Sumber : FB Wall – Ietje S. Guntur
Wednesday, August 24, 2011
...MULUT manusia hanya SATU...melaluinya MASUK makanan dan minuman, dan melaluinya pula KELUAR kata-kata....Oleh sebab itu pilihlah MAKANAN dan MINUMAN yang akan menghasilkan KATA-KATA yang BAIK dan BERMANFAAT...* ...inspirasi sahur mode on ...untuk kajian Food Psychology *
♥
Wednesday, August 24, 2011
...tidak ada satu ilmu, ajaran, atau faham yang dapat MELURUSKAN atau MENYESATKAN kita...KECUALI...hati, pikiran, dan iman kita MENGHENDAKI dan MENYETUJUINYA....* Kiat belajar-mengajar Dotcom *
♥
Wednesday, August 24, 2011
...ketika kita membuka JENDELA HATI dan PIKIRAN maka dunia ini akan tampak LUAS dari berbagai sudut pandang...Siapa yang berani beralih dari zona nyaman ( comfort zone) ke dunia yang penuh dinamika , dialah yang memperoleh KEHIDUPAN yang sebenarnya...:)....* Jangan takut memiliki pendapat sendiri, jangan kuatir mengekspresikan diri...*
♥
Wednesday, August 24, 2011
...ANAK-ANAK lebih suka MELIHAT daripada MENDENGAR !!...karena dengan MELIHAT mereka lebih MUDAH MENIRU dan BELAJAR...:)...Jadi jangan sering-sering mengomeli anak...lebih baik berikan contoh perilaku yang diharapkan...*...belajar dari si Cantiq tersayang...*
Rabu, 24 Agustus 2011
Sabtu, 06 Agustus 2011
Art-Living Sos 2011 (A-7 Cangkir Kehidupan
Dear Allz....
Apa kabaaaarrr , teman dan sahabatku semua ??? Hmhh...menjelang akhir pekan niiih...semoga semua sehat-sehat dan ceria yaaa...Saya sendiri, alhamdulillah juga sehat-sehat dan ceria...Maklum...kalau sudah manggung sejenak, rasanya energi naik lagi...Begitulah...Kalau sebagian orang mengalami demam panggung karena naik ke panggung, sebaliknya saya mengalami demam panggung kalau tidak naik ke panggung...hihiiiii....narsis abis deechh...
Beberapa hari meninggalkan Jakarta, ya demi memuaskan hasrat manggung itu, saya jadi kangen dengan suasana ibukota yang nyaris tidak pernah tidak macet. Nyaris tidak pernah tidak heboh. Memang bagi sebagian orang menyebalkan dan membuat stres...tapi bagi sebagian orang lain justru stres ini diperlukan untuk meraih sukses...hehe...
Banyak hal yang bisa dinikmati di tengah kemacetan...banyak hal pula bisa direnungkann di tengah keheningan. Seperti saya saat ini, ketika dengan tenang dapat menikmati aliran sungai Batanghari yang mengalir pelan sambil menyesap secangkir kopi Jambi....accchhh...
Mumpung saya sedang menikmati secangkir kopi...mumpung inspirasi sedang mengalir tenang...saya jadi ingin berbagi cerita tentang cangkir. Mau khaaann...???
Oke deeeh....menjelang akhir pekan ini saya kirimkan Cangkir-cangkir Kehidupan untuk teman dan sahabatku di mana pun berada....Semoga berkenan...
Jambi, 21 Juli 2011
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
- Dari tepian Sungai Batanghari....
♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-7
Start : 20 Juli 2011-07-20
Start : 20/07/2011 10:09:2
Finish : 20/07/2011 11:49:44
Jambi, Rabu, 20 Juli 2011
CANGKIR-CANGKIR KEHIDUPAN...
Hari Jum’at. Akhir pekan. Hari macet luar biasaaaaaa....di Jakarta. Hehe...malahan kalau tidak macet, orang-orang akan bertanya ,” Ada apa nih ? Kok lancar ? Kok nggak macet ?”...halaaah...
Ini dia niiiih...kebiasaan yang terjadi di lingkungan, akhirnya dianggap sebagai suatu kelaziman. Kemacetan adalah suatu kebiasaan yang diterima dengan ‘tangan terbuka’, walaupun dalam hati mengomel juga...hehe... Kemacetan diterima dengan keterpaksaan, tetapi akhirnya dianggap sebagai suatu nilai tambah. Tambah kesal, tambah repot...dan ujung-ujungnya....tambah sabaaar...Semogaaaa....
Eeeh, kenapa saya jadi cerita tentang macet, ya ? Uuuuhh...jadi curcol niiih...curhat colongan...mencurahkan isi hati...Abiiiiis...dari tadi sudah terjebak macet, dan berkubang di antara kendaraan-kendaraan yang sama-sama tekun dalam barisan yang berderet panjang. Dan akhirnyaa...saya pun memutuskan untuk berhenti. Mampir di sebuah pusat perbelanjaan, yang ada warung kopinya...eheeemm... Untung tadi sempat mengirim SMS kepada seorang sahabat yang juga terjebak macet di jalan. Jadi saat ini kami pun sama-sama memilih untuk berhenti sejenak, sambil meluruskan kaki.
Duduk di warung kopi, yang nama kerennya sekarang adalah kafe, membuat saya merasa nyaman dan sejenak melupakan detik-detik kemacetan yang tadi saya alami. Konon katanya, secangkir teh atau kopi bisa menggelontor emosi yang tadi agak meluap. Jadi deeeh...sebagai penggemar dan penikmat kopi, saya memilih secangkir kopi panaaaass....dengan aroma hazelnut yang haruuum...Sebetulnya sih lebih asyik minum kopi tubruk ala warung kopi kampung...tapi untuk menghibur hati dan sosialisasi, secangkir kopi hazelnut cukup oke jugalah...
Sambil memegang kuping cangkir yang lebar, saya menghirup aroma kopi yang menyeruak dari permukaan cangkir....hmmh....membuang emosi negatif yang tadi sempat bercokol di sudut hati. Aaccch...sedapnya....
♥
Di lain kesempatan. Saya sedang menikmati hari libur di rumah. Tidak ada yang lebih nikmat daripada duduk selonjor di depan pintu...* yang katanya pantang, tapi kok enak dilanggar, ya *..Dan sebagai teman...secangkir teh manis panas beserta cemilannya merupakan hidangan yang paling nikmat sedunia...hehe...
Begitulah...ritual pagi itu saya lakukan sambil menikmati cuaca pagi yang segar. Saya memegang cangkir teh yang berisi teh seduhan dengan aromanya yang asli...rasa pegunungan...woow...Ini adalah cangkir mug kesayangan saya. Terbuat dari keramik dengan bibir cangkir yang tebal, membuat saya dapat menyeruput teh panas dengan aman dan nyaman. Sungguh nikmat, menghirup aroma dan membiarkan lidah saya menari-nari...
♥
Ngomong-ngomong soal cangkir, peranti saji untuk minuman. Saya punya beberapa jenis cangkir dan mug dengan fungsi penggunaan yang berbeda-beda. Ada cangkir khusus untuk minum teh panas, ada cangkir untuk minum jamu...* haaa...saya masih doyan jejamuan asli Indonesia...*, ada cangkir khusus untuk minum kopi...dan...hmhh...ada cangkir khusus untuk minum sekoteng hangat dan satu lagi cangkir bermulut lebar untuk minum es campur dingin...* ya, iyalah...es campur mesti dingin...hihiiii...*.
Hmmh...pasti teman dan sahabat akan berpikir, kok saya ini ribet banget ya dengan urusan cangkir. Kenapa tidak satu cangkir untuk semua ?
Ohooooo....jangan salah. Justru setiap cangkir itu dibuat dan didesain berbeda-beda karena fungsinya berbeda-beda. Ada cangkir yang terbuat dari beling atau keramik yang tipis, agar minuman di dalamnya cepat dingin dan mudah diminum. Ada cangkir yang terbuat dari keramik tebal dan bibir yang lebar dan tebal. Ada cangkir alumunium yang anti pecah, sehingga aman untuk dibawa bepergian, buat camping atau untuk minum minuman yang dingin.
Model dan corak cangkir juga beraneka rupa. Lihat saja. Ada cangkir yang permukaan mulutnya bergelombang, dan dinding cangkirnya berbunga-bunga indah. Ada juga cangkir keramik dengan desain dan corak ala Eropa yang elegan, kadang-kadang diberi garis pembatas berwarna keemasan, sehingga tampak mewah dan mahal. Biasanya cangkir-cangkir seperti itu juga dipergunakan dalam perjamuan khusus untuk menyambut tamu istimewa. Uniknya, cangkir dengan bentuk yang mewah dan corak yang indah terkadang menjadi status simbol dan status sosial juga. Bahkan karena sayang dipergunakan dalam perjamuan sehari-hari, cangkir-cangkir indah ini hanya menjadi penghuni lemari pajangan, dan cukup dipandang dengan penuh kekaguman.
Memang, seperti kata pepatah : Lain padang, lain belalangnya. Lain lubuk, lain ikannya. Jadi untuk cangkir juga ada pepatah : Lain bentuk, lain fungsinya...hehehe...
Saya jadi ingat, jaman saya SD dulu, saya dan adik-adik punya cangkir terbuat dari bahan kaleng atau metal yang berwarna-warni. Semula, cangkir kaleng itu hanya terbuat dari alumunium polos berwarna putih berwarna mirip kaleng. Belakangan, ada cangkir kaleng dengan warna warni beraneka rupa. Dan kami masing-masing mendapat satu buah cangkir untuk aneka keperluan. Terutama untuk minum air pada saat makan. Maklum namanya anak-anak...kadang gelas beling biasa mudah pecah. Jadi agar tidak sering membeli gelas, dan demi keamanan, maka ibu saya membelikan cangkir dengan cat melamin yang merupakan milik pribadi masing-masing anak.
Cangkir yang dilengkapi tutup rapat ini selalu kami pergunakan untuk minum segala keperluan. Saking cintanya kepada sang cangkir, akhirnya kami merasa bahwa itu merupakan identitas diri. Kemana pun pergi, cangkir itu harus dibawa....hehehe...mirip dengan harta karun tak ternilai. Selain minum teh , air putih, atau es campur, cangkir yang fungsinya mirip cangkir keramat itu juga menjadi tempat menyimpan minuman kegemaran. Adik saya yang doyan minum coklat susu, akan menyimpan minumannya di dalam cangkir dan ditempatkan di lemari es, sehingga menjadi es krim coklat susu yang sedap...mirip dengan es krim betulan dari toko...hmh..
♥
Kembali ke cangkir keramik di tangan yang masih menebarkan aroma kopi, saya merenung.
Kita barangkali pernah minum dari sebuah cangkir atau mug. Kita barangkali pernah memiliki sebuah atau dua buah cangkir atau lebih.
Apa fungsi cangkir itu bagi diri kita ? Cangkir memang hanyalah sebuah wadah. Tetapi bentuk, bahan, dan warnanya bisa menunjukkan siapa diri kita. Bukan hanya itu, isi cangkir juga dapat menentukan selera dan siapa kita. Bahkan demi isi cangkir, entah teh, kopi, es campur, jamu, atau sekedar air putih biasa kita rela pergi ke berbagai tempat. Mencari dan memuaskan keinginan untuk memenuhi cangkir kita.
Seandainya....seandainya hidup kita seperti sebuah cangkir atau mug. Kita ingin menjadi cangkir seperti apa ? Cangkir mewah yang hanya tampil sesekali di perjamuan minum, dan setelahnya hanya dipajang di lemari ? Atauuuuu....kita mau menjadi cangkir berbibir tebal yang selalu ada menemani di setiap kesempatan, atau mau menjadi cangkir kaleng berbunga yang dicintai dan selalu dibawa kemana-mana ?
Sama seperti cangkir atau mug...hidup ini adalah pilihan. Kita bisa memilih menjadi cangkir seperti apa, dan mau mengisinya dengan apa saja. Cangkir kehidupan, kita masing-masing memilikinya, tapi hanya kita yang tahu , apa yang akan diisikan ke dalamnya.
Manfaat dan khasiat merupakan tujuan akhir kehidupan kita. Dan itu bisa kita mulai dengan menentukan cangkir kehidupan kita...
Bagaimana ? Sudahkah kita memilih cangkir masing-masing dan mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan lingkungan sekitar kita ???
Jambi, 20 Juli 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk Ma tercinta...yang sudah memberikan cangkir-cangkir pribadi untuk kami isi dengan berbagai ragam rasa kehidupan...Terima kasih juga untuk kedai kopi di pojok jalan dekat rumah dan kedai di mal yang menjadi inspirasi tulisan ini...dan sahabat kopiku yang tidak bosan-bosannya menikmati secangkir kopi dan teh aneka rasa di setiap kesempatan...The Domers ( Danny, Melia, Sigit, Cipta, Irene, en lain-lain), The Malls ( Irma-Adith-Tyo-Bear) , The Arisan ( yang tak pernah dikocok : Neno, Ndaru, Mb Nuki, Koko, Nuke, mb Yus)...dan Centilers...( Kuri, Kenyot, Tek-tek, Lik)...thanks untuk kebersamaan dan persahabatan kita...
♥
Ide :
1. Sebuah cangkir atau mug adalah tempat minuman kita.
2. Sering orang menyukai bentuk cangkir atau mug tertentu, yang memiliki pegangan untuk menggenggam sehingga nyaman.
3. Cangkir bisa menjadi identitas seseorang.
4. Cangkir ada yang tranparan, sehingga orang lain dengan mudah dapat melihat isinya. Ada yang terbuat dari bahan tebal, sehingga hanya kita yang dapat melihat isinya.
5. Cangkir kehidupan, kita masing-masing memilikinya, tapi hanya kita yang tahu , apa yang akan diisikan ke dalamnya.
Apa kabaaaarrr , teman dan sahabatku semua ??? Hmhh...menjelang akhir pekan niiih...semoga semua sehat-sehat dan ceria yaaa...Saya sendiri, alhamdulillah juga sehat-sehat dan ceria...Maklum...kalau sudah manggung sejenak, rasanya energi naik lagi...Begitulah...Kalau sebagian orang mengalami demam panggung karena naik ke panggung, sebaliknya saya mengalami demam panggung kalau tidak naik ke panggung...hihiiiii....narsis abis deechh...
Beberapa hari meninggalkan Jakarta, ya demi memuaskan hasrat manggung itu, saya jadi kangen dengan suasana ibukota yang nyaris tidak pernah tidak macet. Nyaris tidak pernah tidak heboh. Memang bagi sebagian orang menyebalkan dan membuat stres...tapi bagi sebagian orang lain justru stres ini diperlukan untuk meraih sukses...hehe...
Banyak hal yang bisa dinikmati di tengah kemacetan...banyak hal pula bisa direnungkann di tengah keheningan. Seperti saya saat ini, ketika dengan tenang dapat menikmati aliran sungai Batanghari yang mengalir pelan sambil menyesap secangkir kopi Jambi....accchhh...
Mumpung saya sedang menikmati secangkir kopi...mumpung inspirasi sedang mengalir tenang...saya jadi ingin berbagi cerita tentang cangkir. Mau khaaann...???
Oke deeeh....menjelang akhir pekan ini saya kirimkan Cangkir-cangkir Kehidupan untuk teman dan sahabatku di mana pun berada....Semoga berkenan...
Jambi, 21 Juli 2011
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
- Dari tepian Sungai Batanghari....
♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-7
Start : 20 Juli 2011-07-20
Start : 20/07/2011 10:09:2
Finish : 20/07/2011 11:49:44
Jambi, Rabu, 20 Juli 2011
CANGKIR-CANGKIR KEHIDUPAN...
Hari Jum’at. Akhir pekan. Hari macet luar biasaaaaaa....di Jakarta. Hehe...malahan kalau tidak macet, orang-orang akan bertanya ,” Ada apa nih ? Kok lancar ? Kok nggak macet ?”...halaaah...
Ini dia niiiih...kebiasaan yang terjadi di lingkungan, akhirnya dianggap sebagai suatu kelaziman. Kemacetan adalah suatu kebiasaan yang diterima dengan ‘tangan terbuka’, walaupun dalam hati mengomel juga...hehe... Kemacetan diterima dengan keterpaksaan, tetapi akhirnya dianggap sebagai suatu nilai tambah. Tambah kesal, tambah repot...dan ujung-ujungnya....tambah sabaaar...Semogaaaa....
Eeeh, kenapa saya jadi cerita tentang macet, ya ? Uuuuhh...jadi curcol niiih...curhat colongan...mencurahkan isi hati...Abiiiiis...dari tadi sudah terjebak macet, dan berkubang di antara kendaraan-kendaraan yang sama-sama tekun dalam barisan yang berderet panjang. Dan akhirnyaa...saya pun memutuskan untuk berhenti. Mampir di sebuah pusat perbelanjaan, yang ada warung kopinya...eheeemm... Untung tadi sempat mengirim SMS kepada seorang sahabat yang juga terjebak macet di jalan. Jadi saat ini kami pun sama-sama memilih untuk berhenti sejenak, sambil meluruskan kaki.
Duduk di warung kopi, yang nama kerennya sekarang adalah kafe, membuat saya merasa nyaman dan sejenak melupakan detik-detik kemacetan yang tadi saya alami. Konon katanya, secangkir teh atau kopi bisa menggelontor emosi yang tadi agak meluap. Jadi deeeh...sebagai penggemar dan penikmat kopi, saya memilih secangkir kopi panaaaass....dengan aroma hazelnut yang haruuum...Sebetulnya sih lebih asyik minum kopi tubruk ala warung kopi kampung...tapi untuk menghibur hati dan sosialisasi, secangkir kopi hazelnut cukup oke jugalah...
Sambil memegang kuping cangkir yang lebar, saya menghirup aroma kopi yang menyeruak dari permukaan cangkir....hmmh....membuang emosi negatif yang tadi sempat bercokol di sudut hati. Aaccch...sedapnya....
♥
Di lain kesempatan. Saya sedang menikmati hari libur di rumah. Tidak ada yang lebih nikmat daripada duduk selonjor di depan pintu...* yang katanya pantang, tapi kok enak dilanggar, ya *..Dan sebagai teman...secangkir teh manis panas beserta cemilannya merupakan hidangan yang paling nikmat sedunia...hehe...
