niiih…kesukaan Pangeranku. Sayuran pun sudah setumpuk. Siap untuk membuat sup campur, dan sayur ca. Halaah…sama-sama sayuran tapi beda aliran. Untuk saya sendiri, yaaaa…ikut sajalah dengan selera kiri-kanan anggota lain…hmmh…

Pisau dapur khusus, yang biasa saya pergunakan sudah tersedia. Piring-piring alas dan wadah sudah siap. Wajan, panci berbagai ukuran, centong, sutil…sudah berbaris rapi di meja dapur. Naaah…sekarang siap kerja. Eeeh…mana nih talenannya ? Biasanya sih talenan ada di rak piring. Lho…kok menghilang ?

Setelah dicari di sana sini, ternyata talenan saya sedang dijemur agar kering dan bebas jamur…ohoooyy…Untunglah ! Mana bisa saya bekerja, mempersiapkan dan memotong bahan tanpa bantuan talenan. Saya mengambil talenan kayu yang agak lebar, lalu mulai beraksi dengan pisau kesayangan. Gress…gresshh…Bahan terpotong rapi, lalu dibariskan sesuai dengan peruntukannya. Sebagian ditempatkan di piring, sebagian tetap berada di talenan, agar nanti mudah dicemplungkan ke dalam panci.

♥

Ngomong-ngomong soal talenan…hmmh…kayaknya semua dapur dan semua ahli masak punya satu talenan kesayangan yang biasa dipergunakan untuk persiapan memasak. Saya punya tiga talenan. Dua terbuat dari kayu, dan satu dari plastik. Yang dari kayu, satu agak besar, dan satu agak kecil. Masing-masing ada fungsinya sendiri. Yang besar itu biasanya untuk alas kalau memotong sayur, daging, ikan, dan bahan yang agak besar. Sedangkan yang kecil biasanya untuk memotong bawang, tomat dan bahan-bahan atau bumbu yang lebih mungil bentuknya.

Yang plastik ? Itu jarang saya pergunakan. Paling untuk memotong bahan basah seperti tahu atau tempe. Tapi itu pun tidak mesti. Saya kurang suka memakai talenan bahan plastik, karena bila dicuci masih meninggalkan bekas dan agak bau apa gitu deh…Nggak enak. Barangkali ada yang Tanya : kenapa beli kalau jarang dipakai ? hehehe…ada 102 alasan ! Tapi yang jelas, talenan plastik ini bisa dibawa kemana-mana, kalau ingin masak di luar. Sedangkan si Talenan kayu, adalah properti rumah yang tidak boleh keluar dari area dapur.

Kalau cerita soal talenan, eeehh…apa, ya bahasa lainnya ? Ya, talenan deh…! Ibu saya adalah orang yang sangat fanatik terhadap talenannya. Ibu sayalah yang mengajarkan, bahwa setiap orang yang bekerja di dapur harus punya paling tidak dua buah talenan. Ya, itu tadi alasannya. Tapi ibu saya memang luar biasa. Selain talenan standar yang dua model tadi, beliau juga punya talenan yang besaaaaar sekali. Dibuat dari bahan kayu nangka yang bulat, tebalnya sekitar 10-15 cm, dan kalau menimpa kaki bisa gepeng seketika… hihihiiii…

Talenan super besar dan super tebal ini biasanya dipergunakan ibu saya untuk menjadi alas pemotong daging atau tulang-tulang. Dengan pisau besar seperti kampak, maka bekerja di talenan besar ini menjadi mudah dan cepat. Mirip deh dengan talenan penjual daging di pasar, atau penjual ayam yang memotong-motong dagingnya dengan tenaga dalam.

Selain itu ibu saya juga punya talenan super mini, dengan kaki penyangga. Modelnya hampir segitiga, dan kaki penyangganya juga tiga. Kalau saya bilang, ini talenan keramat milik ibu saya. Entah dibuat dari kayu apa, tapi kelihatannya kuat dan praktis. Dengan kaki penyangga itu, ibu saya bisa membawa talenan kemana-mana, bahkan sambil memotong sayuran di depan televisi pun bisa…hahaha…Saya pernah iseng meminta talenan ini, tapi dengan serta merta ibu saya mendelikkan matanya. Beliau bilang, lebih baik dia membelikan saya talenan baru di pasar, daripada talenan kaki tiga ini diberikan kepada orang lain…halaaah…!!!

Masih ada lagi. Tapi ini memang tidak umum. Yaitu talenan terbuat dari lempengan marmer. Betuuuulll…dari batu marmer yang biasanya untuk lantai rumah ! Ibu saya punya sekeping talenan marmer yang tebalnya kurang lebih satu inchi. Ini memang khusus untuk membuat roti dan tingting kacang. Jangan ditanya beratnya seperti apa. Dan saya tidak mau mencoba untuk menimpakannya ke atas kaki saya…uuuhh…

Berhubung saya tidak terlalu sering turun ke dapur, dan saya juga kurang ahli membuat roti ( baca : belum bisa bikin roti…hehehehe…), maka urusan pertalenan itu bagi saya cukup dengan tiga ukuran dan bahan saja. Bagi saya, perangkat kerja itu sudah sangat membantu . Apalagi kalau kadang-kadang saya masak di luar bersama teman-teman dan keluarga, salah satu talenan saya pasti ikut menemani. Itu semacam paspor juga untuk masuk ke dapur. Rasanya memang lebih nyaman menggunakan pisau kerja dan talenan sendiri, sehingga sudah hafal dengan lekuk-lekuk dan karakter bahannya.

♥

Sekarang semua bahan sudah siap dipotong. Panci sudah dijerang di atas kompor. Wajan sudah siap sedia menerima bahan yang akan dimasak.

Dengan kelincahan tersendiri, saya mengayunkan talenan di atas panci, menggeser bahan-bahan di atasnya hingga masuk dengan pas ke dalam air yang sudah mendidih. Bawang putih yang tadi digeprek di atas talenan juga sudah ikut nyemplung ke dalam wajan yang telah diisi minyak, dan sekarang menebarkan aroma wangi yang menggelitik hidung.

Tidak lama. Hanya kurang lebih satu jam saja…* kok kayak lagu, ya ? *…semua masakan sudah selesai dan matang. Tinggal ditata di dalam mangkuk dan piring saji. Lalu dihidangkan….hmmh…Hari keluarga yang ditunggu seminggu pun sukses dengan cerah ceria…ahaaayyy…

Lalu…semua peralatan dibersihkan. Talenan dicuci bersih. Diangin-anginkan, dan dijemur sebentar. Agar tidak tumbuh jamur di permukaannya. Talenan bersih akan menjamin makanan sehat. Talenan kotor, menjadi sumber penyakit . Hmmh…siapa bilang talenan tidak harus mendapat perhatian khusus ?

♥

Melihat dapur yang sudah bersih, dan talenan yang sudah berbaris rapi di rak piring saya tersenyum.

Berkat talenan, kerja saya menjadi cepat dan mudah. Padahal kalau dipikir-pikir, apa sih talenan itu ? Hanya sebilah papan, atau sepotong kayu. Tapi tanpa dukungannya, maka urusan persiapan makanan akan terganggu dan barangkali menjadi repot.

Di dalam hidup kita ini pun, kadang-kadang ada orang yang hanya berfungsi seperti talenan. Menjadi alas bagi aktivitas orang lain . Ia hanya pendukung sebuah proses. Tapi tanpa dukungannya, proses tidak akan berjalan lancar.

Kita pun seandainya bisa memilih, lebih baik menjadi seseorang yang berada di depan atau di atas. Namun, bila semua orang menjadi yang di atas, siapa yang akan mendukungnya ? Menjadi talenan bukanlah pilihan yang terakhir. Ia sama mulianya dengan pilihan lain. Yang penting, walaupun hanya menjadi talenan, ia tetap memiliki integritas di dalam menjalani hidup ini…

Semoga kita dapat belajar dari sebilah kayu yang bernama talenan…


Jakarta, 7 Februari 2012

Salam hangat,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih untuk Ma tersayang…begitu banyak ilmu dan cinta yang Mama berikan dalam hidup ini…I loveeeeee U …muuaachh…

♥
Ide :
1. Talenan adalah alas untuk memotong sayuran atau daging di dapur. Talenan diperlukan agar bahan masakan yang akan kita potong dapat dipegang dengan posisi yang rata.
2. Talenan biasa terbuat dari kayu yang datar, tapi sekarang ada juga yang terbuat dari plastic atau marmer, khusus untuk membuat kue.
3. Talenan memang hanya pendukung di dapur, tapi tanpa talenan akan repot dalam persiapan bahan masakannya.

