Sabtu, 17 Oktober 2009
Surat kepada sahabat 2009 (A-10 Shandyakala di Muaro Jambi
Finish : 16/10/2009 10:36:04
Surat kepada sahabat 2009 (Oleh-oleh dari Jambi
SHANDYAKALA di MUARO JAMBI...
Jalan-jalan ke Jambi ? Mau ngapain ? Memangnya di Jambi ada apa ?
Barangkali itulah pertanyaan yang terbersit di benak kita, bila membicarakan tentang Jambi. Sebuah propinsi di pantai Timur Sumatra. Yang terletak agak terjepit diantara propinsi Riau dengan propinsi Sumatra Selatan. Selain posisinya yang terselip, Jambi kurang dikenal sebagai tujuan perjalanan yang menarik.
Ya, memang....Kita kan melakukan perjalanan mesti ada maksud dan tujuannya. Bahkan sebuah kawasan hutan belantara atau sebuah danau yang liar masih bisa dijadikan sebagai tujuan perjalanan. Ada nilai-nilai petualangan yang membuat rasa penasaran mencuat. Tapi kalau tidak ada apa-apanya ?
Hmmmhhh....justru karena alasan itulah saya jadi penasaran...hehehehe...
Masa sih, daerah yang saya sebut sebagai Negeri Angso Duo ini tidak punya apa-apa sebagai tujuan perjalanan ? Masa sih negeri yang pernah tersohor di abad-abad yang lalu tidak punya apa-apa sebagai jejak sejarah ? Yang benar saja....uuuuhhh....
♥
Berangkat dari rasa penasaran itu, dalam perjalanan ke Jambi kali ini saya pun pergi mengunjungi sebuah situs sejarah masa lalu. Yaitu kompleks situs Candi Muaro Jambi. Hmmh...ternyata ini situs percandian yang sangat unik.
Tanpa saya sadari, setelah menyusuri jalan setapak dari candi ke candi yang terletak di kawasan itu saya telah menyingkap sedikit catatan dari masa lalu. Di kawasan candi yang konon terluas wilayahnya di Indonesia ini, saya menemukan jejak-jejak sejarah yang menjadi tonggak perjalanan kerajaan-kerajaan Nusantara yang berjaya di masa lampau. Dengan luas kawasan sekitar 12 kilometer persegi, situs ini memiliki 80 buah candi. Sembilan diantaranya adalah candi-candi yang besar.
Sebut saja seperti Candi Gumpung dan candi Tinggi...Ini tempat saya berdiri sekarang. Candi ini adalah dua diantara enam candi yang sudah dipugar. Kemudian Candi Gedong Satu dan Gedong Dua ...yang jaraknya 4 kilometer dari Candi Gumpung. Candi Koto Mahligai, Candi Kedaton atau Candi Kedatuan, Candi Telago Rajo, Candi Kembar Batu dan Candi Astano yang tersebar di kawasan luas ini.
Tak hanya sekedar dipugar, kawasan candi ini pun dibuat seperti taman kebun dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang. Mirip dengan gambaran di komik-komik wayang karya R.A. Kosasih yang pernah saya baca semasa masih kanak-kanak dulu. Barangkali...R.A. Kosasih pun mendapatkan ide gambaran pohon-pohon dan tanah lapang yang luas dari penelusurannya di buku-buku sejarah lama...Wallahu alam.
Melanjutkan perjalanan di seputar kawasan situs Candi Muaro Jambi, saya melihat ada perbedaan material antara candi-candi di pulau Jawa dengan Candi Muaro Bungo ini. Jika candi di Jawa dibuat dari pahatan batu alam , yang tentunya berasal dari wilayah sekitarnya . Candi-candi di kawasan Muaro Bungo dibuat dari batu bata yang dibakar dengan teknik pembakaran keramik tempo dulu.
Melihat hasil pembakaran keramik, termasuk batu bata dan beberapa artefak lainnya, saya menduga tentulah teknik pembakaran keramik dan gerabah tempo dulu telah tinggi sekali. Bahkan setelah terpendam selama ratusan tahun di dalam tanah berawa-rawa seperti halnya kawasan situs percandian tersebut, hampir seluruh batubata yang ada tetap utuh dan dalam kondisi yang kuat.
Tak hanya sekedar tumpukan batu bata. Hasil galian di kawasan situs ini juga menemukan beberapa stupa dan arca. Ada stupa yang terletak di halaman candi. Dan ada arca batu Dwarapala, yang ditemukan di gapura Candi Gedong pada tahun 2002 . Biasanya terletak sebagai penjaga pintu gerbang sebuah kerajaan. Masih ada lagi, yaitu arca Dewi Pradnjaparamita, yang dikenal sebagai dewi kesuburan. Sayangnya, arca Dwarapala yang seharusnya sepasang belum ditemukan pasangannya. Sedangkan arca Dewi Pradnyaparamita tidak utuh kepala dan tangannya.
♥
Melihat situs yang berdiri di hadapan saya, rasanya seperti membuka buku pelajaran sejarah jaman SD. Dalam hitungan menit, saya membayangkan, di sinilah dulu kerajaan Sriwijaya yang terkenal dengan armada lautnya mulai mengembangkan jaringannya. Sungai Batanghari yang membelah propinsi Jambi , sungai Musi yang membelah kota Palembang, dan sungai-sungai besar lain di pantai Timur Sumatra adalah awal mula berdirinya kerajaan-kerajaan Nusantara yang mendunia.
Kita tentu masih ingat, betapa mesranya hubungan antara kerajaan Sriwijaya di Sumatra dengan kerajaan-kerajaan di India. Sehingga tidak hanya pertukaran budaya yang terjadi, tetapi juga saling pengaruh dalam kehidupan spiritual. Tidak heran kalau kemudian pengaruh agama Buddha dari India menjadi bagian dari kehidupan spiritual di Sriwijaya . Dan itu terlihat dari bukti sejarah yang terukir di situs Candi Muaro Jambi. Candi ini dulu memang merupakan kawasan peribadatan agama Buddha Tantrayana, salah satu aliran agama Buddha yang masih banyak penganutnya di Indonesia.
Penemuan tidak sengaja oleh seorang tentara Inggris bernama SC Crooke pada 1820, ketika ditugasi memetakan Sungai Batanghari , seakan membuka mata kita. Artefak yang berserakan ternyata adalah sebuah kawasan situs yang sangat berharga. Sebuah harta karun terpendam dari sebuah kerajaan besar yang menggetarkan dunia. Namun setelah berjaya ratusan tahun sebagai kerajaan maritim di abad tujuh hingga abad duabelas, kerajaan Sriwijaya pelahan-lahan mengalami masa suram .
Satu demi satu kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya melepaskan diri. Kembali kepada kekuasaan lokal. Atau takluk di bawah pengaruh kekuasaan baru yang datang kemudian. Dan akhirnya...di abad ke tigabelas dan empat belas...kerajaan yang mengilhami armada laut Indonesia dengan slogan ‘Jalesveva Jayamahe’...di laut kita jaya... perlahan-lahan menyurut dan hilang pamornya...
Sungguh seperti sebuah Shandyakala...saat senja...dari terang menuju ke kegelapan malam...
♥
Duduk di keremangan senja di antara reruntuhan situs candi yang sedang dipugar, saya merenung.
Di sekitar saya masih banyak serpih-serpih batu bata yang belum sempat dikumpulkan dan direkatkan. Di sekitar saya, barangkali bahkan di bawah tempat saya duduk saat ini masih banyak bukti sejarah yang belum sempat tergali. Atau bahkan tidak terlihat oleh kasat mata kita.
Tugas kita memang masih banyak. Tak sekedar menggali sisa-sisa kejayaan masa lalu. Tak sekedar menjadikan situs candi sebagai cagar budaya dan obyek wisata. Tetapi lebih jauh lagi adalah mempelajari filosofi dasar dari sebuah kehidupan, yang bergulir...dari sebuah kejayaan kepada sebuah shandyakala...
Saya jadi ingat sebuah lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi I’is Sugianto beberapa dekade lalu...
Kala senja kulihat mentari
Tiada lagi sinarnya memudar.. menghilang
Kuberjalan dalam kegelapan
Tiada lagi kawan menemani
Di senja yang sunyi kubernyanyi
Walau hati resah...menanti.
Seandainya saja kita bisa memetik pelajaran kehidupan dari sebuah situs masa lalu....
♥♥
Jakarta, 16 Oktober 2009
Salam sehangat mentari senja hari,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih untuk sahabat-sahabat perjalananku...Kun, yang selalu cerewet tanya-tanya “Candi apaan sih ini, Mich ?”, Adith yang begitu excited melihat tumpukan batu dan berusaha mencari auranya, Tami yang heboh sendiri membuat sejarah masa kini, Ruby dan Bea yang penasaran, Kang Asep dan ibu yang menginspirasi tujuan perjalanan ini, Jo yang terus menerus dipaksa jadi fotografer ......Thanks ya Nonce, yang sudah mengundang dan membujuki kami datang ke Jambi...Kami jadi belajar banyaaaaak sekali dari perjalanan ini... pokoknya everybody happy deeh ...I love U full...