Begitulah...ritual pagi itu saya lakukan sambil menikmati cuaca pagi yang segar. Saya memegang cangkir teh yang berisi teh seduhan dengan aromanya yang asli...rasa pegunungan...woow...Ini adalah cangkir mug kesayangan saya. Terbuat dari keramik dengan bibir cangkir yang tebal, membuat saya dapat menyeruput teh panas dengan aman dan nyaman. Sungguh nikmat, menghirup aroma dan membiarkan lidah saya menari-nari...
♥
Ngomong-ngomong soal cangkir, peranti saji untuk minuman. Saya punya beberapa jenis cangkir dan mug dengan fungsi penggunaan yang berbeda-beda. Ada cangkir khusus untuk minum teh panas, ada cangkir untuk minum jamu...* haaa...saya masih doyan jejamuan asli Indonesia...*, ada cangkir khusus untuk minum kopi...dan...hmhh...ada cangkir khusus untuk minum sekoteng hangat dan satu lagi cangkir bermulut lebar untuk minum es campur dingin...* ya, iyalah...es campur mesti dingin...hihiiii...*.
Hmmh...pasti teman dan sahabat akan berpikir, kok saya ini ribet banget ya dengan urusan cangkir. Kenapa tidak satu cangkir untuk semua ?
Ohooooo....jangan salah. Justru setiap cangkir itu dibuat dan didesain berbeda-beda karena fungsinya berbeda-beda. Ada cangkir yang terbuat dari beling atau keramik yang tipis, agar minuman di dalamnya cepat dingin dan mudah diminum. Ada cangkir yang terbuat dari keramik tebal dan bibir yang lebar dan tebal. Ada cangkir alumunium yang anti pecah, sehingga aman untuk dibawa bepergian, buat camping atau untuk minum minuman yang dingin.
Model dan corak cangkir juga beraneka rupa. Lihat saja. Ada cangkir yang permukaan mulutnya bergelombang, dan dinding cangkirnya berbunga-bunga indah. Ada juga cangkir keramik dengan desain dan corak ala Eropa yang elegan, kadang-kadang diberi garis pembatas berwarna keemasan, sehingga tampak mewah dan mahal. Biasanya cangkir-cangkir seperti itu juga dipergunakan dalam perjamuan khusus untuk menyambut tamu istimewa. Uniknya, cangkir dengan bentuk yang mewah dan corak yang indah terkadang menjadi status simbol dan status sosial juga. Bahkan karena sayang dipergunakan dalam perjamuan sehari-hari, cangkir-cangkir indah ini hanya menjadi penghuni lemari pajangan, dan cukup dipandang dengan penuh kekaguman.
Memang, seperti kata pepatah : Lain padang, lain belalangnya. Lain lubuk, lain ikannya. Jadi untuk cangkir juga ada pepatah : Lain bentuk, lain fungsinya...hehehe...
Saya jadi ingat, jaman saya SD dulu, saya dan adik-adik punya cangkir terbuat dari bahan kaleng atau metal yang berwarna-warni. Semula, cangkir kaleng itu hanya terbuat dari alumunium polos berwarna putih berwarna mirip kaleng. Belakangan, ada cangkir kaleng dengan warna warni beraneka rupa. Dan kami masing-masing mendapat satu buah cangkir untuk aneka keperluan. Terutama untuk minum air pada saat makan. Maklum namanya anak-anak...kadang gelas beling biasa mudah pecah. Jadi agar tidak sering membeli gelas, dan demi keamanan, maka ibu saya membelikan cangkir dengan cat melamin yang merupakan milik pribadi masing-masing anak.
Cangkir yang dilengkapi tutup rapat ini selalu kami pergunakan untuk minum segala keperluan. Saking cintanya kepada sang cangkir, akhirnya kami merasa bahwa itu merupakan identitas diri. Kemana pun pergi, cangkir itu harus dibawa....hehehe...mirip dengan harta karun tak ternilai. Selain minum teh , air putih, atau es campur, cangkir yang fungsinya mirip cangkir keramat itu juga menjadi tempat menyimpan minuman kegemaran. Adik saya yang doyan minum coklat susu, akan menyimpan minumannya di dalam cangkir dan ditempatkan di lemari es, sehingga menjadi es krim coklat susu yang sedap...mirip dengan es krim betulan dari toko...hmh..
♥
Kembali ke cangkir keramik di tangan yang masih menebarkan aroma kopi, saya merenung.
Kita barangkali pernah minum dari sebuah cangkir atau mug. Kita barangkali pernah memiliki sebuah atau dua buah cangkir atau lebih.
Apa fungsi cangkir itu bagi diri kita ? Cangkir memang hanyalah sebuah wadah. Tetapi bentuk, bahan, dan warnanya bisa menunjukkan siapa diri kita. Bukan hanya itu, isi cangkir juga dapat menentukan selera dan siapa kita. Bahkan demi isi cangkir, entah teh, kopi, es campur, jamu, atau sekedar air putih biasa kita rela pergi ke berbagai tempat. Mencari dan memuaskan keinginan untuk memenuhi cangkir kita.
Seandainya....seandainya hidup kita seperti sebuah cangkir atau mug. Kita ingin menjadi cangkir seperti apa ? Cangkir mewah yang hanya tampil sesekali di perjamuan minum, dan setelahnya hanya dipajang di lemari ? Atauuuuu....kita mau menjadi cangkir berbibir tebal yang selalu ada menemani di setiap kesempatan, atau mau menjadi cangkir kaleng berbunga yang dicintai dan selalu dibawa kemana-mana ?
Sama seperti cangkir atau mug...hidup ini adalah pilihan. Kita bisa memilih menjadi cangkir seperti apa, dan mau mengisinya dengan apa saja. Cangkir kehidupan, kita masing-masing memilikinya, tapi hanya kita yang tahu , apa yang akan diisikan ke dalamnya.
Manfaat dan khasiat merupakan tujuan akhir kehidupan kita. Dan itu bisa kita mulai dengan menentukan cangkir kehidupan kita...
Bagaimana ? Sudahkah kita memilih cangkir masing-masing dan mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan lingkungan sekitar kita ???
Jambi, 20 Juli 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk Ma tercinta...yang sudah memberikan cangkir-cangkir pribadi untuk kami isi dengan berbagai ragam rasa kehidupan...Terima kasih juga untuk kedai kopi di pojok jalan dekat rumah dan kedai di mal yang menjadi inspirasi tulisan ini...dan sahabat kopiku yang tidak bosan-bosannya menikmati secangkir kopi dan teh aneka rasa di setiap kesempatan...The Domers ( Danny, Melia, Sigit, Cipta, Irene, en lain-lain), The Malls ( Irma-Adith-Tyo-Bear) , The Arisan ( yang tak pernah dikocok : Neno, Ndaru, Mb Nuki, Koko, Nuke, mb Yus)...dan Centilers...( Kuri, Kenyot, Tek-tek, Lik)...thanks untuk kebersamaan dan persahabatan kita...
♥
Ide :
1. Sebuah cangkir atau mug adalah tempat minuman kita.
2. Sering orang menyukai bentuk cangkir atau mug tertentu, yang memiliki pegangan untuk menggenggam sehingga nyaman.
3. Cangkir bisa menjadi identitas seseorang.
4. Cangkir ada yang tranparan, sehingga orang lain dengan mudah dapat melihat isinya. Ada yang terbuat dari bahan tebal, sehingga hanya kita yang dapat melihat isinya.
5. Cangkir kehidupan, kita masing-masing memilikinya, tapi hanya kita yang tahu , apa yang akan diisikan ke dalamnya.
Art-Living Sos 2011 (A-8 Si Hitam Manggis
Dear Allz…
Apakabar teman dan sahabatku semua ? Ini adalah minggu pertama bulan Ramadhan tahun 1432 H…ahaaa…tentunya ada perubahan di dalam aktivitas kita sehari-hari, ya ? Bagi yang menjalankan ibadah puasa, saya sampaikan selamat menjalankan ibadah puasa…semoga keikhalasan kita mendapat imbalan dari Allah SWT…dan bagi yang tidak berpuasa…saya sampaikan terima kasih telah bertoleransi terhadap sahabat-sahabat yang menjalankan ibadahnya…
Hmmh…alangkah indahnya toleransi. Alangkah indahnya perbedaan . Justru karena berbeda itulah kita menjadi kaya. Kita menjadi semakin matang dan luas pengalaman. Coba saja, kalau dunia ini hanya satu warna…apakah tidak membosankan ? Pasti bosaaaan bangeeet !! Sungguh Allah telah menciptakan dunia yang berwarna-warni…dari hitam, merah, hijau, biru, kuning, orange, abu-abu, coklat, nila, ungu…hingga putih…sehingga kita dapat memilih, dapat belajar…tentang warna dan maknanya…
Naaaah…mumpung di hari baik dan bulan baik ini kita sedang berbincang tentang warna, saya pun jadi ingin ikut berbicara tentang warna…Hitam ungu bluwek dan putih…yang ada di dalam sebuah manggis. Hmmmh…pernah mengenal manggis ? Pernah menyantapnya ?
Kalau sudah pernah, mari siniiiiii….kita berbagi cerita…Dan bagi yang belum pernah melihat atau menyantapnya…siniiiii…saya kirimi sebuah manggis yang lezat dan eksotis rasanya….
Selamat menikmati…semoga berkenan….
Jakarta, 6 Agustus 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
- Di siang hari yang sejuk lembut…
♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-8
Rabu, 03 Agustus 2011
Start : 03/08/2011 9:42:43
Finish : 06/08/2011 13:11:25
Si HITAM MANGGIS
Saya sedang berlibur, di Padang. Kota di pantai barat Sumatra ini sudah seperti kampung halaman kedua buat saya, setelah Medan...hehe...Begini nih kalau anak Puja Kesuma...Putera Jawa Kelahiran Sumatra...Kampung halamannya ada di mana-mana...
Kepulangan saya sekali ini, sekalian melihat rumah dan ziarah ke makam ayah saya yang wafat beberapa tahun lalu. Berziarah bagi saya seperti setetes air sejuk di tengah kegersangan. Ada nuansa rindu, dan biasanya setelah kunjungan itu saya akan bersemangat lagi. Seakan semangat ayah saya terbawa ke dalam sanubari....hmmmh...kenapa jadi mellow ya...??
Naaah, biasanya...kalau sudah mudik seperti ini, saya dan adik saya akan melakukan aktivitas dan ritual yang nyaris sama dengan saat kedua orangtua kami masih ada. Salah satunya adalah belanja ke Pasar Tanah Kongsi, di daerah Pondok. Ini merupakan daerah lama, yang dulu dibangun oleh Belanda. Salah satu bangunan yang masih utuh di sana bertahun 1909. Padahal belum lama ini Padang diguncang gempa yang cukup dahsyat, dan nyaris meluluhlantakkan sebagian besar bangunan di kota ini. Tapi untunglah...masih banyak bangunan lama, atau bangunan yang dibangun dengan konstruksi kuat dapat bertahan.
Saya dan adik saya, menyusuri pasar, dan mencari-cari pedagang lama yang menjadi langganan ibu saya. Ada penjaja kue basah, penjaja bihun dan kwetiaw goreng, pedagang sayuran, pedagang bumbu dapur, toko pecah belah, dan toko P & D yang sudah lama sekali menjadi langganan kami.
Tiba-tiba saya melihat pedagang buah tradisional yang menjajakan dagangannya di atas lapak kayu dengan tenda plastik seadanya. Saya katakan buah tradisional, karena dia memang hanya menjual buah-buahan lokal, yang barangkali dipetik dari kebun sendiri. Ada jambu air, duku, bengkuang, sirsak, pepaya, dan setumpuk buah manggis. Saya tertarik melihat jambu air yang segar dan manggis, yang sayangnya tidak terlalu segar lagi.
“ Pak, kenapa manggisnya kecil-kecil dan warnanya kusam begini ?” tanya saya. Sambil memegang sebuah manggis yang agak layu.
“ Iya, Bu...sekarang sulit mendapat manggis yang bagus. Sudah diborong sama tengkulak buah, katanya diekspor ke negeri sebelah. Saya hanya dapat segini, harganya pun mahal.”
“Ohh...padahal saya kepingin juga nih. Sudah lama tidak makan si Hitam Manis ini..,” sahut saya sambil memilih beberapa buah manggis. Apa boleh buat, tidak ada yang bagus mulus. Sebagian besar agak layu dan kusam. Akhirnya setelah pilih-pilih, manggis yang warna kulitnya hitam bluwek dan jambu air pun ditimbang, dibungkus, dan dibawa pulang. Demi memuaskan rasa rindu dan penasaran.
♥
Buah manggis, atau punya nama bagus mangosteen adalah buah tropis, yang banyak tumbuh liar di hutan dan di kebun-kebun . Ia merupakan tanaman yang banyak tumbuh di kawasan Asia Tenggara. Pohonnya tinggi, dapat mencapai antara 10-20 meter dan buahnya berkulit ungu kehitaman, sebesar bola tennis. Berbeda dengan kulitnya yang hitam dan kadang agak bluwek, di bagian dalam manggis, buahnya berwarna putih seperti kapas, dalam potongan pasi atau tampuk. Pada umumnya satu buah manggis terdiri dari 5 atau 6 pasi, dan katanya bisa ditebak dari tampuk manggis di kulitnya...hehe...
Saya jadi ingat, jaman masih kecil dulu, buah manggis termasuk buah yang sangat mudah diperoleh di pasar. Harganya pun murah meriah. Anak-anak sangat suka memakan buah yang manis agak berair ini. Dan seperti tadi, sebelum menyantap buahnya, kami sering main tebak-tebakan dulu. Yang tebakannya benar, boleh memakan manggisnya. Yang tebakannya salah, harus menyerahkan manggis itu kepada temannya. Mula-mula tebakan itu hanya iseng, tapi lama kelamaan kami belajar, bagaimana menebak yang benar. Bila putik tampuknya masih lengkap, agak mudah menebak isinya. Tapi kalau sudah digunduli hingga mirip dengan bola tennis polos, maka kami akan mengalami kesulitan. Hal itu menyebabkan tebakannya ngawur...asal-asalan....hehehe...Tidak penting benar atau salah. Yang paling mengasyikkan adalah menyantap manggis bersama-sama...dan setelah itu dilanjutkan dengan main perang-perangan...lempar-lemparan kulit manggis...hahaha...Iseng amaaatt...!!
♥
Selain di pasar, manggis juga mudah tumbuh di halaman rumah. Tetapi karena pohonnya tinggi menjulang, hanya rumah dengan halaman besar dapat memelihara manggis. Saya ingat, di halaman rumah kami di Padang Sidempuan, di daerah Tapanuli Selatan ( masuk propinsi Sumatra Utara) ada sebatang pohon manggis di halaman belakang, yang tumbuh berhimpitan dengan pohon mangga kwini, pohon buah kecapi (ada yang bilang buah sentul ) , pohon langsat, dan entah pohon apa lagi. Pohon ini sudah ada ketika kami pindah ke rumah itu. Berdiri tegak di pinggir pagar, berbatasan dengan tanah kosong yang tak jelas siapa pemiliknya.
Kami sering mengalami kesulitan untuk memetik buah manggis ini, karena di bawahnya penuh dengan semak belukar. Sebentar dibersihkan, tidak lama belukar itu tumbuh lagi. Jadi kami hanya bisa menjolok dan menyinggat buahnya dengan tongkat panjang yang memiliki pengait di ujungnya. Ada juga beberapa teman yang nekad memanjat, dengan resiko dirubung dan digigit oleh semut-semut yang banyak mencari penghidupan di pohon manggis itu.
Belakangan, karena lahan kebun semakin sempit, dan juga masa tanam pohon manggis ini sangat lama – hampir sepuluh tahun baru menghasilkan buah, maka pohon manggis juga semakin langka. Sementara itu, dari banyak penelitian yang telah dilakukan , buah manggis, terutama kulit buahnya sangat bermanfaat untuk obat. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menemukan bahwa ada zat tertentu di dalam kulit manggis memiliki khasiat untuk meningkatkan kesehatan. Dan lebih hebat lagi, dapat digunakan sebagai pengobatan penyakit kanker dan HIV AIDS...woooww....
Pantas saja negeri jiran di sebelah begitu bernafsu untuk berburu manggis. Mengingat kegunaan buah manggis yang luar biasa, sementara lahan kebun mereka terbatas, maka jalan paling cepat adalah mengimpornya dari negeri kita. Tidak heran juga, kalau sekarang buah manggis juga semakin langka di pasar buah tradisional kita. Kalau mau mendapat buah manggis yang kualitasnya bagus, maka kita harus mencarinya di toko buah khusus, berdampingan dengan buah impor yang berkelas dunia...hmmh...
♥
Ngomong-ngomong tentang manggis. Si hitam bluwek ini juga memiliki nama lain, yaitu The Queen of Fruit. Konon menurut sejarahnya, dahulu Ratu Victoria dari Kerajaan Inggris Raya sangat menyukai buah ini. Di sekitar tahun 1800-an beliau pernah menyelenggarakan semacam sayembara yang berhadiah sejumlah uang, bila ada orang yang dapat membawakan buah manggis kepadanya. Untuk membuktikan bahwa buah yang lezat ini benar-benar ada, dan bukan sekedar legenda.
Di Indonesia sendiri, dan di beberapa Negara Asia Tenggara, buah manggis telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Bahkan kulitnya telah dibuat menjadi obat sakit perut, dan sebagai bahan pewarna kain. Ada beberapa jenis manggis yang semuanya masuk dalam keluarga besar Garnicia Mangostana, dan masing-masing memiliki rasa yang lezat dan agak eksotis…hmmh…Buah rasa eksotis…pasti wooow banget , ya ?