Selasa, 11 Oktober 2011

Art-Living Sos 2011 (A-10 Tak Ada Rotan

Dear Allz,

Sssttttt….apa kabaaarrr ??? Mumpung saya lagi rajiiiin nih…jadi sekarang mau ngobrol lagi. Menjelang hari Senin…menjelang awal minggu…Semoga teman dan sahabatku semua dalam keadaan sehat dan ceria, ya…

Biasanya nih…awal minggu, hari Senin, kita suka malas-malasan. Rasanya badan dan jiwa masih tertinggal di akhir pekan. Memang betul, beristirahat itu perlu setelah kita menggenjot tenaga selama sepekan. Tapi ingaaaat, tidak ada akhir pekan, kalau tidak ada hari Senin. Sama juga, tidak ada ada akar, kalau tidak ada rotan… Hehehe…itu pepatah nyeleneh. Aslinya sih bukan begitu, ya ?

Naaaaah, mumpung ini masih menjelang dan awal minggu, saya jadi ingin berbagi cerita ringan tentang rotan. Iya, kenal rotan kan ? Saya ingat juga ada satu lagu mengenai rotan . Hela rotan. Masih ingat ?

hela hela rotane rotane tifa jawa
jawae bebunyi
rotan rotan sudah putus sudah putus ujung dua
dua baku dapae
rotan rotan sudah putus sudah putus ujung dua
dua baku dapae


Sambil menyanyi lagu Hela Rotane, mari kita ngobrol sedikit tentang rotan. Setuju kah ?

Mariiiii…kita duduk rame-rame…dan kita nikmati bersama.

Jakarta, 9 Oktober 2011
Salam hangat,


Ietje S. Guntur

♥♥♥



Art-Living Sos 2011 (A-10
Start ; 10/8/2011 11:00:42 AM
Finish : 10/9/2011 4:57:00 PM


TAK ADA ROTAN


Hari Sabtu. Pagi-pagi. Setelah beberes urusan domestik, saya pun mengambil jeda . Me time ! Berleha-leha. Menikmati secangkir teh dan sekerat roti… hee…hee…asyiiiik nih. Tinggal cari bacaan saja. Majalah yang belum sempat dibaca . Ada beberapa . Saya bolak-balik sebentar. Tidak ada yang menarik. Lempar ke samping. Sekarang cari koran . Sudah beberapa hari saya hanya sempat menyapu judul-judulnya. Akhirnya mata tertambat pada berita tentang rotan. Halaah…ada apa lagi ini ? Pengrajin dari sentra rotan terbesar di Indonesia mengeluh karena kekurangan bahan baku rotan !

Degh !! Hati saya tergetar. Indonesia gitu loh ! Yang sudah menjadi salah satu penghasil rotan terbesar di dunia, bisa kekurangan bahan baku. Ada apa ?

Saya memandang berkeliling. Di rumah saya sekarang memang agak minim perabotan rotan. Hanya ada satu keranjang, satu tas, dan satu kursi kecil yang sudah lama. Padahal duluuuuu….

Ingatan saya melayang…jauuuh…ke masa kecil saya…

Ayah saya adalah penggemar berat perabotan dari rotan. Hampir seluruh ruangan di rumah kami selalu ada perabotan terbuat dari rotan. Sofa di ruang keluarga, kursi di teras, rak buku, buaian bayi ( saya pun pernah tidur di dalamnya ), bahkan ranjang tidur pun terbuat dari rotan. Itu belum termasuk keranjang, tikar anyaman yang menghampar di ruang keluarga dan menjadi alas untuk seperangkat kursi tamu , serta tempat duduk santai yang nyaris ada di setiap pojokan. Menurut ayah saya, rotan itu kuat dan ekonomis… hehehehe…( ini istilah ayah saya untuk mengatakan ‘murah’).

Saking hobbynya mengoleksi perabotan dari rotan, hampir setiap bulan ayah saya selalu mengajak saya ke tukang pengrajin rotan. Kadang hanya untuk melihat-lihat koleksi baru. Tapi tidak jarang juga beliau membuka dompetnya. Ada saja barang yang dibawa pulang. Entah kenapa, ayah saya selalu tergoda untuk membeli sesuatu dari rotan. Dan kalau tidak ada yang dibutuhkannya, maka beliau membeli pemukul kasur yang mirip dengan raket tennis, dari rotan juga…( seingat saya, di rumah ada tiga atau empat pemukul kasur…hihihiiii….).

Bila ibu saya menegur, karena rumah kami sudah mirip gudang penumpukan barang, ayah saya Cuma tersenyum dan berkomentar ,” Ya , kalau sudah kepenuhan, kasih saja sama siapa gitu !”…hihi…lucu bangeeett…Beli barang, akhirnya buat dibagikan lagi ke orang lain. Ya, memang begitulah keadaannya. Tidak jarang perabotan kami diangkut ke rumah teman atau sahabat ayah saya, karena di rumah sudah tidak ada tempat. Tapi tunggu…tidak sampai sebulan, saat ayah saya tergoda, maka perabot pengganti sudah muncul lagi di rumah kami !

♥

Ngomong-ngomong soal rotan.

Tidak hanya di rumah kami saja rotan menjadi bagian dari perlengkapan rumah. Di banyak rumah, terutama di Sumatra pada era tahun enampuluh hingga tujuhpuluhan, banyak perabotan rumahtangga terbuat dari kerajinan rotan . Apalagi hutan di Sumatra cukup banyak menghasilkan rotan, sehingga bahan baku mudah didapat .

Selain bahan baku yang mudah didapat dan harganya ekonomis, bahkan dapat dikatakan murah sekali, sifat rotan yang lentur dan mudah dibentuk menjadikan rotan sebagai pilihan yang tepat untuk membentuk berbagai perabotan. Rotan yang besar-besar diameternya dapat dijadikan kerangka kursi atau tempat tidur, sedangkan rotan yang kecil dan halus dapat dianyam untuk menjadi lembaran yang dibentuk untuk berbagai keperluan.

Saya ingat. Di rumah kami ada kursi kayu terbuat dari jati, yang alasnya dibuat dari anyaman rotan. Kursi itu enak diduduki karena jok alas duduknya dibuat dengan anyaman renggang. Yang jadi masalah, di celah-celah anyaman itu sering bersarang laba-laba dan sahabatnya kepinding atau tumbila. Jadi deeeh…sejak saya bisa melakukan tugas domestik, maka urusan membasmi tumbila dan sarang laba-laba di jok kursi merupakan keahlian saya…hiiks…

Selain itu, perabotan yang paling saya kenal terbuat dari rotan adalah pemukul kasur. Hampir setiap hari saya beraksi dengan pemukul kasur itu. Selain untuk membuat kasur kapuk menjadi empuk dan gembur, pemukul kasur juga bisa dimanfaatkan untuk mengait buah jambu dan rambutan di halaman. Ujungnya yang berpilin cukup kuat untuk menjadi alat pengait, dan biasanya cukup aman sehingga rambutan dan jambu tidak rusak karena tersangkut.

Rotan ini memang murah meriah.

Ada satu masa, ketika rotan menjadi primadona karena model dan bentuknya sangat variatif. Saat saya dan seorang sahabat menjadi anak kos di Jakarta, kami membeli rak rotan berwarna coklat tua, untuk tempat menyimpan barang-barang di kamar kos kami yang tidak terlalu luas. Saya juga pernah membeli kaca cermin yang bingkainya terbuat dari rotan. Bentuknya unik dan artistik . Tapi sayang, bukan hanya saya yang menyukai bentuknya. Sekawanan pencuri yang menyatroni rumah saya juga berminat terhadap cermin itu. Jadi deeeh…dia membawa oleh-oleh cermin berbingkai rotan dari rumah saya.