Surat untuk sahabat 2009 (A-10 Negeri Angso Duo
Finish : 15/10/2009 17:00:12
Surat untuk sahabat 2009 ( Oleh-oleh dari Jambi
NEGERI ANGSO DUO
Ketika beberapa waktu lalu seorang sahabat mengundang ke Jambi, saya langsung bersorak-sorak dan bernorak-norak bergembira. Sudah cukup lama saya tidak berkunjung ke Negeri Angso Duo itu. Maklum, sebagai ‘Anak Sumantrah ‘ ( ini sebutan eyang saya bagi kami yang lahir di Sumatra), dan termasuk pelanglang-buana Bukit Barisan, perjalanan ke Jambi selalu menarik.
Seorang teman yang belum pernah ke Jambi ingin ikut bergabung. Dan dia tanya dengan rasa penasaran ,” Ada apa di Jambi ?” Saya terdiam. Tidak berani memberi komentar. Lalu melirik sahabat saya yang pernah lama tinggal di sana. Mencari jawaban.
Sahabat yang mengundang saya sempat terperangah sejenak. Lalu menjawab dengan nada ragu, “Apa, ya ? Di Jambi nggak ada apa-apa !”
Haaaahhh ? Tidak ada apa-apa ? Saya mengernyitkan kening. Tidak ada apa-apa menurut kacamata siapa ? Kalau dilihat dari kacamata pelancong Jakarta, dan dibandingkan dengan kota metropolitan itu, yaaaa...jelas dong ! Itu sama saja dengan membandingkan gajah dengan kura-kura....hehehehe...tapi kan tetap saja ada yang menarik di sana.
Salah satu diantaranya adalah legenda tentang Angso Duo !
Saya jadi ingat sebuah pantun lama tentang Angso Duo atau Angsa Dua seperti ini :
Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik Pulau si Angsa Dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik terkenang jua...
♥
Ngomong-ngomong tentang Jambi. Bagi kita penikmat siaran warta berita RRI pastilah tidak asing dengan berita harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional di Indonesia. Salah satu nama pasar yang selalu disebut–sebut oleh penyiar radio itu adalah Pasar Angso Duo, Jambi. Urusan tomat gondol, kol gepeng dan cabe keriting pasti dikaitkan dengan aktivitas transaksi di pasar Angso Duo .
Saya, yang sejak masih kecil dulu punya hobby mendengar warta berita pasar, tertarik juga dengan cerita Pasar Angso Duo ini. Dan akhirnya jadi penasaran, seperti apakah wujudnya si Pasar Angso Duo yang legendaris itu.
Jadi teringat. Bertahun-tahun lalu, ketika saya menginjakkan kaki ke Jambi, yang terletak di tepi sungai Batanghari. Yang pertama saya lakukan adalah berkunjung ke Pasar Angso Duo. Saya mondar mandir di lorong-lorongnya. Mencari keluarga tomat gondol, kol gepeng dan cabe keriting yang selalu dibacakan di dalam siaran warta berita RRI. Dan akhirnya, tak cuma tomat gondol and the gang yang saya temukan, tetapi juga berbagai jenis makanan dan barang pernak-pernik khas daerah Jambi.
Belakangan, dalam persinggahan berikutnya, saya pun menemukan berbagai bentuk peranti makan dan hiasan keramik serta kristal-kristal penghias ruangan . Semua dipajang di kios-kios kecil di dalam pasar. Bercampur dengan sayur-mayur dan kebutuhan pokok lainnya.
Untuk kulinernya, sebagai penggemar berat martabak, saya juga menemukan makanan kesukaan itu. Terselip di antara para pedagang lainnya. Dan tanpa menunggu lama , saya langsung memesan seporsi martabak telur ala Mesir yang disiram dengan kuah kari yang kental dan gurih rasanya...Sedaaaapppp !!! Saat itu juga saya langsung jatuh cinta pada Negeri Angso Duo. Hmmmhh....
♥
Rasa penasaran tentang si Angso Duo, masih melekat di benak saya ketika undangan dari sahabat itu saya terima.
Kenapa ya, nama pasar legendaris itu disebut Pasar Angso Duo ? Apakah itu ada hubungannya dengan pantun lama tadi, atau ada legenda lainnya ?
Setelah tanya kiri kanan, cari kesana kemari, saya menemukan sebuah hikayat turun menurun, legenda tentang asal usul nama Angso Duo. Mau tahu ceritanya ? Hmmm...begini...
Konon, pada masa Jambi masih merupakan bagian dari kerajaan Pagaruyung yang berada dibawah naungan kerajaan Majapahit, ada seorang putri cantik bernama Putri Selaras Pinang Masak. Ia bertempat tinggal di hulu sungai Batanghari, yang membelah wilayah Jambi.
Karena tidak mau tunduk kepada kekuasaan Majapahit, yang saat itu akan berpisah dari kerajaan Pagaruyung, maka ia pun melarikan diri dan dikejar-kejar oleh tentara Majapahit. Di dalam perjalanannya itu ia mendapat petuah, untuk mencari lokasi baru untuk tempat tinggalnya kelak . Lalu sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya, ia melepaskan dua ekor angsa, jantan dan betina di sungai Batanghari. Dan melihat di mana kedua angsa itu berhenti berenang, sebagai titik lokasi untuk mendapatkan kepastian di mana ia harus membangun istana yang baru. Pengganti istana yang ditinggalkannya di Pagaruyung.
Akhirnya ia melihat kedua angsa berhenti, di sebuah daratan . Dan di sanalah ia membangun istananya kembali. Lalu sejak itu, legenda tentang Angsa Dua , atau Angso Duo dalam dialek Jambi, menjadi terkenal dan tercatat dalam sejarah berdirinya kerajaan Melayu Jambi . Benar tidaknya kisah ini, wallahu alam...karena ini adalah hikayat turun temurun yang tetap hidup dalam masyarakat di sana.
Sekarang....legenda Angso Duo ini pun telah diabadikan dalam corak batik lokal Jambi yang khas. Si Angso Duo ini tak hanya indah menjadi busana , tetapi juga banyak dimanfaatkan untuk properti lainnya. Gorden batik, sarung bantal, taplak...semua bernuansa sepasang angsa dengan warna-warni yang beraneka. Cantik menarik....
♥
Bagi saya Jambi, atau Negeri Angso Duo ini memang masih menyisakan sejumlah pertanyaan dan rasa penasaran.
Selain terkenal dengan Pasar Angso Duo yang legendaris, Jambi juga tidak bisa dipisahkan oleh Sungai Batanghari yang mengalir dari hulunya di gunung-gunung Bukit Barisan di wilayah Sumatra Barat. Lalu, dengan pelahan sungai ini mengalir menuju Selat Sumatra atau dikenal juga dengan sebutan Selat Malaka di pantai timur Sumatra. Tak seperti sungai-sungai di Jakarta yang tidak seberapa lebarnya, sungai Batanghari di Jambi hampir satu kilometer lebarnya dari sisi kiri ke sisi kanan....wuiiiihh..
Penasaran dengan lebarnya sungai , akhirnya pada perjalanan ke Jambi kali ini, saya pun mencoba menyisir sungai dengan perahu pompong. Yaitu perahu panjang tanpa atap, dengan mesin motor ukuran kecil di belakangnya. Berlayar di sepanjang sungai, dari satu sisi sungai ke sisi lainnya saya memuaskan mata untuk melihat pemandangan kota dari tengah sungai yang mengalir tenang.
Sungguh....kota Jambi sekarang sudah memiliki banyak kemajuan. Tak hanya Pasar Angso Duo dengan cabe keriting dan kol gepeng yang mewarnai kota. Sekarang jejeran pertokoan dan mal mewah juga sudah menjadi bagian dari denyut kota. Nyaris tak berbeda dengan kota-kota di propinsi lain yang sedang bertumbuh. Jambi sekarang bukan tak ada apa-apanya, tapi justru sedang mengalami eforia pembangunan. Yang terkadang agak tertatih dan terkesan dipaksakan.
Meninggalkan Jambi di sore hari yang hangat, sekeping hati saya terasa miris.
Adakah Jambi, yang kata sahabat saya tidak ada apa-apanya itu, bisa mempertahankan identitas khas sebagai Negeri Angso Duo yang legendaris ?
Bisakah....hikayat lama tentang kejayaan masa lalu itu menjadi spirit pembangunan kota Jambi, tanpa meninggalkan roh budaya yang sudah melekat dan menyatu dengan nafas masyarakat setempat. Sehingga ketika kita menyebut nama Jambi, maka si Angso Duo tak hanya sekedar menjadi gambar di atas helai batik lokal yang indah. Tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah perkembangan sebuah kota yang memiliki prospek masa depan....
Semoga saja.....
♥♥
Jakarta, 15 Oktober 2009
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Jumat, 09 Oktober 2009
Art-Living Sos 2009 (A-10 Nyapu Yang Beneeeer.....