Sambil menimang-nimang si Buah Manggis ini saya merenung. Sungguh berbeda antara kulit luarnya yang berwarna ungu kehitaman dan agak bluwek dengan bagian dalamnya yang putih dan manis. Orang tidak mudah jatuh hati pada tampilan luarnya yang tidak menarik. Tetapi sekali mencoba mencicipi manggis, bahkan seorang ratu Victoria yang telah memiliki segalanya pun langsung jatuh hati dan tergila-gila…ahaa…
Saya jadi bercermin dengan kehidupan kita sendiri. Kita, dengan keterbatasan wawasan dan pengetahuan yang kita miliki, seringkali menilai orang dan lingkungan hanya dari tampilan luarnya. Kita hanya melihat sisi luar yang hitam bluwek, dan tidak terkesan untuk mengetahui lebih dalam tentang isinya. Kita cenderung berprasangka , bila melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita.
Padahal kalau kita mau belajar dari sebuah manggis…justru di dalam kulit hitam ungu bluweknya itu terkandung khasiat dan manfaat bagi orang banyak. Seandainya sajaaaaa….kita mau belajar sedikit dari guru kehidupan yang sederhana ini…
Jakarta, 6 Agustus 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih atas persahabatan sahabat-sahabat manggisku…sepintas kalian memang agak aneh, unik, bahkan mungkin dianggap gila…Tapi perjalanan dan waktu telah membuktikan, bahwa kalian adalah sahabat-sahabat terbaik yang pernah aku miliki…terima kasih Kuri, Kenyot, Tektek, Kilil, Nonce, Irma, Rius, mb Tari-Jogya, Adith-Kun-Tyo-mas Dwi-mas Hamid Ho, Nia, Indra and the SDM Global family…sahabat-sahabat SMANSAku…Vera-Ninin-Ully-Tiur-Ellina-Erina-Linda-Douglas-Kunek-Manal-Todo-Iwan-Jonner-Zul…sahabat TK dan SD… Erna-Dahlia-Tuti-Lolly…sahabat Arisan yang tak pernah ditarik…Neno-Koko-Eyang Nuki-Mb Nuke-Ndaru-Mas Bugo-Apin-RI 1…Juga…sahabat-sahabat kecilku di Padang Sidempuan… Hamdan, Anwar, Tuti..dan geng belakang rumah yang mengajari aku cara menyinggat buah manggis…Pokoknya semua-mua dech…yang mewarnai hidupku seperti kulit manggis yang bluwek..hehehe…I love U Allz…
♥♥
Ide :
1. Manggis adalah buah hutan yang kulitnya berwarna ungu tua kehitaman, dengan isi yang putih dan berasa manis.
2. Dulu manggis tumbuh liar di kebun, dan di hutan-hutan. Pohonnya tinggi, buahnya sebesar bola tennis atau agak kecil sedikit.
3. Semasa aku masih kecil, ada pohon manggis di halaman belakang rumah, berhimpitan dengan pohon buah lain, seperti langsat dan kwini. Buah manggis selain dimakan buahnya, juga sering dipakai sebagai mainan tebak-tebakan. Tampuk manggis konon menunjukkan jumlah pasi di dalam buahnya.
4. Dulu kulit manggis suka direbus untuk obat sakit perut tradisional. Ternyata belakangan, kulit manggis ini diyakini dan telah diteliti, sebagai anti oksidan yang luar biasa. Malah penderita kanker dan HIV AID dapat disembuhkan dengan jus kulit manggis ini.
5. Nyatalah...bahwa buahh yang hitam legam dan tidak indah dipandang memiliki manfaat yang luar biasa.
6. Apa yang bisa kita pelajari dari buah manggis ini ?
7. ...( Istirahat dulu aach...di FX niiih...03/08/2011 11:05:46)
Apakabar teman dan sahabatku semua ? Ini adalah minggu pertama bulan Ramadhan tahun 1432 H…ahaaa…tentunya ada perubahan di dalam aktivitas kita sehari-hari, ya ? Bagi yang menjalankan ibadah puasa, saya sampaikan selamat menjalankan ibadah puasa…semoga keikhalasan kita mendapat imbalan dari Allah SWT…dan bagi yang tidak berpuasa…saya sampaikan terima kasih telah bertoleransi terhadap sahabat-sahabat yang menjalankan ibadahnya…
Hmmh…alangkah indahnya toleransi. Alangkah indahnya perbedaan . Justru karena berbeda itulah kita menjadi kaya. Kita menjadi semakin matang dan luas pengalaman. Coba saja, kalau dunia ini hanya satu warna…apakah tidak membosankan ? Pasti bosaaaan bangeeet !! Sungguh Allah telah menciptakan dunia yang berwarna-warni…dari hitam, merah, hijau, biru, kuning, orange, abu-abu, coklat, nila, ungu…hingga putih…sehingga kita dapat memilih, dapat belajar…tentang warna dan maknanya…
Naaaah…mumpung di hari baik dan bulan baik ini kita sedang berbincang tentang warna, saya pun jadi ingin ikut berbicara tentang warna…Hitam ungu bluwek dan putih…yang ada di dalam sebuah manggis. Hmmmh…pernah mengenal manggis ? Pernah menyantapnya ?
Kalau sudah pernah, mari siniiiiii….kita berbagi cerita…Dan bagi yang belum pernah melihat atau menyantapnya…siniiiii…saya kirimi sebuah manggis yang lezat dan eksotis rasanya….
Selamat menikmati…semoga berkenan….
Jakarta, 6 Agustus 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
- Di siang hari yang sejuk lembut…
♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-8
Rabu, 03 Agustus 2011
Start : 03/08/2011 9:42:43
Finish : 06/08/2011 13:11:25
Si HITAM MANGGIS
Saya sedang berlibur, di Padang. Kota di pantai barat Sumatra ini sudah seperti kampung halaman kedua buat saya, setelah Medan...hehe...Begini nih kalau anak Puja Kesuma...Putera Jawa Kelahiran Sumatra...Kampung halamannya ada di mana-mana...
Kepulangan saya sekali ini, sekalian melihat rumah dan ziarah ke makam ayah saya yang wafat beberapa tahun lalu. Berziarah bagi saya seperti setetes air sejuk di tengah kegersangan. Ada nuansa rindu, dan biasanya setelah kunjungan itu saya akan bersemangat lagi. Seakan semangat ayah saya terbawa ke dalam sanubari....hmmmh...kenapa jadi mellow ya...??
Naaah, biasanya...kalau sudah mudik seperti ini, saya dan adik saya akan melakukan aktivitas dan ritual yang nyaris sama dengan saat kedua orangtua kami masih ada. Salah satunya adalah belanja ke Pasar Tanah Kongsi, di daerah Pondok. Ini merupakan daerah lama, yang dulu dibangun oleh Belanda. Salah satu bangunan yang masih utuh di sana bertahun 1909. Padahal belum lama ini Padang diguncang gempa yang cukup dahsyat, dan nyaris meluluhlantakkan sebagian besar bangunan di kota ini. Tapi untunglah...masih banyak bangunan lama, atau bangunan yang dibangun dengan konstruksi kuat dapat bertahan.
Saya dan adik saya, menyusuri pasar, dan mencari-cari pedagang lama yang menjadi langganan ibu saya. Ada penjaja kue basah, penjaja bihun dan kwetiaw goreng, pedagang sayuran, pedagang bumbu dapur, toko pecah belah, dan toko P & D yang sudah lama sekali menjadi langganan kami.
Tiba-tiba saya melihat pedagang buah tradisional yang menjajakan dagangannya di atas lapak kayu dengan tenda plastik seadanya. Saya katakan buah tradisional, karena dia memang hanya menjual buah-buahan lokal, yang barangkali dipetik dari kebun sendiri. Ada jambu air, duku, bengkuang, sirsak, pepaya, dan setumpuk buah manggis. Saya tertarik melihat jambu air yang segar dan manggis, yang sayangnya tidak terlalu segar lagi.
“ Pak, kenapa manggisnya kecil-kecil dan warnanya kusam begini ?” tanya saya. Sambil memegang sebuah manggis yang agak layu.
“ Iya, Bu...sekarang sulit mendapat manggis yang bagus. Sudah diborong sama tengkulak buah, katanya diekspor ke negeri sebelah. Saya hanya dapat segini, harganya pun mahal.”
“Ohh...padahal saya kepingin juga nih. Sudah lama tidak makan si Hitam Manis ini..,” sahut saya sambil memilih beberapa buah manggis. Apa boleh buat, tidak ada yang bagus mulus. Sebagian besar agak layu dan kusam. Akhirnya setelah pilih-pilih, manggis yang warna kulitnya hitam bluwek dan jambu air pun ditimbang, dibungkus, dan dibawa pulang. Demi memuaskan rasa rindu dan penasaran.
♥
Buah manggis, atau punya nama bagus mangosteen adalah buah tropis, yang banyak tumbuh liar di hutan dan di kebun-kebun . Ia merupakan tanaman yang banyak tumbuh di kawasan Asia Tenggara. Pohonnya tinggi, dapat mencapai antara 10-20 meter dan buahnya berkulit ungu kehitaman, sebesar bola tennis. Berbeda dengan kulitnya yang hitam dan kadang agak bluwek, di bagian dalam manggis, buahnya berwarna putih seperti kapas, dalam potongan pasi atau tampuk. Pada umumnya satu buah manggis terdiri dari 5 atau 6 pasi, dan katanya bisa ditebak dari tampuk manggis di kulitnya...hehe...
Saya jadi ingat, jaman masih kecil dulu, buah manggis termasuk buah yang sangat mudah diperoleh di pasar. Harganya pun murah meriah. Anak-anak sangat suka memakan buah yang manis agak berair ini. Dan seperti tadi, sebelum menyantap buahnya, kami sering main tebak-tebakan dulu. Yang tebakannya benar, boleh memakan manggisnya. Yang tebakannya salah, harus menyerahkan manggis itu kepada temannya. Mula-mula tebakan itu hanya iseng, tapi lama kelamaan kami belajar, bagaimana menebak yang benar. Bila putik tampuknya masih lengkap, agak mudah menebak isinya. Tapi kalau sudah digunduli hingga mirip dengan bola tennis polos, maka kami akan mengalami kesulitan. Hal itu menyebabkan tebakannya ngawur...asal-asalan....hehehe...Tidak penting benar atau salah. Yang paling mengasyikkan adalah menyantap manggis bersama-sama...dan setelah itu dilanjutkan dengan main perang-perangan...lempar-lemparan kulit manggis...hahaha...Iseng amaaatt...!!
♥
Selain di pasar, manggis juga mudah tumbuh di halaman rumah. Tetapi karena pohonnya tinggi menjulang, hanya rumah dengan halaman besar dapat memelihara manggis. Saya ingat, di halaman rumah kami di Padang Sidempuan, di daerah Tapanuli Selatan ( masuk propinsi Sumatra Utara) ada sebatang pohon manggis di halaman belakang, yang tumbuh berhimpitan dengan pohon mangga kwini, pohon buah kecapi (ada yang bilang buah sentul ) , pohon langsat, dan entah pohon apa lagi. Pohon ini sudah ada ketika kami pindah ke rumah itu. Berdiri tegak di pinggir pagar, berbatasan dengan tanah kosong yang tak jelas siapa pemiliknya.
Kami sering mengalami kesulitan untuk memetik buah manggis ini, karena di bawahnya penuh dengan semak belukar. Sebentar dibersihkan, tidak lama belukar itu tumbuh lagi. Jadi kami hanya bisa menjolok dan menyinggat buahnya dengan tongkat panjang yang memiliki pengait di ujungnya. Ada juga beberapa teman yang nekad memanjat, dengan resiko dirubung dan digigit oleh semut-semut yang banyak mencari penghidupan di pohon manggis itu.
Belakangan, karena lahan kebun semakin sempit, dan juga masa tanam pohon manggis ini sangat lama – hampir sepuluh tahun baru menghasilkan buah, maka pohon manggis juga semakin langka. Sementara itu, dari banyak penelitian yang telah dilakukan , buah manggis, terutama kulit buahnya sangat bermanfaat untuk obat. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menemukan bahwa ada zat tertentu di dalam kulit manggis memiliki khasiat untuk meningkatkan kesehatan. Dan lebih hebat lagi, dapat digunakan sebagai pengobatan penyakit kanker dan HIV AIDS...woooww....
Pantas saja negeri jiran di sebelah begitu bernafsu untuk berburu manggis. Mengingat kegunaan buah manggis yang luar biasa, sementara lahan kebun mereka terbatas, maka jalan paling cepat adalah mengimpornya dari negeri kita. Tidak heran juga, kalau sekarang buah manggis juga semakin langka di pasar buah tradisional kita. Kalau mau mendapat buah manggis yang kualitasnya bagus, maka kita harus mencarinya di toko buah khusus, berdampingan dengan buah impor yang berkelas dunia...hmmh...
♥
Ngomong-ngomong tentang manggis. Si hitam bluwek ini juga memiliki nama lain, yaitu The Queen of Fruit. Konon menurut sejarahnya, dahulu Ratu Victoria dari Kerajaan Inggris Raya sangat menyukai buah ini. Di sekitar tahun 1800-an beliau pernah menyelenggarakan semacam sayembara yang berhadiah sejumlah uang, bila ada orang yang dapat membawakan buah manggis kepadanya. Untuk membuktikan bahwa buah yang lezat ini benar-benar ada, dan bukan sekedar legenda.
Di Indonesia sendiri, dan di beberapa Negara Asia Tenggara, buah manggis telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Bahkan kulitnya telah dibuat menjadi obat sakit perut, dan sebagai bahan pewarna kain. Ada beberapa jenis manggis yang semuanya masuk dalam keluarga besar Garnicia Mangostana, dan masing-masing memiliki rasa yang lezat dan agak eksotis…hmmh…Buah rasa eksotis…pasti wooow banget , ya ?
Sambil menimang-nimang si Buah Manggis ini saya merenung. Sungguh berbeda antara kulit luarnya yang berwarna ungu kehitaman dan agak bluwek dengan bagian dalamnya yang putih dan manis. Orang tidak mudah jatuh hati pada tampilan luarnya yang tidak menarik. Tetapi sekali mencoba mencicipi manggis, bahkan seorang ratu Victoria yang telah memiliki segalanya pun langsung jatuh hati dan tergila-gila…ahaa…
Saya jadi bercermin dengan kehidupan kita sendiri. Kita, dengan keterbatasan wawasan dan pengetahuan yang kita miliki, seringkali menilai orang dan lingkungan hanya dari tampilan luarnya. Kita hanya melihat sisi luar yang hitam bluwek, dan tidak terkesan untuk mengetahui lebih dalam tentang isinya. Kita cenderung berprasangka , bila melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita.
Padahal kalau kita mau belajar dari sebuah manggis…justru di dalam kulit hitam ungu bluweknya itu terkandung khasiat dan manfaat bagi orang banyak. Seandainya sajaaaaa….kita mau belajar sedikit dari guru kehidupan yang sederhana ini…
Jakarta, 6 Agustus 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih atas persahabatan sahabat-sahabat manggisku…sepintas kalian memang agak aneh, unik, bahkan mungkin dianggap gila…Tapi perjalanan dan waktu telah membuktikan, bahwa kalian adalah sahabat-sahabat terbaik yang pernah aku miliki…terima kasih Kuri, Kenyot, Tektek, Kilil, Nonce, Irma, Rius, mb Tari-Jogya, Adith-Kun-Tyo-mas Dwi-mas Hamid Ho, Nia, Indra and the SDM Global family…sahabat-sahabat SMANSAku…Vera-Ninin-Ully-Tiur-Ellina-Erina-Linda-Douglas-Kunek-Manal-Todo-Iwan-Jonner-Zul…sahabat TK dan SD… Erna-Dahlia-Tuti-Lolly…sahabat Arisan yang tak pernah ditarik…Neno-Koko-Eyang Nuki-Mb Nuke-Ndaru-Mas Bugo-Apin-RI 1…Juga…sahabat-sahabat kecilku di Padang Sidempuan… Hamdan, Anwar, Tuti..dan geng belakang rumah yang mengajari aku cara menyinggat buah manggis…Pokoknya semua-mua dech…yang mewarnai hidupku seperti kulit manggis yang bluwek..hehehe…I love U Allz…
♥♥
Ide :
1. Manggis adalah buah hutan yang kulitnya berwarna ungu tua kehitaman, dengan isi yang putih dan berasa manis.
2. Dulu manggis tumbuh liar di kebun, dan di hutan-hutan. Pohonnya tinggi, buahnya sebesar bola tennis atau agak kecil sedikit.
3. Semasa aku masih kecil, ada pohon manggis di halaman belakang rumah, berhimpitan dengan pohon buah lain, seperti langsat dan kwini. Buah manggis selain dimakan buahnya, juga sering dipakai sebagai mainan tebak-tebakan. Tampuk manggis konon menunjukkan jumlah pasi di dalam buahnya.
4. Dulu kulit manggis suka direbus untuk obat sakit perut tradisional. Ternyata belakangan, kulit manggis ini diyakini dan telah diteliti, sebagai anti oksidan yang luar biasa. Malah penderita kanker dan HIV AID dapat disembuhkan dengan jus kulit manggis ini.
5. Nyatalah...bahwa buahh yang hitam legam dan tidak indah dipandang memiliki manfaat yang luar biasa.
6. Apa yang bisa kita pelajari dari buah manggis ini ?
7. ...( Istirahat dulu aach...di FX niiih...03/08/2011 11:05:46)
Minggu, 24 April 2011
Art-Living Sos 2011 (A-4 Susahnya Ngomong...
Dear Allz…
Met pagiiii….Apakabaaarrr…??? Hari Sabtu ini, yaaa…hari libur bagi sebagian besar kita. Bahkan liburan panjang sejak kemarin…hehehe…asyiiiik, yaaa…
Liburan begini, enaknya ngapain ? Jalan-jalan ? Temu kangen dengan teman-teman dan sahabat ? Istirahat di rumah ? Atau kumpul keluarga ? Haaa…itu semua asyiiikk…Asalkan kita bisa menikmatinya.
Di hari Sabtu yang cerah ceria ini, dibuka dengan sapaan sinar matahari yang kinclong. Menerangi langit yang biru. Dan membuat hati kita pun ikut cerah ceria.