♥

Berbicara mengenai rotan, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai hasil hutan rotan merupakan salah satu pilar ekonomi bagi Indonesia. Hampir seluruh hutan belantara di Indonesia ditumbuhi oleh rotan. Bahkan di Kalimantan, di kalangan suku Dayak, rotan merupakan pilar ketahanan ekonomi rakyat. Rotan yang terdapat di hutan-hutan, menjadi penopang kehidupan rakyat, sekaligus menjadi bagian dari adat istiadat masyarakat setempat.

Ada lagi. Rotan tidak hanya kita kenal sebagai perabot rumahtangga. Di beberapa daerah dikenal juga masakan terbuat dari rotan. Halaaah !! Hebat betul . Tentu saja rotan yang diolah menjadi masakan, semacam sayur gulai ini terbuat dari rotan muda yang masih lunak. Dan konon kata yang sudah pernah mencicipinya, sayur rotan ini lezat cita rasanya. Saya sendiri belum pernah mencicipinya, tapi suatu saat bila saya berkesempatan berkunjung ke Kalimantan, saya akan berwisata kuliner, dan mencicipi sayuran rotan ini…hmh…nyam…nyam…

Yang sudah pernah saya cicipi dari rotan adalah buahnya. Memang tidak lazim orang menyantap buah rotan. Tetapi di beberapa daerah di Sumatra, buah rotan yang mirip salak ini memang dimakan. Rasanya agak asam kelat, mirip buah salak yang muda. Dicocol dengan garam dan irisan cabe rawit , atau digerogot begitu saja rasanya sudah mantap…hahaha…ketahuan banget kalau saya ini termasuk pemakan segala tanaman ya…hihi…Memang begitulah adanya, kalau menjadi anak yang dibesarkan di dekat rimba belantara. Apa saja yang berbuah dari pohon, pasti disantap dengan nikmat.

Di daerah lain, buah rotan ini tidak lazim menjadi buah santapan atau buah cemilan, karena memang agak sulit diperoleh. Jangan membayangkan pohon rotan seperti pohon kelapa atau pohon rambutan. Pohon rotan ini, walaupun termasuk keluarga besar palma jenis salak, atau nama kerennya adalah Calameae dari keluarga besar palma, tapi sama sekali tidak mirip pohon kelapa atau pohon salak. Hanya daunnya saja yang agak mirip pohon salak, dan buahnya juga berkulit agak bersisik seperti salak, tetapi caranya tumbuh sangat berbeda. Pohon rotan tumbuh bergelayut dan bergantung pada tanaman lain, seperti tali panjang berduri. Dengan duri inilah ia memanjat, kemudian tumbuh menjulur seperti tali yang kuat. Sebatang rotan dapat tumbuh hingga ratusan meter. Dan uniknya di dalam batangnya terkandung air, yang dapat kita minum untuk bertahan hidup di alam bebas. Itu sebabnya para petani rotan dapat masuk ke dalam hutan selama beberapa waktu tanpa kuatir kekurangan air minum….Luar biasaaa…!!

♥

Melihat keranjang rotan di ruangan kerja saya, bekas wadah parsel lebaran, saya merenung.

Sebatang rotan yang sederhana, begitu banyak fungsi dan pengaruhnya bagi kita. Walaupun ada pepatah ‘Tak ada rotan, akar pun jadi’, namun tetap saja rotan menjadi primadona . Okelah, dalam beberapa hal akar dapat menjadi pengganti. Tetapi nilai keindahan, nilai budaya dan nilai ekonomis yang diusung oleh rotan belum terganti oleh akar maupun tanaman bahan baku lainnya.

Saya selalu kagum pada rotan. Ia membawa semangat, harus menjadi nomor satu. Menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitarnya. Bermanfaat, dari mulai batangnya, buahnya, bahkan air di dalam batangnya. Bukan tidak mungkin pula suatu saat ditemukan manfaat lagi dari duri dan daun-daunnya. Siapa tahu ? Masih banyak yang belum tergali dari dirinya.

Seperti kita juga. Masih banyak hal yang belum tergali dari diri kita. Masih banyak yang harus kita pelajari dari diri kita. Agar lebih bermanfaat bagi lingkungan. Agar lebih bermanfaat bagi kehidupan ini.

Bahkan sebatang rotan pun dihadirkan di dunia ini dengan begitu banyak manfaat. Bagaimana dengan kita ?


Jakarta, 9 Oktober 2011

Salam hangat,


Ietje S. Guntur

Special note :
Terima kasih untuk Pa tersayang…yang telah mengajak aku ke pengrajin rotan dan belajar dari rotan. Juga adikku tersayang Titun, yang menjadi peneliti dalam bidang rotan…Dan sahabatku Dini , teman senasib di tempat kos yang ajaib…ingat waktu beli rak rotan di Pancoran ??? hahaha…pengalaman yang lucu banget…Terima kasih sudah menjadi inspirasi kehidupan dan tulisan ini….I love U allz…

♥♥

TAK ADA ROTAN…
Ide :
1. Berita dari suratkabar mengenai pengrajin perabotan yang kekurangan bahan baku rotan. Sementara di sisi lain ada stok rotan yang menumpuk. Sebuah ironisasi.
2. Peraturan pemerintah mengenai ekspor rotan, pembatasan ekspor rotan mentah, karena tidak meningkatkan nilai jual.
3. Rotan adalah hasil hutan Indonesia yang sangat dibutuhkan terutama untuk industry perabotan.
4. Apa makna rotan bagi kehidupan ini ?
5. Seperti kata pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Berarti rotan tetap menjadi primadona dibandingkan akar penggantinya.

Art-Living Sos 2011 (A-10 Nyanyi Sunyi Sang Elang

Dear Allz….

Awal bulan baru…awal semangat baru….Sebelum saya senyum-senyum lagi sendirian, saya mau menyapa dulu yaaa….Apakabar teman dan sahabatku semua ? Hmmh…biasanya tanggal muda seperti ini pasti senyumnya lebih lebar, ya…dan semoga semua sehat-sehat…… Alhamdulillah, kita masih diberi nikmat sehat…sehingga masih bisa tersenyum-senyum ….

Iya, lho…senyum itu pada dasarnya gratis. Tapi karena kadang kita masih berpikir-pikir, mau senyum atau mau memasang wajah dingin, yaaaa…jadinya senyum itu menjadi mahal…hehehe…

Nhaaa…daripada kita memikirkan senyum atau tidak, mendingan kita ngobrol saja, ya. Banyak hal di sekitar kita, yang bisa menjadi bahan obrolan yang bermanfaat. Lingkungan kita begitu kaya dengan berbagai makna, asalkan kita mau mencari dan menggalinya. Kita bisa terjun langsung di dalamnya, atau kita mau menjadi pengamat dari jauh. Keduanya dapat kita lakukan. Seperti ayam yang lebih suka melihat dari jarak dekat, atau elang yang dapat mengamati dan melihat dari jarak yang sangat jauh.

Sssttt…mumpung kita sedang ngobrol tentang elang, saya pun mau berbagi cerita mengenai elang. Barangkali ia merupakan satwa yang tak lazim bagi sebagian kita. Namun, lihat saja ….bagaimana elang menjadi bagian dari keseharian hidup kita…

Oya…bagi teman dan sahabat yang sedang menikmati akhir pekan saat ini, selamat menikmati liburan bersama keluarga…Dan bagi yang belum berlibur, selamat beraktivitas…semoga semua aktivitas dan langkah kita bermanfaat….

Selamat menikmati…semoga berkenan….

Jakarta, 7 Oktober 2011

Salam hangat,


Ietje S. Guntur

♥♥♥

Art-Living Sos 2011 (A-10
Friday, October 07, 2011
Start : 10/7/2011 12:09:42
Finish : 10/7/2011 14:39:18


NYANYI SUNYI SANG ELANG


Saya sedang berlibur. Tidak. Sebetulnya sedang ada waktu luang di tengah jadwal yang lumayan teratur…hehehehe…Biasalah…Ilmu jaman dulu, sambil menyelam minum air, itu wajib dijalankan. Terutama bila airnya memang enak untuk diminum…hihi…

Saat ini saya sedang melewati kawasan perkebunan teh di daerah Puncak. Sebetulnya ini di lereng-lereng perbukitannya, di antara gunung Gede, gunung Pangrango….dan di kejauhan gunung Salak, yang masih cukup sejuk segar hawanya. Tidak heran bila berpuluh tahun lalu orang Belanda membuat perkebunan teh di sini. Yang hasilnya masih dapat kita nikmati hingga saat ini.