Sudah agak lama juga ya, kita nggak saling menyapa ...hehehe....Paling saya yang berkicau-kicau sendiri...hmmh...Rasanya kangen juga . Setelah lebaran, saya memang agak sibuk sedikit...sama seperti para ibu lainnya. Yang mengalami sindrom ‘back to basic’, atau kata seorang sahabat saya, terkena gangguan flu asisten...(mau ngomong terus terang, kok nggak enak ya...).
Akibat endemi flu asisten itu, kita-kita terutama kaum ibu, harus merubah ritme hidup. Yang tadinya bisa lebih lama berdandan di pagi hari, beberapa waktu sejak lebaran hingga hari-hari ini terpaksa meluangkan waktu lebih pendek untuk berdandan. Dan sebaliknya, menambah waktu untuk beberes ini itu, urusan domestik yang nggak pernah ada habisnya.
Salah satu urusan domestik yang tidak bisa dialihkan ke pihak lain, adalah menyapu... ya... M-E-N-Y-A-P-U.
Dari jaman saya masih kecil, sampai seumur sekarang...urusan sapu-menyapu itu belum sirna dari rangkaian job-description di dalam rumah tangga. Saya jadi ingin berbagi pengalaman sedikit dengan teman dan sahabat, mengenai sapu-menyapu ini. Mau khaaaan ???
Ya, harus maulah...hehehehe....kan giliran saya yang cerita sekarang...
Oke, yaaa....sambil menunggu kembalinya para ‘asisten’ rumahtangga ke dalam kehidupan kita, mari duduk bareng dulu...dan ngobrol sejenak tentang MENYAPU.
Selamat menikmati....Semoga menjadi inspirasi...
Pojok Bintaro, 9 Oktober 2009
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
Serial : Perempuan-perempuan
Art-Living Sos 2009 (A-10
Jumat, 09 Oktober 2009
Start : 09/10/2009 8:42:18
Finish : 09/10/2009 11:08:57
NYAPU YANG BENEEEEERR.....!!!
Pernah dengar kalimat seperti ini ,” Nyapu yang beneeeerr....kalau nggak bersih nanti dapat suami brengosan !”
Kalimat itu, dalam nada bercanda hingga serius dengan volume rock and roll sering saya dengar semasa masih remaja dulu. Barangkali bukan hanya saya. Teman-teman, sahabat, saudara-saudara saya , yang perempuan, juga tidak asing dengan kalimat dan pernyataan-pernyataan mitos seperti itu.
Anehnya, tanpa bermaksud membandingkan, kenapa saudara saya yang laki-laki tidak pernah diteriaki dengan kalimat yang sama. Atau paling tidak seperti ini ,”Nyapu yang bersih, biar dapat isteri yang cantik !” hehehe....
Kenapa...ya, kenapa hanya perempuan yang diteriaki oleh keluarga, paling tidak ibu, bibi, nenek dan tetua-tetua keluarga lainnya ? Apakah urusan sapu menyapu hanya urusan perempuan ? Halaaah...!!!
Truuuuuusss...ini yang lebih aneh. Apa hubungan antara ‘nyapu yang bener’ dengan suami yang brengosan...hahahaha....Brengosan itu kan seperti orang yang tidak bercukur beberapa hari, sehingga sekujur wajah ditumbuhi bulu-bulu. Jadi kesannya tidak rapi dan agak menyeramkan barangkali...heh heh...
Dan entah karena takut terkena ‘kutukan’ punya suami yang brengosan, atau karena sebab lain, membuat para gadis jaman dulu akan menyapu dengan sebersih-bersihnya. Tidak sambil lalu saja.
♥
Ngomong-ngomong soal mitos sapu-menyapu ini, saya jadi berpikir-pikir : mengapa ada perbedaan mitos untuk perempuan dan untuk anak laki-laki ? Kenapa lebih banyak mitos yang dikenakan kepada anak perempuan, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah atau istilah sekarang pekerjaan domestik ?
Di rumah saya dulu memang ada pembagian tugas rumahtangga, dan itu bukan karena perbedaan jenis kelaminnya. Saya, biasanya mendapat tugas menyapu dalam rumah dan halaman. Adik saya yang laki-laki mendapat tugas mengepel di dalam rumah. Adik-adik saya yang perempuan ada yang kebagian tugas mengelap perabot di dalam rumah, dan ada yang mengelap kaca jendela. Ada juga yang tugasnya mengurus adik saya yang paling kecil. Jadi adil buat semua.
Tapiiiiiii....sekali lagi, yang paling sering diteriak-teriaki agar menyapu dengan benar, ya memang hanya saya sendiri...hhmmh...Barangkali karena saya suka menyapu sambil bernyanyi-nyanyi...jadi dikira bekerjanya nggak serius yaa....hahaha...Padahal, menyanyi itu kan untuk menghibur hati agar tugas tidak terasa berat dan membosankan . Yang penting hasil akhir tetap beres...hehe....
Bukan sekali dua saya mendengar seruan, teriakan, sindiran, bahkan canda-canda seperti itu. Di rumah teman saya, sering juga saya mendengar neneknya menyindir seperti itu , dengan kalimat manis ,” Anak gadis kalau menyapu harus bersih sampai ke kolong-kolong meja dan lemari...nanti kalau tidak bersih bisa dapat suami berjenggot...”
Beda kata, tapi sama artinya ! Hihihi....
♥
Mitos dan perempuan, dari satu sudut pandang memang bagus. Artinya, perempuan, yang menurut kodrat dan nilai di dalam masyarakat adalah penguasa domestik rumahtangga sudah seharusnya menguasai tugas-tugasnya dengan baik dan benar. Jangankan urusan yang besar-besar, urusan yang kecil-kecil pun harus dilatih, diulang-ulang sampai bisa dilakukan dengan baik. Dalam bahasa kantoran harus jelas targetnya, dipahami prosedurnya, agar hasilnya optimal.
Pertanyaan berikutnya : Kenapa menyapu itu penting ?
Kalau kita bicara soal sapu menyapu ini , memang kegiatan itu adalah bagian paling dasar dalam urusan rumah tangga. Hal ini bisa kita bandingkan dengan kegiatan rumahtangga lainnya.
Masak memasak makanan misalnya, masih bisa beli matang dari restoran atau dari pedagang yang lewat di depan rumah. Dari mulai yang mangkal di restoran atau warung, hingga jasa layan antar dari restoran terkenal. Segala rasa dan segala harga. Mencuci dan setrika baju masih bisa dilakukan di tukang binatu atau jasa laundry yang sekarang ngetrend. Bahkan seperti di beberapa kompleks perumahan ada jasa pencuci keliling, yang mengambil cucian beberapa hari sekali. Mirip jasa laundry modern.
Mau tidak mau, urusan bebersih rumah dan sapu menyapu ini memang harus dikerjakan sendiri. Entah oleh pemilik rumah, termasuk deretan anak gadisnya, atau oleh pembantu rumahtangga yang sudah seperti properti wajib di dalam rumahtangga Indonesia saat ini. Beda dengan mengurus taman dan halaman rumah yang bisa mempergunakan jasa layanan taman atau tenaga outsourcing, maka urusan dalam rumah ini rasanya tak layak kalau diserahkan kepada pihak ketiga...apalagi minta tolong kepada tetangga sebelah rumah..hiehehehe...
Jadiiiii...kembali lagi, urusan mitos tadi memang sedikit banyak memang ada gunanya juga.
Antara lain, untuk memotivasi para penghuni rumah, agar rumah terjaga kebersihan dan keindahannya. Agar penghuni rumah menjadi nyaman, dan agar tamu yang datang juga tidak merasa risih berada di lingkungan yang kurang bersih. Hanya saja, karena jaman dulu itu orangtua belum memahami teori motivasi modern , atau supaya gampangnya saja ( karena urusan mendapatkan suami itu seperti target bagi setiap perempuan...hiks hiks..)...jadi memotivasi para perempuan agar mau bekerja dengan baik dengan iming-iming dan ancaman sekaligus.
♥
Masalah yang kedua....kenapa mitos menyapu dihubungkan dengan suami yang brengosan alias berambut atau berbulu acak-acakan di wajahnya ?
Barangkali ini ada juga kaitannya dengan target suami idaman para perempuan. Tak dapat disangkal, penampilan para lelaki juga menjadi target sasaran dari kaum perempuan. Jangan dikira, hanya laki-laki yang boleh menilai penampilan dan kecantikan perempuan... hehehehe...
Lelaki yang bersih, entah itu memang berwajah tampan atau sekedar bernilai pas-pasan memang lebih menarik dibandingkan dengan lelaki yang jorok, tidak memperhatikan penampilan, apalagi dengan rambut wajah yang seperti ladang lupa dibersihkan. Penampilan memang menjadi etalase untuk menarik perhatian orang. Dan laki-laki yang bersih memang layak menjadi bonus bagi perempuan yang mampu menjalankan tata laksana rumahtangga secara baik.
Dan barangkali, bagi para ibu dan tetua keluarga jaman dulu, lebih ampuh memberikan ancaman dibandingkan memberikan hadiah , semisal begini ,” Nyapu yang bersih Neng, biar dapat suami ganteng, kaya, baik hati dan tidak sombong....” Karena ternyata, para perempuan memang lebih terbiasa ditindas dan diancam , walau hanya dengan kata-kata, dibandingkan dengan diberi penghargaan atas apa yang dilakukannya...hiikkksss....