Keceriaan itu membuat saya, di pagi hari tadi sudah sempat melakukan banyak aktivitas, termasuk membaca buku yang menarik. Lalu…criiiiingg…muncullah ide ini. Mengenai ‘omong-omong’. Saya ingat teman dan sahabat-sahabat saya yang sering curhat * saya juga sih…hehehe..gantian…*. Dan kuncinya semua adalah komunikasi. Ada hambatan atau ketidaklancaran di dalam proses komunikasi, sehingga kita susah ngomong.
Sementara itu, di pihak lain…ada orang yang lancaaaaar banget kalau berbicara. Seakan-akan setelan bibir dan otaknya terkoneksi dengan baik dan tepat. Nah, ini dia nih yang kita perlu sharing di sini. Mau khaaaan ??
Iyalah…mumpung hari libur…kita ngobrol yang ringan-ringan saja dulu. Bukankah berkomunikasi dan ngomong itu adalah aktivitas rutin kita sehari-hari ? Mari kita lihat sejenak, apakah kita sudah berkomunikasi dengan nikmat dan bermanfaat.
Selamat menikmati…semoga berkenan…
Jakarta, 23 April 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-4
Sabtu , 23 April 2011
Start : 4/23/2011 7:26:46 AM
Finish : 4/23/2011 8:32:08 AM
SUSAHNYA NGOMONG…
Saya sedang ngobrol dengan seorang teman. Tepatnya dia sedang curhat…mencurahkan isi hati ( dan pikirannya) kepada saya. Sambil menyeruput teh hangat, dan sesekali mencomot pisang goreng di hadapan kami, saya pun mendengarkan dengan seksama.
Intinya dia bilang begini ,” Susah banget ngomong sama suamiku. Maunya dia kemana, maunya aku kemana. Belum lagi anak-anak…bahasanya tidak bisa dimengerti !”
Halaaahh…kalau nggak bisa ngomong. Kalau bahasanya tidak bisa dimengerti. Lhaaa…selama ini ngapain aja ? Begitu batin saya…hehehe…
Keluhan teman saya, barangkali juga suatu ketika pernah kita alami. Entah sekali, entah dua kali, entah berkali-kali. Dan biasanya kita akan menjatuhkan vonis : “Mereka memang tidak bisa dimengerti. Tidak bisa diajak ngomong !”
Sssttt…tunggu dulu…Sabaaaarrr…
♥
Kita, keluarga kita, suami atau isteri, pasangan mesra atau kekasih, orangtua dan anak, pembantu rumahtangga, supir, tetangga, penjual ketoprak keliling, tukang sayur, tukang ojeg, satpam di lingkungan perumahan, ketua RT dan RW…dan sebagainya pastilah memiliki kemampuan berbahasa yang ‘sama’. Artinya, bisa mendengarkan, bisa mengucapkan, dan bisa berbicara satu dengan lainnya.
Nah, kenapa suami atau isteri kita bisa berbicara enak dan asyik dengan orang lain, sementara dengan kita seperti kucing dan tikus…Mau saling mengejar dan menyakiti ?
Atau, anak-anak kita. Ketika masih kecil, balita – di bawah umur lima tahun, mereka adalah anak-anak yang manis dan ‘mudah diajak ngomong’. Sementara sekarang, ketika mereka masuk ke usia remaja, kita merasa bahwa mereka seakan-akan mahluk aneh dari luar angkasa. Menjadi alien.
Lalu, pembantu, supir, dan segenap orang lain di sekitar kita, kadang menjadi orang-orang tidak dikenal yang tiba-tiba muncul dengan bahasa yang tidak kita pahami. Yang tidak bisa menerima dan menjalankan perintah kita sesuai dengan kehendak kita. Yang suka sok kreatif dan sok tahu, padahal salah melulu.
Ohlalaaaaaaa…kalau begini kehidupan kita, bagaimana kita berkomunikasi dengan dunia ? Apakah kita mau ngomong-ngomong sendiri saja, dan melakukan segalanya sendirian, tanpa interaksi dan bantuan orang lain ? Okeeee…selamat jalan kalau begitu. Pergilah ke laut…* memancing ikan maksudnya…hehe*
ADA APA DENGAN KOMUNIKASI KITA ?
Ini dia yang harus kita pertanyakan kepada diri sendiri. Ada apa dengan komunikasi kita ?
Banyak teori mengenai komunikasi. Namun intinya adalah, bagaimana kita menggunakan simbol bahasa, baik yang lisan maupun tertulis, baik yang berupa kata-kata maupun gerak tubuh, yang dipahami kedua belah pihak, untuk menyampaikan maksud dan menjalankan apa yang kita inginkan.
Sekarang coba kita cek diri sendiri. Seberapa jauh kita menggunakan simbol bahasa, termasuk gaya bahasa, dialek dan informasi, yang sama dengan orang lain ? Ambil contoh misalnya dengan suami atau isteri. Ketika kita akan berbicara dengan mereka, apakah kita sudah menyamakan simbol bahasa yang biasa digunakan oleh pasangan kita, untuk memulai suatu komunikasi ?
Kadang-kadang, entah kenapa, kita suka ‘malas’ untuk mempelajari simbol bahasa yang digunakan pasangan kita. Menurut kita, kalau bahasa atau kata-katanya sama, pastilah artinya sama. Padahal kadang-kadang ada orang yang berbicara atau berkomunikasi dengan bahasa hati dan pikirannya sendiri, dengan menggunakan perlambang. Ada orang yang mudah dan terbuka, ada orang yang hanya memiliki kosa kata terbatas atau istilah yang berbeda.
Kemalasan inilah yang pada awalnya kita abaikan, dan semakin lama akan membuat jurang komunikasi semakin lebar dan semakin dalam. Kita sering berpikir sendiri, bahwa apa yang diucapkan itulah yang menjadi arti sebenarnya. Namun sering terjadi, apa yang diucapkan mengandung arti ganda atau arti berbeda. Karena interpretasi kita sendiri, kita malas bertanya ulang atau mengecek maksud dan tujuan, akhirnya komunikasi yang kita harapkan tidak tersambung lagi.
PERBEDAAN GENERASI, PERBEDAAN PENGALAMAN
Hal yang sekarang semakin sering kita dengar, atau kita alami sendiri, adalah perbedaan bahasa antara orangtua dan anak.
Tidak jarang saya mendengar keluhan ,” Waaah…anak saya sekarang sulit dimengerti.” Sementara dari pihak anak, terutama remaja yang sedang tumbuh kembang ada juga keluhan seperti ini , “Mama sih payah. Nggak mau mengerti maunya kita. Apalagi Papa,
kalau ngomong maunya menang sendiri. Males deh ngomong sama mereka !”
Lha…kalau kedua belah pihak sudah merasa ada yang tidak beres dengan komunikasi antar mereka, kenapa salah satu pihak tidak mau mengerti ?
Orangtua sering tidak mau disalahkan, karena menurut mereka, mereka lebih berpengalaman. Dengan demikian, mereka berhak mengatur anak-anak mereka, dengan bahasa mereka.
Okeeee…berpengalaman ! Itu sebuah modal yang menarik. Kalau sudah berpengalaman, lalu apa ? Kita, sebagai orangtua, memang berpengalaman. Kita sudah melewati banyak tahun, di masa lalu. Kita sudah pernah menjadi remaja, sebelum kita tumbuh menjadi orang dewasa yang beranjak tua. Tapiiii…itu DULU ! Ingat ini.
Bahasa yang kita pakai dulu, berbeda dengan bahasa anak-anak dan remaja sekarang.
Oke, kita berbahasa atau berkata-kata dalam bahasa yang sama. Tapi seringkali maknanya berbeda. Contoh satu kata ,’ KENTANG ‘. Sebagai orangtua, dari generasi sebelumnya, barangkali kita memaknai kentang sebagai sebuah umbi, atau makanan yang enak digoreng. Namun, bagi sebagian besar remaja gaul, istilah kentang berbeda maknanya. Coba tanya pada mereka, apa arti kentang menurut bahasa remaja ? Anda, saya, kita pasti akan tercengang, karena maknanya sangat berbeda dan jauh dari makanan !
Itu baru urusan kentang. Belum lagi urusan kebutuhan remaja sekarang. Menurut kamus jaman kita , orangtua generasi sebelumnya, anak yang manis adalah anak yang duduk diam-diam di meja belajar sambil mengulang pelajarannya. Namun ternyata sekarang, anak yang duduk diam-diam di kamarnya, bisa jadi memiliki peluang untuk merambah dunia maya yang sarat dengan godaan. Dan ketika dia terjerumus ke dalam godaan itu, kita – orangtua, lagi-lagi dibuat tercengang, dan heran, bahwa anak kita sudah begitu jauh melangkah tanpa kita ketahui.
PERBEDAAN KEBUTUHAN, PERBEDAAN PERSEPSI
Dunia ini bergerak. Sangat dinamis dalam waktu beberapa dekade terakhir ini. Dan itu mempengaruhi bentuk komunikasi, penggunaan simbol bahasa dan kebutuhan interaksi lainnya.
Dulu…kita hanya bisa berinteraksi bila kita bertatap muka, atau paling jauh adalah berkirim surat dan menatap foto yang dikirim oleh orang lain. Lihat sekarang ! Dalam detik yang sama, kita bisa ngobrol dengan seseorang, menatap wajahnya, melihatnya bergerak ke sana ke mari, padahal dia jauh dari jangkauan kita.
Apa yang terjadi di belahan dunia lain, pada detik yang sama dapat kita lihat dan kita dengar di tempat kita berada sekarang. Dan itu semua berpengaruh terhadap pola komunikasi kita. Di dalam keluarga, di dalam organisasi dan pekerjaan, di lingkungan sosial, dan di mana pun kita berada.
Suami yang melek teknologi, akan menggunakan simbol bahasa teknologi tinggi dalam komunikasi dan pembicaraannya sehari-hari. Mereka, boleh jadi akan menganggap pasangannya sebagai mahluk aneh yang ketinggalan jaman, bila tidak memahami bahasanya. Begitu pula para isteri, yang memiliki dunia di rumah maupun di komunitasnya, punya bahasa sendiri yang eksklusif dan kadang tidak dipahami oleh pasangannya.
Ketika kedua orang ini berbicara, kadang-kadang timbul kesenjangan bahasa dan perbedaan persepsi. Lalu, daripada menimbulkan konflik lebih dalam, kedua belah pihak akhirnya menutup mulut, diam, dan menghentikan komunikasi. Tidak ada lagi curah pendapat, sharing, berbagi perasaan dan pemikiran, karena symbol bahasanya sudah berbeda. Kebutuhannya berbeda. Kepentingannya berbeda.
MEMAHAMI DUNIA ORANG LAIN
Lalu…apakah komunikasi itu ?
Komunikasi adalah interaksi antara dua orang atau lebih, dengan menggunakan ‘simbol bahasa’ yang dipahami kedua belah pihak, dan dilaksanakan dengan nyaman untuk perkembangan diri masing-masing. Dalam hal ini ada saling pengaruh-mempengaruhi yang membuat kedua belah pihak memiliki kesamaan pandangan.
Jadi kalau satu pihak hanya berbicara, atau berbunyi-bunyi, atau bergerak-gerak, sedangkan pihak yang diajak berkomunikasi tidak memahami maknanya, maka komunikasi itu tidak berjalan dengan lancar. Komunikasi tidak lancar, membuat kedua belah pihak tidak nyaman. Bisa jadi, salah satu pihak lantas menutup diri, dan enggan melanjutkan interaksi.
Belajar berkomunikasi adalah belajar memahami dunia orang lain. Bukan sekedar berbicara atau berkata-kata. Tetapi memaknai apa yang ada di dalam ‘dunia’ orang lain. Di dalam pikiran dan perasaannya.
Memahami dunia orang lain, dalam bahasa komunikasi adalah menyamakan pandangan.
Untuk menyamakan pandangan kita harus memahami posisi orang tersebut, informasi apa yang dimilikinya, kebutuhan apa yang hendak dipenuhinya, dan bagaimana dia menyampaikan kebutuhannya. Setelah kesamaan pandangan ini timbul, barulah kita secara bersama-sama memutuskan, siapa yang hendak memandu komunikasi. Siapa yang mendengarkan, dan siapa yang didengarkan. Saling mendengarkan, saling memahami, saling melengkapi informasi adalah bagian dari komunikasi.
Mudah ? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung dari keinginan Anda, saya, kita…
Mau berkomunikasi dengan lancar ? Mau ngomong lancar ? Marilah buka hati…buka pikiran…tingkatkan kualitas hidup kita…dan terimalah dunia sekitar kita dengan cara pandang yang baru…
Semoga bermanfaat.
Jakarta, 23 April 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk anakku si Cantik, yang mengajarkan aku untuk mendengarkan sebelum berbicara…terima kasih juga untuk Pangeran Remote Control yang sering menggunakan simbol bahasa berbeda, sehingga aku harus terus belajar dan beradaptasi…Dan juga..semua teman, sahabat, asisten-asisten di rumah…yang membuat aku semakin banyak belajar cara ngomong yang bisa dipahami…hehehe…
Met pagiiii….Apakabaaarrr…??? Hari Sabtu ini, yaaa…hari libur bagi sebagian besar kita. Bahkan liburan panjang sejak kemarin…hehehe…asyiiiik, yaaa…
Liburan begini, enaknya ngapain ? Jalan-jalan ? Temu kangen dengan teman-teman dan sahabat ? Istirahat di rumah ? Atau kumpul keluarga ? Haaa…itu semua asyiiikk…Asalkan kita bisa menikmatinya.
Di hari Sabtu yang cerah ceria ini, dibuka dengan sapaan sinar matahari yang kinclong. Menerangi langit yang biru. Dan membuat hati kita pun ikut cerah ceria.
Keceriaan itu membuat saya, di pagi hari tadi sudah sempat melakukan banyak aktivitas, termasuk membaca buku yang menarik. Lalu…criiiiingg…muncullah ide ini. Mengenai ‘omong-omong’. Saya ingat teman dan sahabat-sahabat saya yang sering curhat * saya juga sih…hehehe..gantian…*. Dan kuncinya semua adalah komunikasi. Ada hambatan atau ketidaklancaran di dalam proses komunikasi, sehingga kita susah ngomong.
Sementara itu, di pihak lain…ada orang yang lancaaaaar banget kalau berbicara. Seakan-akan setelan bibir dan otaknya terkoneksi dengan baik dan tepat. Nah, ini dia nih yang kita perlu sharing di sini. Mau khaaaan ??
Iyalah…mumpung hari libur…kita ngobrol yang ringan-ringan saja dulu. Bukankah berkomunikasi dan ngomong itu adalah aktivitas rutin kita sehari-hari ? Mari kita lihat sejenak, apakah kita sudah berkomunikasi dengan nikmat dan bermanfaat.
Selamat menikmati…semoga berkenan…
Jakarta, 23 April 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-4
Sabtu , 23 April 2011
Start : 4/23/2011 7:26:46 AM
Finish : 4/23/2011 8:32:08 AM
SUSAHNYA NGOMONG…
Saya sedang ngobrol dengan seorang teman. Tepatnya dia sedang curhat…mencurahkan isi hati ( dan pikirannya) kepada saya. Sambil menyeruput teh hangat, dan sesekali mencomot pisang goreng di hadapan kami, saya pun mendengarkan dengan seksama.
Intinya dia bilang begini ,” Susah banget ngomong sama suamiku. Maunya dia kemana, maunya aku kemana. Belum lagi anak-anak…bahasanya tidak bisa dimengerti !”
Halaaahh…kalau nggak bisa ngomong. Kalau bahasanya tidak bisa dimengerti. Lhaaa…selama ini ngapain aja ? Begitu batin saya…hehehe…
Keluhan teman saya, barangkali juga suatu ketika pernah kita alami. Entah sekali, entah dua kali, entah berkali-kali. Dan biasanya kita akan menjatuhkan vonis : “Mereka memang tidak bisa dimengerti. Tidak bisa diajak ngomong !”
Sssttt…tunggu dulu…Sabaaaarrr…
♥
Kita, keluarga kita, suami atau isteri, pasangan mesra atau kekasih, orangtua dan anak, pembantu rumahtangga, supir, tetangga, penjual ketoprak keliling, tukang sayur, tukang ojeg, satpam di lingkungan perumahan, ketua RT dan RW…dan sebagainya pastilah memiliki kemampuan berbahasa yang ‘sama’. Artinya, bisa mendengarkan, bisa mengucapkan, dan bisa berbicara satu dengan lainnya.
Nah, kenapa suami atau isteri kita bisa berbicara enak dan asyik dengan orang lain, sementara dengan kita seperti kucing dan tikus…Mau saling mengejar dan menyakiti ?
Atau, anak-anak kita. Ketika masih kecil, balita – di bawah umur lima tahun, mereka adalah anak-anak yang manis dan ‘mudah diajak ngomong’. Sementara sekarang, ketika mereka masuk ke usia remaja, kita merasa bahwa mereka seakan-akan mahluk aneh dari luar angkasa. Menjadi alien.
Lalu, pembantu, supir, dan segenap orang lain di sekitar kita, kadang menjadi orang-orang tidak dikenal yang tiba-tiba muncul dengan bahasa yang tidak kita pahami. Yang tidak bisa menerima dan menjalankan perintah kita sesuai dengan kehendak kita. Yang suka sok kreatif dan sok tahu, padahal salah melulu.
Ohlalaaaaaaa…kalau begini kehidupan kita, bagaimana kita berkomunikasi dengan dunia ? Apakah kita mau ngomong-ngomong sendiri saja, dan melakukan segalanya sendirian, tanpa interaksi dan bantuan orang lain ? Okeeee…selamat jalan kalau begitu. Pergilah ke laut…* memancing ikan maksudnya…hehe*
ADA APA DENGAN KOMUNIKASI KITA ?
Ini dia yang harus kita pertanyakan kepada diri sendiri. Ada apa dengan komunikasi kita ?
Banyak teori mengenai komunikasi. Namun intinya adalah, bagaimana kita menggunakan simbol bahasa, baik yang lisan maupun tertulis, baik yang berupa kata-kata maupun gerak tubuh, yang dipahami kedua belah pihak, untuk menyampaikan maksud dan menjalankan apa yang kita inginkan.