Sambil menikmati pemandangan yang hijau royo-royo, menghirup udara yang-semoga-bebas polusi…mata saya dimanjakan oleh aneka pemandangan yang menyegarkan. Hijau di sana sini. Dan warna-warni pemetik teh yang bersiap untuk pulang dari tugasnya, setelah memetik pucuk teh sepanjang pagi.

Tiba-tiba mata saya terusik oleh pemandangan yang langka. Seekor elang tampak terbang tinggi di angkasa biru, dan sesekali berputar di dekat hamparan kebun teh yang menghijau. Elang itu kadang menukik, kadang mengepak sayap menyongsong angin. Sungguh indah. Seorang diri ia menguasai langit yang terbuka. Tanpa kuatir ada tangan iseng yang mengusik keasyikannya.

Saya terpana. Menikmati tarian elang yang indah. Menikmati kepakan sayapnya yang lembut. Memandang penuh kagum akan kemampuannya menguasai lingkungan sekitarnya.

Lama saya terpesona. Hingga akhirnya Si Elang perkasa terbang jauh. Dan menghilang di antara hutan lindung yang masih tersisa di puncak-puncak pegunungan sekitar kawasan Puncak. Hati saya pun seperti terbawa pergi. Entah kapan saya masih dapat melihat si Elang menari lagi…aachh…

♥

Sepanjang sisa perjalanan berikutnya, saya masih terkenang akan si Elang.

Entah berapa banyak lagi elang gunung yang tersisa di kawasan itu. Mungkin suatu masa dulu, para elang ini sangat bahagia dan merdeka hidup di kawasan pegunungan di sekitar Puncak, Cisarua, dan Bogor. Namun belakangan, dengan semakin banyaknya pemukiman dan menjamurnya kawasan wisata, elang-elang ini pun semakin jarang menunjukkan pamornya di tengah kehijauan alam lingkungannya.

Saya jadi ingat masa kecil dahulu.

Ayah saya sering mengajak saya untuk melihat-lihat elang yang terbang di angkasa. Ayah saya selalu mengingatkan, untuk tidak pernah menangkap elang dengan cara apa pun. Karena elang adalah burung merdeka dan hanya bisa hidup di alam bebas. Hanya di alam luas, di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi burung elang dapat bermanfaat bagi lingkungan.

Ketika ayah saya ditugaskan di kota-kota kecil di tengah rimba belantara Sumatra, kami masih bertempat tinggal tidak jauh dari hutan dan alam yang liar. Saat itu burung elang merupakan pemandangan sehari-hari. Di siang hari bolong, elang-elang ini dengan berani akan memasuki wilayah pemukiman. Bahkan tidak jarang, di depan mata kami ia turun dengan cepat, menukik di lapangan terbuka, dan menyambar anak ayam atau tikus yang lengah.

Saya dan teman-teman semasa kecil dulu, akan segera memasukkan induk ayam dan anak-anaknya ke kandang bila melihat elang berkeliling mencari mangsa. Kami akan saling mengingatkan, dan mengejar anak-anak ayam yang masih berkeliaran tanpa menyadari bahaya yang mengintai.

“ Cepat…cepaaaat..ada elang ! Masukkan ayam ke kandang !” begitu teriakan kami sambil buru-buru menghitung jumlah anak ayam yang berkeliaran di halaman . Teman yang tidak memiliki peliharaan ayam tetap saja ikut beramai-ramai…ikut berteriak-teriak…dan kadang ikut membunyikan segala perabotan seperti kaleng agar elang menjadi takut dan tidak jadi turun ke tanah…Waaah…seru juga.

Saya pernah berpikir, bagaimana elang yang terbang tinggi di langit sana, dapat memilih anak ayam yang akan menjadi santapannya. Pasti ia memiliki mata yang sangat tajam sehingga dapat melihat dari kejauahan. Tidak heran kalau kemudian ada ungkapan yang mengatakan, bahwa matanya tajam seperti mata elang…hehe…Dan memang, kalau kebetulan tidak dijaga, ada juga satu atau dua ekor anak ayam yang disambar dan menjadi mangsa elang. Yah…kalau sudah begitu mau diapakan lagi. Sudah nasib ayam menjadi santapan elang.

Ternyata elang tidak hanya doyan makan anak ayam. Ia pun gemar menyantap tupai dan tikus, terutama tikus berukuran jumbo yang agak besar. Itu sebabnya di areal persawahan yang luas pun kadang kita melihat burung elang berkeliling seperti sedang berpatroli. Dan kalau dilihat kecepatannya menukik, menyambar, dan membawa mangsanya, kita tidak akan menduga bahwa ia bisa secepat itu. Sungguh luar biasa.

Bagi petani, kedatangan elang untuk membersihkan tikus yang menjadi hama di sawah tentu menguntungkan. Memang, dibandingkan dengan menyantap anak ayam, kelihatannya elang lebih suka memangsa tikus. Entah dagingnya lebih gurih, entah karena perlawanan tikus terhadap elang tidak seperti perlawanan ayam. Betul, kadang-kadang induk ayam atau bapak ayam tidak rela kalau anaknya disambar begitu saja. Mereka masih akan berjuang dan mematuk kaki elang untuk mempertahankan anak-anaknya. Biasanya kalau sudah begitu, elang memilih untuk mengalah, karena dia lebih suka di angkasa daripada berjalan-jalan di tanah…Rupanya elang pun paham, kalau itu bukan teritorinya…!!

♥

Ngomong-ngomong soal elang.

Barangkali di masa sekarang kita tidak terlalu peduli dengan kehadirannya. Mau ada, mau tidak ada , hidup sudah bergulir tanpa kehadiran elang. Tapi lihatlah, apa yang sudah diberikan elang kepada kehidupan kita dan lingkungan sekitar kita.

Kalau boleh membongkar harta karun kita nih…Indonesia memiliki beberapa jenis elang. Yang telah dikenal luas dan memiliki nama tersendiri adalah Elang Hitam, Elang Brontok, Elang Merah dan Elang Jawa. Urusan per-elang-an ini memang bukan sekedar urusan burung-burungan. Bagi peminat dan ahli burung atau disebut ornithologist, urusan keberadaan satu jenis burung seperti elang ini membutuhkan penelitian yang lama dan referensi dari berbagai jenis yang mirip. Dan satu hal lagi, harus didaftarkan dengan jenis dan nama tersendiri agar diakui oleh dunia. Naaah, urusan nama saja pun ternyata ada lika-likunya. Simak saja !

Salah satu jenis elang yang cukup legendaris dan membutuhkan perjalanan sangat panjang untuk diakui dunia adalah Elang Jawa. Elang Jawa ini termasuk elang gunung, dan tidak begitu saja diakui keberadaannya. Semula elang ini dianggap sebagai keluarga elang brontok. Tapi setelah diteliti sejak tahun 1820, yang melibatkan dua ahli burung bangsa Belanda yaitu Van Hasselt dan Kuhl, kemudian seorang ahli burung bangsa Jerman yaitu O.Fissh dan seorang kolektor dan ahli burung Max Bartels maka akhirnya pada tahun 1924 Prof. Stresemann memberi nama mereka sebagai Spizaetus nipalensis bartelsi. Bayangkan, hampir seratus tahun untuk mendapatkan sebuah nama !

Tapi ternyata urusan nama tidak segampang itu, karena pada saat itu ia masih dianggap sebagai keluarga nipalensis. Masih ikut keluarga elang lain. Dan akhirnya….* ini betul-betul terakhir * pada tahun 1953 atas usulan D. Amadon untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, maka si Elang Jawa yang digolongkan sebagai elang gunung mendapat nama sendiri, yaitu Spizaetus bartelsi. Nama akhir bartelsi itu adalah salah satu penghormatan kepada Max Bartels .

Begitulah …betapa panjangnya urusan nama untuk seekor elang…!!!

♥

Cerita elang tidak berhenti sampai di situ.