♥
Kembali ke urusan sapu-menyapu dan jenggot-brewok-brengosan....
Sebetulnya, maksud dan tujuan para ibu dan tetua jaman dulu itu baik adanya. Kalau bukan kita sendiri yang mengurus, mengatur dan memelihara, siapa lagi yang harus melakukannya ? Menjaga milik sendiri, rumah dan segala isinya, seyogyanya memang dilakukan oleh kita sendiri.
Hanya saja, seiring dengan perkembangan jaman dan terjadinya perubahan fungsi dan nilai-nilai di dalam keluarga, maka urusan sapu-menyapu ini pun bisa dialihkan kepada pihak lain, terutama pembantu rumahtangga. Seandainya pun dilakukan oleh anggota keluarga, maka anak perempuan dan anak laki-laki juga mendapat porsi dan perlakuan yang sama. Jika di jaman dulu hanya anak perempuan yang memiliki job description sebagai juru sapu, maka sekarang anak laki-lakipun tidak canggung mengambil alih tugas bebersih dan sapu menyapu di dalam rumah.
Yang penting bukan lagi proses, tetapi tujuan akhir...agar rumah menjadi bersih. Jadi, tanpa ancaman jenggot-brewok-brengosan pun tata laksana rumah tangga sudah berjalan dengan baik. Dan para perempuan boleh bernapas lega karena hadiah dari semua perbuatan tidak melulu ‘suami yang brengosan’ atau ‘ pangeran yang tampan’, tetapi rasa nyaman dan rasa memiliki yang akan menjadi bagian dari penampilan dan kompetensi pribadi.
Saya termenung.
Entah karena hadiah karena dulu kalau menyapu rumah selalu bersih, atau memang karena takdir jodoh....ternyata hadiah dari urusan sapu-menyapu saya jaman dulu itu adalah.... Pangeran Remote Control yang ganteng....hehehe...eheeem....
♥♥
Jakarta, 9 Oktober 2009
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Thanks buat ibu-ibu jaman dulu kala yang inspiratif dan memiliki local wisdom yang tak lekang dimakan waktu...hehe...
Minggu, 23 Agustus 2009
Art-Living Sos 2009 (A-8 Berkibar Selamanya...
Selamat pagiiiiiiii....semangaaaaattt pagiiiiiiii.....Semoga semua teman dan sahabat saya dalam keadaan sehat dan segar seperti embun pagi, yaaa....hehehe...
Ya, iyalah...walaupun dalam keadaan bagaimana, ada yang harus selalu kita jaga dan pelihara...yaitu semangat. Tanpa semangat yang menyala, sekecil apa pun, kita akan malas berbuat apa-apa. Malas melek, malas bergerak, malas berpikir...dan banyak malas-malas lainnya...Bahkan untuk malas mandi sekalipun, kita perlu semangat...hihi...
Menjaga semangat....ibarat memelihara sebuah pohon di dalam diri kita. Yang harus kita sirami, harus kita rawat, beri pupuk, potong daun-daun yang kering, dijaga dari gangguan hewan-hewan yang merusak, dan membersihkannya dari sampah yang kemungkinan mengganggu pertumbuhan tanaman. Harus ada konsistensi...harus ada kesinambungan.. tanpa kenal lelah...
Menjaga semangat...sama juga dengan menjaga martabat...menjaga kehormatan. Kehormatan diri, kehormatan keluarga, kehormatan bangsa, kehormatan negara... hmm...ho ho..Dan salah satunya adalah dengan menjaga lambang-lambang kehormatan negara seperti bendera.
Lho...kok bendera ?
Haaaa....itu dia ! Saya mau berbagi di sini...Mau khaaaan ? Mumpung menjelang peringatan hari kemerdekaan...mumpung semangat sedang meluap-luap....
Sudah siaaaaappp...??? Semoga berkenan...Semoga mendapat renungan dan manfaat.
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Art-Living Sos 2009 (A-8.2
14/08/2009 22:12:08
14/08/2009 23:06:46
BERKIBAR SELAMANYA...
Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang Merah Putih yang perwira
Berkibarlah selama-lamanya...
(Oleh : Ibu Sud)
Pagi-pagi. Saya baru berangkat ke kantor.
Di sepanjang perjalanan , dari mulai kompleks perumahan tempat tinggal saya sampai di jalan-jalan protokol menuju kota, saya melihat banyak sekali bendera berbagai ukuran. Diikat di antara pohon-pohon, atau ditegakkan berdiri bersama tiang berwarna merah atau putih, atau gabungan selang-seling merah putih. Bendera itu sebagian besar berwarna merah putih, tetapi ada juga berbentuk setengah lingkaran dengan biku-biku yang berwarna-warni cerah.
Saya jadi diingatkan. Sebentar lagi tanggal tujuh belas Agustus. Hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Sudah biasa, seperti tradisi tahun-tahun lalu, selalu dimeriahkan dengan bendera-bendera yang berkibar dengan riang ditiup angin hangat musim kemarau.
Ingat lagi...bendera di rumah sudah dua tahun belum diganti... huehehehe...padahal sepanjang dua tahun yang lalu, sudah beberapa kali bendera mungil itu dipajang untuk memperingati beberapa hari besar. Barangkali sudah waktunya bendera merah putih saya diperbarui. Biar lebih bersemangat gituuu...
Iya...semangat bendera baru kan perlu juga setahun sekali. Bendera merah putih, yang dipasang ditiang, tampak gagah berani ditiup angin kian kemari.
Ngomong-ngomong soal bendera, saya pernah bertanya-tanya : kenapa untuk memperingati hari kemerdekaan mesti pakai bendera ?
Saya jadi ingat kisah-kisah epos jaman lalu. Setiap kerajaan memiliki lambang-lambang kehormtan dan panji-panji kebesaran, sebagai identitas negara dan identitas pasukan, termasuk di dalamnya adalah bendera.
Di dalam film-film yang pernah saya tonton, selalu terlihat bahwa pasukan pembawa bendera adalah pasukan pilihan. Mereka ditempatkan di depan barisan, dan dijaga ketat oleh pasukan khusus lainnya. Pembawa bendera tidak ikut bertempur, tetapi kalau benderanya akan direbut musuh atau lawan, maka ia wajib mempertahankan diri dan bendera yang dijaganya. Tidak jarang, ia harus mati berkalang tanah demi mempertahankan kehormatan bendera pasukannya. Bendera memang bukan sekedar sehelai kain, tetapi bendera adalah sebuah kehormatan dan kedaulatan !
Tidak berhenti hingga di jaman lalu atau pun di film-film kuno, bendera sebagai identitas negara pun menjadi wajib adanya. Tidak ada negara berdaulat yang tidak punya bendera. Ya, misalnya ada negara yang nyeleneh, tidak mau pakai bendera, ya terserah mereka. Tapi akan aneh jadinya, kalau di dalam sebuah sidang atau pertemuan internasional, ada satu negara yang tidak punya bendera...hehehehe.... Bahkan negara-negara sangat kecil, yang berupa kerajaan terlindungi atau protektorat juga memiliki bendera. Apalagi negara sebesar negara kita. Wajib memiliki bendera sebagai identitas negara !
Melihat pentingnya bendera sebagai identitas sebuah kesatuan, institusi, lembaga atau negara, maka sudah sepatutnya bahwa bendera juga memiliki filosofi tertentu.
Ada sebuah negara besar, selama kurun waktu tertentu mengalami perubahan karena adanya perkembangan negaranya. Semula ia hanya memiliki beberapa buah bintang di dalam benderanya, sesuai dengan jumlah negara bagian yang ada di sana, tetapi dalam beberapa ratus tahun jumlah bintang di dalam benderanya bertambah lagi. Filosofi yang terkandung di dalam benderanya juga sesuai dengan motto negara tersebut.
Lain padang lain belalangnya. Lain negara orang, lain pula negara kita . Sebagaimana kita ketahui, warna bendera kita adalah merah putih. Dan warna itu menunjukkan filosofi bahwa merah tanda berani, dan putih tanda suci. Tidak sekedar berani, petantang petenteng, menantang setiap orang yang lewat di depan hidung, tetapi berani di dalam filosofi bendera kita adalah berani yang memiliki integritas.
Demikian pula warna putih, yang dilambangkan sebagai kesucian. Suci, tak sekedar mandi dua kali sehari, tetapi lebih jauh adalah kesucian hati, kejujuran dan lurus dalam bersikap serta bertingkah laku. Sungguh luar biasa, bahwa filosofi merah-putih itu adalah sebuah keberanian, integritas yang dilandasi sikap dan perilaku yang jujur dan lurus dalam bertindak.
Merah putih itu adalah identitas kita. Identitas negara kita. Identitas bangsa kita. Tapi apakah kita sadar dengan identitas merah putih itu ?