Sekarang coba kita cek diri sendiri. Seberapa jauh kita menggunakan simbol bahasa, termasuk gaya bahasa, dialek dan informasi, yang sama dengan orang lain ? Ambil contoh misalnya dengan suami atau isteri. Ketika kita akan berbicara dengan mereka, apakah kita sudah menyamakan simbol bahasa yang biasa digunakan oleh pasangan kita, untuk memulai suatu komunikasi ?
Kadang-kadang, entah kenapa, kita suka ‘malas’ untuk mempelajari simbol bahasa yang digunakan pasangan kita. Menurut kita, kalau bahasa atau kata-katanya sama, pastilah artinya sama. Padahal kadang-kadang ada orang yang berbicara atau berkomunikasi dengan bahasa hati dan pikirannya sendiri, dengan menggunakan perlambang. Ada orang yang mudah dan terbuka, ada orang yang hanya memiliki kosa kata terbatas atau istilah yang berbeda.
Kemalasan inilah yang pada awalnya kita abaikan, dan semakin lama akan membuat jurang komunikasi semakin lebar dan semakin dalam. Kita sering berpikir sendiri, bahwa apa yang diucapkan itulah yang menjadi arti sebenarnya. Namun sering terjadi, apa yang diucapkan mengandung arti ganda atau arti berbeda. Karena interpretasi kita sendiri, kita malas bertanya ulang atau mengecek maksud dan tujuan, akhirnya komunikasi yang kita harapkan tidak tersambung lagi.
PERBEDAAN GENERASI, PERBEDAAN PENGALAMAN
Hal yang sekarang semakin sering kita dengar, atau kita alami sendiri, adalah perbedaan bahasa antara orangtua dan anak.
Tidak jarang saya mendengar keluhan ,” Waaah…anak saya sekarang sulit dimengerti.” Sementara dari pihak anak, terutama remaja yang sedang tumbuh kembang ada juga keluhan seperti ini , “Mama sih payah. Nggak mau mengerti maunya kita. Apalagi Papa,
kalau ngomong maunya menang sendiri. Males deh ngomong sama mereka !”
Lha…kalau kedua belah pihak sudah merasa ada yang tidak beres dengan komunikasi antar mereka, kenapa salah satu pihak tidak mau mengerti ?
Orangtua sering tidak mau disalahkan, karena menurut mereka, mereka lebih berpengalaman. Dengan demikian, mereka berhak mengatur anak-anak mereka, dengan bahasa mereka.
Okeeee…berpengalaman ! Itu sebuah modal yang menarik. Kalau sudah berpengalaman, lalu apa ? Kita, sebagai orangtua, memang berpengalaman. Kita sudah melewati banyak tahun, di masa lalu. Kita sudah pernah menjadi remaja, sebelum kita tumbuh menjadi orang dewasa yang beranjak tua. Tapiiii…itu DULU ! Ingat ini.
Bahasa yang kita pakai dulu, berbeda dengan bahasa anak-anak dan remaja sekarang.
Oke, kita berbahasa atau berkata-kata dalam bahasa yang sama. Tapi seringkali maknanya berbeda. Contoh satu kata ,’ KENTANG ‘. Sebagai orangtua, dari generasi sebelumnya, barangkali kita memaknai kentang sebagai sebuah umbi, atau makanan yang enak digoreng. Namun, bagi sebagian besar remaja gaul, istilah kentang berbeda maknanya. Coba tanya pada mereka, apa arti kentang menurut bahasa remaja ? Anda, saya, kita pasti akan tercengang, karena maknanya sangat berbeda dan jauh dari makanan !
Itu baru urusan kentang. Belum lagi urusan kebutuhan remaja sekarang. Menurut kamus jaman kita , orangtua generasi sebelumnya, anak yang manis adalah anak yang duduk diam-diam di meja belajar sambil mengulang pelajarannya. Namun ternyata sekarang, anak yang duduk diam-diam di kamarnya, bisa jadi memiliki peluang untuk merambah dunia maya yang sarat dengan godaan. Dan ketika dia terjerumus ke dalam godaan itu, kita – orangtua, lagi-lagi dibuat tercengang, dan heran, bahwa anak kita sudah begitu jauh melangkah tanpa kita ketahui.
PERBEDAAN KEBUTUHAN, PERBEDAAN PERSEPSI
Dunia ini bergerak. Sangat dinamis dalam waktu beberapa dekade terakhir ini. Dan itu mempengaruhi bentuk komunikasi, penggunaan simbol bahasa dan kebutuhan interaksi lainnya.
Dulu…kita hanya bisa berinteraksi bila kita bertatap muka, atau paling jauh adalah berkirim surat dan menatap foto yang dikirim oleh orang lain. Lihat sekarang ! Dalam detik yang sama, kita bisa ngobrol dengan seseorang, menatap wajahnya, melihatnya bergerak ke sana ke mari, padahal dia jauh dari jangkauan kita.
Apa yang terjadi di belahan dunia lain, pada detik yang sama dapat kita lihat dan kita dengar di tempat kita berada sekarang. Dan itu semua berpengaruh terhadap pola komunikasi kita. Di dalam keluarga, di dalam organisasi dan pekerjaan, di lingkungan sosial, dan di mana pun kita berada.
Suami yang melek teknologi, akan menggunakan simbol bahasa teknologi tinggi dalam komunikasi dan pembicaraannya sehari-hari. Mereka, boleh jadi akan menganggap pasangannya sebagai mahluk aneh yang ketinggalan jaman, bila tidak memahami bahasanya. Begitu pula para isteri, yang memiliki dunia di rumah maupun di komunitasnya, punya bahasa sendiri yang eksklusif dan kadang tidak dipahami oleh pasangannya.
Ketika kedua orang ini berbicara, kadang-kadang timbul kesenjangan bahasa dan perbedaan persepsi. Lalu, daripada menimbulkan konflik lebih dalam, kedua belah pihak akhirnya menutup mulut, diam, dan menghentikan komunikasi. Tidak ada lagi curah pendapat, sharing, berbagi perasaan dan pemikiran, karena symbol bahasanya sudah berbeda. Kebutuhannya berbeda. Kepentingannya berbeda.
MEMAHAMI DUNIA ORANG LAIN
Lalu…apakah komunikasi itu ?
Komunikasi adalah interaksi antara dua orang atau lebih, dengan menggunakan ‘simbol bahasa’ yang dipahami kedua belah pihak, dan dilaksanakan dengan nyaman untuk perkembangan diri masing-masing. Dalam hal ini ada saling pengaruh-mempengaruhi yang membuat kedua belah pihak memiliki kesamaan pandangan.
Jadi kalau satu pihak hanya berbicara, atau berbunyi-bunyi, atau bergerak-gerak, sedangkan pihak yang diajak berkomunikasi tidak memahami maknanya, maka komunikasi itu tidak berjalan dengan lancar. Komunikasi tidak lancar, membuat kedua belah pihak tidak nyaman. Bisa jadi, salah satu pihak lantas menutup diri, dan enggan melanjutkan interaksi.
Belajar berkomunikasi adalah belajar memahami dunia orang lain. Bukan sekedar berbicara atau berkata-kata. Tetapi memaknai apa yang ada di dalam ‘dunia’ orang lain. Di dalam pikiran dan perasaannya.
Memahami dunia orang lain, dalam bahasa komunikasi adalah menyamakan pandangan.
Untuk menyamakan pandangan kita harus memahami posisi orang tersebut, informasi apa yang dimilikinya, kebutuhan apa yang hendak dipenuhinya, dan bagaimana dia menyampaikan kebutuhannya. Setelah kesamaan pandangan ini timbul, barulah kita secara bersama-sama memutuskan, siapa yang hendak memandu komunikasi. Siapa yang mendengarkan, dan siapa yang didengarkan. Saling mendengarkan, saling memahami, saling melengkapi informasi adalah bagian dari komunikasi.
Mudah ? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung dari keinginan Anda, saya, kita…
Mau berkomunikasi dengan lancar ? Mau ngomong lancar ? Marilah buka hati…buka pikiran…tingkatkan kualitas hidup kita…dan terimalah dunia sekitar kita dengan cara pandang yang baru…
Semoga bermanfaat.
Jakarta, 23 April 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk anakku si Cantik, yang mengajarkan aku untuk mendengarkan sebelum berbicara…terima kasih juga untuk Pangeran Remote Control yang sering menggunakan simbol bahasa berbeda, sehingga aku harus terus belajar dan beradaptasi…Dan juga..semua teman, sahabat, asisten-asisten di rumah…yang membuat aku semakin banyak belajar cara ngomong yang bisa dipahami…hehehe…
Art-Living Sos 2011 (A-4 Kue Pancong
Dear Allz…
Selamat siaaaaannggg…selamat hari Minggu…selamat liburaaan…Hmmh…gembira sekali rasanya…Setelah libur dua hari berturut-turut…masih ada hari ini…untuk melanjutkan refreshing yang masih tertunda…hehehe..
Saya sendiri, cukup istirahat dan beraktivitas…dan Alhamdulillah…bisa menikmati saat-saat yang saya miliki. Ada jadwal yang bisa dipenuhi. Ada jadwal yang terpaksa ditunda atau disingkirkan dulu. Yeaaaah…hidup ini kan sebuah pilihan. Tidak bisa kita ambil semua. Yang penting bukan sekedar jumlahnya. Tetapi bagaimana waktu itu memiliki makna dan berarti untuk kita. Begitu khaaan ?
Hmmmh…di hari Minggu yang mendung-mendung empuk ini, saya sudah mengisi sebagian hari dengan kegiatan domestik…belanja dan memasak. Dan akhirnya…seperti biasaaa…saya jadi ingin berbagi cerita. Masih cerita sederhana, seputar kehidupan kita. Kali ini…saya ingin cerita tentang kue pancong.
Iya…barangkali kue pancong cukup akrab dengan kita. Bagi saya, kue pancong tidak sekedar jajan pasar. Tapi ada cerita lucu di baliknya. Dan banyak kenangan sepanjang jalan dengan si Kue Pancong ini.
Oke deeeh…tak berpanjang kata…saya langsung saja ya ? Oya…karena ini cerita kue pancong, tidak ada salahnya juga kita menikmatinya sembari menyeruput secangkir teh atau kopi. Bagaimana ? Sudah siaaaaapppp ???
Selamat menikmati…semoga berkenan…nyaaaam…nyaaaam….
Jakarta, 24 April 2011
Salam hangat di hari minggu…
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-4
Minggu , 24 April 2011
Start : 24/4/2011 10:25:05
Finish : 24/4/2011 11:26:14 AM
KUE PANCONG…
Hari libur. Saya sedang menikmati waktu sendiri…’Me time’ gitu deeeh… Setelah hari-hari yang penuh dengan aktivitas yang menguras waktu dan pikiran…naaah, ini saatnya memanjakan diri. Termasuk di dalamnya merusak diet…hehehehe…dan memanjakan lidah dengan makan apa sajaaaaaa…sepanjang halal dan masih bisa diterima oleh tubuh…hmh…
Iyalah…kata seorang teman saya, kita – maksudnya emak-emak, yang sudah banting tulang bekerja setiap hari, kadang tidak sempat menikmati hasil kerjanya sendiri. Jalan-jalan…belanja…biasanya pasti ingat orang di rumah. Oleh-oleh…untuk orang lain biasanya lebih banyak daripada untuk diri sendiri. Bahkan makanan atau cemilan, mesti ingat orang di rumah, baru ingat diri sendiri. Sudah kebiasaan barangkali, ya ? Emak-emak cenderung mendahulukan orang di rumah, keluarga atau sahabatnya, daripada diri sendiri…eheeem…* sambil melihat ke diri sendiri…benar gak siiich ?...*
Begitulah. Hari libur yang lumayan cerah itu saya gunakan untuk merawat diri. Ahaaa…bukan mobil atau motor saja yang perlu masuk bengkel. Manusia juga. Perlu perawatan, dan barangkali membetulkan sekrup dan otot yang longgar…hehehe…Saya memilih pijat refleksi di dekat rumah. Langganan yang sudah terasa manjur pijatannya. Asyiiiikkk…Sembilan puluh menit berlalu. Dan saya ke luar dari tempat pijat dengan badan ringan, kepala segar…dan perut lapar…hahahaha…
Sambil berjalan terhuyung-huyung menuju tempat perawatan berikut di salon sebelahnya, saya melihat ada seorang penjual kue pancong. Gerobaknya mangkal di depan salon yang saya tuju. Halaaah…ini dia. Pucuk dicinta, ulam tiba…eeeh, lapar dicinta…kue pancong nongol…hehe…
Ini adalah salah satu kue tradisional kesukaan saya. Kue pancong kelapa, yang rasanya gurih karena adonan campuran kelapa dengan tepung . Saya membeli dua lonjor, yang masing-masing berisi lima potong kue berbentuk setengah lingkaran. Harganya murah meriah. Hanya lima ribu rupiah, untuk sepuluh potong. Dan sambil menunggu giliran rambut dipermak, saya pun mencicipi sepotong dua potong kue pancong kelapa itu…hmh…nyem…nyem…
♥
Tidak hanya di depan salon langganan dekat rumah ada penjual kue pancong, yang bagi orang Bandung disebut kue bandros. Penjaja kue pancong, ada yang memikul dagangannya keliling kampung atau kompleks perumahan , dan kadang mangkal di sekitar sekolah-sekolah SD . Menjadi cemilan atau pengganjal lapar yang cukup mengenyangkan.
Belakangan, penjaja kue pancong juga mulai melebarkan sayapnya, ke daerah perkantoran.
Di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, ada beberapa penjaja kue pancong yang menggelar dagangannya dekat pusat perkantoran di pagi hari. Ada yang dipikul, ada yang didorong dengan gerobak. Kadang, selain kue pancong kelapa yang klasik ini, mereka juga menambah dagangannya dengan kue pukis yang terbuat dari adonan tepung terigu. Tapi tetaaaaaap…kue pancong kelapa menjadi primadona. Terutama buat saya…hehe…
Iya…perjalanan hidup saya, mau tidak mau diwarnai dengan kehadiran kue pancong kelapa ini. Sejak saya masih kanak-kanak di Medan, hingga kuliah di Bandung, dan mencari nafkah di Jakarta, saya sering mengisi waktu luang dengan ngemil kue pancong.
Saya ingat, di Medan dulu kue pancong ini sering berkeliling kompleks perumahan. Anak-anak tetangga saya dengan heboh dan gegap gempita selalu jajan kue ini. Biasanya mereka membeli satu lonjor berisi lima potong, lalu dibagi-bagi dengan saudara-saudaranya. Saya, yang jarang mendapat uang jajan hanya bisa gigit jari melihat kemeriahan itu. Dan sesekali, kalau ibu saya sedang berbaik hati, maka saya akan dibelikan satu lonjor…dibagi sekeluarga…hiks hiks hiks…
Suatu ketika, saat tukang jual kue pancong lewat di depan rumah, ibu saya sedang tidak di rumah. Padahal saya kepengeeeeen banget kue pancong itu. Mau minta kepada teman, mereka pun dapat jatah pas-pasan. Saat itu, satu lonjor kue harganya satu rupiah (..hmm..satu rupiah beneran !). Tapi kalau mau beli sepotong, harganya setalen atau dua puluh lima sen.
Mendengar penjelasan tukang jual kue pancong, saya langsung lari , pulang ke rumah. Mencari-cari di dapur, barangkali ada uang setalen sisa belanja yang tergeletak di sembarang tempat ( biasa khan, emak-emak suka lupa dengan uang kembalian belanja..). Untunglah…ada sekeping uang setalen, yang tersembunyi di dekat tempat bumbu dapur.
Secepat kilat uang setalen itu saya ambil, saya cuci bersih dulu biar kinclong, dan dalam sekejap bertukar dengan sepotong kue pancong yang wangi dan gurih…Saya menerima kue itu dengan hati berdebar-debar…dan pelan-pelan mengecapnya dengan ujung lidah, sebelum akhirnya saya kunyah selembut mungkin… Aaachh..sedaaaap ! Barangkali, dari semua kue pancong yang pernah saya makan, kue pancong yang setalen itu adalah kue pancong paling enak sedunia…hahahaha…
♥
Ngomong-ngomong soal kue pancong. Kue yang terbuat dari adonan sederhana, tepung beras, air dan parutan kelapa, serta tambahan sedikit garam adalah jajanan yang sehat dan lezat cita rasanya. Adonan ini kemudian dimasak di dalam cetakan yang berbentuk lobang-lobang setengah lingkaran, lalu dipanggang di atas bara api atau arang. Cetakan kue ini, ada yang terbuat dari logam berwarna putih dan ada yang terbuat dari kuningan. Setelah matang, yang ditandai dengan aroma yang menguar dan keringnya bagian bawah kue, maka kue pancong siap disantap.
Ada orang yang suka menambahkan gula pasir pada saat masih panas, sehingga gulanya meleleh sedikit. Tapi ada juga yang tidak menambahkan apa-apa.
Saya sendiri suka menyantap kue pancong dengan serundeng kelapa atau abon daging. Kue pancong adalah kue dasar. Artinya bisa dimakan begitu saja, atau dibuat tambahan variasi yang lain. Mau manis, atau mau asin, atau bahkan rasa pedas juga tidak menjadi masalah. Kalau sedang dalam kondisi lapar, kue pancong ini sebetulnya bisa menjadi pengganti nasi, karena bahan bakunya tepung beras. Ditambah dengan parutan kelapa, maka sebetulnya sudah mencukupi untuk kebutuhan karbohidrat seketika.
Saya tidak tahu, dari mana asal usul kue pancong ini. Pun namanya ‘pancong’, apakah berasal dari kata ‘pancung ‘? Memancung ujung kue dengan sodetan, agar bisa keluar dari cetakannya…Kalau begitu, ..waaah..serem juga. Yang jelas, penyebaran kue pancong ini bisa ditemukan di kota-kota di Sumatra, di Jawa dan barangkali di pulau-pulau lainnya di wilayah Nusantara. Barangkali karena kemudahan proses pemasakannya, maka kue ini juga cepat menyebar ke seantero daerah. Apalagi bila dibandingkan antara modal bahan baku dan harga jual yang cukup menjanjikan, maka kue pancong ini tetap bertahan dari jaman ke jaman. Tidak minder atau rendah diri menghadapi berbagai kue import dengan segala variasinya.