Konon si Elang ini pun menginspirasi para cerdik cendekia dan para petinggi di berbagai belahan dunia . Keanggunannya di angkasa. Keberaniannya, kejeliannya, kecepatan dan kecekatannya tidak sekedar mempesona, tetapi juga menjadi semacam lambang keberanian dan kekuatan. Ungkapan seperti gagah seperti elang, menjadikan elang sebagai ikon kepemimpinan. Bahkan sejak lama kita ketahui, bahwa elang sering dijadikan simbol kekuatan dan kekuasaan. Raja-raja jaman dahulu banyak yang memelihara elang, tidak sekedar sebagai hiasan, namun sebagai petunjuk jalan bila mereka mengadakan perlawatan.

Walaupun elang bukan termasuk burung migrasi, tetapi kemampuannya untuk menguasai teritori yang luas membuatnya menjadi semacam indikator mengenai suatu wilayah tertentu. Ia juga termasuk golongan ‘pejabat tinggi’, karena selalu tinggal di puncak-puncak pohon yang tinggi di atas gunung – yang kalau bisa paling tinggi pula. Mereka memang termasuk kelompok eksklusif dan penyendiri, mirip pertapa yang mengamati situasi dari kejauhan. Namun di sisi lain, ia pun merupakan petarung yang hebat. Elang akan mempertahankan teritorinya bila ada musuh yang menyerang. Bahkan pada jaman dahulu, elang yang telah dilatih oleh kerajaan akan membela tuannya hingga titik darah penghabisan bila ia melihat tuannya terancam.

Barangkali, karena alasan-alasan fisik maupun filosofis itulah burung garuda yang menjadi simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia diambil dari perwujudan burung elang gunung atau elang jawa.

Memang benar. Burung garuda, yang selama ini menjadi simbol kemerdekaan dan kekuatan bangsa Indonesia adalah elang Jawa. Ia tidak sekedar menjadi mitos, tetapi telah menjadi lambang persatuan Negara dan bangsa Indonesia. Dan sekarang, karena kelangkaan elang yang tergusur habitatnya, maka sejak tahun 1992 elang jawa dimasukkan ke dalam kelompok satwa langka. Artinya elang jawa ini dilindungi oleh undang-undang, dan tidak diijinkan untuk dipelihara secara pribadi, kecuali untuk tujuan penelitian.

♥

Mengenang elang yang terbang di kawasan Puncak , membuat saya termenung.

Hanya seekor elang . Tapi kehadirannya mampu mempersatukan sebuah bangsa dalam satu Negara. Dalam kesunyiannya, seekor elang jawa yang gagah telah menjadi garuda. Dan ia mampu menjadi sebuah simbol Negara yang merdeka, yang berdaulat dan diakui keberadaannya oleh dunia.

Seandainya kita dapat belajar dari seekor elang. Yang tidak hanya berani terbang melayang dan menyambar tikus serta anak ayam, tetapi juga mengusung angin dan menjaga lingkungan agar tetap terjaga eksistensinya…

Semoga….!!

Jakarta, 7 Oktober 2011
Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Special note :
Terima kasih untuk Pa tersayang, yang telah mengajarkan kehidupan elang kepadaku…dan untuk teman-teman masa kecil yang telah bersama-sama menikmati hidup bersama elang…Terima kasih juga kepada my Pangeran Remote Control yang telah membawa aku dalam perjalanan menelusuri jejak elang…I love U allz…

♥♥
Ide :
1. Burung elang di daerah Puncak Pass…semakin langka.
2. Hari ini aku melihatnya berputar-putar di atas perkebunan teh Gunung Mas.
3. Apa fungsi elang bagi kehidupan kita dan ekologi ?

Selasa, 04 Oktober 2011

Art-Living Sos 2011 (A-9 Nyanyi Rindu Pohon Randu

Dear Allz….

Hehehe…belum menyapa, saya sudah nyengir duluan…Kebiasaan yang sulit dihilangkan niiih….Aaaah, mau Tanya-tanya dulu aja , ya : Apa kabar semua teman dan sahabatku ?

Semogaaaa…di hari baik dan bulan baik ini, semua teman dan sahabatku dalam keadaan yang sehat-sehat dan ceria. Sehat dan ceria itu kan artinya sehat lahir batin. Tidak hanya sehat di luar, sehat fisiknya, hatinya juga riang gembira….Kata para ahli, hati yang gembira membuat kita sehat dan awet muda. Percaya khaaan ? Jadi memang sebaiknya, kita berusaha untuk selalu gembira…paling tidak ya, tersenyumlah kepada saya…

Eeeeh, lama juga ya kita nggak ngobrol-ngobrol ? Seminggu…dua minggu…waaah, hampir sebulan saya tidak mengudara. Nggak usah pakai maklum-maklum deh…sudah ketahuan alasannya…hehehe. Alasan si kaki seribu yang suka pergi kemana saja…mengikuti arah angin…Hmmh…asalkan arah anginnya tetap terarah, tidak asal jalan dan asal terbang kian kemari…Seperti serat pohon randu yang diterbangkan angin…

Ahaaaa….mumpung ngomong tentang serat pohon…eh, maksud saya serat buah randu. Sudah pernah tahu ? Itu lhooo…si kapuk yang jadi teman tidur kita, pengisi bantal dan pengantar ke alam mimpi. Si kapuk randu ini punya banyak cerita, yang barangkali terlewatkan oleh kita. Kali ini, boleh saya sampaikan cerita tentang sebatang pohon randu ?

Kalau boleh….mariiiiiii…kita duduk-duduk dulu…santai dulu…sambil menunggu waktu bergulir. Sambil menunggu akhir pekan yang sudah di depan mata. Beginilah ceritanya….hehe…

Selamat menikmati…semoga berkenan….


Jakarta, 29 September 2011
Salam hangat,


Ietje S. Guntur



♥♥♥


Art-Living Sos 2011 (A-9
Thursday, September 29, 2011
Start : 9/29/2011 3:22:12 PM
Finish : 9/29/2011 4:57:39 PM


NYANYI RINDU POHON RANDU…


Saya sedang berlibur. Eeeh…tepatnya sedang bertugas, sambil menikmati suasana…Mirip liburan. Biasa begitu…sambil menyelam minum air…hehe… Menikmati kebersamaan dengan sahabat-sahabat saya. Sambil menjalankan tugas, kami pun dapat bersantai menikmati suasana dari atas bukit. Maklum tempatnya juga asyik untuk berlibur. Namanya Bukit Randu, di Lampung.

Sesuai dengan namanya, lokasi tempat saya dan sahabat-sahabat saya menginap memang merupakan kawasan yang banyak pohon randu. Pohon yang tinggi menjulang, dengan buah-buah yang bergantung seperti lampu hias berwarna kehijauan. Di bulan Agustus seperti ini, pohon randu atau dikenal juga dengan sebutan pohon kapuk, memang sedang musim buah. Tapi berbeda dengan pohon lain yang enak dimakan buahnya, justru pohon randu ini lebih bermanfaat serat buahnya untuk pengisi kasur dan bantal.

Entah kenapa, setiap kali melihat pohon randu, dengan buah-buahnya yang rapi berjejer di dahan dan rantingnya, saya selalu merasa terharu. Pohon yang tampak kokoh, tidak banyak berhias daun. Sekilas tampak gersang, namun selalu dipenuhi dengan buah yang bermanfaat. Angan saya pun melayang…melewati lembah dan bukit…melewati puncak bukit Randu yang temaram di dalam pelukan malam….

♥


Ingat pohon randu, saya jadi ingat ketika pertama kali melihat buah randu pecah dan seratnya bertebaran seperti salju. Sebagai anak yang dibesarkan di Sumatra saya nyaris tidak pernah memperhatikan kehadiran pohon randu di sekitar saya. Maklum, di Sumatra terlalu sering musim hujan, sehingga buah kapuk selalu tampak hijau, tapi tidak menarik untuk dipetik. Bagi saya, dan sebagian besar anak-anak pada masa itu, pohon yang menarik adalah pohon yang bisa dipanjat dan dipetik buahnya. Pohon randu ? Apanya yang mau dipanjat ? Buah apanya yang mau dipetik ?

Ketika liburan sekolah saat masih SD, kami berkunjung ke kampung halaman ayah saya di Jawa . Saat itu bulan Agustus, dan sedang terik-teriknya cuaca di sebagian besar pulau Jawa. Saya melihat ada sebatang pohon yang tinggi sekali. Dan tiba-tiba ketika angin bertiup, buahnya seperti meledak…lalu serat kapuk itu bertaburan. “ Itu pohon randu. Pohon kapuk ! Yang isinya untuk bantal di rumah,” kata ibu saya menjelaskan, melihat saya terheran-heran.