Selama ini kita begitu heboh dengan perayaan dan peringatan hari kemerdekaan yang diselenggarakan setiap tahun. Tak hanya dimeriahkan dengan segala macam lomba dan pertunjukan, tetapi juga selalu diramaikan dengan kibaran bendera di mana-mana. Seperti di kompleks perumahan saya, dan di banyak tempat lain di seluruh pelosok Nusantara . Warna merah putih selalu menjadi hiasan yang semarak .
Tak hanya itu. Karnaval tujuh belasan, parade baris berbaris, upacara kenegaraan dari tingkat kelurahan hingga tingkat istana negara selalu mempergunakan bendera merah putih, untuk menandakan perayaan hari kemerdekaan. Bahkan mobil, motor, bajaj dan delman pun tidak mau ketinggalan, memasang bendera kecil di tiang depan atau di dekat kaca spion, agar semangat merah putih itu menular kemana-mana.
Tapi benarkah semangat merah putih itu menyerap masuk ke dalam darah dan tulang kita ?
Seperti dilantunkan dengan penuh semangat oleh penyanyi Gombloh dengan lagu Gebyar-Gebyar “...Indonesia... Merah darahku, putih tulangku bersatu dalam semangatku....”
Maksudnya tentu tak sekedar menyatakan bahwa darah itu merah, dan tulang itu putih. Tetapi lebih jauh lagi adakah semangat merah, keberanian dan integritas, serta kesucian dan kejujuran itu sudah menjadi semangat kita . Sudah menjadi bagian dari perilaku kita sehari-hari .
Kembali kepada urusan bendera, yang merah putih dan menjadi identitas negara Republik Indonesia tercinta ini.
Seandainya saja, ada yang berani menurunkan bendera merah putih, entah dengan cara merebut atau dengan cara kompetisi, apakah kita mau membelanya ? Apakah kita masih memiliki semangat untuk tetap menjaga agar bendera merah putih berkibar selama-lamanya ?
Saya yakin...dengan integritas Merah darahku...Putih tulangku...kita tentu tidak ingin dipandang sebelah mata oleh negara tetangga, yang jauh apa lagi yang dekat. Tapi kita tentunya tidak boleh sekedar nekad, petantang petenteng membawa golok untuk mempertahankan Sang Merah Putih. Ada cara lebih elegan, ada cara yang lebih efisien dan efektif...sehingga kita diakui secara internasional, sebagai negara dan bangsa berdaulat serta bermartabat yang patut diandalkan di tengah arus globalisasi dunia.
Semoga saja...kita, saya, menjadi bagian dari rakyat yang senantiasa dapat menjaga kehormatan negara dan bangsa ini, walaupun hanya dari benderanya....Dan seyogyanya kita dapat mempertahankan bendera ini, menjadi sikap dan jati diri, tidak hanya pada saat tujuh belasan...tetapi sepanjang hari...sepanjang tahun...selama hayat dikandung badan...
Hmmm...saya teringat potongan lagu yang disusun dengan indahnya oleh Ibu Sud....” Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela...Sang Merah Putih yang perwira...Berkibarlah selama-lamanya...”
Berkibarlah....di dalam hati kita juga....
Jakarta, 14 Agustus 2009
Salam semerah darahku, dan seputih tulangku....
Ietje S. Guntur
Special note :
Thanks untuk sahabatku Farida (Butet) Manurung...yang menginspirasi tulisan ini...Juga terima kasih sepanjang masa untuk Ibu Sud, yang sudah mengobarkan semangat dengan lagu yang luar biasa ini...
Art-Living Sos 2009 (A-8 PERCIK KEMERDEKAAN
Met pagiiiii....siaaaaangg...soreeeee.....hehehe....selamat apa sajalah...yang penting kita sehat dan selamat...sehingga kita bisa menikmati hari-hari kita. Bisa menikmati hidup kita dengan penuh rasa syukur...Itu yang paling penting...
Bersyukur...bahwa kita masih mampu bersyukur...hehe...karena tidak semua orang mampu untuk melakukan hal kecil itu, bersyukur...
Salah satu bentuk rasa syukur kita adalah menikmati kemerdekaan kita. Karena, seperti bersyukur...tidak semua orang juga menyadari kemerdekaannya, apalagi menyukurinya...
Baiklah teman dan sahabat semua...menjelang peringatan detik-detik proklamasi negara Republik Indonesia yang ke 64 nanti...saya ingin berbagi renungan dengan teman dan sahabat semua.
Selamat merayakan hari Kemerdekaan....Semoga rasa syukur kita menjadi percik semangat untuk terus melanjutkan perjalanan....
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Art-Living Sos 2009 (A-8
Start : 14/08/2009 8:56:27
Finish : 14/08/2009 9:30:46
PERCIK KEMERDEKAAN....
Beberapa saat lagi kita merayakan hari kemenangan. Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Hari peringatan...yang setiap tahun kita rayakan. Dengan suka cita. Dengan bendera berkibar dimana-mana. Dengan lomba-lomba...makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, lomba baca puisi, panggung nyanyi antar RT...Dengan sedikit pidato-pidato di kecamatan atau intansi. Dengan sedikit renungan.... hmmm...
Renungan...berapa banyak kita merenung tentang kemerdekaan ?
Sebetulnya apa arti kemerdekaan ? Apa beda merdeka dengan kemerdekaan ?
♥
Berhari-hari...berminggu-minggu...bahkan mungkin berbulan dan bertahun. Pertanyaan itu selalu menggelitik saya. Ketika saya ikut karnaval dengan baju daerah, ketika saya ikut barisan pawai keliling kota, ketika saya berkesempatan menjadi anggota Paskibra Propinsi, ketika saya dengan langkah gagah dan kaki lecet menjadi mayoret memimpin barisan drumband pramuka di jaman SMA...bahkan ketika saya dengan semangat melompat-lompat menuju garis finish di dalam perlombaan balap karung.
Sudah merdekakah saya, sehingga begitu semangat melompat ke sana kemari ? Begitu heboh menyanyikan deretan lagu kebangsaan dalam aubade parade lagu-lagu nasional? Begitu terharu ketika dibacakan naskah proklamasi pada saat upacara. Dan lupa begitu saja, ketika upacara bubar, lalu saya pulang ke rumah dengan bercucur keringat ?
Hmmm....saya jadi ingat kalimat pembuka Undang-undang Dasar 45, yang sudah dihafal mati dari jaman SD ..” Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa...”.
Kemerdekaan adalah hak.
Yang menjadi pertanyaan : Hak siapa, dan bangsa yang mana ?
Kemerdekaan, secara harfiah adalah kata sifat. Orang yang memahami kemerdekaan belum tentu merdeka, atau merasa merdeka. Merdeka adalah bagian dari kemerdekaan. Merdeka berarti bebas. Lepas. Baik secara pemikiran, perasaan maupun perbuatan.
Nah, gimana kita mau ngomong merdeka, kalau pikiran dan perasaan kita sendiri terkurung dalam tembok sempit. Yang hanya sebesar kotak. Yang hanya selebar meja, atau telapak tangan. Yang menjadikan kita tidak mau berpikir luas, melebar, ke luar dari kotak pikir kita yang sempit dan pengap.
Kalau kita menuntut kemerdekaan, maka lakukan dulu hal-hal yang berkaitan dengan MERDEKA dari hal yang paling kecil. Me-merdeka-kan pikiran. Me-merdeka-kan perasaan. Baru kemudian, kita ambil langkah me-merdeka-kan perbuatan.
Kemerdekaan itu memang hak segala bangsa. Tanpa dituntut pun, kemerdekaan ada di dalam genggaman kita. Di dalam hati kita. Di dalam pikiran kita. Karena sesungguhnya kemerdekaan itu ada di dalam diri kita.
Tapi sekarang MERDEKA dulu.
♥
Bagaimana kita memulai diri dengan MERDEKA ?
Orang yang merdeka, adalah orang yang mengetahui siapa dirinya. Kalau orang pintar bilang, orang yang tahu jati dirinya. Apakah kita, saya, sudah punya jati diri ?
Jati diri. Sebagai diri sendiri. Sebagai seseorang yang tahu kemampuan dan hak yang dimiliki. Paling tidak, tahu bahwa ada ruang berpikir yang luas. Yang tidak ada sekat-sekatnya. Dimana kita bisa menari dan melejit hingga ke langit paling tinggi, atau berenang dan menyelam hingga dasar lautan paling dalam .
Tetapi kita, seringkali takut terhadap diri kita sendiri. Kita takut dengan pemikiran kita. Kita takut mengakui pemikiran kita sendiri. Kita takut dengan perasaan dan imajinasi kita. Kita takut bertanya, apakah ini saya ?
Lalu...karena kita takut terhadap diri sendiri, kita menyerahkan hidup kita pada orang lain. Kita menyerahkan pemikiran kita pada orang lain. Dan kita menyimpan perasaan kita di dalam sumur tanpa dasar, agar tidak seorang pun, bahkan diri kita sendiri tidak mau menyadari bahwa perasaan itu ada.
Kita menyerahkan hidup kita pada orang lain. Dan menjajahkan diri kita kepada kekuatan orang lain. Kita yang menyerahkan. Bukan orang lain yang mengambil !