Yang unik adalah satu hal…Kue ini jarang menjadi kue rumahan yang dimasak sendiri. Kue pancong ini khas menjadi kue jajan pasar yang dijual oleh pedagang khusus. Mungkin karena bentuknya yang seperti sol sepatu, atau karena lebih enak disantap saat panas, jadinya kue pancong ini lebih cocok untuk makanan pribadi. Jarang tampil di dalam jajaran kue jajan pasar di pesta-pesta atau acara keluarga. Yang pasti…dia selalu dirindukan, dan dinanti untuk sarapan pagi, cemilan atau makanan sela antara jam makan siang dengan sore hari.
♥
Melihat kue pancong yang tersisa di piring, di atas meja makan di rumah saya, membuat saya merenung.
Apa sih kue pancong ? Siapa sih kue pancong ? Tapi coba tanyakan, berapa banyak orang yang kenal dan pernah mencicipi kue pancong ? Dan tanyakan juga, apakah mereka pernah bosan makan kue pancong ?
Sungguh…kue pancong hanyalah kue jajan pasar yang sederhana, yang bahkan belum naik kasta untuk menjadi hidangan pesta. Tapi apa yang sudah dilakukan oleh sepotong kue pancong dalam keseharian hidup kita ?
Barangkali, kue pancong juga sama dengan sebagian besar kita. Yang merasa diri ‘ hanya begini’ saja. Yang merasa belum cukup derajat untuk naik ke kasta lebih tinggi. Tapiiiii…seperti kue pancong sederhana yang punya makna dan selalu dirindukan, kenapa kita tidak belajar dari kehadiran kue pancong di dalam kehidupan kita ?
Biar saja kita jadi orang sederhana. Biar saja kita jadi orang yang ‘belum layak’ untuk bergaul di lingkungan atas atau sosialita kota. Tapi…dalam kebersahajaan, dalam kesederhanaan…kita tetap punya arti bagi dunia…
Begitu khaaaannn ???
Mau menikmati sepotong kue pancong kelapa ? Mau belajar tentang kesederhanaan yang bisa membaur dengan segala suasana ? Mareeee…kita icip-icip dulu….hhmmhhh…
Jakarta, 24 April 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih kepada segenap jajaran penjual kue pancong kelapa…terutama kue pancong kelapa di Medan, yang memberi kesempatan untuk aku menikmati sepotong dunia kecil yang nikmaaaat…Aku belajar banyak dari kue pancong…tengkyuuuuuu…. Kue pancong juga kue persahabatan...yang mengingatkan aku pada hari-hari indah bersama sahabat-sahabat BCA...Uhuuyyy...sudah menjadi kue pancong-ku...hehe...
Selamat siaaaaannggg…selamat hari Minggu…selamat liburaaan…Hmmh…gembira sekali rasanya…Setelah libur dua hari berturut-turut…masih ada hari ini…untuk melanjutkan refreshing yang masih tertunda…hehehe..
Saya sendiri, cukup istirahat dan beraktivitas…dan Alhamdulillah…bisa menikmati saat-saat yang saya miliki. Ada jadwal yang bisa dipenuhi. Ada jadwal yang terpaksa ditunda atau disingkirkan dulu. Yeaaaah…hidup ini kan sebuah pilihan. Tidak bisa kita ambil semua. Yang penting bukan sekedar jumlahnya. Tetapi bagaimana waktu itu memiliki makna dan berarti untuk kita. Begitu khaaan ?
Hmmmh…di hari Minggu yang mendung-mendung empuk ini, saya sudah mengisi sebagian hari dengan kegiatan domestik…belanja dan memasak. Dan akhirnya…seperti biasaaa…saya jadi ingin berbagi cerita. Masih cerita sederhana, seputar kehidupan kita. Kali ini…saya ingin cerita tentang kue pancong.
Iya…barangkali kue pancong cukup akrab dengan kita. Bagi saya, kue pancong tidak sekedar jajan pasar. Tapi ada cerita lucu di baliknya. Dan banyak kenangan sepanjang jalan dengan si Kue Pancong ini.
Oke deeeh…tak berpanjang kata…saya langsung saja ya ? Oya…karena ini cerita kue pancong, tidak ada salahnya juga kita menikmatinya sembari menyeruput secangkir teh atau kopi. Bagaimana ? Sudah siaaaaapppp ???
Selamat menikmati…semoga berkenan…nyaaaam…nyaaaam….
Jakarta, 24 April 2011
Salam hangat di hari minggu…
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2011 (A-4
Minggu , 24 April 2011
Start : 24/4/2011 10:25:05
Finish : 24/4/2011 11:26:14 AM
KUE PANCONG…
Hari libur. Saya sedang menikmati waktu sendiri…’Me time’ gitu deeeh… Setelah hari-hari yang penuh dengan aktivitas yang menguras waktu dan pikiran…naaah, ini saatnya memanjakan diri. Termasuk di dalamnya merusak diet…hehehehe…dan memanjakan lidah dengan makan apa sajaaaaaa…sepanjang halal dan masih bisa diterima oleh tubuh…hmh…
Iyalah…kata seorang teman saya, kita – maksudnya emak-emak, yang sudah banting tulang bekerja setiap hari, kadang tidak sempat menikmati hasil kerjanya sendiri. Jalan-jalan…belanja…biasanya pasti ingat orang di rumah. Oleh-oleh…untuk orang lain biasanya lebih banyak daripada untuk diri sendiri. Bahkan makanan atau cemilan, mesti ingat orang di rumah, baru ingat diri sendiri. Sudah kebiasaan barangkali, ya ? Emak-emak cenderung mendahulukan orang di rumah, keluarga atau sahabatnya, daripada diri sendiri…eheeem…* sambil melihat ke diri sendiri…benar gak siiich ?...*
Begitulah. Hari libur yang lumayan cerah itu saya gunakan untuk merawat diri. Ahaaa…bukan mobil atau motor saja yang perlu masuk bengkel. Manusia juga. Perlu perawatan, dan barangkali membetulkan sekrup dan otot yang longgar…hehehe…Saya memilih pijat refleksi di dekat rumah. Langganan yang sudah terasa manjur pijatannya. Asyiiiikkk…Sembilan puluh menit berlalu. Dan saya ke luar dari tempat pijat dengan badan ringan, kepala segar…dan perut lapar…hahahaha…
Sambil berjalan terhuyung-huyung menuju tempat perawatan berikut di salon sebelahnya, saya melihat ada seorang penjual kue pancong. Gerobaknya mangkal di depan salon yang saya tuju. Halaaah…ini dia. Pucuk dicinta, ulam tiba…eeeh, lapar dicinta…kue pancong nongol…hehe…
Ini adalah salah satu kue tradisional kesukaan saya. Kue pancong kelapa, yang rasanya gurih karena adonan campuran kelapa dengan tepung . Saya membeli dua lonjor, yang masing-masing berisi lima potong kue berbentuk setengah lingkaran. Harganya murah meriah. Hanya lima ribu rupiah, untuk sepuluh potong. Dan sambil menunggu giliran rambut dipermak, saya pun mencicipi sepotong dua potong kue pancong kelapa itu…hmh…nyem…nyem…
♥
Tidak hanya di depan salon langganan dekat rumah ada penjual kue pancong, yang bagi orang Bandung disebut kue bandros. Penjaja kue pancong, ada yang memikul dagangannya keliling kampung atau kompleks perumahan , dan kadang mangkal di sekitar sekolah-sekolah SD . Menjadi cemilan atau pengganjal lapar yang cukup mengenyangkan.
Belakangan, penjaja kue pancong juga mulai melebarkan sayapnya, ke daerah perkantoran.
Di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, ada beberapa penjaja kue pancong yang menggelar dagangannya dekat pusat perkantoran di pagi hari. Ada yang dipikul, ada yang didorong dengan gerobak. Kadang, selain kue pancong kelapa yang klasik ini, mereka juga menambah dagangannya dengan kue pukis yang terbuat dari adonan tepung terigu. Tapi tetaaaaaap…kue pancong kelapa menjadi primadona. Terutama buat saya…hehe…
Iya…perjalanan hidup saya, mau tidak mau diwarnai dengan kehadiran kue pancong kelapa ini. Sejak saya masih kanak-kanak di Medan, hingga kuliah di Bandung, dan mencari nafkah di Jakarta, saya sering mengisi waktu luang dengan ngemil kue pancong.
Saya ingat, di Medan dulu kue pancong ini sering berkeliling kompleks perumahan. Anak-anak tetangga saya dengan heboh dan gegap gempita selalu jajan kue ini. Biasanya mereka membeli satu lonjor berisi lima potong, lalu dibagi-bagi dengan saudara-saudaranya. Saya, yang jarang mendapat uang jajan hanya bisa gigit jari melihat kemeriahan itu. Dan sesekali, kalau ibu saya sedang berbaik hati, maka saya akan dibelikan satu lonjor…dibagi sekeluarga…hiks hiks hiks…
Suatu ketika, saat tukang jual kue pancong lewat di depan rumah, ibu saya sedang tidak di rumah. Padahal saya kepengeeeeen banget kue pancong itu. Mau minta kepada teman, mereka pun dapat jatah pas-pasan. Saat itu, satu lonjor kue harganya satu rupiah (..hmm..satu rupiah beneran !). Tapi kalau mau beli sepotong, harganya setalen atau dua puluh lima sen.
Mendengar penjelasan tukang jual kue pancong, saya langsung lari , pulang ke rumah. Mencari-cari di dapur, barangkali ada uang setalen sisa belanja yang tergeletak di sembarang tempat ( biasa khan, emak-emak suka lupa dengan uang kembalian belanja..). Untunglah…ada sekeping uang setalen, yang tersembunyi di dekat tempat bumbu dapur.
Secepat kilat uang setalen itu saya ambil, saya cuci bersih dulu biar kinclong, dan dalam sekejap bertukar dengan sepotong kue pancong yang wangi dan gurih…Saya menerima kue itu dengan hati berdebar-debar…dan pelan-pelan mengecapnya dengan ujung lidah, sebelum akhirnya saya kunyah selembut mungkin… Aaachh..sedaaaap ! Barangkali, dari semua kue pancong yang pernah saya makan, kue pancong yang setalen itu adalah kue pancong paling enak sedunia…hahahaha…
♥
Ngomong-ngomong soal kue pancong. Kue yang terbuat dari adonan sederhana, tepung beras, air dan parutan kelapa, serta tambahan sedikit garam adalah jajanan yang sehat dan lezat cita rasanya. Adonan ini kemudian dimasak di dalam cetakan yang berbentuk lobang-lobang setengah lingkaran, lalu dipanggang di atas bara api atau arang. Cetakan kue ini, ada yang terbuat dari logam berwarna putih dan ada yang terbuat dari kuningan. Setelah matang, yang ditandai dengan aroma yang menguar dan keringnya bagian bawah kue, maka kue pancong siap disantap.
Ada orang yang suka menambahkan gula pasir pada saat masih panas, sehingga gulanya meleleh sedikit. Tapi ada juga yang tidak menambahkan apa-apa.
Saya sendiri suka menyantap kue pancong dengan serundeng kelapa atau abon daging. Kue pancong adalah kue dasar. Artinya bisa dimakan begitu saja, atau dibuat tambahan variasi yang lain. Mau manis, atau mau asin, atau bahkan rasa pedas juga tidak menjadi masalah. Kalau sedang dalam kondisi lapar, kue pancong ini sebetulnya bisa menjadi pengganti nasi, karena bahan bakunya tepung beras. Ditambah dengan parutan kelapa, maka sebetulnya sudah mencukupi untuk kebutuhan karbohidrat seketika.
Saya tidak tahu, dari mana asal usul kue pancong ini. Pun namanya ‘pancong’, apakah berasal dari kata ‘pancung ‘? Memancung ujung kue dengan sodetan, agar bisa keluar dari cetakannya…Kalau begitu, ..waaah..serem juga. Yang jelas, penyebaran kue pancong ini bisa ditemukan di kota-kota di Sumatra, di Jawa dan barangkali di pulau-pulau lainnya di wilayah Nusantara. Barangkali karena kemudahan proses pemasakannya, maka kue ini juga cepat menyebar ke seantero daerah. Apalagi bila dibandingkan antara modal bahan baku dan harga jual yang cukup menjanjikan, maka kue pancong ini tetap bertahan dari jaman ke jaman. Tidak minder atau rendah diri menghadapi berbagai kue import dengan segala variasinya.
Yang unik adalah satu hal…Kue ini jarang menjadi kue rumahan yang dimasak sendiri. Kue pancong ini khas menjadi kue jajan pasar yang dijual oleh pedagang khusus. Mungkin karena bentuknya yang seperti sol sepatu, atau karena lebih enak disantap saat panas, jadinya kue pancong ini lebih cocok untuk makanan pribadi. Jarang tampil di dalam jajaran kue jajan pasar di pesta-pesta atau acara keluarga. Yang pasti…dia selalu dirindukan, dan dinanti untuk sarapan pagi, cemilan atau makanan sela antara jam makan siang dengan sore hari.
♥
Melihat kue pancong yang tersisa di piring, di atas meja makan di rumah saya, membuat saya merenung.
Apa sih kue pancong ? Siapa sih kue pancong ? Tapi coba tanyakan, berapa banyak orang yang kenal dan pernah mencicipi kue pancong ? Dan tanyakan juga, apakah mereka pernah bosan makan kue pancong ?
Sungguh…kue pancong hanyalah kue jajan pasar yang sederhana, yang bahkan belum naik kasta untuk menjadi hidangan pesta. Tapi apa yang sudah dilakukan oleh sepotong kue pancong dalam keseharian hidup kita ?
Barangkali, kue pancong juga sama dengan sebagian besar kita. Yang merasa diri ‘ hanya begini’ saja. Yang merasa belum cukup derajat untuk naik ke kasta lebih tinggi. Tapiiiii…seperti kue pancong sederhana yang punya makna dan selalu dirindukan, kenapa kita tidak belajar dari kehadiran kue pancong di dalam kehidupan kita ?
Biar saja kita jadi orang sederhana. Biar saja kita jadi orang yang ‘belum layak’ untuk bergaul di lingkungan atas atau sosialita kota. Tapi…dalam kebersahajaan, dalam kesederhanaan…kita tetap punya arti bagi dunia…
Begitu khaaaannn ???
Mau menikmati sepotong kue pancong kelapa ? Mau belajar tentang kesederhanaan yang bisa membaur dengan segala suasana ? Mareeee…kita icip-icip dulu….hhmmhhh…
Jakarta, 24 April 2011
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih kepada segenap jajaran penjual kue pancong kelapa…terutama kue pancong kelapa di Medan, yang memberi kesempatan untuk aku menikmati sepotong dunia kecil yang nikmaaaat…Aku belajar banyak dari kue pancong…tengkyuuuuuu…. Kue pancong juga kue persahabatan...yang mengingatkan aku pada hari-hari indah bersama sahabat-sahabat BCA...Uhuuyyy...sudah menjadi kue pancong-ku...hehe...
Sabtu, 20 November 2010
Art-Living Sos 2010 (A-3 Serba-serbi Serabi
Dear Allz…
Hmmmh…apakabaaaarr ? Semoga semua kabar baik, ya…Jangan ada yang sakit, baik sakit badan maupun sakit hati…hehehe…Iya, lho…sakit hati itu bisa jadi penyakit yang berlarut-larut. Makanya cepatlah sembuhkan hati yang sakit, agar kita segar bugar kembali…
Laaaah...kenapa hari gini membicarakan soal sakit hati sich ? aaaah...tidak apa-apa...Sakit hati itu bisa terjadi karena kita merasa tersinggung atas perlakuan orang terhadap kita. Kenapa ? Bisa jadi karena perbedaan pendapat. Boleh jadi juga karena perbedaan persepsi. Nah, urusan perbedaan persepsi ini yang bikin runyam...membuat kita berprasangka ( biasanya sih prasangka buruk...heh heh...) terhadap orang lain.
Kalau urusannya sudah prasangka, barangkali bisa kita urut lebih jauh sedikit. Kenapa sih kita harus berprasangka kepada si A, tapi tidak kepada si B, walaupun mereka melontarkan ide atau pernyataan yang sama ? Di sini memang ada perbedaan nilai dan kepentingan. Ketika kita sedang berusaha menjalin hubungan dengan si B, maka apa pun yang dilakukannya akan kita anggap baik dan sesuai dengan diri kita. Tetapi sebaliknya, ketika kita tidak berkepentingan dengan si A, maka sedikit saja dia berbeda pendapat dengan kita, akan jadi prasangka buruk yang berkepanjangan.
Hidup ini memang didasari oleh pengindraan dan interpretasi. Ketika kita memasukkan pengetahuan, pengalaman, keyakinan dan nilai-nilai di dalam interpretasi itu, maka akan terjadi perbedaan. Maunya sih, pada saat terjadi perbedaan kita cepat-cepat introspeksi dan bertanya : Ada apa dengan diriku ? Kenapa saya dan dia berbeda ?
Banyak sekali hal-hal di dalam kehidupan masyarakat, yang dalam wujudnya tampak sama, tetapi ternyata memiliki makna yang berbeda. Contohnya adalah serabi. Iya...serabi, yang bundar-bundar itu. Walaupun bentuknya sederhana, tetapi begitu banyak perbedaan makna bila kita sudah membahasnya lebih mendalam...
Hmmmh...kalau serabi dapat membuat interpretasi yang berbeda, seharusnya dia pun dapat mempersatukan ide dan pendapat. Naaaaaaahhh....agar tidak berpanjang kata, mari kita cerita saja tentang serabi. Kalau teman dan sahabatku punya secangkir teh atau kopi, boleh jugalah kita menyantapnya bersama sepotong serabi hangat...Asyiiiiikkkk....
Selamat menikmati....selamat berserabi-ria...
Jakarta, 19 November 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-3
Serial : Food Psychology
Start : 10/13/2010 9:18:09 AM
Finish : 10/13/2010 11:57 AM
SERBA-SERBI..SERABI
Hari Sabtu. Pagi-pagi .