Betul. Saat itu saya hanya terpana. Kagum. Belum pernah saya melihat pohon kapuk yang berbuah dan pecah seperti ini . Dalam hitungan detik, saya tersadar. Terbakar oleh kegembiraan. Lalu bersama dengan anak-anak kecil lainnya, kami berlarian mengejar serat-serat kapuk yang beterbangan kian kemari . Rasanya sangat senang ketika serat kapuk mendekat, lalu ketika hampir mencapai ketinggian yang terjangkau, ditiup lagi dengan sekuat tenaga….Serat kapuk akan terbang lagi semakin tinggi…dan kami tidak bosan mengejarnya sampai kelelahan sendiri…hehehe…

Begitulah…masa libur saya di Jawa, dan di sudut-sudut kota Jakarta yang kala itu masih mirip dengan kampung besar hampir setiap hari saya isi bersama teman-teman sebaya, sambil berkejar-kejaran dengan kapuk yang beterbangan. Saat itu juga saya baru tahu, bahwa kapuk yang setiap malam menemani saya tidur di dalam buntalan kasur dan bantal serta guling berasal dari buah pohon randu.

♥

Memang kapuk, atau randu yang nama kerennya Ceiba pentandra adalah bahan utama pengisi kasur atau tilam untuk tidur. Kapuk ini memang tanaman tropis, dan berasal dari Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Mungkin kedatangannya ke Indonesia juga berkat perjalanan para penjelajah samudra, yang kemudian mengembangkannya di Nusantara.

Seratnya yang empuk dan dapat menahan berat tubuh serta mengalirkan udara di antara tumpukan seratnya membuat kapuk menjadi pilihan utama yang cukup aman dan nyaman dibandingkan dengan bahan sintetis. Kapuk ini dapat bertahan cukup lama sebelum dia menjadi dingin atau mengeras. Biasanya, untuk membuat kasur dan bantal kapuk menjadi empuk dan gembur, maka kita harus sering menjemurnya di bawah sorotan panas matahari. Setelah kapuk di dalam buntalan atau sarung kasur menjadi kering, maka udara akan mengalir lagi di sela-selanya, dan kasur pun empuk kembali.

Jadi ingat juga niiiiih….duluuuu banget, jaman saya SMP dan SMA, tugas menjemur kasur setiap minggu adalah tugas saya. Kadang dibantu oleh salah seorang adik saya. Entah karena saya kelebihan tenaga, atau karena memang jatah anak sulung…( hahaha)…ayah saya selalu menyuruh saya mengangkut kasur kapuk itu untuk dijejer di halaman dan dijemur. Lalu…sambil menunggu kapuk mengering, maka kami akan memeriksa celah-celah jahitan buntelan atau sarung kasur. Biasanya di situ suka bersarang kepinding atau tumbila, yang mirip kutu, dan kadang iseng menggigiti manusia.

Sambil menjemur kami juga harus menebah-nebah kasur. Dipukuli dengan tebah terbuat dari jalinan rotan yang mirip dengan raket bulutangkis. Tujuannya agar debu yang melekat dan segala mahluk penghuni kasur akan pergi…hehe…Selain itu tentu agar kasur menjadi empuk. Memang…setelah dijemur dan dipukuli, malamnya saya akan tidur lebih nyenyak. Dengan kasur lembut dan hangat. Dan tentu saja…dengan mimpi yang lebih berwarna…hmh….

Dipikir-pikir, lucu juga yaaaa…rekreasi hari libur kok menjemur dan memukuli kasur kapuk…hahahaha…

♥

Ngomong-ngomong tentang pohon randu , memang sekilas pohon ini biasa saja. Bukan pohon idaman produktif yang bisa diambil kayunya , semisal pohon jati atau kayu yang dapat dimanfaatkan untuk rumah dan perabotan lainnya . Atau seperti pohon beringin rindang yang sering menjadi tempat berteduh.

Pohon randu yang nyaris gersang, dan berdaun agak jarang, membuat dia hanya ditanam untuk dipanen sekali setahun. Sebagai pengisi kasur dan bahan pelapis lainnya. Baru belakangan, setelah diketahui manfaatnya, dia mulai ditanam secara komersial dan menjadi komoditi andalan untuk meningkatkan ekonomi. Di beberapa daerah di Jawa, kapuk merupakan salah satu penyumbang ekonomi bagi perkembangan daerah. Sehingga namanya pun dikenal sebagai kapuk Jawa.

Khusus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, para petani sering memanfaatkan siklus pohon randu sebagai penanda musim. Yaitu musim tanam dan musim panen. Biasanya di bulan-bulan Januari-Maret pohon randu akan mulai berdaun hijau, karena dia banyak menyerap air dari musim hujan. Para petani yang mengamatinya akan mulai bercocok tanam, terutama padi mengikuti siklus daun pohon randu ini.

Dan ketika pohon randu mulai merontokkan daun-daunnya, saat buahnya mulai matang, maka pada saat itulah petani akan memanen hasil sawahnya. Musim panen biasanya dilakukan pada bulan Juli sampai September atau awal Oktober, pada saat kemarau, di mana matahari sedang memancar dengan teriknya .

Berabad-abad kebiasaan mengikuti siklus randu ini membuat para petani di Jawa juga menanam pohon randu di halaman rumahnya, atau di tegalan sawahnya. Bahkan hingga saat ini, ketika musim sudah berubah-ubah, dan jenis padi yang ditanam tidak membutuhkan waktu panjang, para petani masih bersahabat dengan pohon randu. Unik juga, ya…

♥

Bertahun kemudian, selama tinggal di Jakarta, saya masih suka mengamati pohon randu. Memang sekarang jumlahnya tidak sebanyak bertahun-tahun lalu. Pohon randu dan banyak pohon lainnya harus berebut tempat dengan perumahan penduduk. Tapi seringkali, di sela-sela rumah yang berhimpitan, tampak sebatang pohon randu menjulang, dan sesekali melepaskan serat kapuknya yang mirip salju. Dan di antara ranting-rantingnya biasanya burung-burung akan berkicau riang, sambil mematuk ulat-ulat pohon randu yang konon cukup lezat cita rasanya…

Ahaaa…Barangkali juga, karena bentuknya yang gersang itu, pohon randu atau kapuk justru banyak member ilham bagi seniman. Banyak puisi dan lagu yang menceritakan tentang pohon randu ini. Kadang-kadang sisi jiwa seni saya pun tergerak melihat pohon randu. Entah mengapa, kegersangan pohon randu terkadang membuat hati tergelitik. Seperti melihat seseorang yang sedang kesepian di tengah keramaian. Aaachh…romantis sekali…

Itu sebabnya juga saya sering merasa sedih bila melihat pohon randu ditebang tanpa alasan yang jelas. Mungkin dia memang tidak produktif. Tapi saya yakin burung-burung masih suka bertengger dan bernyanyi di dahannya sambil mematuk-matuk ulat yang menjadi makanannya.

Seperti saat ini, ketika melihat sebatang pohon randu di Jakarta Selatan, yang ditebang dengan semena-mena. Hati saya rasanya teriris. Ingat burung-burung yang bernyanyi riang. Ingat petani yang mengandalkan siklus randu untuk penanda musim , ingat keceriaan masa kanak-kanak ketika berlarian mengejar serat-serat buahnya…oooh…

Menatap pohon randu yang telah rebah, hati saya pun tergugah. Usia perjalanannya memang telah usai. Tapi selama dia berdiri gagah di sana, dia telah memberikan kehidupan banyak sekali kepada mahluk lain di sekitarnya. Bahkan ketika dia telah menjadi potongan kayu-kayu kecil, ia masih kuat untuk dibuat pagar atau bahan bakar untuk masak.

Saya termenung. Sebatang pohon randu yang biasa-biasa saja telah memberi hidupnya dengan banyak manfaat. Sekarang…apa yang sudah kita berikan kepada kehidupan ini ? Apakah kita sudah memberikan kegembiraan kepada lingkungan kita ? Apakah kita sudah menjadi panutan bagi sekitar kita ? Apakah kita cukup kuat untuk menjadi pelindung dan pagar bagi orang yang kita sayangi dan kita cintai ???...