Kita hidup untuk orang lain. Dan menuntut orang lain memberikan kemerdekaan itu kepada kita. Dan ketika kemerdekaan itu diberikan, kita bertanya-tanya pada diri sendiri : Inikah kemerdekaan itu ? Kita ingin, padahal kita takut, ketika kemerdekaan itu datang, dan kita tidak mampu untuk MERDEKA.
Lebih enak memberikan kemerdekaan kepada orang lain. Agar orang lain mengatur kita. Agar kita tidak usah bertanggungjawab terhadap diri kita sendiri. Agar kita bisa menyalahkan orang lain. Agar kita bisa menuding mereka, ketika kemerdekaan itu tidak sesuai dengan kemauan kita. Kita hanya punya mau, tapi tidak punya mampu. Tidak mampu untuk mau bertanggungjawab !
♥
Saya terhenyak !
Kemerdekaan adalah sebuah tanggungjawab. Bukan sekedar melepaskan diri dari mulut harimau untuk masuk ke mulut buaya.
Mampukah kita, untuk menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya sudah kita miliki. Mampukah kita menggenggam dan mewujudkan kemerdekaan itu dengan penuh dedikasi dan tanggungjawab.
Kemerdekaan bukan sebuah keliaran ! Bukan sekedar asal ngomong dan asal mencuap. Bukan sekedar asal menuding tanpa mengukur diri dan tanpa tanggung jwab. Merdeka, berarti berkonstelasi dengan diri sendiri dan alam semesta.
Kembali ke dalam diri : Sudahkah kita MERDEKA ?
♥♥♥
Jakarta, 14 Agustus 2009
Salam sepercik api kemerdekaan....
Ietje S Guntur
( Dari jantung ibukota negaraku yang tercinta.....di seputar bunderan HI...)
Special note :
Thanks untuk sahabatku Farida Manurung, yang meminta khusus renungan tentang kemerdekaan dan merdeka...thanks juga untuk semua sahabat-sahabat yang selalu saling bersilang pendapat tentang percik-perdik kemerdekaan...I love U Allz....
Senin, 20 Juli 2009
SETELAH BERADA DI PUNCAK
SETELAH BERADA DI PUNCAK....
Ide itu tiba-tiba melintas di kepala saya. Setelah berada di puncak, kita terus mau kemana ? Iya...ya...mau kemana ?
Duluuuu....ketika saya masih remaja, ketika saya sedang gila-gilanya naik gunung , seorang kerabat pernah bertanya : “Ngapain kamu naik-naik gunung begitu ? Kalau sudah di atas, terus mau ngapain? Turun lagi ? Laaah...ngapain naik-naik ke puncak gunung, kalau nanti toh akan turun lagi.”
Begitu berulang kali...
Nah, itulah dia...
Proses mencapai puncak, adalah proses perjuangan yang kadang tidak terpikirkan oleh kita. Walaupun sudah berkali-kali menjalani proses yang sama, tetapi setiap kali selalu ada perbedaan dalam prosesnya. Hari ini proses itu agak mudah dan tidak banyak halangan. Besok proses itu lebih sulit dan banyak kendala. Lusa proses itu lebih sulit lagi, dan nyaris tidak terlampaui. Kadang malah terbalik, hari ini sulit tetapi semakin lama semakin mudah dan tidak ada halangan.
Itulah yang saya dapatkan dalam setiap proses mencapai puncak. Kita yang harus bergerak ke titik tinggi yang kita tentukan. Kita yang harus berusaha untuk mencapai tujuan. Tidak bisa dibalik...titik tujuan itu yang datang menghampiri kita...
Seorang pendaki gunung, adalah seseorang yang tangguh. Tidak manja. Dia mandiri, sekaligus dapat bekerjasama di dalam sebuah tim. Ada kalanya dia harus berjuang sendiri, merayap-rayap atau bergelantung. Tapi ada saatnya, berpegangan tangan, saling mengulurkan tali pertolongan adalah satu-satunya cara untuk selamat dan tiba di puncak. Di dalam proses ini, semua ego harus dilebur.
Kemandirian tak berarti kesendirian. Kerjasama kelompok, saling dukung dan saling bantu, adalah proses perjuangan yang butuh kerendahan hati. Satu untuk semua, dan semua untuk satu, adalah salah satu filosofi para pendaki gunung. Keberhasilan satu orang, tanpa dukungan kelompoknya, tidak kan terjadi. Begitu pula, keberhasilan kelompok, adalah juga keberhasilan kita juga. Satu perjuangan. Satu rasa.....yang “gimana gitu” tadi...
Seyogyanya perjalanan ke puncak gunung itu tidak semata-mata perjalanan fisik, membawa langkah kaki dan memanggul perlengkapan untuk bertahan hidup. Perjalanan ke puncak gunung adalah sebuah perjalanan batin. Perjalanan ujian. Yang membuat hidup ini semakin kaya, dan selalu bersyukur... karena masih memperoleh kesempatan untuk belajar dan meng-alam-i...Karena masih memperoleh kesempatan untuk menguji diri...menjadi lebih kuat dan mandiri...
Yang menjadi pertanyaan : Setelah berada di puncak, kita mau ke mana ? Kita mau ngapain ?
Semoga saja...
Jakarta, 20 Juli 2009
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note : thanks untuk semua sahabat gunung...di mana pun berada...Kenapa gw tiba-tiba jadi ingat Othniel, Bima, Haar, Herry, Kancil, Anton, Iskandar, Ade, Chairal, teman-teman di Pramuka Bhayangkara (Medan)...woooww...campur aduk semua deeh... thanks buat spiritnya yaaachhh...Masih kuat mendaki gunung lagi gak ??? hehe...
Finish : 20/07/2009 9:21:41
Senin, 08 September 2008
Ucapan Terima kasih...Ketika kami harus memilih...
UCAPAN TERIMA KASIH..
DAN
KETIKA KAMI HARUS MEMILIH...
Dear teman-teman dan sahabat tersayang....
Mohon maaf sebelumnya, saya baru hari ini dapat menjawab email dan beberapa sms simpati yang saya terima, sehubungan dengan kejadian luar biasa yang menimpa putri tercinta kami, R.A. Granita Ramadhani, pada hari Selasa tanggal 2 September 2008 sekitar jam 18.35-18.40 di lokasi jembatan penyebarangan depan gedung DPR/MPR – Jalan Gatot Subroto Jakarta.
Kejadian itu memang di luar dugaan kami, karena seperti biasa, putri kami (panggilan sayangnya adalah Dhani) yang bertugas sebagai jurnalis Hukum-online di Gedung DPR, meliput berita-berita yang menjadi tugasnya. Sore itu, tidak seperti biasa, setelah peliputan sidang dia meliput ekstra wawancara. Dan setelah selesai, dia memutuskan untuk segera pulang ke rumah dengan menggunakan bus kota. Itu sebabnya dia memilih memintas melalui jembatan penyeberangan di depan gedung DPR/MPR. Saat itu, jembatan dalam keadaan sepi. Namun di pertengahan jembatan ada seseorang, menggunakan topi dan jaket, sedang berdiri. Dhani sudah merasa tidak enak, dan cukup aneh karena ada seseorang berdiri seperti menunggu.
Ketika dia melewati orang tersebut, Dhani sudah merasa akan terjadi sesuatu. Dan tiba-tiba orang tersebut mengikutinya ( seperti mengejar), lalu memukul bagian belakang tubuhnya. Dhani berbalik, dan menghindar, tetapi orang tersebut, yang tingginya hampir sama dengan anak saya berhasil merobohkan Dhani dan memukul serta menendang bagian perut dan dada. Lalu Dhani direbahkan di sisi jembatan, dengan kepala dibenturkan beberapa kali ke pinggiran jembatan ( sehingga terjadi luka dan memar di kiri atas kepala). Belum cukup dengan itu, pelaku masih berusaha mencekik Dhani beberapa kali sambil terus memukuli dan membenturkan kepala Dhani ke lantai dan sisi jembatan.
Kemudian, entah bagaimana, tiba-tiba Dhani merasakan sakit luar biasa di kepala, dan sesuatu yang basah mengalir di kepalanya. Lalu orang tersebut mengambil tasnya ( yang berisi handphone, voice recorder, dompet, data hasil wawancara dan dokumen penting yang diperolehnya untuk penulisan hasil liputan), sambil mengancam akan membunuhnya kalau Dhani melawan. Kelihatannya ini ancaman yang cukup serius, sehingga Dhani memutuskan untuk diam sejenak dan membiarkan pelakunya melarikan tas yang berisi data-data penting tersebut. Setelah merasa cukup kuat, Dhani baru berteriak minta tolong ( namun di situ tidak ada siapa-siapa), dan turun tangga menuju ke halte di bawah.