Saya sedang menikmati liburan di rumah. Biasanya pagi begini saya akan mempersiapkan sarapan yang khusus untuk keluarga. Tapi kali ini, suami saya, Pangeran Remote Control ingin sarapan serabi. Hmh…boleh juga tuh. Di pasar kompleks perumahan kami ada seorang ibu yang menjual serabi tradisional, yang terbuat dari adonan tepung beras dan dimasak dengan cara tradisional .
Serabi tepung beras ini dimasak satu persatu. Menggunakan anglo berbahan bakar arang, yang di atasnya diletakkan kuali kecil dari tanah liat, sambil dikipas-kipas agar serabinya matang secara merata. Kadang-kadang, kalau apinya terlalu besar, bagian bawah serabi agak gosong. Tapi justru aroma gosong inilah yang membuat rasa serabi menjadi unik dan enak…he he…
Selain pedagang serabi yang di pasar, masih ada lagi yang menjual serabi ala Bandung. Sama-sama berbentuk bundar, tetapi serabi Bandung dibuat dari campuran tepung beras dan tepung terigu, kemudian dicampur dengan daun suji sehingga berwarna hijau segar. Dimakannya dengan kuah kinca, gula merah yang dicampur dengan santan. Rasanya manis dan gurih, beraroma daun pandan. Serabi Bandung biasanya dijual dalam kemasan satu bungkus plastik, lengkap dengan kuah kinca. Sehingga praktis dan ringkas untuk dibawa pulang.
Kali ini saya memilih serabi tradisional, yang masih hangat . Baru diangkat dari kuali tempat memasaknya. Jadi deh…pagi itu kami menikmati sarapan istimewa, bundaran-bundaran serabi aneka rasa. Ada rasa manis yang diberi kuah kinca gula merah, dan ada serabi rasa asin yang ditaburi dengan sambal oncom. Dua-duanya enaaak…hangat dan lezat…hmmhh…yuummmyyy…
♥
Saat lain. Saya sedang mengikuti acara kongres Himpunan Psikologi di Solo. Tapi kali ini saya bukan mau cerita soal kongresnya.
Ada sisi lain sebuah Solo yang membuat saya suka kangen dengan jajanan dan plesiran ala Solo . Ini bukan kali yang pertama saya datang ke Solo dan menikmati seni kuliner di sana. Dan setiap kali….saya selalu kangen dengan nasi liwet yang khas, serta…hmmm…serabinya. Serabi Solo yang manis gurih itu memang agak beda dibandingkan dengan serabi-serabi kerabatnya yang lain…Membayangkan rasanya saja… hmmh..sudah membuat air liur menetes-netes…wuuiihh…
Serabi Solo, proses pembuatannya hampir sama dengan semua serabi yang ada di kota lain. Dengan bahan dasar tepung beras dan santan, sehingga menjadi adonan yang kalis. Kemudian cara memasaknya satu persatu di kuali terbuat dari tanah liat. Yang membuat serabi Solo ini memiliki rasa yang istimewa adalah bentuknya yang nyaris datar, dengan pinggiran yang kering krispi tetapi tengahnya tetap lembut dan agak basah. Belakangan serabi Solo tidak hanya berasa manis, tapi sudah dimodifikasi dengan topping pisang, keju, coklat dan aneka tambahan lain sesuai selera.
Karena kelezatan dan kepopulerannya, sekarang serabi Solo banyak dijual di kota-kota lain, semisal di Jakarta. Di pertokoan yang tidak jauh dari kompleks perumahan saya ada juga yang menjual serabi Solo aneka rasa. Mereka membuka gerainya sejak pagi hari hingga malam. Dan di saat-saat tertentu, pembeli harus antri untuk menunggu serabi selesai dimasak…halaah…
♥
Urusan serabi, memang tidak hanya monopoli Solo dan Bandung. Hampir semua kota dan budaya di Indonesia mengenal serabi, atau ada yang menyebutnya surabi atau serabai . Kue bundar berbahan dasar tepung beras ini mudah dibuat, tetapi uniknya setiap daerah memiliki ciri masing-masing.
Saya sendiri juga penyuka serabi. Semasa saya masih bertempat tinggal di Medan, saya suka makan serabi yang hanya berasa manis gurih, tidak pakai kinca atau siraman saus gula merah. Serabi yang besarnya seukuran tutup gelas, bisa dicubit-cubit sambil ngobrol iseng sepulang sekolah. Memang...serabi di masa sekolah dulu lebih sering disantap sebagai jajanan iseng, tidak mengenyangkan, tetapi asyik buat dikunyah-kunyah.
Kebiasaan makan serabi tetap berlanjut hingga kini. Apalagi ketika saya tinggal di Bandung, ada serabi asin yang ditaburi sambal ebi atau udang kering, dan sambal oncom. Dulu saya tidak suka serabi asin, karena rasanya aneh…Serabi seharusnya manis…hiiikss…Tapi setelah mencicipi serabi asin ala Bandung, sekarang saya jadi doyan dan hmm…agak tergila-gila dengan serabi model seperti itu…hihi…
Tidak salah, kalau kota Bandung disebut sebagai kota wisata kuliner. Setelah urusan serabi asin yang tradisional itu, sekarang muncul kreasi-kreasi baru serabi dengan berbagai topping dan campuran. Sekarang serabi tidak terbatas asin dan manis saja, tetapi semua rasa yang diperkirakan bisa dicampur atau ditempelkan di atas adonan akan dijadikan serabi…heu heu…Jangan heran kalau kita akan menemukan serabi rasa stroberi, durian, nangka, nenas…dan semua buah-buah tropis yang disukai…Serta yang asin berasa keju, kornet, daging asap, ayam jamur, dan lain-lain.
Untuk yang agak ‘modern’ serabi bisa juga diberi topping sirup caramel, sirup maple ( ini pasti sirup import…dari sari pohon maple), dan kalau mau coba…sirup markisa atau terong belanda…hehe..Ini jadi mirip dengan pancake. Makanan dari manca Negara yang adonannya mirip dengan serabi Bandung atau serabi Solo, tapi bentuknya lebih datar , tebal dan rata dari tengah sampai ke pinggirannya.
♥
Cerita tentang serabi, sebetulnya tidak sekedar cerita wisata kuliner dan icip-icip di saat santai.
Di dalam budaya Jawa, serabi justru erat hubungannya dengan ritual budaya yang sering digelar terkait dengan upacara tertentu. Serabi, entah sejak kapan selalu ada di dalam acara-acara adat dan keagamaan , seperti acara Upacara Sekaten dan puncak acara yang disebut Grebeg Muludan . Acara Sekaten ini, di Solo maupun di Jogyakarta dikaitkan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Serabi bersama makanan lain seperti apem merupakan salah satu sajian, atau sering disebut sajen, yang melengkapi ritual acara Hari Maulid Nabi Muhammad.
Selain memeriahkan acara Sekaten, serabi juga sering disajikan bersama dengan makanan lain dalam berbagai acara selamatan . Upacara selamatan kelahiran, syukuran rumah baru, acara-acara yang berkaitan dengan musim tanam dan musim panen, serta berbagai upacara peringatan yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa. Serabi untuk sajen ini juga biasanya serabi biasa, kadang tanpa rasa manis atau asin , hanya terdiri dari adonan tepung beras dan santan kelapa saja. Konon serabi ini juga merupakan simbol kehidupan, karena beras dan kelapa merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat kita.
♥
Melihat serabi yang tinggal remah-remahnya di piring, saya merenung .
Sepotong makanan sederhana itu ternyata mewakili banyak kebutuhan dalam strata makan. Memang, makan tidak sekedar memenuhi kebutuhan lapar belaka. Makanan di sebagian besar masyarakat telah menjadi gaya hidup dan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Demikian pula, di dalam masyarakat yang telah memiliki kehidupan spiritual yang tinggi, makanan pun sering dihubungkan dengan tata cara pemenuhan kebutuhan spiritual ini.
Sajen atau sesajian, tidak sekedar menyediakan makanan lahir, tetapi terlebih lagi adalah makanan batin. Serabi hanya salah satu jenis makanan yang mewakili simbol spiritual tertentu. Coba saja tanyakan kepada orang-orang yang biasa melakukan upacara seperti itu, untuk mengganti serabi dengan makanan lain. Pasti mereka menolak. Bukan karena sekedar serabi, tetapi karena serabi telah menjadi simbol yang mewakili keyakinan atau kepercayaannya terhadap sesuatu.
Begitulah....
Ketika sepotong serabi telah memiliki nilai budaya dan nilai spiritual, maka dia tidak lagi sekedar makanan biasa. Dia tidak lagi sekedar memuaskan keinginan icip-icip atau mengenyangkan perut . Lebih jauh lagi, ia telah memuaskan batin dan memberikan ketenangan jiwa untuk satu masa tertentu.
Aaaah…sungguh indah. Dari sesuatu yang sederhana kita bisa belajar begitu banyak. Dari warung di dekat rumah saya hingga Acara Sekaten di Solo dan Jogyakarta.
Ada yang mau menelusuri lebih jauh lagi ?
♥
Jakarta, 13 Oktober 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk Pangeran Remote Control , serabi-mania yang menjadi Inspirasi tulisan ini..Juga para penggemar serabi Solo...Rudi, Neno, mb Nuki...hmh... hidup bertambah semarak dengan serabi...heu heu...
♥
Label:
food psychology
Sabtu, 06 November 2010
Art-Living Sos 2010 (A-10 Gaya Roti
Dear Allz....
Met pagiiiiiiiiiiiiiiiii.....oooohooooooyyyyyy....hari Sabtu niiiih...week end, bagi yang sedang berlibur...dan hari beres-beres nasional, bagi yang mau membereskan segala sesuatunya...
Di tengah situasi negara dan bangsa kita yang memprihatinkan, saya berharap teman dan sahabat serta keluarga saya semua tetap dalam lindungan Yang Maha Memiliki Kehidupan...sehat wal’afiat tidak kurang suatu apa. Di dalam kelebihan dan kecukupan yang kita miliki, sudah seyogyanya kita bersyukur kepadaNya...dan mendoakan saudara-saudara serta sahabat kita di lain tempat agar mereka juga mendapatkan kecukupan dan kesehatan yang sama.
Di hari cerah ceria di seputar Jakarta ( semoga di tempat lain juga), saya ingin mengirimkan sedikit hidangan...sepotong roti, untuk santapan teman dan sahabatku sekalian. Barangkali dengan berbagi roti ini, saya juga dapat berbagi keceriaan yang akan menghangatkan hati kita semua.
Oya...jangan lupa sarapan...agar gula darah kita terjaga. Dan mari kita bersyukur, bahwa masih ada sepotong roti atau sepiring nasi yang menemani kita hari ini...
Selamat menikmati....semoga berkenan...
Jakarta, 6 November 2010
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-10
Serial : Food Psychology
Start : 22/10/2010 12:06:23
Finish : 06/11/2010 7:23:31
GAYA ROTI
Di kantor. Jam makan siang. Saya sedang tidak berselera untuk menyantap makanan berat....hmmh...maksudnya nasi and the gang plus lauk-pauk...Biasanya sih, tanpa nasi hidup saya ada yang kurang.
Nggak tau nih...apa karena tadi pagi sudah menyantap nasi uduk plus tempe goreng ( hahahaha...tempe mania bangeeet), jadi perut masih terasa penuh. Saya sedang mempertimbangkan, mau makan siang sekedarnya, atau mencari pilihan lain. Sekilas melintas ide tentang segala jenis penganan yang dijual di seputar kantor. Gado-gado, ketoprak, siomay, soto mie, bakso, nasi goreng...halaaaaah...masih berat semua. Stop dulu ! Tapi, masa sih di siang hari bolong begini makan keripik doang ?
Tiba-tiba seorang teman nyeletuk. “ Makan roti aja, Mbak .”
“ Roti ? Siang hari begini ?”
“ Lha...memangnya kenapa kalau siang-siang makan roti ? Bukannya roti itu bisa dimakan kapan saja ? Pagi, siang, sore, malam ?”
“ Mhh...kalau ada roti bakar sih oke juga ,” sambut saya. Saya memang termasuk fans of roti bakar...hehe..
“ Mana ada roti bakar siang hari begini. Ada juga roti bakery . Ada tuh, di mal.” Teman saya menyebut satu merek roti yang sedang naik daun namanya. Gerainya pun tersebar di beberapa pusat perbelanjaan papan atas.
“ Aaaccch...gak doyan. Rasanya terlalu gurih. Enakan roti kampung yang agak-agak gosong ,” kilah saya. Memang saya tidak terlalu doyan makan roti, kecuali beberapa jenis yang biasa-biasa saja.
“ Mana ada roti di kampung...heh...heh..”, sambung teman saya lagi.
“ Iya...roti kan makanan orang kota.” Celetuk yang lain.
“ Hussyhh...! Kenapa jadi ada diskriminasi makanan orang kota dan orang kampung, sih ?”
“ Iyalah...dulu kan nggak ada orang kampung makan roti. Ada juga makan nasi, jagung, singkong, ubi, sagu.”
“ Orang kota kan juga makan nasi sama jagung, sama ubi.”
“ Tapi makan roti itu kan kesannya modern. Kayak makanan orang bule.”
Perbincangan jeda sejenak. Saya masih mempertimbangkan. Roti atau gado-gado ? Roti atau ketoprak ? Roti atau mie goreng ? Roti atau...???
♥
Di saat lain. Di tempat lain.
Saya sedang berbelanja di pusat perbelanjaan di kompleks perumahan. Lumayan sih, ada mal di dekat rumah. Jadi kapan ada keperluan atau ingin rekreasi, bisa langsung nyelonong ke mal...hm...
Sambil belanja dan cuci mata melihat toko-toko yang berderet di dalam mal, saya melihat ada antrian yang mengular di sebuah gerai roti. Waduuuh...sampai segininya orang mengantri untuk membeli roti ?
Saya perhatikan, orang-orang memilih sendiri roti yang ditata indah di dalam rak-rak roti. Dengan penuh gairah dan rasa penasaran, mereka menikmati saat memilih, membalik-balik roti, dan kemudian meletakkannya di atas baki seperti mereka mengumpulkan harta karun. Wajah-wajahnya bahagia dan penuh kemenangan karena berhasil mendapatkan roti yang tampak mewah dan menguarkan aroma lezat.
Lalu ketika menjinjing bungkusan roti yang besar, mereka melangkah dengan gaya gagah dan gembira. Tidak sabar ingin segera pulang ke rumah dan mencicipi roti ala mal yang mewah itu.
Saya pernah ikut melibatkan diri, berbaur dengan antrian yang panjang. Rasanya tidak sabar, karena untuk membayar roti itu kita harus menunggu giliran. Berhubung saya tidak terlalu doyan roti, jadinya urusan antri itu menjadi pertimbangan utama untuk memilih dan membeli roti di tempat-tempat yang ramai.
Barangkali akan beda rasanya, kalau menyantap roti adalah urusan hidup dan mati, urusan lapar dan kenyang. Dalam kondisi seperti itu, maka sama seperti nasi, roti harus ada di dalam hidup ini.
♥
Urusan roti memang tidak sekali dua kali itu saja menjadi perdebatan.
Selain roti bakar kesukaan saya, yang isinya Cuma gula pasir dan dipanggang di atas kompor, maka roti lain hanyalah sekedar selingan saja. Oya...saya juga doyan tawar , roti kelapa dan roti manis polos yang kecil-kecil, yang bisa dimakan sekali atau dua kali gigitan. Sekarang disebut roti unyil atau roti mungil. Roti manis ini bisa disantap sambil iseng, tidak harus dalam keadaan lapar. Jadi tidak ada beban untuk kenyang atau mengisi perut sampai padat...heu heu...
Tapi tiap orang kan punya selera berbeda-beda. Ada yang doyan roti manis polos ( saya juga sukaaaaa....), ada yang doyan roti pakai isi aneka rasa. Roti isian manis seperti kelapa, coklat, selai atau jam, gula, susu, kacang, buah-buahan kering . Atau juga roti isian asin seperti keju, daging olahan, ikan, abon, dan sebagainya.
Dulu roti memang serba terbatas variasinya. Sama seperti nasi, roti juga masih merupakan makanan utama dan makanan pokok bagi negara-negara empat musim atau negara penghasil gandum. Konon, sejarah roti pun sudah sangat amat panjang. Mungkin ribuan tahun lalu, ketika orang sudah dapat mengolah gandum dan membuat tepung. Tentu saja dengan bentuk dan rasa yang standar. Yang penting, roti itu mengenyangkan.
Perjalanan roti dari jenis dan rasa yang sederhana dan sekedar mengenyangkan perut semakin berkembang dari waktu ke waktu. Tidak hanya di manca negara yang memang pemakan roti, juga di negeri kita. Saya ingat. Semasa saya masih anak-anak dulu, jenis dan rasa roti memang agak terbatas. Di Medan yang paling populer adalah roti manis, roti isi kelapa, roti isi coklat dan roti isi kacang. Roti juga masih makanan terbatas yang hanya disantap oleh kalangan tertentu saja.
Roti yang dulu bisa dibuat rumahan, sebagai bagian dari pekerjaan ibu rumahtangga, semakin lama menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Mungkin, bagi bangsa pemakan roti, cukup repot bila sehari-hari harus membuat roti. Lebih baik membeli roti sesuai kebutuhan.
Rupanya peluang itu dilihat oleh para pengusaha makanan dan roti. Mereka pun berusaha memasuki pasar yang dibuka atas nama perut ini. Roti yang semula hanya sekedar mengenyangkan dan dibuat oleh ibu rumahtangga, sekarang dikembangkan menjadi lebih bervariasi. Roti pun tidak lagi hanya sebagai makanan pokok, namun sudah bergeser menjadi makanan selingan, entertaintment dan gaya hidup.
Barangkali itu juga sebabnya sekarang orang-orang mulai merasa, bahwa menyantap roti tertentu akan turut mendongkrak gengsinya. Roti merek tertentu mengambil kesempatan ini, dan menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup kelas tertentu.