Aaaah…semoga saja…Ada ilmu yang dapat kita pelajari dari sebatang pohon randu yang bernyanyi rindu…


Jakarta, 29 September 2011

Salam hangat,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih untuk sahabat perjalananku…mb Irma dan Mey…Ingat saat yang lucu di Bukit Randu, ya….hehehehe…sangat inspiratif……Terima kasih juga untuk sebatang pohon randu di Senayan, yang menjadi inspirasi tulisan ini…

Senin, 19 September 2011

Arti sebuah Blog...

Jakarta, 19 September 2011

Sudah lama saya tidak membuka-buka blog yang satu ini...Padahal dulu hampir setiap minggu saya posting satu atau dua artikel...Catatan perjalanan hidup yang saya alami setiap hari. Rasanya kalau tidak menulis sehari, seperti ada yang hilang.

Belakangan, karena adanya jejaring sosial yang lain, yang real time dapat dilihat dan dikomentari oleh teman-teman, saya pun agak mengabaikan blog yang satu ini. Padahal bila saya runut ke belakang, justru dengan adanya beberapa blog sebelumnya, saya jadi semangat menulis.

Blog tidak sekedar tempat mencurahkan isi hati dan pikiran saya. Blog juga tempat saya belajar, dan mencari informasi yang terkait dengan minat saya pada satu saat. Beruntung sekali, saya masih mengalami jaman blog-blog seperti sekarang, sehingga banyak buah pikiran saya yang bisa tertuang dan 'moga-moga' bermanfaat untuk orang lain.

Saya bayangkan, seandainya ibu saya yang luar biasa kreatif sudah mengenal blog. Barangkali beliau akan menulis semua resep masakan yang dikuasainya dan telah diujicobanya. Barangkali beliau juga akan menuliskan pengalamannya yang unik dan luar biasa setelah melewati banyak jaman semasa hidupnya. Pasti akan banyak sekali orang yang belajar dari pengalaman beliau, seperti saya.

Sekarang giliran saya yang menulis. Saya tidak terlalu bisa memasak. Tapi dengan pengalaman yang sedikit itu saya berhasil menulis di blog, My Lovely Kitchen...yang niatnya akan diisi dengan banyak resep karangan dan percobaan sendiri...

Pokoknya dengan blog, saya bisa menulis apa yang terlintas di kepala saya. Apa ide yang muncrat dari benak saya. Bahkan, saya juga bisa mempublikasikan beberapa foto hasil jepretan kamera saku saya...hehe..Bersyukur...saya masih punya kesempatan untuk itu.

Di malam hari Senin yang agak dingin ini saya duduk diam...membaca banyak tulisan saya di blog ini...Alhamdulillah...ada jejak yang barangkali akan saya tinggalkan untuk dinikmati oleh banyak orang. Eeeh, saya tidak mau kemana-mana...tapi mana tahu, suatu hari nanti toh semua orang akan pergi ke sana...Siapa yang duluan, dialah yang meninggalkan jejak...Dan jejak para blogger, ada di dalam blog yang akan 'abadi', selama provider dan sistemnya masih mendukung. Oya...dua blog saya terdahulu ada yang sempat lenyap ...yaitu 360 yahoo, yang merupakan blog pertama saya, yang memuat banyak sekali artikel saya. Dan yang satu lagi adalah friendster, yang sekarang sudah nyaris ditinggalkan oleh pengisinya...hiiikss...

Tidak apa. Ada musim, ada jaman. Dan semoga saja di lain kesempatan masih ada tulisan dan ide saya yang bisa mengalir di blog ini...

Salam hangaaattt,

Ietje

Sabtu, 27 Agustus 2011

Art-Living Sos 2011 (A-8 Sirsak...si Kantung Asam

Dear Allz…

Apa kabaaarrr…teman dan sahabat-sahabatku ??? Sehat-sehat khaaannn ? Menjelang akhir bulan Ramadhan ini memang semakin banyak godaan…Selain godaan kesehatan yang boleh jadi menurun, juga godaan belanja yang memajang diskon besar-besaran…hehe…

Apakah teman dan sahabatku saat ini sedang menikmati liburan ? Atau justru sedang jungkir balik menikmati rumah yang ditinggal mudik oleh asisten rumah ? Atau teman dan sahabatku juga sedang dalam perjalanan mudik ke kampung halaman ? Di mana pun sahabatku berada…saya hanya dapat berdoa, semoga selamat di perjalanan hingga tiba di tempat tujuan…

Yang penting, jaga kesehatan. Bagi yang menjalankan ibadah puasa, tetaplah jaga diri dengan makanan dan minuman yang bergizi. Jangan mudah tergoda dengan makanan yang justru dapat menurunkan daya tahan tubuh. Salah satu yang paling penting adalah tetap mengkonsumsi buah-buahan segar, agar tubuh kita tetap fit pada saat merayakan hari kemenangan beberapa saat lagi.

Naaaah, mumpung kita ngobrol tentang kesehatan dan buah-buahan…saya mau cerita sedikit tentang si Kantung Asam yang hebat…Haaa ??? Kantung asam ? Apalagi itu ? Ayooo tebaaaakkkkk…!!! Buah apakah itu gerangan ??? hihiiiii….

Daripada penasaran…saya sajikan saja buah ini kehadapan teman dan sahabatku. Mana tahu, nanti juga menjadi inspirasi untuk menu berbuka puasa….Silakaaaan…selamat menikmati…..

Semoga berkenan…


Pojok Bintaro, 27 Agustus 2011
Salam hangat,


Ietje S. Guntur


♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-8
Rabu, 24 Agustus 2011
Start : 8/24/2011 11:52:18 AM
Finish : 8/27/2011 9:58:41 AM



SIRSAK …SI KANTUNG ASAM…

Hari libur. Hari bersantai. Setelah beberes rumah, termasuk menata ulang koleksi buku yang semakin merambah setiap sudut kamar, saya pun berleha-leha. Selonjoran di sofa, yang sudah semakin kehilangan keempukan bantalannya….tapi tetap nikmat untuk merebahkan diri dan mencari inspirasi.
Tiba-tiba Pangeran Remote Control mengajak saya ke luar. “ Jalan-jalan, yuk…Bosan nih di rumah .”
“ Adduuuhh…lagi pengen selonjoran !” sambut saya , kurang antusias. Begini niiih…giliran kita pengen selonjor, beliau pengen mengukur jalan…hiikss…
“ Lihat-lihat toko bangunan. Ada yang mau dibeli.” Bujuknya lagi. Waah, toko bangunan ? Mau beli apa, ya ? Otak saya langsung berputar cepat. Mengidentifikasi keperluan di rumah.
“ Oke deeeh…kayaknya ember cucian juga mesti ditambah. Yang lama sudah ada yang pecah. Sama mau nambah stok lampu. Yang di luar sudah mulai pudar cahayanya.” Sambut saya. Sekali ini dengan antusias. Begitulah…kalau urusan keperluan rumah, semangat saya langsung bangkit... Dan dalam sekejap saya melompat. Bersiap-siap…lalu dengan gesit mengikuti Sang Pangeran…hihiii…

♥

Puas belanja, kami pun mampir di sebuah restoran yang terdapat di lingkungan pertokoan itu. Tanpa terasa, tadi lebih dari dua jam berkeliling , pegang ini itu…dan akhirnya menyisakan kaki yang pegal dan tenggorokan yang terasa haus.
“ Mau pesan minum dulu, ach…!” usul Pangeran sambil mengambil daftar menu. “ Aku pesan jus sirsak !”
“ Hmh…aku jus apa, ya ?” saya masih berpikir-pikir. Jus sirsak atau jus semangka ?
“ Udah, samakan saja,” bujuk Pangeran lagi. Saya menggeleng. Di siang hari bolong dengan rasa haus yang menyengat ini saya butuh sesuatu yang lebih kuat. Dan akhirnya saya memilih jus campur-campur…terdiri dari 3 jenis buah-buahan…termasuk si Sirsak tadi…hehe…yang konon katanya dapat mengembalikan stamina seketika.
Tidak lama pesanan pun datang. Pangeran menyeruput jus sirsak kegemarannya, dan saya menikmati jus 3 rasa yang segar dan nikmat… hmmh…nyam-nyam…Masing-masing tenggelam di dalam pilihannya. Dan sejenak melupakan kelelahan kaki yang pegal setelah menyusuri toko begitu lama.