Pada saat itu ada beberapa orang di halte ( yang langsung berteriak panik dan berbagai reaksi kaget lainnya), dan ada yang bertanya , kenapa . Dhani hanya bisa mengatakan ,”Rampok ! Di atas”. Saat itu wajahnya sudah berlumuran darah, dan sudah membasahi pakaiannya. Melihat tidak ada yang bereaksi, Dhani mengambil inisiatif ingin membeli segelas aqua untuk membersihkan wajahnya ( terutama matanya yang sudah mulai mengabur tertutup cairan). Saat itu seorang bapak (yang kemudian kami ketahui bernama Bapak Solidri – dari Press Room DPR/MPR) mengenali Dhani dari ID-card Pers yang tergantung di lehernya, dan menegur Dhani...Atas kebaikan Bapak tersebut, Dhani berhasil menghubungi saya.
Saat itu, jam 18.45, saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama suami saya. Ketika melihat nomor tidak dikenal di ponsel saya, perasaan saya sudah tidak enak. Suara Pak Solidri yang panik, dan kemudian teriakan Dhani yang bilang begini ,” Ibu...ini aku. Aku diserang...dipukuli...aku berdarah !”
Sedetik jantung saya nyaris berhenti. Lalu saya bertanya pelan (untuk tidak menimbulkan kepanikan) ,”Di mana ?”
“Di depan DPR, di jembatan penyebarangan, arah BPK”.
“Oke...kamu dengan siapa ? Ibu akan menuju ke sana sekarang.”
Telepon ditutup. Dan saya berbicara dengan suami yang duduk di sebelah saya dengan wajah gelisah.”Kenapa ?”
“Dhani diserang orang ! Di jembatan depan DPR. Kita sekarang ke sana. Yi, langsung belok ke kanan !” Saat itu kami di posisi dekat lampu merah Pondok Indah – Ciputat Raya. Seketika wajah suami saya pucat ( saya kuatir dia yang shock !).
“Siapa yang menyerang ?” suami saya bertanya panik (...dan pasti marah sekali...dia belum sekalipun menyakiti si Cantik kami..).
“Saya tidak tahu, Yah. Sekarang nggak usah dipikirin siapa yang menyerang, tapi kita ambil langkah dulu.”
Lalu saya telepon balik ke nomor tadi, dan berbicara dengan Pak Solidri. “Maaf, Pak. Bagaimana dengan kondisi anak saya ? Saya bisa minta tolong untuk menjaga anak saya ?”
Pak Solidri kedengaran panik. Dan menanyakan posisi saya, yang masih di sekitar Ciputat Raya arah Kebayoran Lama. Saat itu, waktu satu menit rasanya seperti berjam-jam. Saya hanya bisa berdoa ,”Ya, Allah...maafkan aku. Tidak bisa menjaga titipanMu. Apakah Engkau akan mengambil dia saat ini ? Seandainya Engkau berkenan, tolong jaga dia ya, Allah...Tolong jaga titipanMu. Aku tidak bisa menjaganya saat ini. Tolong kirimkan Malaikat-malaikatMu untuk menjagaNya”.
Beberapa menit kemudian, saya menelepon Pak Solidri lagi, dan mereka memutuskan untuk membawa anak saya ke rumah sakit terdekat.”Kami tidak bisa menunggu Ibu, terlalu lama. Pendarahannya luar biasa. Anak ibu ditusuk di kepala.”
“Ya, sudah...tolong dibantu Pak. Kami segera menuju ke RS Mintoharjo.”
Lalu saya menelepon seorang teman kantor , untuk minta bantuan teman yang memiliki akses di RSAL Mintoharjo, untuk persiapan di sana sebelum kami tiba. Saya juga minta bantuan teman yang memiliki akses ke Security untuk keamanan anak saya di lokasi. Suami saya meminta bantuan polsek terdekat di Tanah Abang. Dan setelahnya saya hanya bisa berdoa. Memohon kekuatan kepada Allah, terutama agar suami saya kuat menghadapi kejadian ini...(sepanjang sisa perjalanan dia panik dan sudah menduga hal-hal terburuk yang mungkin terjadi). Saya membesarkan hatinya, dan bilang ,”Tidak usah menduga-duga...kita serahkan kepada Allah. Semoga Allah masih menjaga Dhani”.
Sementara itu, suami saya terus menghubungi ponsel anak saya, dan aneh sekali, ponsel itu bisa menerima panggilan sehingga kami dapat memantau si pelaku, yang kemungkinan besar naik kendaraan umum ke arah Sudirman, dan kemudian beberapa teriakan-teriakan. Akhirnya saya mendengar suara, seseorang ( yang ternyata polisi lalulintas di daerah Tosari) yang sedang bertanya kepada si pelaku. Beberapa saat kemudian, suami saya mendapat telepon dari nomor ponsel anak saya, yang menanyakan apakah kami kehilangan sesuatu. Sungguh ajaib. Tangan Allah bermain di sini. Bagaimana mungkin dalam hitungan menit, pelaku sudah tertangkap. Jauh dari TKP, dan ditangkap oleh Polisi lalulintas yang sedang bertugas di dekat jembatan Tosari.
Saat itu saya sudah tiba di RSAL Mintoharjo, dan mendapati anak saya sedang terbaring di ruang UGD dan sedang dijahit bagian kepalanya. Saya melihat luka terbuka yang tidak rata, dan ada bagian daging / jaringan yang hilang dari keningnya. Dengan menguatkan hati (perut saya sudah sakit seperti dipilin), saya mencium anak saya dan memegang tangannya yang dingin dan tubuh yang menggigil (akibat shock kehilangan darah juga). Saya berbicara ke Dhani, “Ibu sudah di sini Cantik. Ibu jaga kamu.” Lalu saya panggil suami sebentar, dan saya lihat suami saya hanya bisa diam menahan tangis. Dia tidak lama di situ, karena kami harus berbagi tugas. Saya mendampingi anak saya, dan suami saya bertemu dengan pihak security dari kantor saya yang membantu mendampingi anak saya di RSAL bersama dengan para pengantar dari TKP.
Menit demi menit berlalu, saya tidak tahan lagi dan merasa akan pingsan. Beberapa orang menyarankan saya ke luar. Lalu saya ke luar dan terduduk di depan lobby. Saya harus kuat, agar dapat terus mendampingi anak saya. Masih banyak hal yang mesti dibereskan. Saya sempat beristirahat sebentar di ruang depan UGD, sambil mempersiapkan administrasi untuk perawatan di RS.
Tidak lama, kening anak saya sudah selesai dijahit ( dengan model seperti jahitan kasur Palembang...berkerut-kerut...karena jaringan yang robek tidak rata dan terpecah-pecah). Kami mendapat tempat di ruang rawat VIP, karena saya menginginkan anak saya dapat beritirahat dan memulihkan kondisinya.
Pada saat itu tim security dan lain-lain yang sudah berhasil menemukan pelaku, datang membawa barang bukti yang tadi sempat diambil paksa oleh pelaku. Saya mengecek barang bukti, dan semua lengkap (terutama data yang dibutuhkan anak saya), kecuali dompet yang berisi kartu identitas anak saya. Tim security dan polisi lalulintas yang menemukan pelaku, menanyakan kepada saya, mau diapakan si pelaku ?
Saat itu hati saya berperang : antara logika dan hati nurani.
Tadi saya sudah berdoa kepada Allah :” Ya, Allah...seandainya Engkau berkenan, kembalikanlah anak kami, titipanMu, dengan selamat. “ Sekarang anak saya sudah kembali dengan selamat. Bahkan barang-barang yang sangat berarti bagi pekerjaannya sudah ditemukan. Jadi saya mau menuntut apa lagi ? Mengenai cedera yang dialami anak saya, sudah ada dokter yang akan menangani. Mengenai dampak dan trauma psikologis yang dialaminya, barangkali masih bisa disembuhkan. Jadi mau apa lagi ?
Saat itu saya benar-benar dilematis. Saya harus memilih, apakah saya akan menggunakan kekuasaan dan kekuatan untuk menentukan nasib orang lain. Yang nota bene sudah menyakiti dan melukai anak saya. Apakah saya harus menjadi hakim bagi seseorang , yang mungkin tidak pernah memilih hidupnya menjadi seorang pelaku kejahatan ? Apakah saya harus menjadi algojo dan memberi vonis akhir bagi kehidupan seseorang ?
Saya hanya mampu berdoa ,”Berikan kekuatan kepadaku, ya Allah. Engkau telah mengembalikan dan mempercayakan kembali apa yang tadi aku minta. Berikan petunjukMu , ya Allah?”
Dalam hitungan detik, saya mampu mengambil keputusan. Saya katakan kepada pihak security yang mendampingi saya ,”Ya, sudahlah Pak. Saya sudah ikhlas. Saya sudah maafkan. Bawa saja dia. Lepaskan saja.”
Lalu saya berbalik kembali ke kamar perawatan anak saya. Tidak lama suami saya menyusul, dan menanyakan pendapat saya. Saya bilang ,”Yah...aku sudah ikhlas. Aku sudah maafkan. Kita sudah dapat Dhani kembali. Terserah Ayah mau bagaimana.”
Suami saya pergi ke luar. Menghadapi pelaku tersebut. Dan tidak lama kemudian kembali ke ruangan. “Sudah selesai. Sudah aku lepaskan. Tadi sudah aku kasih ongkos untuk dia pulang kampung. Jakarta sudah terlalu kejam untuk orang-orang yang tidak mampu beradaptasi. Lagi pula ini bulan Ramadhan.”