Di Indonesia sendiri untuk diversifikasi pangan, presiden kita pernah mencanangkan gerakan mengganti nasi dengan roti. Sejak itulah booming roti sebagai pengganti makanan pokok. Tapi tentunya tidak mudah untuk merubah kebiasaan menyantap nasi dan menggantinya dengan roti. Salah satu cara adalah dengan merubah konsep pemasaran dan penampilan roti agar tampak berkelas.
♥
Kembali kepada roti, kembali kepada gaya hidup.
Gaya hidup memang tegantung dari kebutuhan. Kalau mengikuti teori kebutuhan Maslow, roti memenuhi beberapa lapis kebutuhan. Mulai dari lapis paling dasar yaitu kebutuhan makan dan mengenyangkan untuk bertahan hidup. Hingga kebutuhan sosial, seperti pergaulan, dan kebutuhan pengakuan diri.
Bila sekedar untuk rasa kenyang dan memenuhi rasa lapar, bentuk roti dan rasanya hanya standar. Gurih atau tawar. Tapi sejalan dengan meningkatnya kebutuhan, maka variasi rasa dan bentuk pun mulai berkembang. Roti pun mengenal estetika atau rasa keindahan.
Bahkan di beberapa masyarakat, termasuk di Indonesia, ada yang menggunakan roti sebagai bagian dari adat istiadat. Di Jakarta, dalam masyarakat Betawi, kita mengenal adanya roti buaya – yaitu roti berbentuk buaya yang dipergunakan sebagai bagian upacara adat pernikahan. Roti buaya konon melambangkan keharmonisan buaya yang setia kepada pasangannya.
Selain dalam upacara adat, roti juga dipergunakan di dalam upacara ritual agama. Tentunya roti untuk ritual atau upacara agama berbeda dengan roti yang kita makan sehari-hari. Roti ini dikenal tanpa ragi, tetapi tetap disebut roti.
Eeeeh...ada satu lagi. Bahwa roti juga bisa mewakili kerinduan dan fanatisme. Contohnya roti isi kelapa ala orang Medan. Saking fanatiknya orang Medan dengan roti isi kelapa parut ini, di dalam setiap reuni akbar anak-anak Medan, maka Sang Roti Kelapa wajib ada. Pernah pula, ketika reuni diadakan di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta, Sang Roti Kelapa hadir dengan megahnya bersanding dengan makanan hotel internasional itu...Gubrak bangeeet deeh..!!...Hahaha...
♥
Siang ini saya menyantap sepotong roti untuk pengganjel perut. Roti isi coklat dan sisiran keju, yang dijual di gerai dekat kantor. Melihat remah-remah roti yang tertinggal di dalam piring saji, membuat saya termenung.
Roti adalah makanan yang memiliki rentang fungsi yang cukup luas. Dari sekedar pengganjal usus hingga untuk acara-acara sosial dan upacara agama. Kadang demi sepotong roti, orang tega berebut dan berbuat suatu tindakan yang melanggar peraturan, seperti mencuri atau berbohong. Bahkan ada orang yang memaksakan diri, membeli sepotong roti demi gengsi dan status sosial.
Roti dalam skala yang lebih besar juga menjadi sebuah lahan bisnis yang memiliki rantai cukup panjang. Dari mulai gandum, menjadi tepung, dan menjadi roti. Roti semakin akrab dengan kehidupan kita, dan mewarnai banyak sisi kehidupan dengan berbagai kebutuhan dan gaya yang ditampilkan.
Dari sekedar roti tanpa ragi, hingga roti yang empuk dengan beraneka isi dan topping menggiurkan. Roti pun bisa ditemukan di sembarang tempat. Dari mulai warung pinggir jalan dan kios kecil di dekat rumah, hingga toko roti terkenal dengan jaringan internasional. Bahkan dari kantin sekolah hingga pedagang keliling yang menjajakan roti setiap pagi dan sore dan mewarnai kompleks perumahan kita.
Roti memang hanya makanan kecil. Tetapi ia telah mencukupkan kebutuhan kehidupan kita. Memenuhi kebutuhan untuk nafsu kehidupan . Membuat yang lapar menjadi kenyang. Membuat yang kurang percaya diri menjadi lebih bangga dan bergaya.
Mau belajar dari sepotong roti ? Mari sediakan secangkir teh atau kopi...Mari duduk dan menikmati sepotong roti bakar...hmmh...Semoga kita mendapat manfaat dari perut yang kenyang dan hati yang gembira...
♥
Jakarta, 29 Oktober 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk tukang roti di Medan dan Jakarta, yang menjadi inspirasi cerita ini...Juga tukang roti keliling di Medan, dan roti keling di Pajak Pringgan yang rotinya sedap bukan main...oya...untuk roti di Toko Perwari yang sekarang sudah tidak ada lagi...thanks untuk kenangan indah di masa kanak-kanakku dulu...
♥
Met pagiiiiiiiiiiiiiiiii.....oooohooooooyyyyyy....hari Sabtu niiiih...week end, bagi yang sedang berlibur...dan hari beres-beres nasional, bagi yang mau membereskan segala sesuatunya...
Di tengah situasi negara dan bangsa kita yang memprihatinkan, saya berharap teman dan sahabat serta keluarga saya semua tetap dalam lindungan Yang Maha Memiliki Kehidupan...sehat wal’afiat tidak kurang suatu apa. Di dalam kelebihan dan kecukupan yang kita miliki, sudah seyogyanya kita bersyukur kepadaNya...dan mendoakan saudara-saudara serta sahabat kita di lain tempat agar mereka juga mendapatkan kecukupan dan kesehatan yang sama.
Di hari cerah ceria di seputar Jakarta ( semoga di tempat lain juga), saya ingin mengirimkan sedikit hidangan...sepotong roti, untuk santapan teman dan sahabatku sekalian. Barangkali dengan berbagi roti ini, saya juga dapat berbagi keceriaan yang akan menghangatkan hati kita semua.
Oya...jangan lupa sarapan...agar gula darah kita terjaga. Dan mari kita bersyukur, bahwa masih ada sepotong roti atau sepiring nasi yang menemani kita hari ini...
Selamat menikmati....semoga berkenan...
Jakarta, 6 November 2010
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-10
Serial : Food Psychology
Start : 22/10/2010 12:06:23
Finish : 06/11/2010 7:23:31
GAYA ROTI
Di kantor. Jam makan siang. Saya sedang tidak berselera untuk menyantap makanan berat....hmmh...maksudnya nasi and the gang plus lauk-pauk...Biasanya sih, tanpa nasi hidup saya ada yang kurang.
Nggak tau nih...apa karena tadi pagi sudah menyantap nasi uduk plus tempe goreng ( hahahaha...tempe mania bangeeet), jadi perut masih terasa penuh. Saya sedang mempertimbangkan, mau makan siang sekedarnya, atau mencari pilihan lain. Sekilas melintas ide tentang segala jenis penganan yang dijual di seputar kantor. Gado-gado, ketoprak, siomay, soto mie, bakso, nasi goreng...halaaaaah...masih berat semua. Stop dulu ! Tapi, masa sih di siang hari bolong begini makan keripik doang ?
Tiba-tiba seorang teman nyeletuk. “ Makan roti aja, Mbak .”
“ Roti ? Siang hari begini ?”
“ Lha...memangnya kenapa kalau siang-siang makan roti ? Bukannya roti itu bisa dimakan kapan saja ? Pagi, siang, sore, malam ?”
“ Mhh...kalau ada roti bakar sih oke juga ,” sambut saya. Saya memang termasuk fans of roti bakar...hehe..
“ Mana ada roti bakar siang hari begini. Ada juga roti bakery . Ada tuh, di mal.” Teman saya menyebut satu merek roti yang sedang naik daun namanya. Gerainya pun tersebar di beberapa pusat perbelanjaan papan atas.
“ Aaaccch...gak doyan. Rasanya terlalu gurih. Enakan roti kampung yang agak-agak gosong ,” kilah saya. Memang saya tidak terlalu doyan makan roti, kecuali beberapa jenis yang biasa-biasa saja.
“ Mana ada roti di kampung...heh...heh..”, sambung teman saya lagi.
“ Iya...roti kan makanan orang kota.” Celetuk yang lain.
“ Hussyhh...! Kenapa jadi ada diskriminasi makanan orang kota dan orang kampung, sih ?”
“ Iyalah...dulu kan nggak ada orang kampung makan roti. Ada juga makan nasi, jagung, singkong, ubi, sagu.”
“ Orang kota kan juga makan nasi sama jagung, sama ubi.”
“ Tapi makan roti itu kan kesannya modern. Kayak makanan orang bule.”
Perbincangan jeda sejenak. Saya masih mempertimbangkan. Roti atau gado-gado ? Roti atau ketoprak ? Roti atau mie goreng ? Roti atau...???
♥
Di saat lain. Di tempat lain.
Saya sedang berbelanja di pusat perbelanjaan di kompleks perumahan. Lumayan sih, ada mal di dekat rumah. Jadi kapan ada keperluan atau ingin rekreasi, bisa langsung nyelonong ke mal...hm...
Sambil belanja dan cuci mata melihat toko-toko yang berderet di dalam mal, saya melihat ada antrian yang mengular di sebuah gerai roti. Waduuuh...sampai segininya orang mengantri untuk membeli roti ?
Saya perhatikan, orang-orang memilih sendiri roti yang ditata indah di dalam rak-rak roti. Dengan penuh gairah dan rasa penasaran, mereka menikmati saat memilih, membalik-balik roti, dan kemudian meletakkannya di atas baki seperti mereka mengumpulkan harta karun. Wajah-wajahnya bahagia dan penuh kemenangan karena berhasil mendapatkan roti yang tampak mewah dan menguarkan aroma lezat.
Lalu ketika menjinjing bungkusan roti yang besar, mereka melangkah dengan gaya gagah dan gembira. Tidak sabar ingin segera pulang ke rumah dan mencicipi roti ala mal yang mewah itu.
Saya pernah ikut melibatkan diri, berbaur dengan antrian yang panjang. Rasanya tidak sabar, karena untuk membayar roti itu kita harus menunggu giliran. Berhubung saya tidak terlalu doyan roti, jadinya urusan antri itu menjadi pertimbangan utama untuk memilih dan membeli roti di tempat-tempat yang ramai.
Barangkali akan beda rasanya, kalau menyantap roti adalah urusan hidup dan mati, urusan lapar dan kenyang. Dalam kondisi seperti itu, maka sama seperti nasi, roti harus ada di dalam hidup ini.
♥
Urusan roti memang tidak sekali dua kali itu saja menjadi perdebatan.
Selain roti bakar kesukaan saya, yang isinya Cuma gula pasir dan dipanggang di atas kompor, maka roti lain hanyalah sekedar selingan saja. Oya...saya juga doyan tawar , roti kelapa dan roti manis polos yang kecil-kecil, yang bisa dimakan sekali atau dua kali gigitan. Sekarang disebut roti unyil atau roti mungil. Roti manis ini bisa disantap sambil iseng, tidak harus dalam keadaan lapar. Jadi tidak ada beban untuk kenyang atau mengisi perut sampai padat...heu heu...
Tapi tiap orang kan punya selera berbeda-beda. Ada yang doyan roti manis polos ( saya juga sukaaaaa....), ada yang doyan roti pakai isi aneka rasa. Roti isian manis seperti kelapa, coklat, selai atau jam, gula, susu, kacang, buah-buahan kering . Atau juga roti isian asin seperti keju, daging olahan, ikan, abon, dan sebagainya.
Dulu roti memang serba terbatas variasinya. Sama seperti nasi, roti juga masih merupakan makanan utama dan makanan pokok bagi negara-negara empat musim atau negara penghasil gandum. Konon, sejarah roti pun sudah sangat amat panjang. Mungkin ribuan tahun lalu, ketika orang sudah dapat mengolah gandum dan membuat tepung. Tentu saja dengan bentuk dan rasa yang standar. Yang penting, roti itu mengenyangkan.
Perjalanan roti dari jenis dan rasa yang sederhana dan sekedar mengenyangkan perut semakin berkembang dari waktu ke waktu. Tidak hanya di manca negara yang memang pemakan roti, juga di negeri kita. Saya ingat. Semasa saya masih anak-anak dulu, jenis dan rasa roti memang agak terbatas. Di Medan yang paling populer adalah roti manis, roti isi kelapa, roti isi coklat dan roti isi kacang. Roti juga masih makanan terbatas yang hanya disantap oleh kalangan tertentu saja.
Roti yang dulu bisa dibuat rumahan, sebagai bagian dari pekerjaan ibu rumahtangga, semakin lama menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Mungkin, bagi bangsa pemakan roti, cukup repot bila sehari-hari harus membuat roti. Lebih baik membeli roti sesuai kebutuhan.
Rupanya peluang itu dilihat oleh para pengusaha makanan dan roti. Mereka pun berusaha memasuki pasar yang dibuka atas nama perut ini. Roti yang semula hanya sekedar mengenyangkan dan dibuat oleh ibu rumahtangga, sekarang dikembangkan menjadi lebih bervariasi. Roti pun tidak lagi hanya sebagai makanan pokok, namun sudah bergeser menjadi makanan selingan, entertaintment dan gaya hidup.
Barangkali itu juga sebabnya sekarang orang-orang mulai merasa, bahwa menyantap roti tertentu akan turut mendongkrak gengsinya. Roti merek tertentu mengambil kesempatan ini, dan menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup kelas tertentu.
Di Indonesia sendiri untuk diversifikasi pangan, presiden kita pernah mencanangkan gerakan mengganti nasi dengan roti. Sejak itulah booming roti sebagai pengganti makanan pokok. Tapi tentunya tidak mudah untuk merubah kebiasaan menyantap nasi dan menggantinya dengan roti. Salah satu cara adalah dengan merubah konsep pemasaran dan penampilan roti agar tampak berkelas.
♥
Kembali kepada roti, kembali kepada gaya hidup.
Gaya hidup memang tegantung dari kebutuhan. Kalau mengikuti teori kebutuhan Maslow, roti memenuhi beberapa lapis kebutuhan. Mulai dari lapis paling dasar yaitu kebutuhan makan dan mengenyangkan untuk bertahan hidup. Hingga kebutuhan sosial, seperti pergaulan, dan kebutuhan pengakuan diri.
Bila sekedar untuk rasa kenyang dan memenuhi rasa lapar, bentuk roti dan rasanya hanya standar. Gurih atau tawar. Tapi sejalan dengan meningkatnya kebutuhan, maka variasi rasa dan bentuk pun mulai berkembang. Roti pun mengenal estetika atau rasa keindahan.
Bahkan di beberapa masyarakat, termasuk di Indonesia, ada yang menggunakan roti sebagai bagian dari adat istiadat. Di Jakarta, dalam masyarakat Betawi, kita mengenal adanya roti buaya – yaitu roti berbentuk buaya yang dipergunakan sebagai bagian upacara adat pernikahan. Roti buaya konon melambangkan keharmonisan buaya yang setia kepada pasangannya.
Selain dalam upacara adat, roti juga dipergunakan di dalam upacara ritual agama. Tentunya roti untuk ritual atau upacara agama berbeda dengan roti yang kita makan sehari-hari. Roti ini dikenal tanpa ragi, tetapi tetap disebut roti.
Eeeeh...ada satu lagi. Bahwa roti juga bisa mewakili kerinduan dan fanatisme. Contohnya roti isi kelapa ala orang Medan. Saking fanatiknya orang Medan dengan roti isi kelapa parut ini, di dalam setiap reuni akbar anak-anak Medan, maka Sang Roti Kelapa wajib ada. Pernah pula, ketika reuni diadakan di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta, Sang Roti Kelapa hadir dengan megahnya bersanding dengan makanan hotel internasional itu...Gubrak bangeeet deeh..!!...Hahaha...
♥
Siang ini saya menyantap sepotong roti untuk pengganjel perut. Roti isi coklat dan sisiran keju, yang dijual di gerai dekat kantor. Melihat remah-remah roti yang tertinggal di dalam piring saji, membuat saya termenung.
Roti adalah makanan yang memiliki rentang fungsi yang cukup luas. Dari sekedar pengganjal usus hingga untuk acara-acara sosial dan upacara agama. Kadang demi sepotong roti, orang tega berebut dan berbuat suatu tindakan yang melanggar peraturan, seperti mencuri atau berbohong. Bahkan ada orang yang memaksakan diri, membeli sepotong roti demi gengsi dan status sosial.
Roti dalam skala yang lebih besar juga menjadi sebuah lahan bisnis yang memiliki rantai cukup panjang. Dari mulai gandum, menjadi tepung, dan menjadi roti. Roti semakin akrab dengan kehidupan kita, dan mewarnai banyak sisi kehidupan dengan berbagai kebutuhan dan gaya yang ditampilkan.
Dari sekedar roti tanpa ragi, hingga roti yang empuk dengan beraneka isi dan topping menggiurkan. Roti pun bisa ditemukan di sembarang tempat. Dari mulai warung pinggir jalan dan kios kecil di dekat rumah, hingga toko roti terkenal dengan jaringan internasional. Bahkan dari kantin sekolah hingga pedagang keliling yang menjajakan roti setiap pagi dan sore dan mewarnai kompleks perumahan kita.
Roti memang hanya makanan kecil. Tetapi ia telah mencukupkan kebutuhan kehidupan kita. Memenuhi kebutuhan untuk nafsu kehidupan . Membuat yang lapar menjadi kenyang. Membuat yang kurang percaya diri menjadi lebih bangga dan bergaya.
Mau belajar dari sepotong roti ? Mari sediakan secangkir teh atau kopi...Mari duduk dan menikmati sepotong roti bakar...hmmh...Semoga kita mendapat manfaat dari perut yang kenyang dan hati yang gembira...
♥
Jakarta, 29 Oktober 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk tukang roti di Medan dan Jakarta, yang menjadi inspirasi cerita ini...Juga tukang roti keliling di Medan, dan roti keling di Pajak Pringgan yang rotinya sedap bukan main...oya...untuk roti di Toko Perwari yang sekarang sudah tidak ada lagi...thanks untuk kenangan indah di masa kanak-kanakku dulu...
♥
Label:
food psychology
Langganan:
Postingan (Atom)