♥

Ngomong-ngomong soal jus sirsak, sebetulnya duluuuuu sekali itu adalah kegemaran saya. Bukan hanya jus, tapi buah sirsak yang dipetik langsung dari pohon, bisa saya makan dengan santai. Hanya dengan merobek kulitnya yang menggerutul dan tidak mulus dengan hiasan duri-duri halus yang lunak. Lalu menarik isinya yang putih dan berasa asam manis segar. Buah itu dimakan begitu saja, dengan sedikit rasa getah yang masih melekat.
Saya ingat, semasa masih tinggal di Medan, di halaman rumah kami ada beberapa batang pohon sirsak yang buahnya sangat lebat. Tidak pernah berhenti berbuah sepanjang tahun. Bahkan saking lebatnya, buah itu sampai hampir menyentuh tanah. Begitu mudahnya berbuah, sehingga kami selalu panen buah sirsak hampir setiap hari. Dan ibu saya yang kreatif pun sering mengolahnya menjadi minuman yang segar dan lezat cita rasanya.
Setiap tamu yang datang, bila ada buah yang matang, akan disuguhi jus sirsak. Mereka biasanya sangat senang, karena rasa dan aromanya sangat menyegarkan. Tidak jarang mereka meminta tambahan…karena mereka tahu di pohon masih banyak yang bergantungan.
Tak hanya untuk tamu di rumah. Ketika saya merayakan ulangtahun di sekolah TK , ibu saya membawakan sirup sirsak buatan sendiri. Pada saat itu saya merasa sangat aneh, karena biasanya sirup yang terkenal di Medan adalah sirup buah markisa. Tetapi teman-teman saya sekelas, yang belum pernah merasakan sirup sirsak berebutan dengan hebohnya… Olalaaa…..Ternyata sirup sirsak buatan ibu saya memang luar biasa…
Kadang-kadang…bila sedang rajin dan ada waktu, ibu saya juga membuat selai dan dodol dari buah sirsak ini. Kata ibu saya, dari pada ngemil permen yang hanya berisi gula, lebih baik makan dodol sirsak…Padahal sih, saat itu saya kurang doyan dengan dodol yang berasa asam manis itu. Lebih enak permen gula kelapa yang manis gurih…hahaha…dasar anak-anak…
Ketika saya melanjutkan kuliah ke Bandung, ada saat-saat saya merindukan buah sirsak yang segar dan harum, langsung dipetik dari pohonnya. Tapi apa boleh buat, di sini tidak ada tetangga yang memiliki pohon sirsak seperti di rumah kami . Saya ingat, pernah bilang begini ke Budhe saya ,” Di mana ya, bisa minta buah sirsak ?”
Budhe saya, kala itu melihat wajah saya dengan heran. “ Minta buah sirsak ? Mana ada. Ya, beli saja di pasar .”
Saya sempat heran. Kok buah sirsak dijual di pasar ? Dulu, begitu berlimpah buah sirsak di halaman rumah saya atau rumah tetangga , sehingga siapa pun yang menginginkannya boleh memetiknya sendiri. Sesuai dengan keperluannya. Sekarang saya harus membeli di pasar ? Alamaaakk… sedihnya… Bukan hanya soal membeli, tapi juga kondisi buahnya kadang sudah layu dan tidak segar lagi…uuuh…

♥

Berbicara mengenai buah sirsak ini , sebetulnya buah ini bukan asli Indonesia. Dia berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Buah sirsak yang berasal dari kata zuurzak alias kantung asam – dalam bahasa Belanda, diimport oleh pemerintah Hindia Belanda ke Nusantara sekitar abad 19. Itu juga sebabnya buah sirsak ini atau nama latinnya Annona muricata L dikenal masyarakat dengan sebutan buah nangka Belanda atau durian Belanda.
Kecocokan lahan dan cuaca membuat tanaman import ini mudah disebarkan di seluruh Nusantara. Sehingga di berbagai daerah pun buah ini beradaptasi dengan nama-nama seperti nangka sebrang, nangka landa (Jawa), nangka walanda , sirsak (Sunda), nangka buris (Madura), srikaya jawa (Bali), deureuyan belanda (Aceh), durio ulondro (Nias), durian betawi (Minangkabau), serta jambu landa (di Lampung).
Selain di tanam di halaman rumah, buah sirsak ini juga dapat ditanam secara komersil untuk diambil buahnya. Tinggi pohonnya yang dapat menjulang hingga 7-9 meter membuat tanaman ini juga cocok sebagai tanaman pelindung. Konon pohon sirsak bisa berbuah cukup lama hingga 15-20 tahun. Dan ternyata, dari pembentukannya buah sirsak bukan buah sebenarnya, alias kumpulan buah-buah ( buah agregat) dengan biji tunggal yang saling berhimpitan dan kehilangan batas antar buah. Dalam bahasa modern sekarang barangkali bisa juga disebut buah apartemen…alias satu gedung banyak kamar…huehehe...* Mengarang Mode On *..
Karena rasanya memang segar dan maknyus, dan belakangan juga diyakini memiliki banyak khasiat untuk kesehatan, maka buah yang tadinya terhampar begitu saja di halaman rumah saya sudah naik kasta menjadi minuman yang bergengsi. Tidak hanya di warung dan restoran, tetapi sudah tersedia juga di hotel-hotel berbintang dengan nama keren Soursop Juice.
Sssttt…bukan hanya rasa segar saja yang membuat si Kantung Asam ini naik kelas… Buah sirsak mengandung banyak karbohidrat, terutama fruktosa. Kandungan gizi lainnya adalah vitamin C, vitamin B1 dan vitamin B2 yang cukup banyak. Bahkan bijinya yang beracun dapat digunakan sebagai insektisida alami, sebagaimana biji srikaya. Naah…hebat khan ?
Daunnya ? Itu pun sangat bermanfaat. Akhir-akhir ini cukup santer diberitakan bahwa daun sirsak dapat menjadi obat anti kanker. Dan secara empiris sudah cukup banyak bukti yang akurat…Wooww…!! Pantesan saja, sekarang si Soursop alias Kantung Asam ini jadi inceran. Dia pun tidak lagi dipandang sebelah mata. Tidak bisa lagi bisa diminta dengan suka rela ke rumah tetangga…hmmh…

♥

Melihat sisa jus sirsak di gelas Pangeran Remote Control , saya merenung.
Si Kantung Asam alias buah Sirsak hanya buah sederhana yang bisa tumbuh di mana saja di Indonesia. Dia tidak manja dan tidak butuh perlakuan khusus. Dia pun tidak repot-repot menunggu musim seperti banyak saudaranya yang menjadi buah musiman. Tapi khasiat yang dibawanya sangat luar biasa…dan sangat banyak manfaatnya…
Barangkali kita bisa belajar dari guru kehidupan ini. Si Kantung Asam asal mancanegara yang membumi dengan selera Nusantara. Tak hanya itu, dia pun memberi harapan bagi banyak penderita penyakit mematikan semacam kanker.
Dia luar biasa…tapi toh tetap sederhana. Tetap buah sirsak yang kulitnya tidak mulus. Tetap buah sirsak yang rajin berbuah dan tak putus memberi hasil sepanjang tahun.
Seandainya saja…kita memiliki ilmu seperti ilmu sirsak, ilmu si Kantung Asam…yang dapat bermanfaat setiap hari, setiap saat, dari segenap tubuh dan intisarinya…Yang rela memberikan tanpa pamrih dan berharap untuk kembali lagi…
Semoga saja…

Jakarta, 27 Agustus 2011
Salam hangaaat,

Ietje S. Guntur

Special note :
Terima kasih untuk Ma tercinta…ilmu sirsak yang dulu Mama berikan ternyata mengalir hingga saat ini…Maafkan aku, karena pernah marah-marah disuruh minum jus sirsak setiap kali kena pilek atau flu…hehe…* Dulu bosaaan banget !*…Terima kasih juga untuk sahabat-sahabat kecilku di Medan dulu…Anton, Tiar, Donty, Pendi, Agus, Len, Ana, Yul…yang menyantap sirsak seperti menyantap kue…Pantesan kita dulu tahan bantingan, ya…ternyata kita sudah dilindungi oleh vitamin dari buah yang luar biasa..:D