Saya memeluk suami saya. Kami sudah mendapatkan apa yang kami minta. Anak kami yang tercinta kembali dengan selamat, dengan luka di keningnya. Dengan luka di hatinya. Tapi dengan kehormatan yang tetap terjaga. Itu yang paling penting untuk kami berdua.
♥♥
Teman dan sahabat semua...
Barangkali akan banyak orang yang tidak mengerti jalan pikiran kami, teman-teman, keluarga, kenalan dan semua pihak yang mengenal kami termasuk pihak kepolisian yang sangat menyesalkan keputusan itu. Tapi kami berprinsip, ada saatnya kita menggunakan logika, dan ada saatnya kita menggunakan hati.
Kalau ditanya bagaimana hati saya, pastilah saya merasa sakit dan terluka. Tapi setelah saya merenung, saya yakin bahwa di balik semua ini pasti ada ‘pesan’ tertentu dari Allah Yang Maha Mengetahui. Apa yang harus saya dapatkan, dan bagaimana mendapatkan itu.
Satu hal yang jelas saya dapat adalah ‘keajaiban’ pertolongan Allah. Bagaimana mungkin, seluruh barang yang sangat penting bagi anak saya bisa kembali dengan utuh. Termasuk dompetnya yang ditemukan seseorang yang baik hati di dekat gedung GKBI. Juga, bagaimana tangan-tangan malaikatNya turun melalui orang-orang yang tidak kita duga. Ibu-ibu para joki 3-1 (Ibu Ana dan mbak Maya), pengemudi ojek yang langsung bereaksi mengejar pelaku, penjual aqua, staf Press Room yang kebetulan pernah melihat anak saya di ruang sidang DPR, rekan jurnalis yang kebetulan ada di dekat TKP, rekan-rekan dari Security TAG, dan banyak pihak lain yang tidak kami kenal sebelumnya.
Saya juga melihat, betapa berperannya fungsi SMS, yang pada saat diperlukan telah membantu saya mengirim informasi dan melakukan tindak lanjut yang penting. Sepanjang malam, hingga keesokan dan seterusnya...ucapan simpati, dukungan, doa...dari teman-teman, sahabat dan keluarga mengalir seperti banjir. Mengisi ruang hati saya, si Cantik kami, dan suami. Luar biasa...
Sungguh sebuah perjalanan yang menakjubkan.
Saya hanya mampu mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu anak saya dari tempat kejadian hingga di RSAL Mintohardjo...Pak Solidri (yang terus mendampingi anak saya dari TKP hingga di UGD), Ibu Ana dan mbak Maya (yang memangku dan membantu membersih darah di wajah Dhani) , mas Ikrar, Pak Darno dan rekan-rekan dari TAG (yang begitu gesit menjaga di RSAL dan membawa pelaku yang tertangkap), pengemudi taksi Putera yang iklas mobilnya terkena bercak darah anak saya, Pak Manurung dan Siburian (Polantas yang bertugas di kawasan Tosari...bapak-bapak adalah polisi luar biasa..), paramedis dan dokter di UGD RSAL Mintohardjo, pengemudi ojek yang belum kami ketahui namanya, Bapak Rubiono (yang menemukan dompet anak saya), dokter Danny ( yang melakukan operasi plastik terhadap anak saya...thanks ya Dok, Anda sangat membesarkan hati anak saya...)..
Juga terimakasih yang khusus untuk sahabat jiwa saya, Nonce yang membawakan segelas teh manis hangat untuk saya...(Loe tau gw bisa sakaw kalo gak minum teh manis...uuuuh...love U..), Yetty ( thanks banget sudah menjadi pasukan UGD buat aku...welcome back ..), Tami, Adith dan mas Tyo (sorry kalau telat ngabarin...ada masalah koneksi..thanks bangeeet sudah menempuh kemacetan untuk menemani...), my great friend Fish dan Dove yang selalu mensupport, juga Mr Terri yang mendukung dalam cuek...Sahabat-sahabat di HOS...(kalian memang luaaaaarrrrrr biasaaaaaa....!!!), terutama mbak Mega yang special mengirim suaminya untuk mengunjungi kami di RS...(wooww...it’s a great parcel...hehehe...thanksssss bangeettt)... included sahabat-sahabat para pecinta kemanusiaan...Angel’s HOS (mb Sadrah...sabar yaaa..., mb Bea..cihuyyyy...Monik, Atun, Astruth, Ary), dan para begawan...mas Bima, Iman, pakdhe Djoko-ku...(uuuh...thanks supportnya yaa....greaaat ), mas Herry, Kun-kun, Renaldi, mas Jack, mas Bakri, mas Abe, Mas Hendrawan,...Kang Asep my great guru...(support Akang sungguh menguatkan kami...)...Pak Krish...(thankss...bangeet dukungannya) Sahabat-sahabat TCI...kang Dedet, Mas Hendry, mas Harry Uncommon, mas Yunus, mb Lilla, mb Lina,...semua deeeh...
Juga sahabat-sahabat dari jaman SMP dan SMA ( Ully, Vera, Rita, Ninin...thanks sudah menemani aku menghadapi hari sulit kemaren...tawa kalian membuat aku kuat dan bersemangat lagi...kalian memang forever friend...juga Lina, Tuti, dan semuanya), juga Zulian-Datik sekeluarga yang begitu penuh kasih menguatkan aku (thanks buat supportnya setiap hari...aku dapat energi luar biasa...)...Tim Arisan HIMPSI...(Nno, Kko, Eyang Nki, mb Nke, nDaru, Eyang mBg, RI-1, mb Yus...thanks support dan doa dibalik puding dan bunga...hiks hiks...jadi pengen nangis sekarang...)..Sahabat-sahabat special dari Dago Pojok Bandung...(Tutsyeee...Unye, Jun-i, Jun-ed, Tje-h, Maya, semuanya deeeh...termasuk Mbak Hana...support kalian tak diragukan lagi...bener-bener khas Insom-Mania...)...
Dan terima kasih tak terhingga untuk teman seperjalanan selama belasan tahun ini, teman dan sahabat-sahabat BCA – rumah keduaku...very special friend Kuri, Kenyot, Dikun...(uuuh...tetap menjadi bodyguard yang cepat tanggap darurat...he he ..meniru iklan “loe tau yang kumau”...hik hik..)...teman-teman BDI (hu hu hu...P. SC, Yanto, Na, Daud, Wal, BT, SW, Umbo, Edo, Wal, Wartim, Ai, Tuti...kalian adalah orang luar biasa...like my lovely family)...dan tim olahraga Senayan (mas Spt, Rini, mb DN, en de geng..)...juga Tek-tek (..EO Forever...hi hi..), Lilik, Indah dan semua rekan DHR..dan semua-mua deeeh...
Oya....terima kasih sebesar-besarnya juga buat semua teman dan kolega-kolega Dhani...di Hukum-Online...(thanks sudah menemani pada saat yang sulit...dengan canda dan tawa yang menguatkan Dhani...), juga buat teman-teman Dhani di Fakultas Hukum – Ekstension UI (thanks atas penguatannya...), juga teman-teman di lingkar persahabatan jurnalis khususnya di komunitas jurnalis DPR/MPR yang telah mendukung Dhani...Tak lupa teman-teman jaman SD sampai SMA...(kalian benar-benar teman sejati seperjalanan...salut atas persahabatan kalian yang begitu panjang...)...
Dan special thanks buat Ferdy...yang menjadi tumpuan hati si Cantik Dhani...thanks sudah selalu mendampingi pada saat paling sulit kemaren ini dan memberikan telinga untuk mendengar luapan emosinya...
The laaaaasssstttt...semua keluarga dan sahabat di mana pun berada...kebersamaan dengan kalian membuat kami merasa begitu berharga dan dicintai...Sungguh kami merasa sangat kaya dan memperoleh kelimpahan luar biasa ... Di tengah kegalauan hati...uluran tangan kalian sungguh membuat kami menjadi kuat dan tetap bersemangat.
Kami yakin, apa pun yang terjadi bukan sebuah cobaan atau musibah, tetapi sebuah proses pembelajaran untuk kita semua. Kami beruntung, memperoleh kesempatan mendapat pembelajaran ini bersama-sama dengan sahabat-sahabat yang menemani kami. Kami yakin, bahwa ini adalah bukti kasih sayang Allah kepada kami. Memberikan kami mata pelajaran pendahuluan, yang barangkali belum dipercayakan kepada orang lain. Satu hal yang menjadi pegangan saya adalah jangan pernah bertanya ,”Mengapa ?” dan menyesalinya. Tapi bersyukurlah, kita diberi kelebihan untuk menjalaninya, dan melewatinya...
Teman dan sahabat...saya percaya satu hal...
Nothing happens in God's universe by accident.
Everyone that crosses our paths, has been there
for a reason…
Love U Allz….
Salam sayang dari kami sekeluarga,
Ietje – Guntur – Dhani